CINTA ITU APA

CINTA ITU APA
Sumpah, gak apa-apa


__ADS_3

"Assalamualaikum," terdengar suara Via seperti biasa saat menjemput gue berangkat sekolah.


"Walaikumsalam, sebentar ya Vi. Gue mau cek dulu takut ada yang ketinggalan," gue pun teriak sangat kencang dari dalam.


"Oke," Via pun yang mendengar ikut teriak membalas.


Setelah cek satu demi satu apa yang akan gue bawa untuk perlengkapan semesteran hari ini, gue pun langsung keluar dan mengunci pintu sepertti biasa.


"Lo gak ada yang lupa bawa apa-apa kan? Kalo perlengkapan buat semesteran kan jangan sampai ketinggalan," kata gue yang mengingatkan Via.


"Perlengkapannya palingan cuma pensil 2B, penghapus, penggaris, sama papan doang Ry. Mau apalagi yang dibawa," kata Via dengan santainya.


"Iya siapa tahu aja ada yang lupa lo bawa, kan kalo lupa lo mau pinjem kesiapa? Anak-anak kan biasanya bawa cuma buat mereka doang," kata gue.


"Lo bisa belajar konsen Ry?" kata Via.


"Alhamdulilah bisa, kenapa emangnya?" kata gue.


"Gak merasa terganggu sama kejadian kemarin?" kata Via yang mendadak penasaran.


"Kejadian apa?" kata gue yang bingung.


"Kejadian si Andre nembak lo? Emangnya lo gak kepikiran sama keputusan lo?" kata Via.


"Ngapain gue harus kepikiran si Vi? Lah emang itu udah keputusan gue," kata gue yang heran dengan pertanyaannya Via.


"Iya takutnya lo mendadak merasa bersalah karena nolak Andre, atau kasihan sampai kepikiran gitu," kata Via.


"Gak lah, gue kan udah kasih alasannya ke Andre kalo gue cuma mau fokus kesekolah gue dulu dan ngikutin apa yang Allah kasih jalan ke gue. Gue mah gak memungkiri kalo nanti kedepannya Allah ngasih jalannya gue sama Andre ya tetap bakalan gue jalanin. Sumpah Vi, gue nolak dia bukan karena dia juga supir angkot kaya Dindin. Walaupun memang kadang gue yang paling marah saat tahu lo selalu pacaran sama supir angkot, tapi gue juga berfikir apa salahnya supir angkot? Toh mereka juga cari duit dengan cara halal bukan dengan cara nyopet, nyolong, atau ngejambret kan?" kata gue yang menjelaskan ke Via.

__ADS_1


"Iya gue paham kok lo gak pernah mandang orang rendah. Tapi kayanya harus gue lurusin deh, kayanya lo nolak Andre bukan karena lo mau fokus sama sekolah, tapi karena lo masih fokus sama satu cowok yang lo aja gak tahu bakalan lanjut atau gak. Karena emang gak ada pergerakan sama sekali dari dianya kan?" kata Via.


"Iya gimana ya Vi, hati gue belum mantap buat ambil keputusan. Daripada gue nyakitin Andre yang gue sendiri aja gak ada perasaan apa-apa sama dia sama sekali. Mendingan gak usahlah," kata gue yang merasa kalo omongan Via memang benar.


"Ya udah kalo emang lo harus terpaksa nerima Andre buat pelampiasan lo gak apa-apa juga Ry. Namanya perasaan kan gak ada yang tahu, siapa tahu awalnya lo cuma jadiin Andre pelampiasan tapi lama kelamaan lo bisa ada perasaan juga sama si Andre," kata Via.


"Iya lihat nanti aja," kata gue yang langsung memalingkan pandangan kearah lain.


"Ini kok tumbenan si Dindin lama banget ya?" kata Via yang mendadak menyadari kalo cowoknya tak kunjung datang.


"Iya mana gue tahu, emang gue tahu cowok lo ada dimana sekarang," gue pun langsung celingak celinguk.


"Eh tuh dia, baru mau gue SMS," via pun langsung memasukkan handphone-nya kedalam tas.


Gue dan Via pun naik angkotnya Dindin, seperti biasa Via duduk didepan dan gue duduk dibelakang. Setelah naik gue pun sadar kalo Andre hari ini gak ikut ngintilin angkotnya Dindin. Apa dia marah ya sama keputusan gue? Apa dia malu ketemu sama gue karena gue udah nolak dia? Ah, bodo amat ngapain juga mendadak gue pikirin.


Gue pun langsung duduk di pojok dan menghadap kearah belakang.


"Emang harus gue nanya?" kata gue dengan santainya.


