
Matahari menunjukkan betapa terangnya dia siang ini, gue yang sebenarnya males berangkat sekolah siang bolong kaya gini tetap harus memaksakan untuk berangkat sekolah. Gue yang hari ini bisa lebih tenang dan damai, karena tumben-tumbenan cowok cabul yang sering banget ngintilin Dindin gak ada hari ini. Gue yang baru naik angkot langsung sedikit bernafas dengan lega.
"Hari ini lo gak bisa tenang Ry naik angkot gue, si Andre lagi disuruh bawa angkot teman gue jadi dia gak bisa ikut gue," kata Dindin yang langsung nyerocos saat gue baru naik angkotnya.
"Bagus deh," kata gue dengan singkat.
"Lagian kenapa sih lo Ry, galak-galak banget jadi cewek. Nanti gak ada yang mau deketin lo loh kalo lo galak banget ke cowok," kata Dindin.
"Terus urusannya sama lo apa kalo gak ada yang mau deketin gue?" kata gue dengan memasang wajah nyolot.
"Iya gak apa-apa gue kasiyan aja sama si Andre. Dia tuh sebenernya suka banget sama lo, tapi dia gak berani karena lo terlalu ngebatesin cowok buat deketin lo," kata Dindin.
"Iya udah lo bilangin sama dia gak usah pakai acara suka-suka segala sama gue," kata gue.
"Udah gue bilang sama dia kalo lo tuh gak sama kaya cewek lain yang gampang dideketin. Dan maaf nih ya Ry, gue tahu selera lo pasti tinggi banget, lo mana mau pacaran sama supir angkot kaya kita-kita," kata Dindin.
"Gak usah sok tahu sama selera gue, lo bisa nilai kaya gitu karena lo lihat dari luarnya aja kan? Tapi lo gak tahu isi hati gue kaya gimana nantinya. Jadi, gak usah sok-sok tahu. Cewek lo aja belum tentu tahu isi hati gue, lo sok-sok tahu isi hati gue," kata gue dengan menatap tajam.
"Berarti ada kemungkinan Andre bisa sama lo dong," kata Dindin.
"Iya mana gue tahu, gue percaya jalan dari Allah pasti selalu baik, ya gue ikutin aja jalannya Allah kaya gimana," kata gue yang langsung memalinggkan wajah gue kearah belakang.
Entah apa yang membuat Via dan Dindin langsung sumringah pas gue ngucapin omongan gue yang terakhir, dan mereka berdua langsung malakukan High Five.
Selama dijalan gue menikmati semua lagu-lagu yang diputar Via dari depan, terkadang gue memikirkan bagaimana kelanjutan perasaan gue kedepannya. Apa gue masih bertahan terus dengan perasaan yang gue pendem selama hampir setahun lebih ini. Apa gue masih bisa bertahan dengan hanya diam saja melihat cowok yang gue suka selalu dikelilingi cewek-cewek, apa gue nantinya akan siap kalo suatu saat gue tahu siapa cewek yang akan dipilih Rizky sebagai ceweknya, atau gue harus pergi seperti Ratu yang udah gak sanggup nunggu orang yang dia sayang bakal jadi milik kita. Entahlah, gue jalanin aja yang udah diatur sama Allah.
Sampai didepan gang sekolah gue dan Via pun turun, Dindin yang udah tahu kalo gue gak bakalan mau dikasih gratisan ongkos menunggu sampai gue membayar ongkosnya.
Gue dan Via pun langsung masuk kedalam sekolah, sampai di tengah lapangan gue melihat Rizky yang sedang berkumpul dengan teman-teman sekelasnya tepat didepan kelas mereka. Tanpa sadar gue pun berhenti dan menatap kearah Rizky yang sedang dikrumunin cewek-cewek seperti biasa. Dan kalo gue lihat Rizky memang tipe cowok yang terlalu ramah sama semua cewek, jadi kita sebagai cewek gak bisa ngebedain dia baik karena nganggap teman atau memang dia beneran suka sama cewek itu. Seperti yang gue rasain sekarang, gue lagi merasa digantungin perasaan gue karena gue nganggap dia baik dan perhatian sama gue, saat diledek sama orang-orang tentang gue dia pun hanya diam dan tersenyum tanpa mengelak apapun. Jadi, sikap itulah yang membuat gue merasa digantung apa dia beneran suka sama gue, atau memang dia seperti itu ke semua cewek.
