
Brak....
"Heh, ngapain kamu? kamu nguping yah?" tanya Iqbal kesal.
"Maafin saya Mas, saya gak sengaja dengar. Pas Mas buka pintu malah ke dorong." Ucapku.
"LAIN KALI JANGAN NGUPING! BRENGSEK!" ucap Iqbal kasar sambil menendang ember yang sedang dipel.
Astaghfirullah... kuatkan aku ya Allah, mungkin ini semua cobaan buatku.
Saat Nena pulang. Nena kaget, ternyata Aku bekerja di rumahnya. Nena senang bisa bertemu lagi denganku. Nena meminta maaf, karena tadi gak sempat ngobrol lama. Karena Nena buru-buru.
"Assalamu'alaikum, Mih, Pih." Ucap Nena.
"Wa'alaikumsalam." Jawab Bu Fransiska dan Pak Setiawan.
"Jam segini baru pulang Nak." Ucap Bu Fransiska.
"Iya Mih, banyak tugas." Ucap Nena.
"Sayang, di sini ada pembantu baru. Dia gantinya Bi Nur." Ucap Bu Fransiska.
"Oh, gitu Mih? orangnya asyik gak?" tanya Nena.
"Kamu ke atas aja! dia lagi ngepel." Ucap Bu Fransiska.
"Nena ke atas dulu ya Mih, Pih." Ucap Nena.
"Kamu gak makan dulu?" tanya Pak Setiawan.
"Enggak Pih. Mau sekalian ke kamar Kak Iqbal." Ucap Nena.
"Oh, oke! bilangin sama Kak Iqbal, suruh makan bersama kita!" minta Bu Fransiska.
"Iya Mih." Ucap Nena.
"Bibi!" panggil Nena.
"Iya. Kamu! yang tadi mau ditabrak mobil kan? Nena nama kamu?" tanyaku tersenyum dan kaget.
"Tante! jadi, Tante yang gantiin Bi Nur? ini rumah aku Tante." Ucap Nena.
"Masya Allah, gak nyangka kita bisa ketemua di sini. Ternyata kamu Anak Bu Fransiska dan Pak Setiawan ya? ya Allah, saya senang sekali." Ucapku.
"Iya Tante, ih... aku senang deh, bisa ketemu Tante lagi di sini. Bahkan, kita satu rumah. Maafin aku, tadi pergi gitu aja Tan. Soalnya, aku buru-buru." Ucap Nena.
"Gak apa-apa sayang." Ucapku tersenyum.
"Nena! ngapain kamu ngobrol sama dia? pakai peluk-peluk dia?" tanya Iqbal.
"Kakak, ini Tante Hafisa. Dia sudah nolong aku, soalnya tadi aku mau ketabrak mobil. Kalau gak ditolong aku bisa mati." Ucap Nena.
"Kamu serius? tapi kamu gak ada yang luka kan?" tanya Iqbal.
"Gak ada Kak. Justru malah Kak Hafisa yang luka karena nahan aku." Ucap Nena.
__ADS_1
"Makasih yah, kamu sudah nolong Adik kesayangan saya. Tangan kamu sudah diobati?" tanya Iqbal.
"Sama-sama Mas. Sudah, tangan saya gak apa-apa kok." Ucapku.
Ternyata Mas Iqbal sangat sayang pada Adiknya. Aku rasa Mas Iqbal sangat baik.
"Kak! aku minta tolong dong!" minta Nena.
"Minta tolong apa sih? Kakak lagi pusing Nena. Kamar Kakak berantakan." Ucap Iqbal.
"Aku mau minta tolong ada materi Agama Kak. Aku dan teman-teman gak ngerti. Tolong Kak bantu!" minta Nena.
"Gak bisa Nena. Kakak pusing, yang ada nilai kamu jelek." Ucap Iqbal.
"Nena, biar saya bantu mau? kebetulan, saya pernah ngajar ngaji di kampung. Jadi, kalau soal Agama, insya Allah saya bisa." Ucapku tersenyum.
"Wah, benaran Tan? mau dong! bantu aku yah! nanti aku susul ke kamar Tante yah." Ucap Nena.
"Yakin kamu bisa? Nena awas nanti nilai kamu malah jelek! emang kamu lulusan apa?" tanya Iqbal.
"Saya hanya SMP Mas. Tapi, soal Agama saya tahu semua. Insya Allah." Ucapku.
"Awas aja yah, kalau nilai Adik saya anjlok gara-gara kamu!" ucap Iqbal.
"Insya Allah, enggak." Ucapku meyakinkan.
"Lihat aja nanti!" ucap Iqbal.
"Kakak! gak boleh gitu!" ucap Nena.
Aku ke belakang meletakkan ember dan kain pel. Sambil membersihkan diri. Nena melihat Kak Iqbal tersenyum tapi masih gengsi buat menyapa baik padaku.
