
"Assalamualaikum," terdengar suara Via.
"Walaikumsalam," gue pun keluar untuk melihat.
"Gue bareng lo ya Ry?" kata Via sambil tersenyum.
"Tumbenan lo? Lagi berantem lo ya sama cowok lo?" kata gue cetus.
"Gak Ry, si Dindin lagi ada borongan ngangkut anak sekolah berenang," kata Via.
"Gak ikut sekalian lo, anggep aja lagi nganter anak lo berenang," kata gue.
"Dih, lo mah Beb," Via pun cemberut.
"Ya udah sebentar gue ambil tas dulu," kata gue yang langsung masuk kedalam. Setelah dirasa sudah mengunci pintu dan mengecek semua peralatan gue dan Via pun berangkat sekolah.
"Lo dijemput Andre Ry?" kata VIa.
"Gak tahu gue, kan gue mah kalo bareng sama Andre gak pernah janjian, selalu emang ngepas aja gue berangkat si Andre lewat," kata gue.
"Lah emang lo gak pernah SMS-an sama Andre?" kata Via.
"Gak, sampai sekarang pun aja gue gak pernah tahu nomernya dia berapa? Kan dari awal kalo mau dia mau ketemuan sama gue selalu melalu perantara lo sama Dindin. Nah, sekarang pun dia gak pernah SMS gue," kata gue.
"Masa sih? Padahal udah gue kasih loh nomer lo ke dia semenjak lo nolak dia. Maksud gue kan siapa tahu dia masih bisa ngambil hati lo dengan SMS-an sama lo tiap hari gitu," kata Via.
"Gak tuh, gak pernah dia SMS gue," kata gue.
"Terus gimana sekarang? Lo masih mau lanjut buat suka sama Rizky tanpa tahu sampai kapan perasaan lo dibalas sama dia sedangkan lo sendiri aja sampai sekarang belum tahu apa dia juga suka sama lo atau gak dan lo juga gak tahu apakah lo sama dia bisa satu. Atau lo nerima orang yang jelas-jelas suka sama lo," kata Via.
"Gimana ya Vi? Gue udah ambil keputusan kalo gue bakalan berhenti buat berharap sama Rizky, karena menurut gue impian gue terlalu jauh banget, Ratu aja yang menurut gue mampulah buat dapetin Rizky dengan gampang aja tetap gak bisa dan gak mampu apalagi gue? Tapi, gue juga gak bisa nerima orang yang gue sendiri aja bener-bener gak ada perasaan sedikit pun," kata gue.
"Emang lo gak bisa Ry, terima dulu aja si Andre? Masalah suka kan bisa muncul nanti seiring berjalannya waktu," kata Via.
"Gue gak bisa Vi kalo kaya gitu. Kalo menurut orang-orang lebih baik dicintai daripada mencintai. Tapi kok kalo gue gak bisa ya Vi kaya gitu, gue lebih baik mencintai daripada dicintai. Karena gue merasa nyakitin orang itu kalo gue aja gak pernah cinta sama orang itu. Apa itu bagus?" kata gue.
"Kalo gue sih setuju kata orang yang bilang kalo perempuan itu lebih baik dicintai daripada mencintai karena kalo kita dicintai kita bakalan merasa diratukan olleh orang yang cinta sama kita. Tapi kalo kita mencintai orang yang belum tentu suka sama kita jangankan diratukan, dipeduliin aja belum tentu sama dia. Apa itu gak sakit?" kata Via.
"Nah, coba kalo kita ada diposisi mencintai tapi gak dicintai. Apa kita gak sakit? Bukan lebih baik memulai hubungan itu saat dua-duanya bisa mencintai?" kata gue.
"Nah itu yang bakalan lo rasain kalo lo masih nekat buat suka sama Rizky, lo bakalan sakit terus Ry," kata Via.
