
TiT...TUT...TIT...TUT... (Terdengar suara pemberitahuan handphone gue)
(Ry, gue gak berangkat bareng lo ya. Si Dindin mulai ngambek katanya gue selalu berangkat sama lo katanya)
(Ya udah berangkat aja sono sama cowok lo yang gede ambek)
(Sorry ya Ry)
(Iya)
Gue pun langsung melempar handphone keatas kasur, dan lanjut bersiap-siap berangkat. Setelah semuanya rapi gue pun berangkat di teriknya matahari.
"Ry," terdengar suara Andre didalam angkot. Gue yang sebenarnya ngerasa canggung karena kejadian Andre melihat gue sedang goncengan sama Rizky. Gak tahu kenapa gue orangnya selalu gak pernah tegaan sama orang yang berusaha berjuang buat dekat sama gue. Kesalahan gue sekarang, gue masih belum bisa buat nerima siapa pun cowok dihati gue. Walaupun setelah kejadian kemarin gue langsung memantapkan diri untuk berusaha melupakan Rizky tapi tetap aja kalo buat nerima cowok lain seecepat ini kayanya gue belum siap. Alasan gue yang tiba-tiba memantapkan hati buat melupakan ya karena pertama gue sadar diri kalo gue bukan setengah bahkan seperempat dari cewek-cewek diluar sana yang lebih cantik dan lebih pantas untuk Rizky, yang kedua gue gak bisa jadi diri gue sendiri saat berada didekat Rizky. Karena, gue selalu berusaha menjadi wanita yang sempurna didepan Rizky walaupun itu bukan jadi diri gue, tapi ternyata menjadi diri sendiri itu lebih baik daripada kita harus berusaha menggunakan topeng yang sempurna agar terlihat sempurna dimata orang tersebut. Dan itu yang membuat gue gak nyaman, mungkin benar gue cukup mengidolakan Rizky itu lebih baik, jangan terlalu berharap lebih untuk menjadi sebagian dari hidupnya. Karena sumpah deh itu bisa bikin gue gila kalo gak kesampaian.
"Ryanti, ayok naik gak lo? Kenapa malah bengong aja?" Andre pun kembali memanggil gue yang tak kunjung menyahut saat dia memanggil.
"Eh, iya," setelah gue tersadar dari lamunan gue langsung naik angkotnya.
"Gak dijemput sama cowok lo lagi?" kata Andre yang berusaha bertanya dengan pelan-pelan.
"Cowok? Gue gak punya cowok," kata gue yang sebenarnya tahu inti dari pertanyaan Andre.
"Yang kemarin goncengan sama lo? Cowok lo kan? Ganteng, cocok sama lo kok," kata Andre dengan suara sedikit lirih.
"Oh itu yang kemarin? Itu teman sekolah gue," kata gue sedikit menjelaskan.
"Itu kan cowok yang bikin lo belum bisa nerima gue? Ya benar berarti kata Dindin harusnya gue nyerah aja, soalnya gue gak ada apa-apanya dari cowok itu," kata Andre.
"Jangan gitu dong Ndre, gimana ya? Susah kalo masalah perasaan," kata gue.
"Iya, gue paham. Gak apa-apa kok, kalo misalkan cowok itu nyakitin lo. Lo bisa kok dateng ke gue," kata Andre.
Gue pun hanya tersenyum tanpa bisa membalas apa-apa.
Selama dijalan pun gue dan Andre gak saling ngobrol seperti biasa, padahal angkotnya hari ini lagi sepi banget, gak sepenuh seperti hari-hari kemarin. Dan entah suasana menjadi canggung, gue cuma ngerasa bersalah aja karena tanpa gue sadari ini bikin sakit hati Andre.
Setelah sampai didepan gang pun Andre menghentikan angkotnya.
"Tuh calon cowok lo udah nungguin didepan gang," kata Andre.
Gue yang langsung melihat keluar melalui jendela, ternyata disana sudah berdiri Rizky beserta 2 kunyuk. Ngapain mereka berdiri disitu bukannya langsung masuk, mentang-mentang hari ini masih santai.
