
Pagi-pagi Bu Ratna Mamahnya Destian memanggilku dan Yanah. Yanah pembantu di rumah Destian. Alhamdulillah, semua penghuni rumah Destian baik semua. Beda dengan penghuni rumah Iqbal.
"Kamu sudah bangun Hafisa? pagi sekali. Jarang Anak muda sekarang bangun pagi." Ucap Bu Ratna.
"Iya Bu, soalnya di kampung biasa bangun pagi." Ucapku tersenyum.
"Oh, gitu? bagus dong, kalau gitu. Yanah sini kamu!" panggil Bu Ratna.
"Iya Bu? ada apa?" tanya Yanah.
"Sekarang, kamu ada temannya buat beres-beresin rumah. Jadi kamu gak terlalu capek, Hafisa yang akan bantu kamu." Ucap Bu Ratna.
"Benaran Bu? Alhamdulillah, saya senang banget. Saya kadang lelah kalau beresin sendiri belum masak." Ucap Yanah tersenyum.
"Iya bersyukur yah, ada Hafisa di sini." Ucap Bu Ratna.
"Saya belum kenalan Mba, nama saya Hafisa." Ucapku tersenyum.
"Panggil Yanah aja, ya udah ayo! kita bagi-bagi tugas dulu!" ajak Yanah.
"Iya Yanah." Aku tersenyum.
"Bu, saya permisi dulu yah, ajak Hafisa beres-beres." Ucap Yanah.
"Iya Yanah. Jam sembilan diantara kalian, tolong bangunin Destian yah! soalnya dia suka bangun siang takut kuliah kesiangan. Saya mau pergi dulu, mau ada acara nikahan." Ucap Bu Ratna.
"Siap Bu! siap!" ucap Yanah.
"Siap Bu, hati-hati yah!" ucapku.
"Iya Hafisa, Yanah." Ucap Yanah.
****
Yanah mengajak aku beres-beres. Yanah ternyata baik. Aku dan Yanah ngobrol dan bercanda bersama. Yanah menyuruh aku untuk membangunkan Destian di kamarnya.
"Yanah, aku gak lihat suaminya Bu Ratna yah? kemana?" tanyaku penasaran.
"Suaminya meninggal Hafisa. Jadi mereka berdua aja. Bu Ratna itu baik banget, mangkanya saya betah kerja di sini." Ucap Yanah.
"Ya ampun, maaf! aku gak tahu. Iya baik banget." Ucapku.
"Hafisa, emang kemarin kamu kenapa? kok sampai bisa basah kuyup dan pingsan dibawa Mas Destian?" tanya Yanah.
"Iya, aku habis dipecat sama majikan aku. Aku diusir malam-malam, sampai aku ketemu orang mabuk dan ingin memperkosa aku, Alhamdulillah, Mas Destian datang nolong aku. Dan aku gak tahu, tiba-tiba ada di sini." Ucapku.
"Ya ampun jahat banget majikan kamu! Rasanya pengen saya jambak tuh! tega banget. Mas Destian, baiknya emang luar biasa. Suami saya waktu itu kecelakaan, Mas Destian yang donor darah buat suami saya, Bu Ratna membayar semua pengobatan dan perawatan suami saya. Alhamdulillah, suami saya sembuh. Sekarang dia jadi supir di sini, supir Bu Ratna." Ucap Yanah.
"Oh, gitu Yan? kira aku kamu belum nikah." Ucapku.
__ADS_1
"Kamu sendiri udah nikah belum?" tanya Yanah.
"Aku belum Yan, aku merantau dari Garut ke Jakarta. Karena Abah aku punya hutang banyak oleh rentenir, sampai gak bisa bayar. Sebagai gantinya, aku harus nikah sama Anak rentenir itu! tapi, aku gak mau! aku langsung kabur dengan persetujuan kedua orang tuaku." Ucapku bercerita.
"Ya ampun Hafisa, kasihan nasib kamu. Kamu yang kuat dan sabar yah! di sini kamu udah enak, punya majikan baik. Apa lagi kamu belum nikah, kayanya kamu cocok sama Mas Destian. Mas Destian tuh, malam panik bawa kamu. Cocok banget kamu Fisa." Ucap Yanah.
"Yanah, kamu ada-ada aja deh. Mana pantas pembantu bersanding dengan majikan? gak pantas. Itu cuma khayalan doang." Ucapku.
"Jangan gitu Fisa! siapa tahu, Destian ada rasa sama kamu!" ucap Yanah tersenyum.
"Ha-ha-ha... bisa aja kamu Yanah." Ucapku.
"Malah ketawa. Eh, gak terasa sudah jam sembilan. Kamu bangunin Mas Destian gih!" perintah Yanah.
"Aku?" tanyaku gugup.
