Cinta Hafisa

Cinta Hafisa
Bab 7


__ADS_3

"Mamih tanya Papih aja! apa yang dia lakukan selama ini!" ucap Iqbal langsung mengarah ke kamarnya.


"Maksud Iqbal apa Pih? emang apa yang Papih lakuin ke Mamih?" tanya Bu Fransiska.


"Papih gak lakuin apa-apa Mih, mungkin Papih lebih banyak kerja di luar di banding sama keluarga, mungkin maksud Iqbal seperti itu." Ucap Pak Setiawan.


"Benar kan Pih? gak bohongin Mamih?" tanya Bu Fransiska.


"Ya enggak dong Mih, buat apa Papih bohongin Mamih. Papih udah sayang banget sama Mamih." Ucap Pak Setiawan.


****


Malam itu, aku terbangun. Aku teringat Abah, Ibu dan Awalilah. Gimana sekarang kabar mereka, foto satu-satunya yang aku punya hilang dijambret waktu kemarin. Air mata aku terus berlinang menahan rindu. Rasanya, aku ingin sekali cepat-cepat gajian, agar bisa beli handphone baru.


Aku beranjak dari kasur, aku langsung ambil wudhu dan salat malam. Aku berdoa pada Allah, agar keluargaku selalu dalam lindungannya, dan aku berdoa agar aku diberikan jodoh yang soleh dan baik hati. Setelah melatunkan ayat-ayat Al-Quran, air mataku kembali menetes.


Ibu, Abah, Awalilah, aku kangen kalian semua di kampung. Air mata aku tak berhenti menetes karena ingat dan rindu kalian. Aku khawatir, takut Kang Baron menyakiti kalian. Maafin Fisa ninggalin kalian. Hafisa janji, setelah Fisa punya uang banyak, Fisa akan melunasi hutang Abah.


****


Di kediaman rumah Hasan. Hasan pulang dengan keadaan mabuk. Hasan stres memikirkan Hafisa. Marjanah Ibunya Hasan, gak rela Anaknya jadi pemabuk gara-gara Hafisa.


"Hafisa! kamu di mana? aku rindu." Ucap Hasan.


"Hasan! kenapa kamu Nak? Papah!" teriak Marjanah.


"Ya ampun, Hasan! kamu kenapa?" tanya Kang Baron.


"Pah, kembalikan Hafisa sama Hasan! kembalikan! hiks-hiks-hiks...." Hasan menangis menarik Kang Baron.


"Pah, Anak kita jadi pemabuk! Mamah gak rela Pah. Pokoknya, Papah harus cari gadis itu! Mamah gak mau Anak kita jadi gila gara-gara gadis itu." Ucap Bu Marjanah.


"Papah juga gak rela Mah. Pokoknya, Papah akan beri perhitungan sama keluarga Jajat!" ucap Kang Baron.


"Hafisa! di mana kamu! aku kangen." Ucap Hasan.


"Hasan, pasti Hafisa akan jadi milik kamu! kamu sabar yah!" ucap Bu Marjanah.


"Mamah bawa Hasan ke kamar! kasihan." Ucap Kang Baron.


Pelet apa yang membuat Hasan tergila-gila sama gadis muslimah itu. Jajat! tunggu pembalasanku.


****


Keesokan harinya, Aku mulai memasak di rumah Bu Fransiska. Aku menyiapkan semua masakan di meja makan. Lalu Bu Fransiska menegurku.


"Pagi sekali kamu bangun? sudah siap semua lagi." Ucap Bu Fransiska.


"Iya Bu, soalnya tadi saya sekalian salat subuh." Ucapku.


"Oh, gitu? bagus deh. Saya belum coba masakan kamu! saya mau bandingin masakan kamu dengan Nur, enakan mana. Kalau enakan kamu, kamu terus diperpanjang kerja di sini!" ucap Bu Fransiska.


"Insya Allah, gak mengecewakan Bu." Ucapku tersenyum.


"Oke, kita lihat penilaian suami dan Anak-anak saya nanti! oh, iya. Hijab kamu gak bisa dilepas?" tanya Bu Fransiska.


"Mohon maaf, gak bisa Bu!" ucapku kaget.

__ADS_1


"Oke, gak apa-apa. Bagus kaya gitu, jadi suami saya gak genit-genit. Dari pada kebuka aurat, saya gak suka." Ucap Bu Fransiska.


"Alhamdulillah. Terima kasih Bu." Ucapku senang.


Setelah selesai menyiapkan semuanya, Hafisa mengerjakan pekerjaan lain. Iqbal dan Nena langsung ke meja makan. Disusul dengan Pak Setiawan.


"Hallo, Mih." Sapa Nena dan Iqbal.


"Hallo, sayang." Ucap Bu Fransiska.


"Hallo, Mih." Ucap Pak Setiawan.


"Hallo, Pih. Ayo makan!" ajak Bu Fransiska.


