Cinta Hafisa

Cinta Hafisa
Bab 41


__ADS_3

"Sheila! kamu kenapa?" tanya Bu Fransiska.


"Iqbal Tante, Iqbal mau nemuin pembantu itu!" ucap Sheila.


"Apa? Iqbal mau nyamperin pembantu itu? buat apa? ini kan lagi prewedding kalian! Sheila! kenapa kamu gak cegat? hah?" tanya Bu Fransiska.


"Gak bisa Tante, Sheila malah didorong gini!" ucap Sheila.


"Ya udah, ayo kita susul Iqbal! tadi bilang mau ke rumah Destian?" tanya Bu Fransiska.


"Ke rumah sakit Tante. Katanya sih, pembantu itu kecelakaan." Ucap Sheila.


"Haduh, Iqbal-Iqbal. Ngapain dia? gak mati aja tuh pembantu! selalu nyusahin!" ucap Bu Fransiska.


Apa? kak Hafisa masuk rumah sakit? ya Allah, Kak Hafisa, maafin Nena gak bisa jenguk Kakak. Semoga Kak Hafisa baik-baik aja.


"Ayo Sheila! cepat!" ajak Bu Fransiska.


"Ayo Tante!" ucap Sheila.


"Mih! mau kemana? Nena ikut yah!" minta Nena.


"Kamu gak usah ikut! kamu di rumah aja, nanti malah merepotkan lagi!" ucap Bu Fransiska.


"Mih, Nena mohon Mih! Nena mau ketemu Kak Hafisa!" ucap dan minta Nena.


"Nena! kamu ngeyel yah! kamu diam di rumah aja! ngerti gak sih kamu!" ucap Bu Fransiska.


"Nena, benar kata Mamih. Enakan di rumah! lagian ngapain kamu ke rumah sakit sih!" ucap Sheila.


"Aku gak ngomong sama kamu!" ucap Nena.


"Nena, dengar kamu! Kak Sheila ini, bakal jadi Kakak ipar kamu! jadi kamu jangan kurang ajar sama Kak Sheila! ngerti kamu!" ucap Bu Fransiska.


Nena langsung berlari ke kamar dan menangis. Nena hanya memandangi foto Hafisa. Bu Fransiska dan Sheila tidak peduli dengan Nena yang sedang ngambek. Bu Fransiska dan Sheila langsung siap-siap berangkat.


"Sampai kapan sih Tante, Nena itu nanyain pembantu itu? kaya dipelet tahu gak!" ucap Sheila.


"Udah-udah! sekarang ayo kita berangkat!" ucap Bu Fransiska.


"Iya Tante!" ucap Sheila.


Mamih jahat, Mamih gak sayang sama aku dan Kak Iqbal. Mamih egois! Kak Hafisa, maafin Nena Kak. Nena tidak bisa menjenguk Kakak. Ya Allah, gimana keadaan Kak Hafisa? hiks-hiks-hiks.....


****


Iqbal sampai di rumah sakit. Iqbal langsung cepat-cepat mendonorkan darahnya untuk Hafisa. Hafisa pun langsung segera dioperasi. Iqbal menangis dan merasa bersalah pada Hafisa.


"Bal, makasih yah, lo udah donorkan darah buat Hafisa!" ucap Destian.


"Hiks-hiks-hiks... kenapa ini bisa terjadi Des? kenapa?" tanya Iqbal.


"Sorry, gue gak bisa jaga dia! kita dihadang preman Bal, Hafisa menyelamatkan gue! harusnya, gue yang tertusuk bukan Hafisa! hiks-hiks-hiks...." ucap Destian.


"Lo gak usah salahin diri sendiri! semua musibah. Hafisa memang sangat baik, dia rela mati demi orang lain. Dan dia tidak peduli dengan dirinya sendiri! ya Allah, selamatkan Hafisa!" ucap Iqbal.


"Lo masih cinta kan sama Hafisa? kalau lo masih cinta, lo perjuangin Bal!" ucap Destian.


"Perjuangin lo bilang? gue ini cowok hina, gue udah nyakitin hati Hafisa! gue gak pantas buat dia! lo yang pantas buat Hafisa!" ucap Iqbal.

__ADS_1


"Gue percaya kok, kalau lo itu dijebak kan? lo gak mungkin sebejat itu!" ucap Destian.


"Enggak Des! tetap aja gue bejat!" ucap Iqbal.


"Awalilah, kenapa nangis? Bal ini Adiknya Hafisa! Awalilah." Ucap Destian.


"Oh, ini yang namanya Awalilah? hallo, aku Kak Iqbal." Ucap Iqbal.


"Awalilah!" ucap Lilah.


"Kamu kenapa nangis?" tanya Iqbal.


"Awalilah sedih, Kak Hafisa belum sadar dan masih koma. Ibu juga sakit, semua gara-gara Lilah." Ucap Awalilah.


