
"Iya Euis, gak apa-apa. Kami tidak mau merepotkan siapa-siapa. Biar kamu tanggung resikonya." Ucap Bu Aminah.
"Iya Euis, kamu sudah banyak bantu kami. Kami gak mau terlalu bebanin kamu." Ucap Abah Jajat.
"Kalau Euis ada, Euis pasti bantu. Sayangnya, uang segitu Euis gak punya. Abah sama Ibu gak pernah merepotkan Euis, Hafisa dan keluarga ini udah Euis anggap saudara Euis sendiri. Oh, iya. Masalah ini mau Euis kasih tahu Hafisa gak? cuma dia belum punya handphone, handphonenya habis dicuri." Ucap Euis.
"Jangan Nak. Biarkan dia bekerja dengan tenang, Ibu gak mau Hafisa di sana berantakan kerjanya. Kalau Hafisa telepon kamu, kamu bilang kami baik-baik aja yah!" minta Bu Aminah.
"Siap Bu." Ucap Euis.
"Abah, Ibu, Awalilah ingin ketemu Teh Euis. Kangen!" minta Awalilah.
"Lilah, Teh Euis lagi kerja. Kamu di sini fokus sekolah aja yah! suatu saat nanti, Teh Fisabilillah bakal jemput kamu juga. Kamu buktiin ke Teh Lilah, kalau kamu bisa jadi Anak pintar!" minta Euis.
"Iya Teh." Ucap Awalilah.
****
Di kediaman rumah Iqbal. Iqbal tersenyum memperhatikan Hafisa mengajari Nena. Suara merdu Al-Quran Hafisa membuat Nena dan Iqbal terkejut dan menyentuh hati. Iqbal berkata pada dirinya sendiri, kalau Hafisa Wanita Muslimah yang soleha. Meskipun menjadi seorang pembantu, Hafisa gak pernah malu dan semangat untuk bekerja.
Suaranya bagus banget, merdu. Sampai tersentuh gini hati gue. Sheila mana bisa baca Al-quran, bisanya hanya ke club dan selingkuh.
"Wah, Tante Hafisa merdu banget suaranya. Nena sampai tersentuh Tante." Ucap Nena tersenyum.
"Alhamdulillah, kalau Nena bilang seperti itu. Oh, iya. Jangan panggil Tante yah! panggil Bibi atau Kakak aja, soalnya Aku hanya orang biasa, gak pantas dipanggil Tante." Ucapku tersenyum.
"Kok Tante suka begitu, panggilan bukan hanya untuk orang biasa aja kok. Tapi buat semua orang. Tapi kalau Tante mau seperti itu, apa boleh buat! aku panggil Kakak aja, gak mau Bibi." Ucap Nena tersenyum.
"Ha-ha-ha.... kamu lucu sekali sih, Kakak jadi ingat sama Adik Kakak di Kampung. Umurnya sama kaya kamu, dia juga baru kelas satu SMP. Baik, pintarnya seperti kamu." Ucapku tersenyum.
"Oh, iya Kak? siapa Namanya? kenapa gak ikut?" tanya Nena.
"Namanya Awalilah. Ya enggak dong sayang, kalau ikut nanti sekolah dia gimana? terus ganggu Kakak kerja di sini. Pasti sama Mamih kamu gak boleh bawa Adik atau siapa pun." Ucapku.
"Oh, iya. Kapan-kapan ajak aku buat ketemua Adik Kakak yah! aku pengen kenal juga." minta Nena.
"Iya sayang." Ucapku tersenyum.
"Kak, aku senang deh, kenal sama Kak Hafisa. Seakan punya Kakak perempuan. Aku boleh peluk Kakak!" minta Nena.
__ADS_1
"Boleh sayang." Ucapku langsung memeluk Nena.
Aku gak nyangka, Nena sama Hafisa bisa sedekat itu. Padahal baru ketemu sehari. Beda sama Sheila, Sheila gak bisa sayang sama Anak kecil. Ternyata, aku salah menilai Sheila baik, ternyata busuk.
"Iqbal! ngapain kamu di situ?" tanya Bu Fransiska menepak bahu Iqbal. Aku dan Nena terkejut melihat Iqbal nguping sejak tadi.
"Enggak Mih." Ucap Iqbal.
"Kak Iqbal, kenapa di sini? nguping yah?" tanya Nena sambil tersenyum.
"Dih, siapa yang nguping kamu! GR banget!" ucap Iqbal mengelak.
"Nena! kenapa kamu belum tidur? ngapain kamu sama pembantu? Hafisa kamu masuk kamar! jangan dekat-dekat dengan Anak saya yah!" ucap Bu Fransiska.
