
Hari ini begitu cepat, pelajaran demi pelajaran udah gue lewatin. Akhirnya jam pulang sekolah berbunyi, gue pun beres-beres. Rere yang sudah selesai beres-beres langsung ke meja gue.
"Ry, jadi ngumpul dulu ya kita. Udah lama nih kita gak ngobrol-ngobrol.
"Ya udah gue mah ayo-ayo aja," kata gue yang masih sibuk beres-beres.
"Si Via ikut ngumpul kan dia? Awas aja kalo gak ikut ngumpul lagi, mentang-mentang udah punya cowok sibuk pacaran mulu dia," kata Rere.
"Tadi sih gue SMS katanya ikut," kata gue.
"Oke ayo kita pulang," kata Rere yang langsung gandeng tangan gue.
"Din, gue duluan ya!" kata gue yang masih melihat Dinda masih beres-beres.
"Oke siap," kata Dinda. Gue, Rere, Ria, dan Fifi pun langsung jalan menuju tangga. Disana sudah ada Via, Yani, dan Andi yang menunggu.
"Hai... akhirnya kita kumpul lagi," kata Andi yang langsung berlari ke arah Rere dan memeluknya.
"Apaan sih lo Ndi gaya lo kaya gitu, malah jadi kaya banci," kata Rere.
"Dih, gue kan kangen kumpul bareng-bareng lagi. Makannya gue mengekspresikan diri gue, malah di bilang banci gue," kata Andi yang langsung cemberut.
"Ha-ha-ha, bercanda bro. Lagian lo gayanya begitu" kata Rere.
"Ya udah yuk, ngomong mulu lo pada dari tadi," kata Via yang langsung menarik tangan gue. Kita pun jalan sambil ngobrol kearah gerbang sekolah, belum sampai di pintu gerbang Mbak Isper manggil gue dari belakang.
"Ryanti," kata Mbak Isper. Gue dan yang lainnya langsung refleks nengok kebelakang. Karena gue ngerasa Mbak Isper bakalan ngomong sesuatu gue langsung suruh yang lainnya duluan ketempat biasa, kecuali Via dia memang sengaja gue tahan. Jadi nanti kalo gue udah selesai ngobrol sama Mbak Isper gue gak jalan sendiri ke tempat biasa gue sama yang lain nongkrong.
"Iya Mbak," kata gue. Mbak Isper pun langsung nyamperin gue dan Via.
"Ry, maaf nih. Teman Mbak ada yang mau kenalan lagi sama Ryanti," kata Mbak Isper yang senyum-senyum.
"Siapa? Yang kemaren Mbak maksud? Kan aku udah bilang Mbak, gak apa-apa kalo ada yang mau kenalan sama aku," kata gue.
"Bukan Ry, beda lagi," kata Mbak Isper.
"Yang kemarin? Kok lo gak cerita apa-apa Ry ke gue? Siapa Mbak emangnya yang kemarin mau kenalan sama Ryanti," kata Via yang penasaran.
"Kalo yang kemarin namanya Daeng, anak kelas IPS 1. Kemarin udah Mbak kasih nomer kamu, emang dia belum SMS kamu?" kata Mbak Isper.
"Belum Mbak. Terus yang sekarang maksud Mbak ada lagi?" kata gue yang penasaran.
"Ah... gimana sih! Kemarin mintanya buru-buru Mbak kira mau langsung SMS kamu. Eh... iya sekarang beda orang lagi Ry," kata Mbak Isper.
"Siapa Mbak?" kata Via yang justru dia yang lebih penasaran.
"Kok jadi lo yang heboh Vi?" kata gue yang heran.
__ADS_1
"Penasaran gue, ternyata lo banyak yang naksir juga ya!" kata Via senyum-senyum.
"Kalo sekarang namanya Musa Ry, dia anak kelas IPS 2. Oh iya... kamu inget gak kemarin yang anak osis minta sumbangan buat acara Isra Mi'raj? Cowok yang muter mintain duitnya, itu namanya Musa," kata Mbak Isper yang kasih ciri-ciri cowok yang namanya Musa.
"Oh yang itu," kata gue.
"Inget kan?" kata Mbak Isper.
"Inget lah Mbak orang aku kaget kok tiba-tiba dia senyum-senyum sama aku. Ya udah aku bales senyumin aja, padahal aku gak kenal," kata gue yang emang waktu itu sedikit heran.
"Emang iya Ry si Musa senyum-senyum ke kamu?" kata Mbak Isper yang kelihatannya baru tau.
"Iya beneran Mbak," kata gue.
"Pantesan dia nanyain kamu tuh emang pas abis dari muter mintain dana kemarin Ry. Ya udah sekarang boleh gak Mbak kasih nomernya ke Musa Ry?" kata Mbak Isper.
