CINTA ITU APA

CINTA ITU APA
Kesan Pertama


__ADS_3

Matahari seperti biasa mengeluarkan cahaya yang begitu terik, siang itu gue berangkat sekolah seperti biasa. Tetapi hari ini Via masih berangkat sekolah bareng sama gue, gue mencium bau-bau pasangan yang lagi berantem kayanya. Sudah dua hari ini, gue gak pernah berangkat sekolah naik angkotnya Andre. Entah kemana tuh manusia yang satu itu, kadang tiap hari nongol terus kadang menghilang begitu aja. Sebenarnya hati ini kasihan melihat Andre yang selalu berusaha keras untuk menarik perhatian gue, tapi apalah hati ini kaya belum bisa lepas dari bayang-bayang Beruang. Sempat gue berfikir untuk menyerah sepertui Ratu dan kini sekarang dia udah bahagia di hidupnya, tapi setiap kali gue mau menjauh ada aja yang bikin gue selalu merhatiin dia dan alhasil membuat hati gue deg deg serr lagi melihatnya.


Sampai disekolah gue dan Via sudah melihat teman-teman sekolah gue sedang santai didepan kelas, hari ini sekolah gue masih santai dengan pelajaran. Karena jadwal hari ini masih meremed nilai semester anak-anak yang masih kurang. Buat kita yang gak kena remed ya kerjaannya santai dan ngobrol-ngobrol aja disekolah sampai jam pulang sekolah.


"Ryanti...," terdengar suara yang selama ini gak pengen banget gue denger. Dari sekian cowok yang ada rasa sama gue, entah kenapa gue ngerasa gak suka aja ngelihat Deni. Gue tipe orang yang gak suka banget ngelihat cowok yang super-super sok ganteng dan ngerasa dirinya oke, ngerasa dirinya bakalan bisa ngedapetin apa yang mereka mau. Nah, gue ngelihat Deni itu tipe cowok yang seperti itu. Jadi, setiap gue ketemu bahkan setiap dia memanggil nama gue rasanya pengen gue lempar aja nih cowok pakai sepatu.


"Diemin aja Ry, nih orang udah gila," kata Ratu yang sudah ada didepan kelasnya.


Gue pun gak menggubris sama sekali panggilan Deni, gue pun hanya tersenyum kearah Ratu.


"Masyaalllah, cantiknya nih perempuan kalo udah senyum gitu," Deni pun masih saja melemparkan gombalan-gombalan yang membuat gue semakin muak.


Seketika senyum gue hilang dan hanya menatap tajam kearah Deni, sedangkan orang yang ditatap hanya senyum-senyum gak jelas.


Via pun menarik gue keatas tangga.


"Udah gak usah diladenin, lo kan udah tahu kelakuan Deni kaya gimana? Diemin aja, orang kaya gitu mah kalo diladenin makin menjadi," kata Via.


"Sebel gue Vi lama-lama," kata gue.


"Udah diemin aja, gue juga gak suka ngelihat dia. Sok iye banget ngerasa ganteng banget, padahal buluk banget kaya keset kamar mandi," kata Via.


"Sama ya Vi kaya muka cowok lo," kata gue sambil melirik.


"Dih, beda lah Ry," kata Via yang langsung sok cemberut.


"Baru dateng lo pada?" kata Fifi.


"Iya, panas banget dah sumpah," kata gue.


"Beli es bubble yuk, enak deh kayanya siang-siang gini beli bubble," ajak Via.


"Iya kayanya enak deh, es buble Bang Jen is the best," kata Rere.


"Eh, siapa yang mau beli es bubble Bang Jen? Gue juga mau dong," Novi pun yang penggila es bubble langsung menyambar.


"Yuk... Yuk... Gue juga mau," Unge pun ikut nimbrung.


"Kalo banyak yang mau mendingan berapa orang aja yang kesana buat beli, sisanya nitip aja. Takut kosong kelas, udah tahu kelas IPA muridnya paling sedikit kalo pada keluar semua beli bubble lah gak ada yang jaga kandang," Prilly pun ikut nimbrung.


"Gue sama Wina aja yang beli, gue kalo nitip kurang klop," kata Novi.


"Ya udah ayok," Wina pun menyetujui.


"Sini kumpulin duitnya, sekalian gue catet mau pada rasa apa aja," kata Novi.


"Kenapa jadi pada beli bubble semua? Kan gue cuma ngajakin kita-kita doang," kata via.


"Udah biarin aja, kita jadi gak perlu capek-capek jalan jauh dan panas-panasan. Kan jalan ke Bang Jen lumayan jauh, apalagi panas-panas begini," kata Rere.


