
Awalilah gak kuat kalau kaya gini. Ibu, Abah, Teh Fisa, tolong Lilah! Lila mau pulang. Hiks-hiks-hiks....
****
Aku, Destian, Ibu dan Abah sampai di vila. Di vila sudah ada pembantu yang sangat baik dan bertahun-tahun mengurus vila. Namanya Bu Ani dan Pak Wawan. Destian langsung memperkenalkan Abah, Ibu dengan Bu Ani dan Pak Wawan.
"Nak, ini besar banget! rasanya Abah sama Ibu gak pantas tinggal di sini!" ucap Abah.
"Gak apa-apa Abah, vila ini sudah lama tidak di tempatin, saya senang jika Abah, Ibu tinggal di sini! ya sekalian, merawat vila ini!" ucap Destian.
"Mas, saya entah harus bilang apa sama Mas! Mas sudah banyak bantu saya!" ucapku merasa gak enak.
"Tidak apa-apa Hafisa! dari pada orang tua kamu tinggal sama Ibunya teman kamu, nanti tersiksa! kasihan kan?" ucap Destian.
"Makasih banyak Nak Destian, Abah sama Ibu bersyukur banget Hafisa bisa bekerja di rumah Nak Destian!" ucap Abah.
"Sama-sama Bah! Bu Ani, Pak Wawan, kenalin ini Hafisa dan ini orang tuanya! mereka akan tinggal di sini, tolong kebutuhan mereka perlukan, kalau ada yang kurang, bisa bilang sama saya!" ucap dan minta Destian.
"Siap Den!" ucap Pak Wawan dan Bu Ani.
"Tolong antar kasih kamar untuk Abah dan Ibu yah!" ucap Destian.
Setelah beristirahat lama. Destian, Hafisa, Abah, dan Ibu kumpul di ruang tv. Abah menceritakan semua masalah yang terjadi sejak awal, sampai Hasan Anak Kang Baron mengejar-ngejar Hafisa.
Destian berjanji pada Abah dan Ibu untuk mengusut kebakaran dan mencari Awalilah sampai ketemu. Lalu Hafisa dan Destian kembali pulang, sambil melapor polisi atas kebakaran dan hilangnya Awalilah. Hafisa tenang jika semua sudah dilaporkan polisi. Polisi akan segera mencari pelaku yang membakar rumah Abah Jahat dan secepatnya mencari Awalilah.
"Alhamdulillah, semua udah dilaporkan! Mas, sekali lagi terima kasih banyak yah!" ucapku.
"Sama-sama Hafisa! sekarang sudah malam, kita sebaiknya pulang! polisi pun sudah membantu mencari, besok kalau aku pulang kampus, kita cari lagi yah!" ucap Destian.
"Iya Mas, maafin saya sudah merepotkan!" ucapku.
"Sama sekali enggak!" ucap Destian.
Ya Allah, Mas Destian baik banget. Aku sampai malu gak bisa balas kebaikan dia, hanya bilang bisa makasih padanya.
****
Saat sampai gerbang, ada Iqbal masih menunggu Hafisa dan Destian pulang. Iqbal langsung menghampiri Hafisa dan memeluknya. Destian langsung menarik iqbal dan mengusirnya. Tapi Iqbal tidak mau pergi, lalu ada Sheila dan Bu Fransiska datang memaki dan menghina Hafisa.
"Mas! itu seperti Mas Iqbal!" ucapku.
__ADS_1
"Iya Fisa! mau ngapain sih, tuh orang!" ucap Destian kesal.
"Hafisa! Hafisa!" ucap Iqbal memeluk dan menangis.
"Lepasin Mas! lepasin!" mintaku.
"Enggak! aku gak akan lepasin kamu! biarkan aku menjelaskan semua pada kamu Hafisa!" minta Iqbal.
"Woy! lepasin!" tarik Destian.
"Lo gak usah ikut campur! Hafisa pacar gue!" ucap Iqbal.
"Hah? pacar? lo bilang pacar? pacar macam apa lo hah? yang berani tidur sama cewek lain, dan berani ngirim video mesum dan menjijikkan lo ke handphone gue!" ucap Destian.
"Gue dijebak! dijebak!" ucap Iqbal.
"Alasan!" ucap Destian.
"Hafisa! sekarang kamu ikut aku! kita pergi dari kota ini! agar kita selalu bersama!" tarik Iqbal.
Prak....
"Enggak Hafisa! enggak! saya cinta sama kamu! saya sayang sama kamu! saya dijebak Hafisa! saya mohon, kamu mau maafkan saya dan ikut sama saya!" tarik Iqbal.
"Lepasin dia!" ucap Destian. Iqbal langsung memukul Destian dan menghajarnya, Destian pun menghajar balik Iqbal. Lalu Bu Ratna, Yanah, satpam melihat Iqbal dan Destian ribut. Bu Ratna langsung memisahkan.