"Lo kok jadi cewek bisa sejahat dan setega itu sih Ry sama cowok? Lo gak takut kalo kena karma?" kata Dindin yang langsung menuduh gue.


"Mendingan lo tanya ke cewek lo deh jalan ceritanya kenapa gue bisa nolak teman lo itu daripada lo harus tiba-tiba nuduh gue yang gak-gak. Gue juga mau jelasin ke lo juga udah males banget ya," kata gue yang masih menjawab dengan santai. Entah hari ini gue lagi males emosi-emosian, gue gak mau mengeluarkan tenaga gue buat hal yang sia-sia, gue mau mengumpulkan energi gue buat nanti saat mengerjakan soal-soal semesteran.


Setelah gue berbicara seperti itu, Dindin pun tidak membalas omongan gue lagi, mungkin Via memberi tanda agar cowoknya itu tidak terus membahas atau pun memulai perdebatan ke gue.


Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit, akhirnya gue dan Via pun berhenti di depan gang sekolah. Setelah turun dari angkot gue pun membayar dan langsung berjalan, sedangkan Via masih melakukan kebiasaan berpamitan yang entah ngapain aja mereka sampai lama banget turunnya.


Gue yang udah jalan duluan ternyata baru sadar kalo didepan gue ternyata ada 3 kunyuk sekolahan yang juga berjalan menuju ke gerbang sekolah. Gue pun sengaja berjalan pelan-pelan supaya tetap berada dibelakang mereka. Tapi ternyata gue jalan pelan pun tetap saja mereka menyadari kalo gue berada dibelakang mereka.

__ADS_1


"Eh nih dia penyelamat hidup gue juga baru datang," Rizky pun langsung berhenti saat menyadari gue memang ada dibelakangnya.


"Kalo ada maunya aja lo sok manis-manis sama gue," kata gue yang memasang wajah jutek.


"Iya dong, separuh hidup gue ada ditangan lo soalnya," kata Rizky sambil senyum-senyum gak jelas.


"Emang gue malaikat yang bisa nyabut nyawa lo kapan aja. Kan katanya hidup lo separuhnya ditangan gue, berarti gue cabut aja kali ya nyawa lo," kata gue.


"Jangan lah, kalo nyawa si Rizky lo cabut, nanti separuh nyawa lo juga bakalan ilang dong," Ryan pun mulai meledek.


Ryan dan Anwar pun tertawa dengan sangat kencangnya, hanya Rizky yang senyum-senyum gak jelas. Justru karena dia cuma membalas dengan senyuman itulah yang membuat gue ragu apa iya dia beneran suka apa gak sama gue? Kalo emang dia gak suka please bales dengan omongan kasar pun gue gak apa-apa dengarnya daripada harus senyum-senyum doang.


"Mulai deh lo ya pada! Awas aja lo pada minta contekan ke gue," kata gue yang langsung mengancam.


"Dih, jangan gitu lah Can," Ryan pun langsung ketakutan. Rizky pun terus senyum-senyum.


"Ngapain lo senyum-senyum, lo juga gak akan gue kasih contekan. Nanti kalo gue kasih contekan ke lo, terus lo kasih contekannya ke teman lo satu ini," kata gue yang langsung menunjuk Rizky.


Rizky pun langsung berhenti tersenyum.


"Dih kok gue juga, gue kan gak ikutan ngeledekin lo," kata Rizky.


"Bodo amat, gue non aktifin nomer gue biar gak ada yang ganggu-ganggu gue," kata gue yang langsung jalan dari mereka.


"Dih, lo sih Blay pakai ngeledekin," Rizky pun menyalahkan Ryan.


"Gue kan bercanda Le," kata Ryan.


"Gue gak ikutan, gue mah masih bisa nyontek ke Ryanti. Kan gue masih satu ruangan sama dia," Anwar pun meledek mereka berdua.

__ADS_1


"Awas aja lo ya War kalo lo kasih contekan ke mereka, gue tutup juga akses buat lo nyontek ke gue," kata gue yang masih mendengar pembicaraan mereka,


"Oke siap Ry," Anwar pun mengikuti gue jalan kearah gerbang sekolah. Gue dan Anwar pun meninggalkan 2 kunyuk yang masih berdebat di belakang. Gue hanya bisa senyum-senyum melihat kelakuan cowok itu, gue yang hanya mengancam saja untuk tidak memberi dia contekan. Mana bisa sih gue nolak dia kalo dia minta bantuan ke gue, seperti keputusan gue dari awal gue gak apa-apa kalo pun harus dimanfaatkan sama cowok ini.


__ADS_2