Cinta Hafisa

Cinta Hafisa
Bab 21


__ADS_3

Tok-tok-tok


"Iya siapa?" tanyaku.


"Bu Ratna Hafisa." Ucap Bu Ratna.


"Eh, ibu. Masuk Bu!" Aku membuka pintu Bu Ratna tersenyum sambil memberikan teh jahe untukku.


"Ibu bawain teh jahe buat kamu, biar badan kamu hangat. Nanti diminum yah!" ucap Bu Ratna sambil meletakan teh hangat di meja kamarku.


"Makasih banyak ya Bu, Ibu Baik banget sama saya. Saya jadi berhutang budi sama Ibu." Ucapku.


"Sudah, gak usah dipikirin. Sejak kamu datang ke rumah ini, Ibu sudah suka sama kamu. Kamu baik, sopan, soleha, pintar mengaji. Kalau boleh, Ibu minta tolong sama kamu!" minta Bu Ratna.


"Minta tolong apa Bu?" tanyaku.


"Ajarkan Destian mengaji, biar dia gak buta sama agama. Kalau diajarkan saya, Destian sepertinya kurang semangat. Saya juga gak begitu paham sama Agama. Mungkin, kalau kamu ajarkan Destian dia bisa menjadi lebih baik." Minta Bu Ratna.


"Apa Mas Destiannya mau Bu? kalau saya sih mau-mau aja Bu, hitung-hitungan berbagi ilmu dan membalas semua kebaikan Ibu dan Mas Destian." Ucapku.


"Nanti saya ngomong sama Destian. Makasih ya Hafisa!" ucap Bu Ratna memelukku.


"Sama-sama Bu." Ucapku.


****


Gak lama, Iqbal dan Nena datang ke rumah Destian. Nena menangis dan memelukku saat melihatku. Aku pun sangat rindu dengan Nena, karena Nena seperti Awalilah Adikku di kampung.


"Assalamu'alaikum." Salam Iqbal.


"Wa'alaikumsalam." Jawab Yanah.


"Destian ada?" tanya Iqbal.


"Ada Mas, silakan duduk!" ucap Yanah.


"Makasih." Ucap Iqbal dan Nena duduk di ruang tamu.


"Mana Kak Hafisa kak?" tanya Nena.


"Sabar Nena." Ucap Iqbal.


Yanah memanggil Destian di kamarnya. Kebetulan Destian keluar kamar.


"Mas!" panggil Yanah.


"Iya kenapa?" tanya Destian.


"Di depan ada Mas Iqbal sama Adiknya." Ucap Yanah.


"Oh, gitu? ya udah, kamu buatkan minum yah!" minta Destian.


"Siap Mas!" ucap Yanah.


Ada apa Iqbal sama Adiknya ke sini? apa mau ketemu Hafisa? kenapa perasaanku semakin takut, kalau Iqbal bertemu Hafisa.


"Hai Bro! hai Nena!" sapa Destian.

__ADS_1


"Hai, kak!" ucap Nena.


"Udah lama Bro?" tanya Destian.


"Baru kok." Ucap Iqbal.


"Ada apa Bal? tumben ke sini sama Nena?" tanya Destian.


"Iya, gue ke sini karena keinginan Nena juga. Gue mau bertemu Hafisa, Nena udah kangen banget sama Hafisa!" ucap Iqbal.


"Silakan Mas, Nena diminum!" ucap Yanah meletakkan minuman di meja.


"Oh, gitu? Yanah, kamu panggil Hafisa ke sini yah!" minta Destian.


"Siap Mas!" ucap Yanah.


"Makasih ya Des, lo udah bolehin gue sama Nena ketemu." Ucap Iqbal.


"Emang gue siapa? gue bukan siapa-siapa Hafisa yang larang lo ketemu." Ucap Destian.


"Makasih Kak Destian." Ucap Nena.


"Sama-sama Nena." Ucap Destian.


****


Yanah akhirnya sampai depan kamar Hafisa. Yanah menyuruh Hafisa untuk menemui Iqbal dan Nena di depan.


Tok-tok-tok


"Yanah." Ucap Yanah.


"Masuk aja Yan!" mintaku sambil membereskan kasur.


"Rajin banget deh, kamu disuruh ke depan sama Mas Destian. Soalnya ada Mas Iqbal dan Adiknya ke sini, mau ketemu kamu kali Fis!" ucap Yanah.


"Mas Iqbal sama Adiknya?" tanyaku.


"Iya. Udah cepatan sana!" minta Yanah.


"Iya-iya! makasih ya Yan." Ucapku.


"Kak Hafisa!" teriak Nena sambil memelukku.


"Nena!" sapaku tersenyum.


"Hiks-hiks-hiks... aku kangen sama Kakak! Kakak kenapa pergi dari rumah? Kakak udah tinggalin Nena!" ucap Nena menangis dan menatapku.