"Iya kamu! udah, gak apa-apa. Ini kan disuruh Bu Ratna." Minta Yanah tersenyum.
"Tapi Yan?" tanyaku lagi.
"Sana! udah!" perintah Yanah.
****
Aku berjalan ke arah kamar Destian. Dada berdetak kencang karena takut. Aku belum pernah masuk kamar cowok atau bangunin cowok sama sekali. Wajahku merah merona karena gugup. Perlahan aku masuk kamar Destian yang tidak dikunci. Selimut menutupi wajah Destian. Saat Destian bangun, aku kaget Destian tidak memakai baju dan hanya memakai boxer. Aku berteriak sambil menutup muka.
"Permisi! maaf Mas, aku masuk. Mas Destian! Mas! bangun Mas!" panggilku mencolek badan Destian yang tertutup selimut dengan telunjukku.
"Aaaaaa......." teriakku sambil menutup wajah.
"Astaghfirullah, kamu ngapain di kamar saya?" tanya Destian kaget.
"Tutup dulu Mas badannya, saya gak mau lihat!" ucapku.
"Sebentar!" ucap Destian sambil mengambil handuk dan memakai kaos.
"Sudah belum Mas?" tanyaku.
"Sudah!" ucap Destian tersenyum.
"Astaghfirullah, tadi saya disuruh Bu Ratna buat bangunin Mas. Takut kesiangan katanya. Maaf Mas, saya mau izin masuk, Mas nya tidur." Ucapku.
"Ha-ha-ha... gak apa-apa kok Hafisa. Makasih ya udah bangunin aku, maaf udah buat kamu kaget." Ucap Destian menghampiriku dan menatapku.
"Mas sudah bangun kan? saya permisi keluar!" ucapku langsung melangkah keluar. Tapi Destian menarik tanganku.
"Hafisa!" panggil dan tatap Destian tersenyum.
"Kenapa Mas? maaf, lepasin!" ucapku.
__ADS_1
"Maaf! maaf! sekali lagi, terima kasih yah!" ucap Destian tersenyum.
"Sama-sama Mas. Saya permisi!" ucapku berjalan sambil menunduk.
Aduh, gue kenapa sih? apa gue jatuh cinta pada pandangan pertama? gue yakin Hafisa cewek yang baik dan soleha, gue jatuh cinta sama dia? ha-ha-ha....
Gak lama, Iqbal menghubungi Destian. Iqbal meminta bantuan, untuk mencari Hafisa. Tapi, Iqbal belum menyebutkan nama pembantu itu siapa.
"Hallo Bro, ada apa?" tanya Destian.
"Lo di mana? sekarang lo bisa ke kampus gak?" minta Iqbal.
"Hah? lo udah di kampus? kita aja masuk jam sepuluh. Lo ngapain Bro rajin banget." Ucap Destian.
"Gue butuh bantuan lo! Wawan gue telepon gak aktif." Ucap Iqbal.
"Bantuan apa?" tanya Destian.
"Banyak tanya lo yah! udah lo ke sini aja! gue tunggu! gak pakai lama!" ucap Iqbal langsung matikan ponselnya.
Dimatiin lagi. Bocah ini, kalau udah katanya harus diturutin. Ada apa ya Iqbal? kaya serius banget.
****
Hasan sampai Jakarta. Hasan berdiam di Apartement Papahnya. Hasan langsung beristirahat, sore dia akan mencari Hafisa.
"Barjo! saya mau istirahat. Nanti sore antar saya buat keliling Jakarta! saya mau Hafisa cepat ketemu. Dan Yoyo dan Gogom, kalian cari juga!" minta Hasan.
"Siap Bos!" ucap para Bodyguard Hasan.
Hafisa, kamu gak akan bisa lari dari saya. Saya akan menemui kamu dan menyeret kamu pulang ke kampung. Dan saya akan menikahi kamu. Jangan harap kamu bisa tenang di Jakarta Hafisa.
Hasan sangat tergila-gila dengan Hafisa. Hasan terus menciumi Foto Hafisa dan memeluknya. Hasan sampai membayangkan kalau dia menikah dengan Hafisa dan punya Anak banyak dari Hafisa.
Bersambung...
Terima kasih atas dukungan kalian semua, readersku dan teman- teman udah setia ikutin cerita Cinta Hafisa,semoga ceritanya bisa menghibur dan gak ngebosenin ya, di tunggu episode selanjutnya 🥰🥰🥰
Sambil menunggu up cerita Cinta Hafisa, mampir yuk ke cerita romantis aku lainnya gak kalah seru dan romantis banget cekidot 🥰🥰🥰
- TA'ARUF CINTA
- CINTA GADIS BISU
- CINTA HAFISA
- CINTA DAN DETIK TERAKHIR
- DINGINNYA CINTA BIMA
__ADS_1
- DIARY ASMARA