"Kamu gak boleh bicara seperti itu Lilah, ini semua musibah. Oh, iya. Kakak boleh gak, ketemu sama Ibu dan Papah kamu?" tanya dan minta Iqbal.


"Boleh Kak!" ucap Awalilah.


"Des, gue ketemu sama orang tuanya Hafisa dulu yah!" minta Iqbal.


"Iya silakan!" ucap Destian.


"Tunggu! Iqbal! ngapain kamu di sini? hah?" tanya Bu Fransiska.


"Mamih!" ucap Iqbal.


"Pulang kamu! ayo! kenapa ini tangan?" tanya Bu Fransiska.


"Mih! tolong jangan paksa Iqbal! Mamih gak punya perasaan apa? Hafisa, bekas asisten di rumah kita kecelakaan. Mamih gak punya hati banget sih!" ucap Iqbal.


"Berani kamu yah, melawan Mamih! kamu gak pantas ada di sini dan nolong pembantu itu!" ucap Bu Fransiska.


"Iqbal! Iqbal! tunggu! kamu harus pulang! mau mereka Mamih bikin malu hah?" tanya Bu Fransiska.


"Betul sayang, kita kan udah mau nikah. Kamu jangan seperti ini dong!" minta Sheila.


"Diam!" bentak Iqbal.


"Iqbal, sebaiknya lo pulang aja deh! gue gak mau keluarga Hafisa sedih gara-gara Nyokap lo ini!" ucap Destian.


"Itu benar Iqbal! sebaiknya kamu bawa pulang Mamih kamu yang kaya raya ini! saya gak mau, kalian ribut-ribut di rumah sakit. Dan makasih kamu sudah donorkan darah buat Hafisa! ayo Awalilah, Destian!" ajak Bu Ratna.


"Pulang Iqbal!" minta dan tarik Bu Fransiska.


"Lepasin! aku bisa pulang sendiri!" ucap Iqbal kesal.


"Kejar sana Sheila!" minta Bu Fransiska.


"Iqbal! aku bareng kamu yah!" minta Sheila.


"Gue minta keluar dari mobil gue! KELUAR!" bentak Iqbal.


"Enggak!" ucap Sheila.


"Keluar!" tarik Iqbal.


"Ikh... brengsek!" ucap Sheila.


"Kenapa Sheila?" tanya Bu Fransiska.

__ADS_1


"Iqbal ngusir aku dari mobilnya Tante." Ucap Sheila.


"Haduh, Sheila! kamu bodoh banget sih! kenapa mau keluar? akh....." ucap Bu Fransiska.


"Dia narik aku!" ucap Sheila.


"Ya udah! kamu pulang sama Tante!" ucap Bu Fransiska.


*****


Bu Ratna dan Destian mengantar Awalilah ke ruangan Ibunya. Destian juga izin untuk ke ruangan Hafisa untuk menjaga Hafisa.


"Abah!" sapa Awalilah.


"Eh, Neng sini Anak Abah!" ucap Abah Jajat.


"Gimana Ibu Bah, apa sudah sadar?" tanya Awalilah.


"Belum Neng. Sabar yah!" ucap Abah Jajat.


"Ibu, sadar dong! hiks-hiks-hiks..." ucap Awalilah.


"Pak Jajat, yang sabar yah!" ucap Bu Ratna.


"Iya Bu, saya makasih banget sama Ibu. Ibu dan Mas Destian sudah menolong dan membantu saya dan keluarga." Ucap Abah Jajat.


"Sama-sama Pak, Hafisa itu kan sudah ingin menjadi mantu saya!" ucap Bu Ratna.


"Memang Mas Destian mau sama Hafisa, hanya orang biasa." Ucap Abah Jajat.


"Saya, menerima Anak Abah apa adanya kok Bah. Saya serius dengan Hafisa." Ucap Destian.


"Gak nyesal?" tanya Abah Jajat.


"Sama sekali enggak Bah!" ucap Destian.


"Sayang, Hafisa siapa yang nunggu?" tanya Bu Ratna.


"Oh, iya. Gak ada Mah. Ya udah, biar Destian yang jaga Hafisa!" ucap Destian.


"Ya udah sama Mamah yuk!" ucap Bu Ratna.


Bu Ratna dan Destian pamit ke ruangan Hafisa. Saat ingin masuk ke ruangan, sampai Euis untuk menjenguk Hafisa sambil berlinang air mata.


"Mas!" panggil Euis.


"Euis!" ucap Destian.


"Siapa?" tanya Bu Ratna.


Bersambung......


Terima kasih atas dukungan kalian semua, readersku dan teman- teman udah setia ikutin cerita Cinta Hafisa, semoga ceritanya bisa menghibur dan gak ngebosenin ya, di tunggu episode selanjutnya 🥰🥰🥰


Sambil menunggu up cerita Cinta Hafisa, mampir yuk ke cerita romantis aku lainnya gak kalah seru dan romantis banget cekidot 🥰🥰


IMAMKU ADALAH GURUKU


__ADS_1


__ADS_2