
Setelah menunggu lumayan lama akhirnya angkotnya Dindin datang, gue yang sudah kepanasan langsung ngibrit naik kedalam angkot. Sampai didalam gue melihat ada cowok yang kemarin sempat gak ada, saat gue melihat cowok itu pun tersenyum ke gue. Dan gue pun membalas senyuman sebisa gue, dan gue pun langsung duduk ditempat biasa yang tempat duduknya memang lumayan agak jauh dari cowok itu.
"Si Andre masih boleh ngikut gue kan Ry? Dia katanya masih mau ngelihat lo," kata Dindin yang langsung nyerocos gitu aja.
"Iya terserah lo pada, ngapain pakai segala minta izin dulu sama gue," kata gue.
"Ya kali aja lo makin kesel ngelihat Andre gara-gara dia nembak lo," kata Dindin yang langsung melirik ke arah Andre melalui kaca spion yang berada ditengah.
"Biasa aja gue mah," kata gue dengan santai.
"Iya dia masih nekat mau ketemu sama lo. Padahal udah gue ceritain kalo lo lagi ada hati sama cowok lain," kata Dindin yang memang mulutnya bocor.
"Eh, anak tolol gue nyuruh lo tanya ke cewek lo tentang gue itu biar lo gak berfikir jelek tentang gue alasan gue nolak si Andre bukannya lo sampein lagi sama orangnya. Mulut lo beneran udah kaya emak-emak," gue pun langsung ngegas saat tahu kalo si Dindin justru menceritakan alasan sebenarnya gue menolak Andre. Gue yang merasa gak enak ke Andre langsung memalingkan muka kebelakang.
"Ya maaf, kan gue cerita ke Andre biar dia juga tahu alasan lo sebenarnya, jadi dia gak usah berharap lebih gitu ke lo. Soalnya gue udah tahu bentukan cowok yang lo suka, Andre mah gak ada setengah-setengahnya level kalo dibandingin sama cowok yang lo suka," kata Dindin yang semakin kebanyakan omong.
"Duh, Vi. Gue bilang juga apa, salah satu alasan gue gak ngerestuin lo sama nih cowok ya ini salah satunya terlalu tolol terlalu goblok," kata gue yang semakin emosi.
"Udah-udah mulai deh, kalian kenapa sih kalo ketemu selalu aja berantem. Bisa gak sih adem sehari aja," kata Via yang menegahi kita.
"Gue bakalan adem sama dia kalo dia sehari aja pakai otak sama mulutnya agak beneran sedikit. Percuma tuh otak kalo cuma buat pajangan di kepala lo," kata gue yang langsung turun lagi dari angkot dan langsung pindah ke angkot lain yang kebetulan lewat.
Gue yang emosi lebih memilih menghindar dari orang itu daripada gue masih disana tapi tenaga gue abis cuma buat berdebat sama orang yang gak penting. Gue butuh cukup tenaga buat gue mengerjakan tugas-tugas semesteran.
Angkot yang gue naikin pun langsung melaju didepan angkotnya Dindin, untungnya angkot yang gue dapat itu gak kalah asiknya sama angkotnya Dindin. Jadi, gue kabur pun gak nyesel-nyesel banget. Selama dijalan pun gue menikmati perjalanan dengan tenang, gue berusaha setenang mungkin. Tepat di daerah tempat tinggalnya Ratu, angkot gue pun berhenti dan ternyata Ratu lah yang naik.
"Woy, Ry. Berangkat sendirian lagi lo? Gak sama Via? Perasaan dari kemarin kalo gue lihat lo berangkat sering sama Via lagi," kata Ratu.
"Iya, tadi gue sempet satu angkot sama Via dan cowoknya yang rese itu, tapi gue turun lagi. Abis gue kesel sama cowoknya Via, mulutnya kaya perempuan," kata gue yang menceritakan.
"Lah emang kenapa Ry?" kata Ratu yang penasaran.
"Hah, biasalah gue kan emang dari awal kenal emang gak pernah akur sama tuh cowoknya Via. Makannya gue sempet marah pas tahu Via kok bisa jadian sama dia," kata gue yang mencari alasan, karena gak mungkin kan kalo gue cerita gue ditembak temannya Dindin dan gue nolak karena alasan kalo gue ada hati sama Rizky. Yang ada si Ratu langsung menjauh dari gue karena dia kan tahu banget dulu gue paling gak suka kalo dia suka sama Rizky, tapi ternyata gue sendiri juga suka sama tuh cowok.