"Kenapa Ry? Lo cemburu? Ini kan udah konsekuensi lo karena suka sama cowok yang di idolain sama cewek satu sekolah," kata Via.
"Gak, udah biasa," kata gue dengan sok cuek dan langsung berjalan ke kelas.
"Lo gak mau berusaha ngelupain Rizky aja daripada lo harus nahan sakit hati terus karena ngelihat Rizky sama cewek lain terus. Lagian juga maaf ya Ry, kalo memang si Rizky ada perasaan sama lo pasti sekarang pun dia udah berani ngungkapin perasaannya ke lo dan pastinya sekarang lo udah jadi ceweknya dia. Tapi ini gue ngelihat dia bertindak aja gak. OKelah, kalo gue lihat dia memang suka sama lo, tapi kalo melanjutkan ke hubungan pacaran sama lo kayanya dia masih belum mau deh," kata Via yang langsung melihat kearah gue.
"Iya gue juga sadar kok, kalo gue sama dia gak bakal dan gak akan bisa bersama. Gue cukup tahu diri," kata gue.
"Bukan gitu maksud gue, bukan karena lo kurang cantik atau gak menarik buat dia, tapi kalo gue lihat dia tuh kaya gak bearni maju ke lo karena tertahan sesuatu gitu. Tapi gue gak tahu itu apa, lo cantik kok sumpah lo cantik dan pinter lagi. Jadi lo gak usah berfikir kalo Rizky gak mau sama lo karena lo kurang menarik," kata Via yang masih sempet menghibur gue.
__ADS_1
"Iya gue paham, gue juga berfikir kaya gitu kok," gue pun langsung masuk kedalam kelas.
Gue pun langsung duduk ditemapt gue, Via yang sudah seminggu ini pindah ketempat duduk menjadi sebangku sama gue pun langsung ikut duduk disebelah gue.
"Lo gak marah kan sama gue?" kata Via.
"Gak, ngapain gue harus marah sama lo gak ada hubungannya sama sekali kali," kata gue.
"Kalo lo mau minta bantuan buat bisa ngelupain si Rizky cerita aja sama gue. Siapa tahu gue bisa bantu lo," kata Via.
"Iya," gue pun menjawab singkat.
Dan tiba-tiba saja Rere menghampiri kita berdua dan langsung mengajak kita buat keluar kelas karena katanya ada yang mau dia ceritaIN.
Kita ber-6 pun seperti biasa langsung mengikuti Rere keluar kelas, setelah kita semua sudah berkumpul Rere pun mulai bercerita.
"Eh, gue mau cerita nih sama lo semua. Gue kan berapa hari yang lalu ada SMS nyasar ke gue, tadinya orang yang SMS gue itu dikira gue temannya dia siapa gitu namanya gue lupa. Terus gak tahu kita malah SMS-an terus, dan akhirnya kenalan," kata Rere yang bercerita dengan wajah yang sumringah.
"Cowok apa cewek yang salah kirim SMS ke lo?" kata Via.
"Cowok, namanya Toya," kata Rere.
"Iya, gue jadi lanjut kenalan dan sampai sekarang SMS-an terus sama dia. Dan nanti pulang sekolah gue baru mau ketemuan sama dia. Menurut kalian gue lanjut atau gak?" kata Rere meminta saran.
"Lanjut," kata Via.
"Lo mau ketemuan berdua aja sama dia. Lo gak takut kenapa-napa? Lo kan belum kenal banget sama dia, nanti kalo lo di apa-apain gimana?" kata Fifi yang sedkit khawatir.
"Iya Re, lo gak takut? Minta temenin siapa gitu, jadi kalo tuh cowok ada niat macem-macem ada yang nemenin lo jadi dia gak berani," kata Yani.
"Mau gue temenin?" kata Andi.
"Janganlah, masa gue mau ketemuan sama cowok malah bawa teman cowok kan pasti dia gak nyaman," kata Rere yang menolak.
"Yah terus lo mau ditemenin siapa?" kata Fifi.
"Gak usah ditemenin gue, lagian gue sengaja kok ketemuannya di pinggir jalan. Jadi, kalo misalkan dia macem-macem orang masih bisa ngelihat," kata Rere yang masih kekeh gak mau ditemani.
"Ya udah, pokoknya lo kalo diajak kemana-mana jangan mau," Fifi pun terus khawatir.