"Nena sayang, Kakak gak ninggalin Nena kok! semua karena perintah Mamih sayang, Kakak gak bisa bantah Mamih Nena. Nena jangan nangis lagi yah! kan sekarang kita sudah ketemu lagi." Ucapku menghapus air mata Nena.


"Nena kangen Kak, ingin belajar bersama lagi sama Kak Hafisa. Dengarin cerita Kak Hafisa saat Nena tidur. Nena kangen!" ucap Nena.


"Sama sayang, Kak Hafisa juga kangen sama Nena." Ucapku tersenyum.


Hafisa benar-benar keibuan. Pantas aja Iqbal suka sama Hafisa. Aku pun tertarik pada dirinya, tapi hatinya bukan milikku.


Andaikan Mamih mengizinkan kamu balik ke rumahku Hafisa, pasti aku bahagia sekali. Jangankan Nena, aku pun kangen banget sama kamu.

__ADS_1


"Destian, gue boleh minta izin sama lo gak? gue pinjam Hafisa buat jalan-jalan. Oh, iya. Gue lupa bilang sama lo kalau gue dan Hafisa sudah jadian. Karena Hafisa tinggal di rumah lo, kerja di rumah lo, jadi gue hargai lo sebagai majikan Hafisa." Ucap Iqbal.


"Silakan!" ucap Destian.


"Gimana Hafisa? apa kamu mau?" tanya Iqbal.


"Ayo dong Kak! kita jalan-jalan." Ajak Nena.


"Wah, rame sekali. Ada Nena juga?" tiba-tiba Bu Ratna datang.


"Kebetulan ada Ibu, saya mau minta izin sama Ibu untuk membawa Hafisa jalan-jalan boleh Bu? soalnya Nena kangen banget sama Hafisa." Minta Iqbal.


"Oh, gitu? Ibu mah gak ngelarang, semua keputusan ada di Hafisa!" ucap Bu Ratna tersenyum dan melirik ke Hafisa dan Destian.


"Ayok Kak!" ajak Nena.


"Iya-iya, demi Nena aku mau! dengar Mas Iqbal, semua buat Nena yah! bukan buat kamu!" ucapku.


"Makasih Hafisa." Ucap Iqbal.


"Bu, saya izin pergi sebentar yah! saya janji gak akan lama-lama dan tepat waktu untuk balik ke sini!" ucapku.


"Iya Hafisa, gak apa-apa. Kamu hati-hati yah!" minta Bu Ratna.


"Iya Bu, terima kasih yah!" ucapku tersenyum.


****


Aku, Iqbal, dan Nena akhirnya pergi jalan-jalan. Di situ, Destian meneteskan air mata. Ternyata Destian sudah mulai mencintaiku. Bu Ratna melihat wajah Destian sedih dan menghiburnya.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Bu Ratna.


"Gak Mah!" ucap Destian menghapus air matanya.


"Hey, hey, kenapa netes? kamu nangis? kamu gak rela Hafisa pergi dengan Iqbal? apa kamu sudah mencintai Hafisa?" tanya Bu Ratna.


"Enggak kok Mah, Mamah apaan sih!" ucap Destian.


"Hati kamu boleh bohong, tapi mata kamu gak bisa bohongin Mamah! Mamah kenal sekali watak kamu sejak kecil, jadi Mamah gak bisa kamu bohongin!" ucap Bu Ratna.


"Iya Mah, Destian terasa sakit kalau Iqbal bawa atau dekat dengan Hafisa. Destian udah mencintai Hafisa Mah! tapi, Hafisa gak cinta sama Destian." Ucap Destian.


"Dengar Mamah sayang, jodoh itu kita gak ada yang tahu, kalau memang kamu mencintai Hafisa kejar dan berjuang! tapi secara sehat, gak boleh licik atau pun yang bisa merugikan orang lain!" ucap Bu Ratna sambil menasehati.


"Tapi Mah, masa Destian harus ambil Hafisa dari Iqbal? sahabat macam apa Destian." Ucap Destian.


"Bukan seperti itu. Mencintai gak harus dekat, mesra-mesraan. Cintai dia secara sehat, artinya, kamu selalu ada untuk Hafisa, perhatian, mengerti dia dan selalu dukung dia! Mamah yakin kalau kamu ikhlas, hati Hafisa lama-lama akan luluh." Ucap Bu Ratna.


Bersambung....


Terima kasih atas dukungan kalian semua, readersku dan teman- teman udah setia ikutin cerita Cinta Hafisa,semoga ceritanya bisa menghibur dan gak ngebosenin ya, di tunggu episode selanjutnya 🥰🥰🥰


Sambil menunggu up cerita Cinta Hafisa, mampir yuk ke cerita romantis aku lainnya gak kalah seru dan romantis banget cekidot 🥰🥰🥰


CINTA DAN DETIK TERAKHIR


__ADS_1


__ADS_2