"Mmmmm, gimana ya Mbak aku bingung. Kata Mbak teman Mbak yang namanya Daeng mau kenalan sama aku, sekarang teman Mbak yang namanya Musa juga mau kenalan sama aku. Nanti aku di anggep cewek gak bener ya Mbak?" kata gue yang bingung takut dianggap cewek yang maruk.
"Iya gak lah Ry, namanya juga kenalan doang lo bebas mau kenalan sama siapa juga. Kecuali, kalo lo pacaran sama kedua-duanya baru gak boleh. Ya kan Mbak?" kata Via yang ngasih saran.
"Iya benar Ry, gak apa-apa kalo cuma kenalan doang mah. Gak bakalan di anggep cewek gak benar kok," kata Mbak Isper.
"Oh gitu... ya udah kalo emang gak apa-apa kasih aja nomer aku juga ke Musa Mbak," kata gue yang langsung setuju.
"Oke siap. Gak apa-apa ya?" kata Mbak Isper.
"Ry, gak nyangka gue diem-diem banyak yang suka sama lo. Tau gitu mah gak usah pusing-pusing lo nyari alesan buat masalah antara lo, Rere, sama Bang Sur," kata Via.
"Ye... gue aja baru tau kemarin Vi. Gue kaget pas abis dari kantin Mbak Isper manggil gue, terus ngomong kalo temannya mau kenalan sama gue. Mbak Isper minta ijin kasih nomer gue, ya udah gue izinin. Tapi sampai sekarang belum SMS gue sama sekali, dan gue aja gak tau yang namanya Daeng tuh yang mana?" kata gue.
"Ya udah lo tungguin aja, mana yang cepat dan berani SMS lo duluan ya itu pemenangnya," kata Via.
"Menang dalam hal apa?" kata gue bingung.
"Hal apa kek yang bikin lo gak jomblo lagi," kata Via senyum-senyum. Gue cuma membalas omongan Via dengan kerutan kening, tanda gue masih gak ngerti maksudnya apa.
"Lama banget lo berdua, abis ngapain sih?" kata Andi yang langsung nyerocos pas gue dan Via baru sampai.
"Tahu nih dari kemarin sih Ryanti di panggil mulu sama Mbak Isper, kenapa sih? Punya transaksi tersembunyi lo ya Ry," kata Rere yang memang kemarin sempat melihat gue dan Mbak Isper ngobrol, tapi gue belum cerita sama sekali ke mereka.
"Si Ryanti diem-diem banyak yang suka guys," kata Via.
"Hah, masa? Siapa aja emang? Mbak Isper ceritanya jadi Mak Comblang Ry," kata Ria yang diem-diem sifat kepo-nya lebih akut.
"Iya kemarin kan ceritanya gue di panggil Mbak Isper katanya temannya mau kenalan sama gue, katanya namanya Daeng anak kelas IPS 1. Terus kemarin Mbak Isper minta izin kasih nomer gue ke Daeng itu, ya gue izinin aja. Lah, terus gue kaget tadi Mbak Isper ngomong lagi ke gue katanya temannya ada lagi yang mau kenalan namanya Musa anak kelas IPS 2," kata gue yang mulai menceritakan.
"Cie...cie... Ryanti banyak juga yang suka. Hajar Ry," kata Fifi.
__ADS_1
"Tapi lo tahu Ry cowok yang dimaksud sama Mbak Isper yang mana aja," kata Yani.
"Kalo yang namanya Daeng gue gak tahu orangnya yang mana, tapi kalo yang namanya Musa gue tahu. Lo tahu gak Ketua Rohis yang kemarin mintain dana ke tiap kelas buat acara Isra Mi'raj? Itu yang namanya Musa," kata gue.
"Yang mana sih? gue gak merhatiin banget-banget soalnya," kata Andi.
"Oh iya gue inget mukanya. Yang orangnya agak item kan? Tapi lumayan sedikit manis walaupun item juga," kata Ria.
"Oh yang itu... ya gue juga inget. Gak apa-apa item juga Ry, ketua Rohis tahu!!! Siapa tahu abis ini Ryanti bisa lebih muslimah lagi," kata Fifi.
"Maksud lo gue kurang muslimah gitu?" kata gue yang pura-pura tersinggung.
"Bukan gitu maksud gue, siapa tahu aja abis ini lo bisa memantapkan untuk memakai hijab kaya gue ini," kata Fifi.
"Amin," mereka serempak.
"Oh iya mumpung lagi pada ngumpul nih, gue mau cerita. Gue sih udah cerita sama Ryanti, Fifi, sama Ria. Tapi gue cerita aja lagi, kan gue belum cerita ke Via, Yani, sama Andi," kata Rere. Seketika gue dan Via saling melirik, tanda gue dan Via udah tahu apa yang bakalan Rere ceritain.