Gue pun langsung membayar dan gue melihat Andre yang sengaja memalingkan wajahnya, tanda dia tidak ingin melihat gue. Gak apa-apa lebih baik seperti ini, daripada gue harus dengan terpaksa menerima dia. Justru malah bikin dua-duanya sakit, gue yang sakit karena harus terpaksa nerima perasaan yang gak pernah gue rasain, dan Andre yang sakit karena terkhianati.
Setelah membayar gue pun langsung berjalan kearah sekolah.
"Sombong amat nih cewek, gak noleh-noleh sama sekali Blay," Rizky pun menyindir.
Gue pun langsung menoleh.
__ADS_1
"Gak usah nyindir-nyindir gue. Lagian ngapain sih lo pada mejeng dipinggir jalan, bukannya langsung masuk. Se-gaknya duduk aja sana diwarung keramat daripada harus berdiri dipinggir jalan kaya gitu. Mau jadi geremo disiang bolong lo pada," kata gue.
"Buset sekalinya ngebacot nyakitin," kata Ryan.
"Bodo amat, berisik lah," gue pun langsung melanjutkan jalan kearah sekolah.
"Ryanti," terdengar suara Rere.
"Noh, emak lo manggil noh. Tungguin kasihan udah jompo," kata Rizky meledek.
"Dih, gue aduin lo ngomong begitu," kata gue.
"Eh, jangan-jangan. Nanti dia ngebacot yang gak-gak," kata Rizky sedikit memohon.
"Bodo, Re. Masa katanya Beruang Kutub lo emak-emak jompo," kata gue yang langsung mengadukan ke Rere setelah dia sampai didepan gue.
"Dih, berani-beraninya lo ya," Rere pun langsung melirik kearah Rizky.
"Bercanda Re," kata Rizky yang sepertinya ketakutan akan rahasianya dibongkar Rere.
"Awas lo ya, macem-macem gue keluarkan jurus dari mulut gue," kata Rere sambil tersenyum jahat.
"Iya gak," Rizky pun menjawab.
Rere pun langsung menarik tangan gue mengajak untuk masuk kesekolah.
"Emang lo pegang rahasia apaan sih Re? Sampai si Beruang takut banget kayanya sama lo," kata gue yang dari kemarin penasaran.
Gue pun hanya diam memendam rasa penasaran rahasia apa yang Rere pegang sampai Rizky takut banget sama dia.
"Ya udah, kalo gak mau kasih tahu," gue pun menjawab.
"Eh, lo gimana kemarin? Ngobrol apa aja sama Beruang waktu dijalan?" kata Rere yang mulai penasaran.
"Gak ngobrol apa-apa gue," jawab gue singkat.
"Hah, seriusan lo gak ngobrol apa-apa sama Beruang? Emang dia gak nanya-nanya apa gitu ke lo? Dan lo gak mulai duluan biar bisa ngobrol sama dia? Kan ini moment langka Ry," kata Rere yang agak sedikit gemas.
"Moment langka sih moment langka tapi kalo emang gak ada obrolan mau diapain? Lo kan tahu gue kalo sama orang yang belum benar-benar terbiasa dekat sama gue susah banget buat ngajak ngobrol duluan. Dia aja diem aja gak ngajak gue ngobrol masa gue harus maksain buat nanya duluan, gak bisa lah gue," kata gue.
"Hih... Gue gregetan sama lo berdua," kata Rere.
"Kayanya kita berhenti sampai disini aja deh Re. Lo gak usah bantuin apa-apa lagi buat deketin gue sama Rizky. Karena kejadian kemarin gue sadar kayanya gue beneran gak cocok sama dia, kaya gimana ya Re? Gue kaya bukan jadi diri gue kalo dekat dia, gue dipaksa buat jadi cewek sempurna biar gue bisa ngeimbangin dia. Gue gak sanggup deh kalo harus gitu terus," kata gue.