__ADS_1
"Terus kalo lo dikasih makanan atau minuman yang lo gak lihat dia belinya dimana jangan lo makan atau minum. Takutnya udah dikasih obat tidur sama tuh cowok," kata Yani.
"Iya iya. Buset deh gue baru kenalan sama cowok sekali aja lo pada udah se-khawatir itu kaya gue gak bisa jaga diri aja. Tenang, gue kan tomboy. Cowok pun takut ngelihat cewek perkasa kaya gue," kata Rere yang sok berani.
"KIta pada khawatir karena lo masih bego masalah cowok Re. KIta kan tahu sendiri cinta pertama lo aja baru bang Sur," kata Via.
"Iya iya tahu deh yang udah sering pacaran mah, paling jago deh pokoknya," Rere pun melirik ke arah Via sambil tersenyum.
"Lagian lo ngapain sih kenal-kenalan sama cowok gak kenal kaya gitu? Kalo udah ketemu lo berdua mau ngapain? Pacaran?" kata gue yang akhirnya bersuara setelah dari tadi gue hanya memperhatikan.
"Iya ketemu aja dulu, kalo cocok baru kita lihat ke depannya apa cuma temenan apa langsung pacaran. Ya kan Vi?" Rere pun masih melirik ke arah Via.
"Iya betul banget, siapa tahu aja tuh cowok ganteng terus banyak duitnya," kata Via yang selalu masalah duit yang dia bahas.
"Duit mulu pikiran lo, cewek matre," gue pun menyeletuk.
"Tahu nih, apa-apa duit mulu kalo ngomongin masalah cowok," Yani pun sependapat.
Via pun langsung menunduk saat gue mengeluarkan omongan yang mungkin dia bakalan tersinggung.
"Lagian lo kenalan sama cowok lain, emang lo udah mulai ngelupain Bang Sur apa?" kata Andi yang mewakili pertanyaan gue yang masih belum gue utarakan.
"Iya gue sih masih suka ya sama Bang Sur, tapi gimana ya? Kalo gue pikir-pikir kok kayanya keinginan gue jauh dari realita ya. Gue baru sadar, kayanya sampai kapan pun gue gak akan bisa dapetin hatinya Bang Sur. Gue udah berusaha dekat sama Bang Sur, gue udah berusaha ngobrol se-asik supaya obrolan gue sama dia nyambung tapi tetap aja kaya bisa nyambung. Mungkin, ini waktunya gue buat dikit demi sedikit berusaha ngelupain Bang Sur. Bang Sur tetap ada dihati gue jadi cinta pertama gue, tapi untuk jalan selanjutnya gue tetap harus maju tanpa bayang-bayang Bang Sur," kata Rere yang mengutarakan isi hatinya.
"Maksudnya lo nyerah gitu buat Bang Sur?" kata Yani.
"Ya mau gimana? Harapan gue terlalu tinggi sampai gue gak bisa raih Yan. Kalo kaya gini cuma ada dua pilihan, yang pertama gue harus bertahan terus sama perasaan gue atau gue yang harus pergi dan lanjutin kehidupan gue tanpa bayang-bayang dia lagi," kata Rere.
"Dan lo ambil keputusan buat pergi?" kata Via yang entah kenapa langsung menatap gue yang langsung menunduk.
"Iya, gue gak sanggup Vi," kata Rere.
"Ya udah kalo lo gak sanggup gak usah lo lanjutin," kata Via.
"Iya Vi, ini gue lagi berusaha," kata Rere.
Setelah obrolan dan curhatan Rere mereka pun lanjut dengan obrolan yang lain, semuanya saling bercerita apa yang sedang mereka alami atau yang mereka lihat. Kecuali, gue yang lebih memilih diam dan gue lebih memilih berfikir apa gue harus seperti teman-teman gue yang menyerah dengan perasaan mereka atau gue harus tetap bertahan. Di dalam lamunan gue tiba-tiba Via berbisik,
"Ry, Ratu dan Rere yang lo tahu banget kalo mereka berdua orang yang paling cinta mati ke cowok yang mereka suka. Sekarang satu demi satu mulai menyerah dengan perasaan mereka sendiri, karena mereka menganggap impian mereka terlalu susah buat digapai. Sekarang gue tanya ke lo, apa lo masih bertahan buat terus sakit?" kata Via.
__ADS_1
Gue yang sampai sekarang pun gak tahu harus jawab apa hanya diam sambil menatap Via.