Cinta Hafisa

Cinta Hafisa
Bab 28


__ADS_3

"Ada apa ini? Iqbal! apa-apaan ini? ada apa dengan Sheila?" tanya Bu Fransiska.


"Mih, semua ini salah paham. Iqbal gak ngapa-ngapain wanita ini! Iqbal gak tahu apa yang terjadi." Ucap Iqbal.


"Bohong Tante! Iqbal sudah menodai Sheila Tante, Iqbal gak mau tanggung jawab. Sheila ada buktinya kok! ini lihat rekaman Sheila! sengaja Sheila rekam supaya Iqbal mau tanggung jawab." Ucap Sheila.


"Gak mungkin, gak mungkin! heh! saya gak mungkin lakuin hal serendah ini!" ucap Iqbal.


Prak.....


"Kamu udah buat Mamih malu Iqbal! malu! kamu harus segera menikahi Sheila!" ucap Bu Fransiska.


"Mih! tapi Mih!" teriak Iqbal.


"Nena gak nyangka Kakak berbuat ini sama cewek ini! Kakak udah sakitin Kak Hafisa! Nena benci Kak Iqbal!" ucap Nena menangis.


"Nena! Eh, sekarang lo keluar dari kamar gue! keluar! KELUAR!" bentak Iqbal.


Seenggaknya, lo udah terjebak sama gue Iqbal. Lo itu udah kotor, mau gak mau, lo harus tanggung jawab sama gue.


"Tante, makasih yah udah bantu Sheila." Ucap Sheila.


"Gak apa-apa sayang, ini cara buat supaya kamu bisa nikah sama Iqbal.


"Iya Tante. Sekali lagi makasih!" ucap Sheila.


****


Di kediaman rumah Destian. Destian dan Hafisa sudah siap-siap berangkat. Destian dan Hafisa pamit pada Bu Ratna.


"Hai, kamu sudah siap? sini koper kamu aku yang bawa!" ucap Destian.


"Alhamdulillah, sudah Mas. Mas jangan biar saya aja!" minta Hafisa.


"Udah! gak apa-apa." Ucap Destian tersenyum.


"Hai, kalian mau berangkat? gak sarapan dulu!" minta Bu Ratna.


"Kayanya, gak usah deh Bu! saya khawatir Bu, kalau kelamaan." Ucapku.


"Atau makan roti aja dikit Fisa, nanti sakit lho!" minta Bu Ratna.


"Biar nanti di jalan kita cari makanan Mah! kasihan Fisa kayanya udah khawatir sama keluarganya." Ucap Destian.


"Oke, kalau gitu. Destian jaga Hafisa baik-baik yah! Mamah minta, jaga kesehatan kalian berdua!" minta Bu Ratna.


"Kamu hati-hati ya Fisa! Mas Destian, hati-hati!" ucap Yanah.


"Iya bawel." Ucap Destian.


"Yanah aku pamit yah, Bu!" ucap Hafisa.

__ADS_1


Akhirnya, Destian dan Hafisa berangkat ke Garut. Hafisa sangat berterima kasih sekali pada Destian karena sudah mau membantu.


"Jangan sedih!" minta Destian.


"Aku khawatir kabar Awalilah Mas, Adik saya. Dia masih kecil, masih SMP, saya takut terjadi apa-apa dengan Awalilah!" ucap Hafisa.


"Kamu berdoa, semoga Adik kamu cepat ketemu. Saya janji akan mencari Adik kamu sampai ke ujung dunia sekali pun." Ucap Destian.


"Makasih ya Mas, udah mau bantu saya! saya malu sudah banyak merepotkan Mas Destian dan Bu Ratna." Ucap Hafisa.


"Jangan berkata seperti itu! anggap aja saya dan Mamah saudara kamu!" ucap Destian.


****


Di pinggir jalan, Awalilah terus berjalan dan menangis, sampai Awalilah pingsan di warung penjual bubur Ayam. Untungnya penjual Bubur ayam tersebut sangat baik hati dan mau menolong.


Kemana aku harus pulang? aku gak tahu jalan pulang, Ibu, Abah, Teh Fisa, hiks-hiks-hiks... perut Fisa sakit lapar.


"Astaghfirullah, Pak! ada yang jatuh. Ayo bantu!" ucap Istri penjual bubur ayam.


"Dia pingsan Bu!" ucap Bapak penjual bubur.


"Ayo! bawa Pak!" minta istri penjual bubur.


Gak lama, Awalilah sadar dan menangis. Awalilah ingin pulang, tapi gak tahu jalan.


"Abah, Ibu, Teh Fisa! hiks-hiks-hiks..." Awalilah menangis.


"Alhamdulillah..." Ucap Bapak penjual bubur.