"Iya udah diem aja lo Vi. Sssstt...," kata Fifi.


Setelah semua sudah mencatat pesanan mereka dan memberi uangnya ke Novi dan WEni mereka berdua pun keluar sekolah untuk membeli es bubble yang memang berada diluar sekolah. ES Bubble Bang Jen berada gak jauh dari prapatan kantor dekat sekolah kita, bubble Bang Jen waktu itu banyak sekali pembelinya, karena cuma dia penjual es bubble yang topping keju dan coklatnya dipotong besar-besar.


Selagi menunggu pengumuman remedial dan menunggu es bubble kita datang, kita pun asik mengobrol, dan lalu tiba-tiba saja Unge gabung dengan kita.


"Eh, nanti kan kalo jadwal remedial udah selesai kan pasti kita pulang cepat. Anak-anak pada mau main kerumah gue. Lo pada mau ikut main gak kerumah gue?" kata Unge mengajak kita.


"Emang siapa aja yang mau kerumah lo?" kata Rere.


"Ya palingan si Novi, Wina, Prilly, Yana, Roni," kata Unge.


"Rumah lo dimana sih Nge?" kata Via.


"Di daerah Dumpit," kata Unge.


"Cowok lo si Ryan ikut gak Nge?" Rere pun langsung melirik kearah gue. Gue yang tahu maksud omongan Rere langsung balik melirik Rere.


"Gak tahu, kenapa emangnya?" kata Unge.


"Ya lo tahu kan pastinya dimana ada Ryan disitu ada siapa?" kata Rere lagi dengan melirik sambil tersenyum kearah gue.


"Oh, iya tahu gue. Mau gue ajak sekalian atau gue larang ikut?" kata Unge yang langsung paham maksud Rere.


"Ya... Pastinya ajak lah. Lumayan, kali aja bisa ngobrol-ngobrol tipis. Siapa tahu ada keajaiban dalam berapa jam, bisa langsung jadian," kata Rere.

__ADS_1


"Okay, nanti gue ajakin mereka," kata Unge.


Gue yang mencium bau-bau bakalan jadi bahan ledekan nanti cuma bisa diam sambil cemberut.


"Lo ikut gak Vi? Jangan bilang lo gak ikut, gue hajar lo ya setiap kali kita mau main gak pernah ikut," kata Rere yang langsung ngegas.


"Iya nih dari kita-kita cuma lo doang yang paling susah banget kalo disuruh ngumpul," Andi pun ikut komen.


"Tahu lo jangan gara-gara punya cowok jadi alasan ya, si Rere sama Yani aja yang punya cowok juga gak gitu-gitu amat," kata Ria.


"Iya kan Rere sama Yani cowoknya gak posesif kaya cowok gue," kata Via.


"Makannya jangan pacaran sama cowok posesif," kata Rere.


"Makannya gak usah pacar-pacaran dulu. Udah paling aman mah kaya gue ogah pacaran-pacaran," kata Fifi.


"Iya lah anak TK belum boleh pacaran kan," gue pun ikut meledek.


"Dih, lo kan joblo juga Ry sama kaya gue. Sesama jomblo jangan menjatuhkan," kata Fifi yang langsung menyubit paha gue.


Dan gak berapa lama salah guru agama pun naik menuju ke kelas kita untuk menempelkan pengumuman remedial, dan alhamdulilah kita-kita tidak ada yang diremed. Hanya beberapa murid yang diremed dikelas kita. Dan gak lama pun es bubble kita datang, kita yang gak kena remed pun asik mengobrol sambil menikmati es bubble di siang-siang yang panas ini.


"Lo abis darimana Nge?" kata Novi yang melihat Unge dari arah bawah.


"Gue dari kelasnya Ryan," kata Unge.


"Ngapain?" Novi pun terus bertanya.


"Kasih tahu kalo nanti lo pada mau main kerumah gue, sekalian ngajakin dia sama si Bule main juga kerumah," kata Unge.


"Si Rizky bule juga ikut? Emang dia mau?" kata Novi.


"Mau, Ry nanti lo kerumah gue naik motor sama Bule ya," kata Unge yang langsung berbicara kearah gue.


"Hah, apaan? Gimana maksudnya?" gue yang kaget karena omongan Unge ingin memastikan kembali apa yang gue denger barusan.


"Nah ini yang gue suka, selalu ada kesempatan dalam kesempitan. Good job Unge," Rere pun dengan semangat memberikan tanda jempol kearah Unge.


"Ntar dulu tadi gimana maksudnya? Gue goncengan berdua sama Rizky?" gue pun kembali memastikan.


"Lah, terus lo semua naik apa kerumah lo," kata gue.