Hafisa sopan, baik. Beda banget dengan Sheila. Kayanya dia muslimah yang soleha. Ah... apaan sih aku ini.
"Kak, hello! Kak Iqbal!" panggil Nena.
"Hah, iya. Apa Dek?" tanya Iqbal.
"Hmmm... Kakak suka sama Tante Hafisa yah? dari tadi merhatiin terus. Pandangin Tante Hafisa terus, aku setuju kalau Kakak dengan Tante Hafisa. Dibanding pacar Kakak yang namanya Sheila itu! aku gak suka." Ucap Nena.
"Sok tahu kamu! udah sana siap-siap belajar." Ucap Iqbal.
"Cie-cie-cie.... ha-ha-ha.... Aku dukung Kak." Ucap Nena.
"Nena! jangan bikin Kakak marah yah!" ucap Iqbal.
Aku dukung banget, kalau Kak Iqbal sama Tante Hafisa. Tente Hafisa itu baik, soleha. Beda sama Sheila Nenek lampir itu.
****
Di kediaman rumah Abah Jajat dan Bu Aminah. Kang Baron datang ke rumah mereka, mendengar kabar kalau Hafisa ke Jakarta. Kang Baron sangat marah dan kesal.
"JAJAT! KELUAR KAMU!" teriak Kang Baron.
"Ada apa Kang? kok teriak-teriak?" tanya Pak Jajat bersama Bu Aminah.
__ADS_1
"Jangan pura-pura gak tahu kamu! kamu mau main-main sama saya yah! hah?" tanya Kang Baron.
"Maksudnya Kang?" tanya Pak Jajat.
"Jajat, emang saya bodoh! saya tanya sama kamu, mana Hafisa? MANA?" tanya Kang Baron.
"Lagi di rumah saudara Kang!" ucap Bu Aminah.
"JANGAN BOHONGIN SAYA! Anak saya Hasan nanya ke Bu Komar, Bosnya Hafisa. Kalau Hafisa ke Jakarta. Habisin dia!" perintah Kang Baron.
Kang Baron menyuruh Anak buahnya untuk menghabisi Abah Jajat. Bu Aminah langsung kambuh Asmanya. Setelah itu, Kang Baron mengancam harus bawa Hafisa pulang. Kalau enggak, rumah akan di ambil paksa oleh Kang Baron.
"Abah.... cukup! cukup!" panggil Bu Aminah sambil sesak.
"Ibu! Abah! hiks-hiks-hiks...." teriak Awalilah sambil menangis.
"Dengar Jajat! bawa pulang Hafisa! kalau enggak, saya bakal ambil rumah kamu ini! dan saya pastikan kamu akan jadi gembel! saya kasih waktu dua hari!" ucap Kang Baron.
"Ibu! Ibu kenapa Ibu! Lilah! ambil obat Ibu!" minta Pak Jajat.
"Astaghfirullah... Ibu, tenang yah! Abah gak kenapa-kenapa. Abah rela dipukulin, asalkan Hafisa gak menikah dengan Hasan." Ucap Abah Jajat.
"Ibu, sembuh, jangan sakit. Hiks-hiks-hiks..." Awalilah menangis.
"Lilah, tolong obati luka Abah ya Neng. Kasihan Abah." Minta Bu Aminah sambil sesak.
"Iya Bu." Ucap Lilah.
"Assalamu'alaikum." Salam Euis datang dan kaget melihat Abah Jajat babak belur dan Bu Aminah sesak nafas.
"Wa'alaikumsalam." Jawab Abah Jajat.
"Astaghfirullah, Abah kenapa? Ibu kenapa?" tanya Euis.
"Biasa Is, Kang Baron marah. Karena mendengar info Hafisa ke Jakarta." Ucap Abah Jajat.
"Astaghfirullah, kejam sekali mereka. Kalau Euis boleh tahu, emang hutang Abah berapa?" tanya Euis.
"Dua puluh lima juta Neng. Hiks-hiks-hiks... Abah bingung harus bagaimana, demi Hafisa, Abah rela rumah ini di ambil Kang Baron." Ucap Abah Jajat sambil menangis.
"Astaghfirullah, besar sekali Bah. Mungkin sama bunganya yah? maafin Euis Bah, Ibu, Euis gak bisa bantu kalau sebanyak itu." Ucap Euis berlinang air mata.
Bersambung....
Terima kasih atas dukungan kalian semua, readersku dan teman- teman udah setia ikutin cerita Cinta Hafisa,semoga ceritanya bisa menghibur dan gak ngebosenin ya, di tunggu episode selanjutnya 🥰🥰🥰
Sambil menunggu up cerita Cinta Hafisa, mampir yuk ke cerita romantis aku lainnya gak kalah seru dan romantis banget cekidot 🥰🥰
- TA'ARUF CINTA
- CINTA GADIS BISU
- CINTA COWOK DINGIN
- CINTA DAN DETIK TERAKHIR
__ADS_1
- DIARY ASMARA