
"Ry, kalo dipinggir jalan sendirian gak boleh bengong. Bahaya loh," terdengar suara yang mulai gak asing ditelinga gue.
Gue yang tersadar langsung melihat siapa orang yang memanggil. Dan benar saja itu suara Andre, dia sedang membawa angkot.
"Eh, lo Ndre. Tumbenan narik angkot siang, bukannya lo pagi gantian sama Dindin," kata gue yang heran.
"Gue udah gak gantian sama Dindin lagi, udah beda bos gue. Sekarang gue dapetnya yang narik siang," kata Andre.
"Oh gitu," gue pun menjawab dengan singkat.
"Ya udah bareng yuk sama gue, daripada kelamaan bengong sendirian dipinggir jalan," Andre pun menawarkan bareng.
"Oh ya deh gue ikut, gue nungguin angkot lewat dari tadi lama banget gak ada yang lewat," kata gue yang langsung menaiki angkot tersebut.
"Iya ikut gue aja daripada lo telat," kata Andre yang langsung menjalankan angkotnya.
Gue pun langsung duduk ditempat biasa, paling pojok di bangku 4, walaupun gue jauh dari Andre tapi gue merasa kalo Andre selalu melihat gue dari kaca spion. Gue yang merasa gak enak karena kejadian kemarin langsung ingin meminta maaf.
"Ndre, masalah kemarin gue minta maaf ya," kata gue yang langsung meminta maaf sebelum angkot penuh dengan penumpang lain.
"Iya, gak apa-apa Ry. Gue kalo jadi lo juga pasti marah sama Dindin, dia emang paling gak bisa kalo disuruh jaga rahasia. Jadi, lo gak perlu deh kasih tahu rahasia apa-apa sama dia," kata Andre sambil tersenyum.
"Tapi lo gak marah kan sama keputusan gue? Gue masih belum bisa nerima siapa-siapa soalnya," kata gue yang memastikan kalo Andre gak masalah dengan keputusan gue.
"Iya, gak apa-apa. Gue paham kok, tapi lo gak ngelarang gue buat tetap berusaha kan? Siapa tahu dengan lebih usaha lo bisa ngelupan dia," kata Andre.
"Gimana ya? Sejalannya aja deh, gue gak bisa ngomong boleh atau gak boleh," kata gue yang masih ragu.
"Oke siap," kata Andre yang mau gak mau menerima keputusan gue.
Obrolan pun berhenti karena mendadak angkot penuh dengan penumpang.
Sampai didepan gang sekolah Andre pun menghentikan angkotnya, saat ingin membayar Andre pun langsung ingin kabur dan memberikan gratisan ongkos ke gue. Tapi, belum sempat dia kabur gue seperti biasa melempar duluan uang ongkosnya ke depan, dan Andre pun mendadak berhenti kembali.
"Lo gak dikasih tahu apa sama Dindin, kalo gue paling gak suka kalo dikasih gratisan. Gue bakalan marah sama lo kalo lo kasih gratisan ongkos ke gue," kata gue yang sambil sedikit mengancam ke Andre. Gue pun langsung berjalan dan tiba-tiba saja dari arah kanan ada 3 kunyuk yang langsung ngehampirin gue. Gue heran banget deh, kok belakangan ini kalo tiap gue berangkat sekolah selalu datengnya bisa barengan sama 3 kunyuk ini. Tapi, gak apa-apalah kan cuma seperti ini gue bisa ngobrol sama Rizky, gak ngobrol berdua juga gak apa-apa. Gue yang sadar kalo angkotnya Andre masih ada dibelakang gue pun langsung melihat raut wajah Andre. Dia masih stay disana sambil melihat gue yang berjalan dengan 3 cowok kunyuk ini. Gue yang udah ngambil keputusan buat gak nerima Andre, tapi kalo suasananya kaya gini tetap aja gue merasa gak enak.
"Can, kaya biasa ya!" kata Rizky yang senyum-senyum.
"Mana duit pulsanya? Katanya mau bayar pulsa gue," gue yang sok meminta uang ganti pulsa.
"Nanti kalo selesai semesteran baru gue mintain dana buat pulsa lo," Rizky pun menjawab dengan cengar-cengir.
"Emang hari ini pelajarannya masih sama kelas ips sama kelas ipa?" kata gue yang heran kok tumben-tumbenan 3 hari berturut-turut tugas semesteran sama.
"Masih sama Ry, besok yang udah mulai beda pelajaran kita," kata Anwar yang memang sekelas dengan gue.
__ADS_1
"Oh berarti besok gue aman dan nyaman gak diganggu mereka," kata gue sambil menunjuk Rizky dan Ryan.
"Dih, kok lo gitu sih Can. Padahal kan itu satu alasan biar si Bule bisa SMS-an sama lo," kata Ryan yang mulai meledek.
"Lo gak usah mulai Blay, mau lo hari ini kita tewas," Rizky pun memukul Ryan.
"Eh, iya maaf," Ryan pun langsung meminta maaf sambil senyum-senyum.
Gue yang gak menghiraukan omongan mereka langsung lanjut jalan ke gerbang sekolah.
Setelah masuk gue sudah bisa melihat dari kejauhan teman-teman gue sudah duduk santai ditangga atas. Saat ingin naik ke atas, tiba-tiba muncul Deni didepan gue.
"Hai Ry, ya Allah makin cantik banget sih lo hari ini. Makin terpesona gue sama lo," Deni pun melemparkan gombalan sambil cengengesan.