"Naik angkot lah, mau naik apa lagi. Si Ryan kan juga gak bawa motor jadi dia mau sama gue naik angkot aja katanya," kata Unge.


"Kenapa gak 2 kunyuk itu aja sih yang naik motor? Gue naik angkot aja sama lo semua," kata gue yang langsung ngerasa gemetar karena mendadak disuruh naik motor berdua sama Rizky.


"Kan gue bilang si Ryan mau sama gue katanya," kata Unge.


"Ya udah lo naik motor sama Rizky, masa yang punya rumah sampainya belakangan," kata gue yang masih-masih mencari alasan.


"Udah deh Ry, gak usah nyari-nyari alasan. Terima nasib aja," kata Ria yang langsung tahu.


"Gak usah salah tingkah gitu kali," Roni yang mendengar dan melihat gue gugup langsung ikut meledek.


"Siapa yang salah tingkah, gue cuma gak mau nanti ceweknya Rizky tahu dan lihat kan gak enak," kata gue yang masih saja mencari alasan.


"Tenang masih jomblo kok si Bule," kata Unge.


"Tuh, jomblo-jomblo. Sesama jomblo kenapa gak jadian aja sih. Malu-malu anjing mulu nih kalian berdua," kata Roni.


"Tahu nih, gue aja yang jadi mak comblangnya aja sampai menyerah. Yang satu malu-malu dan gak enakan, yang satu lagi gak ada tindakan apapun. Grereget gue juga," kata Rere.


Gue yang gak bisa ngomong apa-apa lagi dan harus nerima nasib cuma bisa diem aja menahan rasa deg-degan. Sebenarnya dalam hati senang, karena bisa berboncengan sama cowok yang gue suka, tapi gue deg-degan dan bingung nanti selama dimotor berdua gue harus ngajakin ngobrol apa ya? Kan selama ini walaupun gue sering ngobrol sama Rizky, tapi selalu ada orang lain diantara kita. Kalo benar-benar cuma berdua doang gue sama sekali bingung dan belum siap.


"Vi, gimana nih," gue pun berbisik ke Via yang berada disamping gue.


"Iya mau gimana lagi, lo nikmatin aja kesempatan yang ada," kata Via.


"Nikmatin gimana sih? Gue naik motor berdua doang sama Rizky rasanya jantung gue mau copot Vi. Lagian nanti kalo anak-anak satu sekolah atau Ratu ngelihat gimana? Apa kata mereka?" kata gue.


"Udahlah gak usah mikirin perasaan atau omongan orang lain. Yang penting lo jangan sia-siain moment yang berharga," kata Via.


"Ah elah, benar-benar dah nih kelakuan anak-anak," kata gue yang langsung terdiam.


Setelah pukul 15:00 akhirnya kita diperbolehkan pulang, kita-kita pun kumpul untuk memastikan siapa-siapa aja yang benar-benar ikut main kerumah Unge.

__ADS_1


Dibawah tangga sudah ada Ryan dan Rizky yang menunggu kita.


"Yang, jadi kan? Si Bule sama Ryanti aja naik motor," kata Ryan yang langsung melirik kearah gue.


"Ya udah," Rizky pun mengiyakan tanpa ada penolakan apapun.


"Tapi gue naiknya di depan gerbang aja, gak dari sini. Motor lo parkir didalam sekolahan kan? Gue naiknya didepan gang aja, gue gak enak dilihat yang lain," kata gue.


"Oh ya udah," Rizky pun menjawab.


"Ya udah aku ikut Bule sampai depan gang dulu ya yang, nanti ketemuan disana lagi aja," kata Ryan.


"Okay," Unge pun menyetujui.


Dan kita semua pun berjalan bersama kearah gang sekolah. Sampai di gang sekolah ternyata mereka berdua sudah sampai duluan.


"Ya udah tuh Ry, lo sama Bule ya. Gue sama cewek gue naik angkot aja gak apa-apa," kata Ryan sambil cengar cengir.


"Kita harus memahami kalo teman kita yang sebenarnya saling suka tapi gak bisa maju-maju, jadi kita harus lebih ekstra mendorong mereka," kata Rere.


"Ngomong apaan sih lo Re," kata gue.


"Udah sana lo," kata Rere yang langsung mendorong gue kemotornya Rizky. Gue yang dari tadi sengaja berpegangan terus ke Yani akhirnya terpaksa melepaskan pegangan dari Yani. Gue memang terbiasa memegang tangan orang kalo sedang deg-degan, biasanya Via yang tangannya selalu habis gue remek-remek kalo gue kesal ataupun deg-degan. Tapi, karena Via gak ikut main akhirnya tangan Yani lah yang menjadi korbannya.