"Mamih! apaan sih, orang Kak Nena bantu aku belajar Agama buat penilaian sekolah besok! Mamih jangan gitu sama Kak Hafisa!" minta Nena.
"Maaf Bu, saya hanya bantu Nena saja kok. Gak macam-macam, permisi!" ucapku langsung masuk kamar.
"Kamu ngapain belajar sama pembantu! level kamu tinggi sayang, kalau nilai kamu jelek gimana? emang lulusan dia apa sih, sok ngajarin!" ucap Bu Fransiska.
"Mamih jahat!" Nena langsung lari dan menangis.
"Nena! tunggu!" ucap Bu Fransiska.
"Oh, gitu? ya udah, kamu tolong bujuk Nena yah! kayanya Nena marah banget sama Mamih." Ucap Bu Fransiska.
"Oke Mih." Ucap Iqbal.
****
Iqbal langsung ke kamar Nena. Nena sedang menangis melihat kelakuan Mamihnya yang menghina Hafisa. Nena sangat sayang pada Hafisa walaupun baru satu hari bertemu.
"Nena, hei, kamu nangis sayang?" tanya Iqbal.
"Aku malas sama Mamih! Mamih jahat Kak!" ucap Nena.
"Mamih gak jahat kok, cuma dia khawatir sama kamu sayang. Kamu kan baru kenal sehari sama Kak Hafisa, Mamih takut kamu kenapa-kenapa." Ucap Iqbal.
"Kak, Kak Hafisa itu baik, soleha. Nena bisa lihat dari matanya Kak. Dia rela tangannya luka demi Nena. Kakak percaya sama Nena kan? Nena gak mungkin salah menilai orang!" ucap Nena.
__ADS_1
"Iya, iya. Kakak percaya sama kamu. Sekarang jangan sedih lagi yah! besok kan masih bisa belajar sama Kak Hafisa. Sebelum belajar, kamu izin dulu sama Mamih." Ucap Iqbal.
****
Saat selesai menenangkan Nena. Iqbal kembali ke kamar. Iqbal melihat Papihnya Pak Setiawan ingin mencoba masuk ke kamar Hafisa. Tapi kamar Hafisa sudah terkunci dan gelap. Iqbal langsung menarik Papihnya dan mengancam Papihnya.
"Papih!" panggil Iqbal.
"Hah? kamu Iqbal." Ucap Papihnya berlaga pikun.
"Ngapain di depan Kamar Hafisa?" tanya Iqbal.
"Papih mau ke kamar, eh kepala pusing. Oh, salah yah!" ucap Pak Setiawan.
"Hah, Iqbal bukan orang bodoh Pih! Iqbal tahu akal bulus Papih seperti apa? Papih mau mencoba memperkosa Hafisa kan? seperti yang Papih lakukan sama Bi Nur? kelakuan Papih sangat bejat dan menjijikkan!" ucap Iqbal.
"Kamu salah paham Iqbal, Papih udah gak seperti dulu lagi! percaya sama Papih!" minta Pak Setiawan.
"Alah, bulshit! Iqbal udah gak percaya lagi sama Papih! dengar Pih! kalau sampai Papih menyentuh sedikit saja Hafisa, dan buat dia ketakutan karena Papih, Iqbal akan bilang semua ke Mamih. Iqbal banyak bukti Papih sama cewek lain di hotel." Ancam Iqbal.
"Iya, iya. Papih gak akan kurang ajar sama Pembantu baru itu! jangan bilang ke Mamih yah!" minta Pak Setiawan.
"Papih! ngapain sama Iqbal di sini?" tanya Bu Fransiska tiba-tiba datang.
"Enggak kok Mih, tadi Papih tegor Iqbal. Jam segini belum tidur, Papih juga bilang sama Iqbal kenapa dia benci banget sama Papih. Padahal Papih kan Papih kandungnya sendiri." Ucap Pak Setiawan berbohong.
"Benar Iqbal, kamu kenapa sih sama Papih kamu gak akur? Mamih ingin kamu akur sama Papih!" minta Bu Fransiska.
Bersambung...
Terima kasih atas dukungan kalian semua, readersku dan teman- teman udah setia ikutin cerita Cinta Hafisa,semoga ceritanya bisa menghibur dan gak ngebosenin ya, di tunggu episode selanjutnya 🥰🥰🥰
Sambil menunggu up cerita Cinta Hafisa, mampir yuk ke cerita romantis aku lainnya gak kalah seru dan romantis banget cekidot 🥰🥰
- TA'ARUF CINTA
- CINTA GADIS BISU
- CINTA DAN DETIK TERAKHIR
__ADS_1
- CINTA COWOK DINGIN
- DIARY ASMARA