"Iya juga sih, gak bagus juga kalo kita gak jadi diri kita sendiri. Tapi lo yakin? Padahal lo berdua sama-sama saling suka loh sebenarnya," kata Rere.
"Kalo beneran saling suka tapi kalo gak ada tindakan dan harus memaksa menjadi sempurna buat apa Re? Gak akan maju hubungan kaya gitu juga," kata gue.
"Beneran yakin?" kata Rere.
__ADS_1
"Iya, lo stop ngelakuin sesuatu buat gue deket sama dia lagi. Please stop sampai sini aja, gue gak mau lanjut," kata gue.
"Okelah," Rere pun hanya menjawab singkat.
Gue dan Rere pun menghentikan obrolan saat kami sudah bergabung dengan yang lain.
"Eh, masa ada film bioskop bagus banget tahu. Nonton yuk hari Sabtu atau gak Minggu," kata Via sambil menunjukkan film yang dimaksud.
"Hari Sabtu Minggu mah mahal, hari biasa aja," kata Rere.
"Kalo hari biasa jam berapa Re? Pulang sekolah? Mana boleh gue main malem-malem," kata Fifi yang langsung menoyor Rere.
"Kenapa harus pulang sekolah kalo pas lagi sekolah pun kita masih bisa nonton?" kata Rere.
"Maksudnya kita madol?" kata Andi.
"Wah ngajarin gak benar nih anak," kata Yani.
"Eh, bohong aja kalo lo pada gak tahu kalo lagi jadwal remed kaya gini tuh banyak yang madol sehabis mereka tahu kalo mereka gak kena remed," kata Rere.
"Iya gue tahu, mereka langsung kabur dari sekolah pas udah tahu mereka gak kena remed. Emang sih kalo kata gue ngapain juga kita disekolah kalo kita aja udah tahu kita gak kena remed, mendingan main aja ya kan mumpung bebas," kata Yani.
"Emang iya pada begitu?" kata Andi.
"Iya, pokoknya tuh kalo pada abis tahu mereka gak kena remed pasti langsung keluar sekolah," kata Via.
"Pantesan kok setiap kita pulang kayanya tinggal berapa biji doang yang ada disekolah. Terus keluarnya gimana?" kata Yani.
"Iya kita aja yang kerajinan nunggu disekolah padahal kita gak pernah kena remed. Ya keluar mah keluar aja Yan dari pintu gerbang. Ya masa mereka terbang," kata Rere.
"Emang boleh ya? Emang pintu gerbang gak dijagain?" kata Fifi.
"Eh, Suneh tuh gerbang di jagain sama siapa? Emang sekolahan kita punya security kaya sekolah-sekolah lain yang tiap gerbangnya ada security," kata gue yang lama-lama ikut gemes.
"Iya di jaga sama guru," kata Fifi.
"Emang guru disini gak ada kerjaan lain selain nungguin gerbang? Daripada nungguin gerbang mendingan mereka meriksain nilai murid-murid," kata Ria yang juga gemes.
"Oh gitu," Fifi pun memasang wajah sok berfikir.
"Ya udah besok kita bawa baju bebas, nanti kalo kita udah periksa kita gak kena remed sama sekali kita langsung cuss," kata Rere.
"Terus kita ganti baju dimana? Emang boleh ganti baju didalam mall," kata Via.
"Iya juga ya? Ya udah double aja, jadi dipinggir jalan kita tinggal buka-buka aja," kata Rere.
"Idih, ogah gue main buka baju aja dipinggir jalan," kata gue.
"Iya gak ditempat rame juga Ry, kita ngumpet dimana gitu. Gantian antara yang ganti sama yang ngawasin kalo ada orang lewat," kata Rere.
__ADS_1
"Oh gitu, oke," kata Fifi.
"Oke," kita pun serempak berteriak untuk bolos sekolah besok demi nonton film bioskop yang harganya murah, karena kantong pelajaran masih tipis ya kalo harus nonton bioskop dengan harga mahal.