CINTA ITU APA

CINTA ITU APA
Perkenalan Pertama


__ADS_3

Hari Minggu yang sangat cerah, Minggu gue selalu gue habiskan dengan nonton film kartun dan santai. Gue termasuk anak rumahan, jarang banget keluar buat main. Jujur, bisa dibilang teman gue cuma Via, Yani, Rere, Fifi, Ria, dan Andi itupun gue jarang banget keluar buat pergi main bareng mereka. Selain mereka gue beneran gak punya teman buat keluar main, dan lagi-lagi jujur gue pun gak punya teman dekat selama SMP. Lo udah pada tahu sendiri kan, selama gue SMP gue terlalu sibuk belajar dan belajar, teman gue pun juga yang kutu buku yang pada dasarnya mereka juga gak doyan main keluar. Jadi pas gue SMA, gue kaya masih belum terbiasa atau bahkan dibilang gak tahu mau main kemana kalo lagi libur sekolah, teman sekolah gue yang sekarang pun gue gak terlalu dekat-dekat banget. Sekalipun mau main gue udah males duluan, soalnya rumah mereka pada jauh-jauh banget. Gue kan anak rumahan mana tahu gue arah jalannya, yang ada gue nyasar gak bisa pulang. Lagi asik-asiknya nonton tiba-tiba ada SMS dari Via.


(Ry, nanti malem lo mau ya ketemuan sama temannya Konde?)


(Kok mendadak sih Vi? Malem? Gak bisa dari sore aja, biar gue nanti pulangnya gak malem-malem banget)


(Coba gue telvon cowok gue dulu)


(Oke) Dan setelah lima menit Via pun membalas.


(Kata Konde palingan abis magrib Ry. Soalnya temannya masih ada kegiatan di kampus)


(Oh gitu, ya udah. Tapi lo jemput gue dulu ya. Gue mana diizinin sama nyokap gue keluar malem-malem sama cowok)


(Oke siap. Abis magrib gue meluncur ke rumah lo)


(Oke) Gue pun melanjutkan nonton tv, siangnya gue masuk kamar buat tidur siang. Nyokap gue tahu banget, kalo gue tidur siang pasti bablas sampai sore. Jadi, aman gak bakalan ada yang ganggu gue tidur sampai sore.


"Assalamualaikum," terdengar suara Via.


"Walaikumsalam," kita semua pun serempak menjawab salam Via. Dan gue pun langsung keluar.


"Bentar ya Vi, gue baru selesai makan. Vi, nanti lo kalo ditanyain sama nyokap gue bilang kita mau ke warnet ya," kata gue yang ancang-ancang biar nanti kalo ditanya sama nyokap gue gak beda jawabnya.


"Oh oke siap," kata Via yang langsung mengacungkan jempol. Gue pun masuk lagi buat rapi-rapi sebentar, setelah itu gue keluar kamar dan pamit.


"Mah, Ryanti mau ke warnet dulu ya sama Via," kata gue yang sedikit berbohong.


"Jangan malem-malem pulangnya," kata nyokap gue yang selalu berpesan dengan kata-kata yang sama.


"Iya," kata gue. Gue pun keluar dan ternyata nyokap gue ngikutin gue dari belakang.


"Mau ke warnet mana Vi emangnya?" kata nyokap gue yang langsung bertanya pada Via. Via pun kaget dan melihat ke arah gue, tapi Via langsung inisiatif.


"Warnet depan situ Bu, itu yang dekat jalan raya," kata Via.


"Oh ya udah. Jangan malem-malem ya, kalo bisa jam 9 udah pulang," kata nyokap gue yang juga berpesan ke Via.

__ADS_1


"Iya Bu," kata Via mengiyakan. Gue dan Via pun langsung jalan ke ujung gang, di ujung gang gue lihat lagi ke arah rumah gue, dan nyokap gue masih berdiri ditempat yang sama.


"Vi, ingat ya jangan malem-malem. Lo tahu kan nyokap gue tegas orangnya, nanti kalo gue pulang telat di kunciin dari dalam bahaya gue," kata gue mengingatkan.


"Iya, lo ingetin aja gue kalo udah jam 9. Takutnya gue keasikan ngobrol sama cowok gue lupa waktu," kata Via yang cengar-cengir.


"Tapi lo jangan jauh-jauh ya dari gue. Gue takut di apa-apain, lo kan tahu gue gak pernah jalan bareng cowok," kata gue yang sedikit agak takut.


"Iya tenang aja Ry," kata Via.


"Kita ketemuan dimana ini?" gue pun langsung menanyakan ke Via soalnya kita jalan gak tahu arah mau kemana.


"Nanti dulu, gue SMS cowok gue dulu," kata Via yang langsung mengeluarkan handphonenya. Setelah tahu kita bakalan ketemuan dimana Via pun langsung menarik tangan gue. Setelah jalan agak lumayan jauh, kita pun berhenti di depan wartel (warung telephone). Via celingak celinguk karena orang yang dimaksud belum ada ditempat.


"Dimana Vi mereka?" kata gue.


"Katanya sebentar lagi sampai Ry," kata Via sambil membalas SMS dari cowoknya.


"Ya udah, tungguin aja," kata gue yang langsung nengok kanan kiri. Dan gak sampai 5 menit akhirnya orang yang ditunggu datang, Konde cowoknya Via datang dengan motor Supra yang sudah di modif, dan cowok satu lagi datang dengan motor Satria yang modelnya agak sedikit nungging. Dalam hati gue (kenapa motornya model begini sih!!! Bakalan gak nyaman nih gue duduknya).