"Tumben, pagi-pagi udah siap." Ucap Iqbal.


"Pembantu baru itu yang siapin semua." Ucap Bu Fransiska.


"Oh, ini masakan Kak Hafisa ya Mih?" tanya Nena.


"Ngapain kamu panggil Kakak? kamu panggil dia Bibi!" minta Bu Fransiska.


"Enggak Mih. Aku gak mau panggil Bibi! Kak Hafisa sudah nolongin Nena, dia baik banget. Jadi Nena bakal panggil Kakak!" ucap Nena.


"Memang kamu kenapa?" tanya Pak Setiawan.


"Aku kemarin mau ketabrak mobil. Tapi Kak Hafisa nolongin aku Pih, Mih. Waktu itu, aku belum kenal." Ucap Nena.


"Jangan percaya dulu kebaikan orang yang baru kenal. Siapa tahu baik cuma pura-pura!" ucap Bu Fransiska.


"Enggak Mah! Nena udah tahu dan melihat, kalau Kak Hafisa baik." Ucap Nena.


"Serius Pih?" tanya Bu Fransiska.


"Iya Mih, enak banget." Ucap Nena.


"Iqbal, gimana? enak?" tanya Iqbal.


"Hmmm.... biasa aja!" ucap Iqbal pura-pura. Iqbal gengsi dan malu kalau bilang enak.


"Bohong Kakak! bilang aja enak." Ucap Nena.


"Sama Nur, enakan mana?" tanya Bu Fransiska.


"Hafisa!" Iqbal keceplosan.


"Tuh, kan. Ngaku aja Kak, gak usah bohong! kalau enak, ya bilang enak dong!" ucap Nena.


Enak juga masakan dia. Ha-ha-ha...


"Gimana Bu, Pak, Mas Iqbal dan Nena masakan saya?" tanyaku penasaran.


"Lumayan. Saya akan perpanjang kamu kerja di sini! Anak-anak saya suka masakan kamu, apa lagi suami saya!" ucap Bu Fransiska.


"Alhamdulillah, terima kasih banyak Bu. Saya senang kalau kalian suka!" ucapku.


"Iya Kak, enak banget. Kapan-kapan ajarin Nena yah!" ucap Nena.

__ADS_1


"Siap Nena." Ucap Hafisa.


"Hafisa! kamu makan di belakang yah, kalau mau makan! dilarang makan di sini!" minta Bu Fransiska.


"Siap Bu!" ucapku langsung ke dapur.


"Mih, kenapa sih, Kak Hafisa gak boleh makan di sini?" tanya Nena.


"Gak pantas sayang. Dia pembantu, jadi hanya pantas makan di dapur." Ucap Bu Fransiska.


Jeleknya Mamih seperti itu. Selalu bandingin orang lain.


Gak lama Pak Setiawan, Iqbal dan Nena berangkat beraktivitas masing-masing. Saat Iqbal mau masuk mobil, Iqbal melihat Hafisa sedang menyirami kembang. Iqbal melihat ada aura kecantikan di wajah Hafisa, meskipun dia memakai kerudung.


Aduh, kok gue jadi lihatin dan mikirin dia sih. Tapi jujur, cantik juga.


"Den, gerbang sudah di buka." Ucap Satpam.


"Hah? iya, makasih Pak!" ucap Iqbal.


****


Iqbal sampai di kampus. Ada Wawan dan Destian yang menghampiri Iqbal melamun.


"Woy! melamun aja?" tanya Wawan dan Destian.


"Ah, lo." Ucap Iqbal.


"Lo kenapa sedih Bro? sabar lah! mungkin Sheila bukan jodoh lo!" ucap Wawan.


"Iya Bal, masih banyak cewek lain! gak cuma Sheila aja!" ucap Destian.


"Entah! dia tega nyakitin hati gue!" ucap Iqbal.


Gak lama Iqbal dan teman-temannya melihat Sheila keluar dari mobil cowok kemarin waktu di bar. Sheila cipika-cipiki cowok tersebut. Membuat Iqbal jijik dan geram.


"Bal! Sheila tuh!" ucap Destian.


"Iya tuh, Bal." Ucap Wawan.


"Gue udah gak peduli sama dia! lihatnya aja muak!" ucap Iqbal.


Bersambung....


Terima kasih atas dukungan kalian semua, readersku dan teman- teman udah setia ikutin cerita Cinta Hafisa,semoga ceritanya bisa menghibur dan gak ngebosenin ya, di tunggu episode selanjutnya 🥰🥰🥰


Sambil menunggu up cerita Cinta Hafisa, mampir yuk ke cerita romantis aku lainnya gak kalah seru dan romantis banget cekidot 🥰🥰


- TA'ARUF CINTA


- CINTA GADIS BISU


- CINTA COWOK DINGIN


- CINTA DAN DETIK TERAKHIR


- DIARY ASMARA

__ADS_1


- MUSLIMAH LOVE PRAYER


__ADS_2