"Bye-bye, kita naik angkot ya. Ki, jalannya lama-lamain aja biar bisa menikmati perjalanan. Gak usah buru-buru, lagian kita naik angkot pasti sampainya lama," kata Rere sambil tersenyum. Teman-teman sekelas gue yang lain, yang ikut main mereka ikut tersenyum meledek kearah gue.


Gue yang merasa terjebak karena keadaan gak bisa berbuat apa-apa.


"Yuk Can, naik," kata Rizky.


"Sebentar, gue lihat kondisi dulu. Ada Ratu gak, gue kan gak enak kalo Ratu ngelihat gue boncengan sama lo," kata gue sambil celingak celinguk.


"Biarin aja sih, bukannya teman lo udah punya cowok. Emangnya masih mungkin teman lo mikirin gue disaat udah punya cowok," kata Rizky.


Gue pun yang sudah memastikan kondisi aman langsung naik dibelakangnya Rizky, karena gue butuh pegangan gue pun akhirnya memberanikan diri untuk memegang pundaknya Rizky.


"Udah siap Can?" kata Rizky memastikan.


"Udah," gue pun menjawab dengan singkat.


Rizky pun melajukan motornya dengan hati-hati. Sampai diprapatan kantor gue melihat sosok yang gue kenal. Sosok itu Andre, dia sedang berdiri di pinggir jalan sendirian. Karena di Prapatan ada lampu merah, Rizky pun menghentikan motornya sampai lampu berubah menjadi hijau. Saat menunggu lampu merah, gue sengaja mengalihkan muka gue supaya Andre gak melihat gue sedang digonceng Rizky, entah kenapa igue merasa kasihan jika Andre harus melihat. Tapi berapa detik sebelum lampu hijau, ternyata Andre melihat gue yang sedang berbonceng berdua dengan cowok. Gue yang tadinya pura-pura tidak ingin melihat terpaksa menoleh karena Andre memanggil gue.


"Ry," suara Andre memanggil gue.


Gue pun menoleh, karena sudah lampu hijau gue pun membalas Andre dengan senyuman. Setelah jauh gue masih bisa melihat Andre yang masih berdiri memperhatikan kepergian gue dan Rizky.


"Can, ngisi bensin dulu ya gue," kata Rizky saat kita mulai memasuki pom bensin.


"Oh oke," jawab gue.


Gue pun menunggu Rizky mengisi bensin, dan kembali melanjutkan perjalanan. Selama dijalan gue dan Rizky gak ada satupun yang berani memulai obrolan. Jadi, selama dijalan kita hanya diam saja sampai dirumah Unge.


Benar saja karena kita berdua naik motor jadi kita berdua yang sampai duluan dirumah Unge. Setelah turun dari motor gue celingak celinguk.


"Sini Can, langsung aja masuk," Rizky pun mengajak gue masuk kerumah Unge duluan.


"Assalamualaikum," Rizky pun memberi salam saat ingin masuk kedalam rumah Unge.


"Walaikumsalam," terdengar suara ibu-ibu dari dalam rumah.


"Lagi ngapain mak?" Rizky pun langsung menyalami ibu itu dan gue pun mengikuti.


"Lagi tidur-tiduran aja," kata ibu itu.


"Ganggu dong, ini temannya Unge pada mau main kerumah. Karena Kiki naik motor jadi sampai duluan, Unge sama yang lain masih dijalan. Naik angkot kan," kata Rizky menjelaskan kedatangan kita.


"Oh gitu, lah ini si neng temannya Unge juga? Cewek lo Ki?" kata ibu itu yang langsung memukul kecil badan Rizky.


"Iya temannya Unge," kata Rizky yang senyum-senyum.


"Halah, bisa aja anak muda. Udahlah emak masuk dulu ya bikin minum. Neng sini masuk aja, sambil nunggu Unge dateng," Ibu itu pun meminta gue masuk.


"Iya bu, makasih," gue yang belum pernah sama sekali kerumah Unge pun berusaha sopan.


Setelah menunggu hampir 15 menitan akhirnya semua teman gue pun datang. Berakhir sudah ketegangan yang gue rasain dari tadi, tanpa sadar gue menghembuskan nafas panjang tanda gue lega. Sumpah dari tadi gue tuh ngerasa tegang banget karena harus berdua saja dengan Rizky. Gue yang termasuk orang yang gak akan memulai obrolan duluan disandingin sama orang yang sama rasanya beban banget. Makannya dari tadi selama dijalan sampai teman-teman gue dateng gue tegang dan bingung mau ngapain. Apa ini pertanda ya kalo gue gak cocok sama Rizky?

__ADS_1


__ADS_2