"Iya gue tahu, makannya gue udah ambil keputusan buat berhenti. Dan gue juga gak mau nerima Andre, karena gue gak mau nyakitin dia. Udah lah, mendingan gue sendiri aja kok, lagian gue masih happy-happy aja kok tanpa punya pasangan juga," kata gue.
"Jadi lo masih memutuskan untuk menjadi jomblo?" kata Via.
"Yes," gue menjawab singkat.
"Gak asik hidup lo kalo gak ada cowok," kata Via.
"Setidaknya hidup gue gak banyak drama kalo punya pasangan," kata gue.
"Eh, itu kan angkotnya Andre kan?" kata Via menunjuk kearah angkot yang datang.
"Lah iya, tuh kan kaya gini vi selalu pas banget setiap gue mau berangkat dia pas lewat," kata gue.
"Berarti dia udah ngepasin jadwal lo berangkat," kata Via.
"Terserah lah, gue gak peduli," kata gue.
Setelah angkot berdiri didepan kita, kita pun langsung naik.
"Ndre, gak apa-apa kan gue bareng angkot lo?" kata Via setelah naik.
"Lah, harusnya gue yang nanya ke lo Vi. Si Dindin marah gak lo naik angkot gue?" kata Andre.
"Gak lah, ngapain marah. Kan dia tahu kalo gue berangkat bareng Ryanti," kata Via.
"Lah, emang cowok lo kemana?" kata Andre.
__ADS_1
"Lagi dapet borongan anak sekolah," kata Via.
"Oh gitu, ya udah bareng aja kalo gitu," kata Andre.
Andre pun langsung melajukan angkotnya, dan gak lama angkotnya pun langsung penuh dengan penumpang. Selama dijalan pun gue dan Via gak ngobrol apa-apa, karena kalo lagi ngobrol tapi banyak orang kayanya gak enak banget karena banyak yang denger ya.
Sampai digang sekolah Andre pun langsung memberhentikan angkotnya, setelah membayar ongkos Andre pun langsung melajukan angkotnya kembali.
"Ry, Vi," terdengar suara Suneh alias Fifi.
Gue dan Via pun menoleh.
"Tumbenan lo Neh berangkat sendirian? Gak sama Melinda?" kata gue.
"Gak, gue kesiangan bantuin emak gue dulu. Gue suruh Melinda duluan aja," kata Fifi.
"Pantesan tumbenan jam segini baru berangkat," kata Via.
"Eh, lo di SMS-in sama Rere gak? Katanya hari ini dia mau cerita tentang cowoknya," kata Fifi.
"Gak, mau cerita sama lo doang kali dia," kata Via.
"Gak, katanya mau cerita sama kita-kita semua," kata Fifi.
"Mau cerita apaan dia?" kata Via.
"Halah, palingan mau cerita lagi berantem sama cowoknya. Drama percintaan kan pasti begitu ya Neh?" kata gue yang langsung melirik ke Fifi.
"Iya bikin pusing drama percintaan mah, hidup gue aja udah berat," kata Fifi.
"Kak Fifi makin imut aja sih?" tiba-tiba terdengar suara cowok dari belakang.
Kita yang kaget langsung menoleh secara bersama, ternyata orang yang barusan merayu Suneh itu adik kelas yang katanya naksir Fifi.
"Tuh penggemar lo Neh, katanya makin imut," kata gue meledek.
"Baru dibilang hidup gue berat boro-boro ngurusin beginian," Fifi pun berbicara pelan yang hanya bisa didengar oleh gue dan Via.
"Nama lo siapa sih? Adik kelas kita kan ya?" kata Via.
"Nama gue Wita kak, iya kak gue adik kelas lo. Tapi gue udah cocok kan ya sama kakak kelas kaya kak Fifi," kata cowok itu lagi.
"Si Fifi katanya gak mau pacar-pacaran dulu Wit, lo gak usah berharap sama dia bisa bales perasaan lo. Mendingan cari cewek lain aja sana," kata gue.