"Oh, emang senyebelin itu ya Ry?" kata Ratu.
"Nyebelin banget, kalo perlu lo gak usah deh kenal-kenal sama dia," kata gue.
Setelah pembicaraan yang agak bikin gue emosi gue dan Ratu pun berhenti berbicara, karena mendadak angkot penuh dengan penumpang. KIta pun berangkat dengan lancar, tanpa perlu ngetem lama.
Sampai di gang sekolah kita pun turun, dan gue membayar dulu ongkos, tetapi sebelum gue selesai membayar Ratu pun mulai lari-larian gak jelas. Gue udah paham banget sekarang, kalo dia lari ngibrit kaya gitu pasti ada cowok itu.
"Can, gak berangkat sama Via?" kata Anwar yang mulai memberi pertanyaan ke gue.
"Gak, dia sama cowoknya. Tadi cowoknya lama, gue duluan aja," kata gue yang memberi alasan.
"Can, nanti gue minta contekan lagi ya," kata Rizky yang mulai senyum-senyum.
__ADS_1
"Ngelunjak lo ya di kasih contekan sehari malah minta terus-terusan," gue pun memasang wajah jutek.
"Gue kira lo kemarin beneran marah sama gue Can, gue udah takut lo beneran gak kasih contekan ke kita," kata Ryan.
"Gue juga gak sejahat itu lah," kata gue singkat.
"Gak bisa sejahat itu apa gak bisa nolak permintaan gue" kata Rizky yang langsung senyum-senyum.
"Oh, mulai ya," gue pun memasang senyum jahat.
"Eh iya iya, maaf maaf bercanda doang gue," kata Rizky yang sadar gue akan mengancam apa.
"Lo bertiga jangan macem-macem kalo mau nilai lo pada aman," kata gue yang masih senyum jahat.
"Iya, maaf ya," Rizky pun langsng memegang tangan gue, yang membuat gue langsung kaku dan salah tingkah.
"Ceilah, maaf sih maaf gak perlu megang tangan juga pasti Macan juga bakalan maafin lo. Bisa aja si Bule alasannya," Ryan pun meledek.
Gue yang bingung harus bersikap kaya gimana beneran langsung kikuk abis, di suasana kekikukan gue tiba-tiba angkotnya Dindin berhenti didepan gue, gue yang sadar kalo itu Dindin langsung berjalan tanpa menoleh sedikit pun ke angkotnya Dindin.
Dan tanpa gue sadar ternyata 3 kunyuk yang gue kira bakalan masih berdiri disana ternyata mereka mengikuti gue jalan ke gerbang sekolah.
"Lo kenapa Can? Lagi berantem sama Via?" kata Anwar yang sadar kalo gue menghindar saat angkot yang ditumpangi Via berhenti didepan kita tadi.
"Gak, gue males aja ngelihat cowoknya Via. Dari awal gue udah gak setuju sama dia tapi tetap aja Via jadian sama tuh cowok," kata gue yang tanpa sadar sudah jalan beriringan dengan 3 kunyuk itu.
"Au ah mat, gue udah gak mau ikut campur kalo masalah Via sama tuh cowok," kata gue.
Gue yang sudah berada didekat tangga pun langsung mulai menaiki tangga bersama Anwar yang memang hanya dia yang satu ruangan sama gue dari 3 kunyuk itu.
"Bales ya Can kalo gue SMS minta contekan," kata Rizky.
"Gak lah, ngabisin pulsa gue aja. Harusnya lo gantiin pulsa gue, abis tuh gara-gara balesin SMS dari lo," kata gue yang sok memasang wajah ogah.
"Iya nanti gue bayar, gue minta patungan sama yang lain," kata Rizky yang langsung tertawa.
"Dasar gak mau rugi," kata gue sambil lanjut jalan ke atas.
Sampai didalam ruangan gue pun langsung duduk dimeja gue, belum banyak teman gue yang datang. Saat gue lagi asih ngotak ngatik handphone Via yang tidak satu ruangan dengan gue saat semesteran menyempatkan keruangan gue.