Gue yang gak membalas apa-apa, dan hanya melirik sebentar kearah Deni, lalu kembali menaiki tangga.
"Kasihan banget sih lo Den, di cuekin mulu," kata salah satu cowok teman sekelasnya.
"Tenang aja, sekarang dia masih jual mahal sama gue. Lihat aja nanti malah dia yang tergila-gila sama gue.
"Najis, pede banget sih lo Den. Muka udah kaya kain lap basah juga lo," kata temannya.
Gue yang masih mendengar omongannya mendadak berhenti dan menatap tajam ke arah Deni dan temannya tanpa berkomentar apapun.
"Gak, biasa cowok sok ganteng kepedean," kata gue yang langsung berjalan kearah teman-teman gue yang sedang duduk.
"Siapa emangnya?" Yani pun bingung.
"Si Deni?" kata Fifi.
"Emang Deni suka sama Ryanti?" kata Yani yang memang selalu tertinggal kalo ada info. Sebenarnya alasan dia yang gak tahu apa-apa atau selalu ketinggalan info itu bukan karena kita gak cerita ke dia. Tapi, karena sifatnya yang gak mau tahu urusan orang karena takut ngomongin kejelekan orang itu yang bikin kita gak mau cerita ke dia kalo dia gak tanya ke kita duluan.
"Ketinggalan lo, Deni tuh suka sama Ryanti udah dari kelas 10. Kan tiap hari setiap Ryanti lewat depan kelasnya, dia selalu ngerayu dan ngegombalin Ryanti mulu," kata Fifi.
"Iya, sampai siapa yang digombalin siapa yang enek," kata Ria.
"Lo sama dia aja Ry, kayanya cinta mati banget dia sama lo. Kayanya dia bakalan setia deh sama lo, ya walaupun mukanya dibawah standar," kata Rere.
"Gak usah ngeledek gue deh. Tahu deh yang udah punya cowok," kata gue memasang wajah sinis.
"Tahu nih semenjak punya cowok kita dipaksa buat punya cowok juga kaya dia Ry," kata Fifi yaang kesal.
"Emang lo dipaksa jadian sama siapa?" kata gue sambil tertawa.
"Eh, jangan salah Ry. Si Fifi diem-diem disukain sama brondong tahu," kata Rere.
__ADS_1
"Brondong? Siapa?" gue pun penasaran.
"Siapa deh namanya Fi?" kata Rere yang pada dasarnya memang orangnya pelupa.
"Gak tahu gue juga," Fifi pun langsung memalingkan wajahnya.
"Pura-pura gak tahu lo, padahal lo sendiri yang kasih ke gue namanya," kata Rere meledek.
"Tenang, gue inget. Namanya Wita?" kata Ria.
"Wita? Perasaan nama-nama orang sekarang pada aneh-anah ya," kata gue.
"Itu tuh Ry orangnya," Rere pun berteriak histeris saat orang yang dimaksud akan lewat didepan kita.
Gue yang langsung tahu orang yang dimaksud langsung menatap kearah cowok brondong itu.
"Buset Fi, putih bener tuh bocah," kata gue.
"Bodo amat," Fifi pun yang memang belum tertarik untuk berpacaran pun tidak menghiraukan sama sekali.
"Tapi mukanya kaya anak kecil banget ya kan Ry?" kata Ria.
"Iya mukanya kaya anak masih SMP. Gue kemarin menghayal sama Ria kalo Fifi beneran sama tuh cowok. Buset udah kaya anak TK lagi pacaran, ceweknya badannya yang mungil, cowoknya mukanya anak kecil banget," kata Rere.
"Udah yuk Yan, masuk kelas," Fifi pun mengajak Yani yang dari tadi tidak memberikan komentar apa-apa.
"Dih, ngambek. Anak gue udah gede nih sekarang, udah mulai disukain sama cowok. Aduh, gue sebagai emaknya anak-anak ikut bahagia kalo anak gue bahagia," kata Rere yang berlagak se olah-olah dia beneran emak kita.
Fifi pun masuk kedalam kelas bersama Yani.
"Udah gak usah diledekin terus nanti nangis adek bontot ," kata Ria.
"Udah yuk masuk, bentar lagi bel bunyi. Ini ceritanya si Via belum kelihatan, emang dia belum dateng?" kata gue yang baru sadar kalo Via memang tidak terlihat diantara kita-kita.
"Belum dateng deh kayanya, orang gue dari tadi disini juga belum lihat dia sama sekali," kata Rere.
"Masa iya dia gak masuk sekolah saat semesteran kaya gini," kata gue yang khawatir.
"Telat kali, kalo gue perhatiin akhir-akhir ini kan dia dateng selalu mepet jam masuk terus," kata Andi.
"Iya juga sih, walaupun berangkatnya sama gue.. Tapi dia gak langsung turun sama gue," kata gue.
"Emang dia berangkat selalu sama lo Ry? Terus dia gak langsung turun sama lo? Kemana dulu dia?" kata Rere yang langsung memberi banyak pertanyaan.
"Gak tahu gue dia kemana dulu. Udah yuk masuk gue masih mau baca-baca sedikit sebelum bel masuk," gue pun memberi alasan, karena entah sahabat gue udah tahu apa belum tentang masalah Via punya cowok supir angkot. Tapi, gue gak mau cerita ke mereka. Biarlah Via sendiri yang cerita tentang kehidupannya ke mereka sendiri.
__ADS_1