"Yah, gak bisa diusahain apa kak?" kata cowok itu.
"Gak bisa katanya," kata gue.
Fifi pun langsung menarik tangan gue untuk segera masuk kesekolah dan tidak meladeni anak itu.
"Kok lo berdua pada jutek banget sih sama Wita? Dia kan cuma mau deket sama lo Fi," kata Via yang mengikuti kita berdua.
"Kan gue cuma menyampaikan apa yang dirasakan Suneh. Bener dong nih apa yang gue omongin tadi?" kata gue yang langsung menanyakan.
"Iya gue setuju dengan Ryanti, good job Ryanti. Terima kasih sudah menyampaikan perasaan gue," kata Fifi.
"Emang ya cewek jutek susah cari cowok," kata Via.
"Biarin aja ya Ry kita jomblo tapi bahagia," kata Suneh.
"Yoi," gue pun menjawab.
Kita pun berjalan keatas melewati kelas IPS-2. Didepan kelas sudah banyak anak IPS yang datang, termasuk Deni. Tapi, ada apa dengan dia hari ini? Karena gak seperti biasanya gue lewat dia diem aja tanpa ada ocehan apa-apa.
"Ry, penggemar lo apa lagi sakit gigi? Tumbenan gak ngoceh kaya burung beo. Biasanya tiap lo lewat mulai ngoceh aja tuh mulut ngeluarin gombalannya," kata Via.
"Au ah bodo amat. Bagus deh," kata gue singkat.
"Si Ryanti apa hari ini lagi jelek kali dimata dia. Kan biasanya dia kalo ngoceh (Ryanti hari ini cantik banget sih). Nah, sekarang dia diem aja berarti lo hari ini lagi jelek Ry," kata Fifi yang meledek.
__ADS_1
"Iya kali ya? Waduh, apa gue harus berubah jadi jelek aja biar dia gak kebanyakan ngoceh ya?" kata gue membalasa ledekan Fifi.
"Obrolan dua orang yang aneh," kata Via.
Gue dan Fifi pun tertawa melihat Via memasang wajah geli melihat kita berdua.
"Lagi ngobrol apaan sih berdua seru banget kayanya?" kata Rere yang melihat gue dan Fifi sedang tertawa setelah masuk keruangan kecclas.
"Obrolan dua orang aneh Re. Gue aja dari tadi gak paham sama omongan mereka berdua," kata Via.
"Masa, padahal kita ngobrol udah pakai bahasa manusia ya Neh? Lo biasa ngomong pakai bahasa monyet kali makannya gak ngerti Vi," kata gue meledek.
"Tuh kan Re, gue di ledek mulu sama mereka berdua," kata Via meminta pembelaan.
"Ih, kelakuan orang aneh. Sok imut," kata Fifi yang balik meledek Via.
Kita semua pun tertawa.
"Eh, katanya lo mau cerita tentang cowok lo. Mau cerita apaan sih Re?" kata Fifi.
"Iya nih, gue mau cerita cowok gue si Toya gue heran deh! Masa dia selalu minjem duit ke gue mulu, terus sering banget minta beliin gue ini itu. Padahal kan dia tahu kalo gue masih sekolah belum banyak duitnya, dan padahal kan dia yang udah kerja. Harusnya kan gue ya yang minta ini itu ke dia, kok malah jadi kebalik. Menurut lo semua ini wajar apa udah kelewat batas sih?" kata Rere.
"Emang cowok lo minta beliin apaan aja?" kata gue.
"Waktu itu minta beliin kaos, terus minta beliin jam tangan, terus terakhir kemarin minta beliin sepatu bola. Kan sepatu bola lumayan ya harganya," kata Rere.
"Itu lo beliin semua Re?" kata Via.
"Kalo yang kaos sama jam tangan udah gue beliin, tapi kalo sepatu bola belum gue beliin soalnya harganya lumayan. Duit gue aja yang dikirimin bokap gue udah abis buat dia doang," kata Rere.