"Beb, lo marah ya sama gue?" kata via yang langsung mendekati gue.
"Gak, gue gak marah sama lo. Gue cuma marah sama cowok lo yang bego itu," kata gue yang menjawab dengan santai.
"Iya padahal gue udah bilang jangan ngomong lagi ke Andre-nya. Eh, dia malah ngomong sama Andre-nya," kata Via yang memberi penjelasn.
"Iya udah, mau gimana udah terlanjur si Andre tahu. Gue mah muter otak nyari alasan biar dia gak sakit hati banget, eh... Gara-gara cowok lo yang bego itu kelihatan banget gue bohongnya," kata gue.
__ADS_1
"Iya emang mulutnya gak bisa dijaga dia mah. Jangan marah ya Beb sama gue," Via pun masih merayu gue.
"Iya, gue bilang kan gue gak marah sama lo. Gue marahnya cuma sama cowok lo, besok lo berangkat sendiri aja ya Vi. Gue udah males ketemu sama cowok lo," kata gue.
"Dih, kok gitu Beb? Nanti lo sendirian dong?" Via pun memasang wajah cemberut.
"Gak apa-apa gue mah, lagian dijalan gue bisa gak sengaja bareng sama Ratu atau Yani," kata gue.
"Oh ya udah kalo lo maunya gitu. Tapi jangan marah ya sama gue," Via pun masih merayu.
"Iya," gue pun menjawab dengan singkat.
Tiba-tiba saja sahabat gue yang lain datang dan langsung duduk di sekitaran meja gue.
"Dih, lo berdua malah pada disini. Gue mah sengaja nungguin lo berdua di ruangan sebelah. Gue mau cerita nih," kata Rere.
"Iya kan ruangan gue disini, gue mana tahu kalo lo nungguin di kelas sebelah," kata gue.
"Iya juga sih. Ya udah lah ya abaikan masalah ini, gue mau cerita nih! Gue udah jadian sama si Toya," kata Rere dengan memasang wajah bahagia.
"Toya siapa?" kata gue yang heran.
"Cowok yang waktu itu lo kenalan dan baru ketemuan belum lama ini?" kata Via yang masih ingat.
"Iya, semalem dia nembak gue. Gue terima aja, akhirnya gue punya cowok juga," Rere pun menceritakan dengan wajah berseri-seri.
"Kan lo baru ketemuan Re, kok bisa lo main terima-terima aja?" kata Yani.
"Kok gue mencium bau-bau cowok gak bener ya sama cowok ini. Ya, walaupun gue belum pernah lihat tapi perasaan gue gak enak aja," Fifi pun mengutarakan kekhawatirannya.
"Lo ngerasa kaya gitu karena belum ketemu sama orangnya kali Fi. Coba nanti lo semua lihat kalo pas gue dijemput pulang sekolah nanti," kata Rere.
"Lo udah main jemput-jemputan Re? Rumah cuma selangkah aja lo minta dijemput?" kata Ria heran.
"Orang dia sendiri yang mau jemput gue, katanya nanti qm q jemput ya mah," kata Rere yang mempraktekan omongan tuh cowok.
"Apa? Mah? Lo udah manggil mamah papah? Jijik gue," kata gue yang langsung memasang wajah geli.
"Ih, gue juga geli dengernya," kata Andi.
"Dih, kenapa sih pada syirik aja nih Vi. Emang nasib para jomblo ya syirik kalo kita udah bahagia punya cowok.
"Siapa juga yang syirik, gue mah emang gak mau pacaran sama sekali," kata Fifi.
"Iya gue juga gak syirik. Ngapain gue syirik mendingan juga jomblo bebas mau ngapain aja," kata Ria.
"Sumpah gue gak syirik, makan tuh cowok pilihan lo pada. Kalo ada apa-apa awas aja," kata gue yang sebenarnya juga khawatir sama Rere. Karena, memang betul kata Fifi. Setidaknya Rere pendekatan aja dulu supaya tahu karakter cowok itu kaya gimana, dia kan baru kenal, belum lama ketemu, belum tahu karakter tuh cowok kaya gimana? Nanti kalo tuh cowok ada niat jahat sama Rere gimana?
__ADS_1