Cinta Hafisa

Cinta Hafisa
Bab 44 Season 2


__ADS_3

Kini Hafisa hidup bersama Destian dan hidup bahagia. Mereka dikaruniai Anak laki-laki yang sangat tampan. Anak mereka bernama Devano Alexander, yang berusia 15 tahun duduk dibangku SMA Jakarta. Devan terkenal sangat pendiam, dingin dan jarang bergaul. Sekali bergaul atau jatuh cinta, dia sangat tulus dan benar-benar menyayangi wanita yang dia cintai. Devan tidak suka jika ada temannya yang dibully di sekolah.


Devan tidak mau terlihat kaya walaupun dirinya sangat kaya. Dia terlihat sederhana dimata trman-temannya dan tidak mengetahui kalau dirinya sangat kaya.


Saat pagi tiba, Devan pamit berangkat ke sekolah. Sebenarnya Devan malas pindah-pindah sekolah, tapi Demi Mamah dan Papahnya Devan menuruti.


  "Pagi Mah, Pah!" sapa Devan.


  "Pagi Sayang!" jawab Mamah dan Papahnya.


  "Gimana, sudah siap sekolah di tempat baru?" tanya Papahnya.


  "Siap Pah."


"Semangat ya Sayang Sekolahnya!" jawab Mamahnya.


Devan saat itu tidak menggunakan mobil ke sekolah, walaupun Papahnya sudah menyuruhnya untuk memakainya tapi Devan tidak mau. Dia lebih suka naik motor vespa ke sekolah dibanding mobil.


"Anak-anak, dengarkan semua! Kita sekarang kedatangan teman baru dari Surabaya, Devan silakan perkenalkan diri!" minta Bu Guru Ani.


"Perkenalkan nama Saya Devano Alexander. Saya pindahan dari Surabaya dan ingin bergabung sekolah dengan kalian terima kasih!" ucap Devan.


"Oh Anak baru yang pake vespa ya? Ha-ha-ha." ucap Mario dan teman-temannya tertawa.


"Mario! Kamu tidak boleh seperti itu! Mau naik apapun kamu tidak boleh membully teman baru kita ini! Ayo minta maaf! Ucap Bu Ani sangat marah.


" Maaf yah!" ucap Mario.


"Naik Vespa tapi ganteng juga, ha-ha-ha." Jawab Siska.


"Devan, kamu sekarang duduk samping Bulan yah!" minta Bu Ani.


Devan duduk samping Bulan. Bulan adalah cewek lugu dan polos yang sering dibully. Bulan adalah cewek sederhana dan baik hati. Bulan merasa deg-degkan duduk samping cowok ganteng dan cool.


"Bu, kenapa duduk samping Bulan? Kenapa gak sama Saya?" tanya Siska.


"Diam, jangan banyak protes.


Bulan cewek berkacamata dan rambutnya sering dikuncir satu atau dua. Bulan berusaha berkenalan dengan Devan dan berbagi buku agar Devan bisa melihat soal-soal yang ada dibuku. Tapi Devan hanya diam tanpa senyum dan tidak membalas sapaan Bulan. Sampai Baju Devan tercoret bulpoin Bulan.


"Hallo! Aku Bulan." Sapa Bulan sambil membetulkan kacamatanya yang turun.


"Kamu pasti belum punya buku, kita sama-sama lihat soal yah!" ucap Bulan lagi.

__ADS_1


Cowok ini pendiam, sombong!


"Devan!" ucap Bulan lagi sambil mencolek Devan. Tapi malah baju Devan yang tercoret bulpoint.


"Akh, maaf-maaf! Aku tidak sengaja. Baju kamu ja-ja-jadi tercoret." Ucap Bulan ingin membersihkan baju Devan.


"Akh.. Gak usah!" Devan bangun dan langsung ijin ke toilet.


"Kamu sih Lan," ucap Ayu temannya Bulan.


"Aku gak sengaja, dan aku sudah minta maaf." Ucap Bulan.


"Cowok itu sombong, belagu. Bulan sebaiknya kamu hati-hati ya jangan dekat-dekat dia!" Ucap Daniel.


"Yeee... Bilang aja cembokur!" ucap Ayu.


"Ya enggak, gue kasihan aja kalau Bulan digituin kaya tadi.