"Bokap lo kalo ngirimin duit berapa emangnya?" kata Fifi.
"Sejuta, yang lima ratus buat kebutuhan sehari-hari gue sama kakek nenek gue, nah yang lima ratusnya buat kebutuhan gue sama sekolah gue," kata Rere.
"Buset lima ratus udah lo abisin buiat cowok lo doang Re?" kata gue yang kaget.
"Emang cowok lo minjem duit buat apaan sih?" kata Ria.
"Katanya buat nyambung hidup, dia kan disini ngontrak terus dia minjem selalu bilang belum gajian. Tapi ternyata abis gajian pun bukannya dibalikin duit gue sebelumnya malah dia pinjem gue lagi," kata Rere.
"Ini mah udah kebangetan Re, cowok mana ada sih yang gak malu minta ini itu sama cewek. Apalagi dia kan udah kerja emang gak malu minta duit ceweknya yang masih sekolah," kata Andi.
"Iya bener tuh Re, gue selama ini pacaran sama Yana kalo apa-apa gantian. Kalo dianya yang beli bensin buat motor ya gue yang bayarin makannya. Jadi ada timbal baliknya. Gak cuma salah satu yang terus-terusan ngasih," kata Yani.
"Iya, gue juga selama pacaran gak pernah ngeluarin banyak duit. Palingan bayarin makan doang itupun sama kaya si Yani gantian," kata Via.
"Lagian kok cowok lo tahu sih kalo lo punya pegangan duit banyak dari bokap lo?" kata Ria.
"Iya dari gue sendiri. Gue cerita semuanya, kalo gue disini tuh tinggal sama kakek nenek gue, keluarga gue semuanya tinggal di Karawang, terus tiap bulan bokap gue yang ngirimin duit buat kehidupan gue selama disini. Gue juga cerita sama dia kalo gue baru pertama kali pacaran, dan yang pertama kalinya ya sama dia itu," kata Rere menceritakan semuanya.
"Terlalu pinter lo Re buka rahasia lo semuanya ke dia. Walaupun dia cowok lo tapi kan lo sama dia berawal dari gak saling kenal lama. Jadi menurut gue gak perlu lah lo buka semua tentang hidup lo ke dia, lo kan masih pacaran belum mau kawin kan? Gak usah lah sedetail itu lo omongin ke dia. Yang ada jatuhnya dia lebih gampang manfaatin lo kaya gini, karena dia udah tahu semuanya," kata gue.
"Iya bener kata Ryanti, gue aja belum sepenuhnya cerita ke cowok gue tentang keluarga gue," kata Via.
"Kalo gue gak mau cerita, tapi biarin dia tahu sendiri dengan ketemu langsung sama keluarga gue," kata Yani.
"Berarti gue salah dong? Gue dimanfaatin dong sama cowok gue?" kata Rere.
"Bukan dimanfaatin lagi, siapa tahu lo juga dibegoin sama dia. Emang lo tahu dia diluar sana punya cewek lagi apa gak," kata gue yang langsung nyeletuk.
"Iya juga ya," kata Rere berfikir.
"Lo tes aja Re apa dia setia apa gak?" kata Ria.
"Gak tahu juga gue. Gue kan belum pengalaman begini-beginia," kata Ria.
"Nanti kita fikirin lagi aja. Pokoknya sekarang mah kalo dia minta apa-apa lagi atau minjem duit lagi jangan lo kasih. Bilang aja bokap lo belum kirim uang," kata Andi.
"Oke, sialan tuh cowok kalo beneran manfaatin gue mah. Bakalan gue bales sama kaya dia ngelakuin ke gue," kata Rere.
__ADS_1
"Makannya kan gue bilang cinta sama cowok boleh tapi terlalu bego jangan," kata Via.
Rere pun diam berfikir.