"Hallo, udah lama nunggunya yang?" kata Konde yang langsung menyapa.


"Ry, kenalin nih teman gue. Namanya Dwi! Wi, ini cewek yang gue mau kenalin ke lo. Namanya Ryanti," kata Konde yang memperkenalkan kita berdua. Lalu cowok itupun menyodorkan tangannya untuk bersalaman.


"Dwi," kata cowok itu. Cowok itu tinggi, dengan kulit sawo matang, dan badannya agak berisi. Dilihat dari penampilannya kayanya dia beneran anak kuliahan sih! beda dengan penampilan Konde cowoknya Via. Maaf, bukannya gue merendahkan penampilan seorang yang kerjanya supir angkot, tapi kalo yang gue lihat kalo anak kuliahan penampilannya tuh kaya udah keciri banget gitu. Agak sedikit cupu tapi masih style dengan style kaos dipadukan dengan kemeja flannel kotak-kotak.


"Ryanti," gue pun memperkenalkan diri.


"Ya udah kita kemana kek gitu, beli es apa kek terus nongkrong dimana gitu. Dari pada disini," kata Konde yang langsung ngajak kita buat nongkrong.


"Yuk," Via pun langsung naik ke motor cowoknya. Gue dengan kaku gimana caranya gue naik motor yang jok-nya nungging gitu.


"Ayo Ry," kata Dwi yang sudah menyalakan motornya.


"Maaf gue naiknya gimana ya?" kata gue dengan muka polosnya.


"Iya udah tinggal naik aja," kata Dwi.

__ADS_1


"Maksud gue, kalo naik joknya tinggi kaya gini kan harus pegangan," gue pun masih memasang muka polos.


"Iya udah pegang tangan gue, kalo lo gak mau pegang tangan gue lo pegang pundak gue aja gak apa-apa," kata Dwi yang mengizinkan gue pegangan di pundaknya. Soalnya kalo pegangan tangan kesannya udah dekat banget ya.


"Gak apa-apa nih?" kata gue yang masih ragu.


"Iya gak apa-apa," kata Dwi dan dia pun langsung tersenyum. Akhirnya gue naik ke motornya dengan memegang pundaknya yang lumayan berisi itu. Kita berempat pun langsung menuju kesebuah warung es, warung yang jualan pop ice dengan topping bubble dan keju yang melimpah. Sampai disana kita pun langsung memesan es, Konde dan Via pun seperti sengaja memberi kita ruang buat ngobrol berdua. Mereka duduk agak sedikit jauh dari meja gue dan Dwi. Gue pun ngobrol-ngobrol, Dwi ternyata cowok yang asik. Ternyata benar, dia anak kuliahan dan dia termasuk anak orang kaya, pantes aja motornya Satria. Soalnya setahu gue anak kuliahan pasti motornya gak jauh dari Supra atau gak Beat, motor Satria kan agak lumayan mahal. Ternyata dia orang kaya, pantes aja dia bisa kuliah. Saking asiknya ngobrol gue langsung kaget pas lihat jam di handphone sudah jam 20:30. Gue pun langsung ngomong ke Dwi kalo gue gak boleh pulang malem-malem sama nyokap gue, batesnya cuma sampai jam 9 malam. Dan syukurnya Dwi paham dan dia pun langsung ngajak Konde dan Via untuk pulang.


"Wi, maaf ya nanti nganter gue-nya sampai ujung gang aja ya. Nyokap gue pasti marah kalo gue pulang sama cowok," kata gue yang berbisik dari belakang.


"Oh, siap Ry," kata Dwi.


"Maaf ya," kata gue yang masih gak enak.


"Slow, gue paham kok," kata Dwi. Dan ditengah jalan Konde ngasih isyarat ke Dwi kalo dia dan Via harus mampir ke tempat lain dulu. Kita pun berhenti.


"Gue mau beli martabak dulu Ry, lo mau ikut gue dulu apa duluan," kata Via. Gue pun melihat jam, udah jam 20:40.


"Gue duluan aja deh Vi, waktu mepet nih," kata gue.


"Oh ya udah. Hati-hati ya Ry, Wi anterin teman gue sampai selamat," kata Via.


"Oke siap," kata Dwi yang langsung jalan, kita pun berpisah. Sampai di ujung gang gue pun turun dari motor dan langsung berdiri disamping motor.


"Sorry ya Wi, gak tersinggung kan gue minta turun disini," kata gue yang masih gak enak.


"Iya gak apa-apa Ry," kata Dwi yang langsung tersenyum.


"Iya udah gue duluan ya," kata gue.


"Iya, makasih ya udah mau kenalan sama gue," kata Dwi.


"Iya sama-sama. Ya udah hati-hati lo pulangnya," kata gue.


"Siap, gue pulang ya," kata Dwi yang langsung menyalakan motornya.


"Oke," kata gue. Dwi pun pergi, setelah gue rasa dia pergi agak jauh gue pun jalan ke arah rumah gue. Dan gue kaget, ternyata dari tadi ada Pak Tito sedang mengamati gue disamping tiang listrik. Ngapain sih tuh Pak Tito berdiri disitu, udah kaya mata-mata. Gue pun tetap berjalan terus, gue pura-pura gak lihat kalo disitu ada Pak Tito. Gue jalan sambil ngedumel sendiri.

__ADS_1


"Mampus gue kalo Pak Tito ngadu ke Bokap gue, bisa di omelin abis-abisan gue," kata gue.


__ADS_2