"Cukup! cukup! Iqbal, kamu sudah saya usir dari rumah Tante, tapi kamu masih keras kepala yah! Tante minta kamu pergi dari rumah saya!" teriak dan ucap Bu Ratna.
"Saya akan pergi dari rumah tante, asalkan saya bawa Hafisa!" minta dan tegas Iqbal.
"Dasar kamu gak tahu malu! berani sekali kamu bawa Anak orang! emang kamu sudah tahu orang tua dia? hah? kamu tahu? kamu tahu masalah yang sekarang Hafisa hadapi?" tanya Bu Ratna.
"Bagus! bagus! rupanya kamu di sini! Mamih cari kamu kemana-mana, ternyata kamu di sini!" ucap Bu Fransiska datang.
"Mamih! ngapain Mamih ke sini!" ucap Iqbal.
"Iqbal! kamu harus bertanggung jawab atas perbuatan kamu ke Sheila! ngapain kamu masih mengharapkan pembantu gembel ini!" ucap Bu Fransiska.
"Heh! kamu tahu diri dong! Iqbal sekarang milik saya! masih aja, kamu dekatin Iqbal!" ucap Sheila padaku.
"Dengar gembel! Iqbal akan menikah, dengan wanita yang cantik, kaya, lihat dong! jadi kamu tahu diri!" Bu Fransiska ketus.
__ADS_1
"Cukup Bu Fransiska! Ibu jangan menghina Hafisa seperti itu! saya tidak terima!" ucap Bu Ratna.
"Kenapa Bu Ratna? wanita ini memang pantas dihina! lagian Bu Ratna kenapa mau memperkerjakan Wanita ini! wanita ini hanya akan membawa pengaruh buruk buat Anak Bu Ratna!" ucap Fransiska.
"Cukup Bu Ratna! menurut saya Hafisa ini wanita soleha dan sangat baik! idaman menantu! kalau menurut Bu Fransiska Hafisa buruk, itu mungkin Ibu belum mengenal Hafisa! Ibu hanya memandang dari materi karena Hafisa gadis kampung! yang Ibu lihat hanya kekayaan, kecantikan, dan kemewahan saja! Hafisa! sini sayang! di depan mereka, Ibu akan bilang! kalau Ibu akan melamar kamu untuk Destian! karena wanita seperti kamu gak pantas di hina sama mereka! saya lebih kaya dari Anda Bu Fransiska! kalau Destian menjadi suami Hafisa, maka drajat Ibu akan kalah dengan Hafisa! anda paham!" ucap Bu Ratna.
"Oke! kita lihat nanti! Bu Ratna akan menyesal karena menerima dia sebagai mantu!" ucap Bu Fransiska.
"Tante! kenapa Tante bilang seperti itu! gak ada yang boleh ambil Hafisa dari saya Tante! dan lo Destian! pengkhianat!" ucap Iqbal.
"Sayang, udah-udah! kan ada aku! kamu juga harus tanggung jawab sayang!" ucap Sheila.
"Iqbal! ayo pulang! Sheila pulang!" ucap Bu Fransiska.
"Enggak Mih! Hafisa, kamu gak akan terima lamaran Destian kan? kamu masih cinta sama aku kan Fisa? Hafisa!" teriak Iqbal sambil memegang tangan Hafisa, tapi Hafisa mengabaikan dan langsung masuk dan berlari ke rumah Destian.
"Iqbal! kamu ngapain ngemis gitu! mau ditaro mana muka Mamih!" ucap Bu Fransiska.
"Destian! ayo masuk! Yanah coba kamu lihat Hafisa! Pak konci gerbang yah!" minta Bu Ratna.
"Hiks-hiks-hiks.... Hafisa! jangan tinggalkan aku Hafisa! jangan!" ucap Iqbal menangis.
Ternyata, rumah Destian dan rumah Iqbal lebih besar rumah Iqbal. Harusnya, aku pilih Destian aja dibandingkan Iqbal, aaahh.... salah pilih aku.
"Sheila! ayo! bawa Iqbal pulang!" minta Bu Fransiska.
"Iya Tante! ayo sayang!" ajak Sheila.
"Lepasin! perempuan busuk!" ucap Iqbal.
"Iqbal....." teriak Bu Fransiska melihat Iqbal pergi dan mengendarai mobil sendiri.
Bersambung....
Terima kasih atas dukungan kalian semua, readersku dan teman- teman udah setia ikutin cerita Cinta Hafisa,semoga ceritanya bisa menghibur dan gak ngebosenin ya, di tunggu episode selanjutnya 🥰🥰🥰
Sambil menunggu up cerita Cinta Hafisa, mampir yuk ke cerita romantis aku lainnya gak kalah seru dan romantis banget cekidot 🥰🥰🥰
Diary Asmara
__ADS_1