"Saya di mana Pak? Bu? saya mau pulang." Ucap Awalilah.


"Rumah kamu di mana Neng? nama kamu siapa? " tanya Bapak penjual Bubur.


"Saya Awalilah, rumah saya di Garut Pak! saya hanyut terbawa arus sampai ke sini! saya mau pulang Pak! tolong saya!" minta Awalilah.


"Garut luas Neng, Garut mananya?" tanya Istri penjual bubur.


"Saya gak tahu Bu! saya boleh minta kertas sama bulpoint Pak!" minta Awalilah.


"Ini mah jauh banget Neng, luas. Butuh biaya untuk transportasi ke sana!" ucap Istri penjual Bubur.


"Pak, Bu, tolong saya! saya mau pulang Pak, Bu! hiks-hiks-hiks..." ucap Awalilah menangis.


"Sebaiknya, Neng tinggal di sini dulu yah! nanti kalau Bapak ada rezeki, Bapak antar Neng pulang yah!" ucap Bapak penjual Bubur.


"Iya, kita harus kumpulin uang dulu Neng buat ongkosnya, Neng tinggal sama Ibu, Bapak aja dulu yah! bantu-bantu di sini, ada Anak saya juga namanya Susi. Biar Susi ada temannya ya Pak!" ucap Istri penjual bubur.


"Iya Bu benar." Ucap Bapak penjual Bubur.


"Benar ya Pak, Bu, kalau ada rezeki tolong antar saya pulang!" minta Awalilah.

__ADS_1


"Mari pulang sama Ibu, nanti Ibu kenalkan sama Susi Anak Ibu!" ucap Istri penjual Bubur.


Akhirnya, Awalilah mau ikut dengan tukang penjual bubur ayam tersebut. Saat sampai rumah Bapak penjual bubur, Susi kaget melihat kehadiran Awalilah dan Susi tidak menyukainya.


"Assalamu'alaikum." Salam istri penjual Bubur.


"Wa'alaikumsalam, ini siapa Bu?" tanya Susi sinis.


"Ini Awalilah, tadi dia pingsan di jalan. Dia kesasar karena hanyut terbawa arus, sementara Awalilah tinggal dulu sama kita yah! kasihan dia, supaya kamu juga ada temannya." Ucap Istri si tukang bubur ayam.


"Susi gak mau! Susi gak mau ada orang asing di rumah ini Bu!" ucap Susi.


"Susi, gak boleh gitu Nak! kasihan Awalilah, kan nanti kalau ada temannya kamu gak kesepian, ada yang bantu-bantu kamu juga di rumah. Terima ya sayang!" minta istri tukang bubur ayam.


"Ya udah!" jawab Susi ketus.


"Awalilah, kamu sama Susi yah! Ibu mau ke warung bubur lagi bantu Bapak!" minta istri tukang Bubur ayam.


"Baik Bu, terima kasih." Ucap Awalilah.


"Susi, kamu kasih pinjam baju kamu buat Awalilah yah!" minta istri tukang bubur ayam.


"Iya!" ucap Susi.


"Sini!" ajak Susi ketus.


"Nanti kamu tidur di bawah! gak boleh di kasur sama aku! terus, kamu pakai baju ini aja!" ucap Susi memberi baju bolong, jelek dan dekil.


"Tapi ini bolong!" ucap Awalilah.


"Kamu gak usah protes! udah numpang protes lagi! terus kamu pel semua rumah, cuci baju juga! tapi, ingat jangan bilang sama Ibu dan Bapak! awas kamu!" ucap Susi melempar baju pada Awalilah.


Hiks-hiks-hiks.... Ibu, Abah, Teh Fisa, Lilah mau pulang, Lilah gak sanggup seperti ini.


"Heh! ngapain nangis! cepat ganti baju kamu! terus kamu pompa air di belakang! cepat!" bentak Susi.


"Hiks-hiks-hiks... iya." Jawab Awalilah sambil menangis.


"Dasar cengeng!" ucap Susi.


****


Hafisa dan Destian masih di perjalanan. Karena lumayan jauh. Destian mengajak Hafisa untuk makan dulu, karena Destian gak kuat lapar.


Bersambung...


Terima kasih atas dukungan kalian semua, readersku dan teman- teman udah setia ikutin cerita Cinta Hafisa,semoga ceritanya bisa menghibur dan gak ngebosenin ya, di tunggu episode selanjutnya 🥰🥰🥰


Sambil menunggu up cerita Cinta Hafisa, mampir yuk ke cerita romantis aku lainnya gak kalah seru dan romantis banget cekidot 🥰🥰🥰


DINGINNYA CINTA BIMA

__ADS_1



__ADS_2