CINTA ITU APA

CINTA ITU APA
Tanpa Alasan


__ADS_3

"Ry, lo kenapa dari tadi diem aja? Lagi sakit lo?" kata Via saat kita masih didalam angkot.


"Gak, gue sehat-sehat aja," kata gue.


"Kok dari tadi diem aja, lagi ada yang lo pikirin? Lagi mikirin apa sih? Ceritalah sama gue," Via pun boleh penasaran.


"Gak, gue beneran gak kenapa-napa," gue menjawab dengan pelan.


"Oh ya udah kalo lo belum mau cerita, gue duluan deh yang cerita. Gue mau curhat nih," Via pun memasang wajah siap untuk bercerita.


"Cerita apa?" Gue pun dengan memaksakan diri merubah mood gue supaya Via pun enak ceritanya.


"Gue putus sama Konde Ry?" kata Via dengan sedikit agak cemberut.


"Hah, kok bisa? Kenapa?" kata gue kaget karena selama ini gue lihat mereka berdua adem ayem aja, malah gaya pacaran mereka menurut gue terlalu lengket. Kaya yang sering gue ledekin ke mereka udah kaya kaki sama sepatu gak terpisahkan, tapi kok ternyata bisa juga mereka putus.


"Gak tahu Konde yang minta putus, alesannya dia mau pindah ke Jakarta katanya mau kerja," kata Via.


"Terus lo iyain? Dan alasannya cuma mau pindah ke Jakarta? Jakarta ke sini kan masih deket Vi, palingan cuma sejam doang gak sampai berjam-jam atau berhari-hari kaya perjalanan keluar kota. Terus masalahnya apa?" gue pun penasaran dengan alasan yang menurut gue gak masuk akal.


"Iya gak tahu gue juga, katanya sih takut kita jarang ketemu dan saling gak percaya. Daripada ngejalanin hubungan gak saling percaya mendingan udahan aja katanya," kata Via dengan wajah memelas.


"Njirrr, segampang itu dia ngomong putus dengan alasan gak masuk akal?" Gue pun kesal dengarnya.


"Iya, ternyata semua cowok sama aja Ry," kata Via.

__ADS_1


"Terus lo sekarang sedih gak?" gue pun bertanya dengan pertanyaan yang menurut gue gak berbobot tapi tetap gue tanya.


"Ya sedihlah Ry, masa gue diputusin sama cowok gak sedih. Apalagi gue udah sayang banget sama Konde," kata Via dengan kesal.


"Hehehe, abis muka lo gak menunjukan kesedihan apa-apa jadi gue tanya lo sedih apa gak?" gue pun cengar cengir.


"Masa sih gue gak kelihatan sedih?" kata Via sambil memegangi wajahnya.


"Seriusan, lo sendiri kan yang bilang gue kalo lagi sedih atau ada pikiran sedikit kelihatan banget. Tapi kalo lo tuh kaya biasa aja gitu. Hehehe," gue menjawab.


"Bagus deh, udah yuk turun. Bang sekolahan kiri ya," Via pun menyetop angkot, seperti biasa Via yang membayar ongkosnya gue tinggal turun.


Dari jauh gue melihat ada 3 orang yang belakangan ini gue perhatiin selalu aja bareng-bareng terus kemana-mana, yang dua lagi kasmaran karena lagi hangat-hangatnya pacaran, yang satu mau-maunya jadi nyamuk diantara mereka berdua. Siapa lagi kalo bukan Rizky, Ryan, dan Unge. Gue pun langsung menarik tangan Via pertanda kita harus buru-buru jalan, sebelum tiga orang itu dekat.


"Duh... Kenapa sih Ry?" kata Via dengan heran.


"Ngapain lo ngehindarin si Rizky?" kata Via.


"Gak kenapa-napa biasa aja," kata gue dengan gugup.


"Masih jeles lo sama dia gara-gara kejadian dikolam renang kemarin? Karena banyak yang nemplok dengan gampangnya sama dia?" kata Via yang langsung penasaran.


"Gak," jawab gue singkat.


"Kalo lo jeles kenapa lo gak ikut-ikutan nemplok ke dia kaya cewe-cewe lain. Siapa tahu dia langsung mau pas lo nemplok sama dia," kata Via.

__ADS_1


"Enak aja, emang gue cewe murahan main asal nemplok-nemplok aja," kata gue dengan juteknya.


"Itulah alasan gue awalnya gak izinin lo buat suka sama dia. Gue yakin lo gak bakalan sanggup Ry, ngelihat pemandangan yang bikin sakit mata," kata Via dengan nada agak keras.


"Kok lo malah marah-marah sama gue?" gue pun dengan sedikit cemberut.


"Bukannya marah, cuma mau membuktikan alasan gue. Gue gak setuju pasti ada alasannya Ry," kata Via.


"Iya tapi kan ini juga bukan maunya gue, tiba-tiba aja gitu," kata gue.


"Ya udah gak usah gitu ah, udah masuk yuk," Via pun merangkul lenganku dan kita pun masuk ke sekolah.


Saat masuk ke sekolah seperti biasa gue sudah melihat teman-teman gue sedang duduk ditangga. Mereka melambaikan tangan kearah gue dan Via. Entah, saat gue melihat Rere mood gue langsung berubah lagi. Apa gue masih ngerasa cemburu ya sama kejadian Rere sama Rizky ngobrol dan ketawa ketiwi waktu dikolam renang. Kembali lagi gue memaksakan mood gue supaya tidak terlalu terlihat, kalo gue cemburu sama kejadian kemarin.


"Eh, kok lo pada ngumpul disini? Emang lo udah pada ngerjain PR Kimia?" kata Via.


"Emang ada PR?" Fifi pun bertanya dengan wajah polosnya.


"Masyaallah iya, kan ada PR ya? Gue lupa ngerjain," kata Yani yang langsung kaget dan langsung berlari masuk kedalam kelas.


"Gue juga belum ngerjain," kata Fifi dan mereka satu persatu masuk kedalam kelas, hanya tinggal gue dan Rere saja yang masih berdiri ditempat.


"Lo udah ngerjain Ry?" kata Rere dengan tersenyum.


"Udah," gue pun menjawab dengan singkat dan langsung masuk kedalam kelas.

__ADS_1


Rere pun kebingungan dengan sikap gue yang dingin, gak seperti biasa yang selalu heboh saat bertemu dengannya. Masih ditempat yang sama Rere terdiam sambil berpikir salah dia apa?


__ADS_2