"Cerita apa Re?" kata Yani.
"Lo semua kan pada tahu kalo gue suka sama Bang Sur, bahkan bisa dibilang kalo dia cinta pertama gue. Ceritanya kan pas gue nanya nomer Bang Sur ke Ryanti niatnya gue mau SMS kan buat berusaha dekat lah, tapi belum sempet gue SMS besoknya gue berangkat ketemu Bang Vindi. Bang Vindi kan bisa dibilang dekat kan sama Bang Sur, karena mereka sama-sama ikut Paskib dan mereka juga sekelas. Jadi, bohong banget kalo dia gak tahu apa-apa tentang Bang Sur. Nah, ya udah tuh gue ambil kesempatan nanya-nanya ke Bang Vindi tentang Bang Sur lagi dekat gak sama cewek, terus lagi suka gak sama cewek. Dan ternyata Bang Vindi bilang Bang Sur lagi gak dekat sama siapa-siapa karena emang Bang Sur jarang dekat sama cewek, tapi diem-diem katanya dia lagi suka sama adik kelas. Inisial huruf depannya R," kata Rere menceritakan kembali.
"Ryanti, Rere, Ria," kata Yani seketika. Gue yang lagi asik minum es kelapa mendadak keselek dan batuk. Untungnya mereka gak curiga sama tingkah laku gue, cuma Via yang sadar dan Via langsung pura-pura bisik-bisik ke gue jadi seakan-akan gue keselek karena bisikannya Via.
"Tuh kan benar kan kata gue, R itu bisa jadi Ryanti sama Rere? Gue kemarin juga langsung nebak kaya gitu Yan," kata Ria yang bangga tebakannya sama dengan Yani.
"Lo kan juga nama depannya R Ri!" kata Yani.
"Tapi kan kalo gue gak mungkin Yan, gue aja jarang ngobrol sama Bang Sur," kata Ria.
"Mungkin aja, siapa tahu dia kagum karena dia nganggep lo kalem. Kalem sih, tapi kalo udah kepo kalemnya pudar," kata Fifi. Serempak kita pun ketawa.
"Tapi beneran deh, kalo Bang Sur ternyata suka sama Ryanti patah hati banget gue," kata Rere. Seketika gue dan Via lirik-lirikan lagi.
"Jangan down duluan dong Re, berpikir positif aja," kata Andi.
"Ya iyalah gue down, gue dibandingin sama Ryanti mah apa atuh. Ryanti cantik, kulitnya masih kelihatan putih walaupun udah panas-panasan sebulan, kalem, feminim. Coba gue, lihat udah item panas-panasan sebulan makin keling, gak ada kalem-kalemnya, gak ada feminim-feminimnya, jangankan feminim orang kata Roni aja cara gue jalan udah kaya preman pasar," kata Rere yang kayanya beneran down.
"Kalo pun emang Bang Sur sukanya sama Ryanti kan bukan salah Ryanti juga Re. Lagian kan Ryanti gak ada perasaan apa-apa, Bang Sur tuh gak cocok sama Ryanti. Coba lo bayangin orang kalem pacaran sama orang kalem, mulai ngobrolnya dari mana? Lagian si Ryanti kan lagi banyak yang suka, dia bisa lah milih sesuai kriteria dia yang sifatnya gak sama kalemnya sama dia," kata Via yang berusaha membela gue.
"Iya juga sih, Ryanti emang gak salah. Tapi gue sedih aja kenapa harus teman dekat gue yang disukain," kata Rere yang sok sedih.
"Hush, gak boleh berpikir sesuatu yang gak pasti ah. Kita kan sampai sekarang belum tahu yang dimaksud R itu siapa? Dan yang namanya R yang seangkatan sama kita kan bukan Ryanti dan Rere doang. Jadi, gak boleh mikir yang gak-gak dulu," kata Yani.
"Iya, gak baik tahu," kata Fifi.
"Eh, maaf bukannya maksud gue begitu. Maaf Ry, bukannya gue langsung nyalahin lo," kata Rere yang merasa bersalah.
__ADS_1
"Iya gak apa-apa," kata gue yang dari tadi lebih milih diam daripada ikut komentar. Walaupun apa yang dibilang Yani benar tapi tetap aja gue ngerasa takut. Dan sepertinya Via ngerasain ketakutan didalam hati gue, Via pun perlahan mengelus pundak gue. Seakan dia memahami, dan ingin bilang "Udah Lo Tenang Aja, Gak Bakalan Ada Yang Nyalahin Lo Dalam Masalah Ini".