"Tau nih Ayu!" ucap Bulan.


Devan kembali ke bangku samping Bulan. Bulan kembali meminta maaf tapi Devan hanya diam. Saat jam istirahat, Siska mencoba mendekati Devan. Tapi Devan buang muka dan sangat tidak suka.


"Hallo, Devan. Kenalin Siska, kita istirahat yuk!" ucap dan sapa Siska.


"Eh, Siska! Lagian siapa yang mau sama cowok sombong kaya gitu! Cukup yah lo jangan bully teman gue!" ucap Ayu.


"Ayu-Ayu, udah!" minta Bulan.


"Ini gak bisa dibiarin Bulan, lo harus lawan! Jangan mau dibully tiap hari dan lo hanya diam aja! Gue gak rela sahabat gue jadi bahan bully-an." Ucap Ayu.


"Bener Yu!" ucap Daniel.


"Apa lo Yu, mau ribut sama gue? Ayo!" ucap Siska.


Akhirnya, Ayu dan Siska ribut sambil menjambak rambut. Tidak ada satu pun yang bisa memisahkan, sampai Bulan terdorong ke-pelukan Devan dan ikatan rambut Bulan terlepas hingga rambut Bulan terurai sangat cantik.


Astaghfirlullah, jantung ini kaya mau copot. ( ucap Bulan dalam hati sambil menatap wajah Devan.)


Cewek ini cantik juga, kalau ikatan rambut dia lepas. ( ucap Devan dalam hati.)


"Maaf Devan! Mana ikatan rambutku?" Bulan mencari ke-sana kemari.


"Cari apa? Ini?" ucap Devan.

__ADS_1


"Kembalikan!" minta Bulan.


"Ekhem... Sebaiknya ikatan rambut lo, lo buang aja! Begini lebih cantik, apa lagi kalau kacamata lo buka, oke!" ucap Devan.


"Devan! Kenapa kamu buang! Aduh, pada ngelihatin lagi." Ucap Bulan.


"Cantik juga Bulan." Ucap Mario.


"Ikh, gak rela gue Devan puji-puji si cupu." Ucap Siska.


Siska dan Ayu dibawa ke-ruang BP dan mendapatkan hukuman keliling lapangan. Bulan sangat tidak enak, karena dia Ayu jadi dihukum. Bulan hanya menunduk sambil memegang rambutnya dengan malu.


"Gak usah dipegangin gak bakal lepas tuh rambut!" ucap Devan.


"Semua gara-gara kamu, kamu buang ikatan rambutku!" ucap Bulan.


"Kan gue bilang, lo cantikan kaya gitu. Gak usah pakai ikatan lagi!" ucap Devan.


"Eh, kalau orang gak mau jangan dipaksa. Emang lo siapa? Maksa orang!" ucap Daniel. Devan hanya tersenyum dan diam.


"Kalau gue ngomong jawab!" ucap Daniel.


Saat itu, sedang tidak ada Bu Ani. Karena Bu Ani mengantar Ayu dan Siska ke ruang BP karena membuat keributan. Mario langsung menghampiri Devan.


"EH, COWOK SOMBONG DAN KECAKEPAN. LO PUNYA APA SIH, CUMA PUNYA VESPA AJA SOMBONG!" ucap Mario.


"EH, LO BUDEK YA!" Mario langsung menarik Devan.


"Wah, lo di-diemin malah melunjak ya! KALAU GUE PUNYA VESPA KENAPA BANGSAT! LO MAU VESPA GUE HAH!" ucap Devan kesal.


Akhirnya, terjadi keributan kembali Devan dan Mario. Devan tidak suka ditarik bajunya seakan-akan takut. Tidak ada yang berani dengan Mario, tapi saat ada Devan sudah tidak ada yang takut lagi dengan Mario. Devan dan Mario menyusul ke-ruang BP dan mendapatkan hukuman. Yang salah Mario, tapi Devan tidak mau hanya Mario yang dihukum. Kerena dia merasa bersalah juga, Devan juga meminta hukuman.


"Biar Saya dihukum juga Pak, Bu! Tapi, saya mau minta satu permintaan." Ucap Devan.



"Devan, tapi kamu gak salah!" ucap Bu Ani.



"Tidak apa-apa Bu, tapi Devan ingin minta satu permintaan." Ucap Devan.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2