CINTA ITU APA

CINTA ITU APA
Ternyata fikiran gue ini salah


__ADS_3

"Vi, lo emang udah benar-benar gak mikirin si Konde lagi? Gue heran kok lo kaya gak ada sedih-sedihnya sama sekali ya Vi?" gue pun bertanya dengan heran saat melihat Via justru happy sambil asik mengikuti alunan musik yang disetel supir angkot.


"Ya terus gue harus ngapain Ry? Nangis-nangis sambil terus mohon-mohon ke Konde kalo gue gak mau putus sama dia?" Via pun bertanya lagi.


"Iya gak gitu juga sih, tapi setidaknya ada muka-muka murung kek paling sebentar tiga hari gitu?" kata gue.


"Lo maunya gue gitu? Emang kalo sedih harus ditunjukkan keorang-orang?" Via pun terus membalikkan pertanyaan.


"Iya gak juga sih, tapi kayanya gue kalo jadi lo gak sanggup deh pura-pura baik-baik aja kaya gitu," kata gue sambil membayangkan.


"Tiap orang kan punya kepribadiannya masing-masing Ry, gue kelihatan seneng bukan berarti gue lagi seneng tapi gue gak mau menunjukkan ke orang kalo gue lagi sedih. Karena gue gak mau dikasihani sama orang," kata Via.


"Bukan kasihan sama lo tapi lebih perduli aja ke lo Vi," kata gue memperjelas.


"Iya sama aja Ry, intinya gue gak mau orang tahu kalo gue lagi sedih udah gitu aja," kata Via.


"Oh gitu, ya gak apa-apa sih kalo lo masih mau bertahan begitu. Tapi kalo lo gak kuat nahan dan lo mau nangis silahkan aja nangis sekencang-kencangnya," kata gue.


"Eh Ry, mau nanya serius sama lo jawab jujur ya?" kata Via yang mulai menunjukkan wajah penasaran.


"Mau tanya apa lo? Serius banget kayanya," kata gue yang ikut memasang wajah serius.


"Lo lagi marah sama Rere ya? Gue perhatiin dari kemarin lo ketus banget sama Rere? Kenapa?" kata Via yang mulai memasang wajah penasaran.


"Hah, gak. Biasa aja gue," gue jawab dengan memalingkan wajah.


"Seriusan? Kelihatan loh kalo lo kaya lagi marah sama Rere," kata Via.


"Beneran seriusan," kata gue dengan nada sedikit keras.


"Ya udah kalo emang gak ada apa-apa biasa aja Ry, gak usah teriak-teriak segala," kata Via yang senyum-senyum.


Gue pun langsung terdiam saat Via membahas tentang Rere, entah hati gue masih sedikit panas sama kejadian dikolam renang waktu itu.


Akhirnya gue pun sampai di gang sekolah, gue dan Via turun. Baru berapa langkah kita jalan dari belakang terdengar suara memanggil kita.


"Vi, Ry tungguin gue," suara Ratu terdengar memanggil kita. Kita pun menoleh kearah belakang.

__ADS_1


"Baru berangkat lo Tu," kata Via.


"Iya, kesiangan gue," kata Ratu yang langsung menggandeng lengan gue dan Via.


"Belum kesiangan Tu, kan belum bel masuk," kata gue.


"Ya kesiangan lah Ry, lo gak lihat ini matahari udah ada diatas kepala berarti udah siang," kata Ratu sambil senyum-senyum.


"Suka-suka lo deh Tu," gue pun memasang wajah pasrah.


"Ry, si Rizky kok gak ada diwarung sih? Gak masuk kali ya?" kata Ratu sambil celingak celinguk kearah warung.


"Ya mana gue tahu dia masuk apa gak, gue kan udah gak sekelas lagi sama dia," kata gue dengan mulai memasang muka bete. Via yang sadar melihat mimik muka gue yang udah gak beres langsung mengedipkan matanya tanda gue harus biasa aja.


"Iya kali aja lo SMS-an sama dia atau apa gitu," kata Ratu.


"Gak apa-apa emangnya kalo gue sering SMS-an sama pujaan hati lo?" gue pun meledek.


"Iya gak boleh lah," Ratu pun berteriak.


"Biasa aja kali Tu, ya tadi lo bilang kalo gue gak apa-apa SMS-an sama Rizky," kata gue yang masih meledek.


"Udah ih, lo mah berantem mulu kalo udah ngomongin si Rizky. Malu tahu dilihatin orang-orang, berdua aja suaranya kaya ada 10 orang rame banget," kata Via.


"Iya habisnya Ryanti Vi," Ratu pun memasang wajah cemberut.


Gue dan Via pun hanya tersenyum melihat tingkah Ratu yang kaya anak kecil. Setelah melewati gerbang sekolah tiba-tiba saja Ratu menepuk tangan gue.


"Ry, teman lo itu emang juga suka sama Rizky?" kata Ratu.


"Apaan sih Tu? Sakit tahu lo ngapain sih mukul-mukul tangan gue? Teman siapa maksudnya?" kata gue yang sedikit meringis karena beneran sakit pukulan si Ratu.


"Noh lo lihat, teman lo kan itu? Yang kemana-mana sama lo berdua kan? Dia suka juga sama Rizky? Kok gue perhatiin dari pas kita berenang itu teman lo itu kayanya deket-deketin si Rizky mulu. Udah gitu mereka kayanya seru banget ketawa ketiwinya, tuh lo gak lihat mereka juga ketawa ketiwi," Ratu pun masih mengeraskan suaranya.


Gue yang langsung melihat kearah yang ditunjuk Ratu pun langsung kaget, ternyata teman gue yang dimaksud Ratu itu si Rere. Benar saja Rere dan Rizky sedang berdiri berdua di depan gerobaknya Mang Kumis. Mereka sedang mengobrol berdua saja, gak ada siapa-siapa. Dan mereka tertawa lebar seperti kejadian dikolam renang kemarin. Hati gue langsung DEG sakit banget melihat adegan itu lagi. Apa yang gue pikirin kemarin benar? Apa benar Rere mau balas dendam ke gue, supaya gue tahu rasa sakitnya cowok yang disuka diambil orang.


"Ry, kok lo malah bengong aja sih? Gue kan nanya ke lo, teman lo itu juga suka sama Rizky?" kata Ratu.

__ADS_1


"Udah deh Tu gak usah tanya-tanya ke gue lagi tentang Rizky. Gue mana tahu kalo si Rere suka apa gak sama Rizky, emang gue bisa baca pikiran dan hati mereka berdua?" tanpa sadar gue pun mengeluarkan nada yang tinggi ke Ratu sampai Ratu dan Via pun kaget. Gue yang sedang kesal langsung jalan duluan kearah kelas, Via dan Ratu hanya bertatapan dengan wajah bingung.


Setelah sampai dikelas gue pun membanting tas diatas meja, dengan muka kesal gue pun langsung duduk dibangku.


"Lo kenapa Ry?" Dinda pun yang aneh dengan kelakuan gue langsung bertanya.


"Gak," gue pun menjawab dengan singkat.


Via pun masuk kedalam kelas, lalu setelah itu disusul oleh Rere. Rere yang berjalan sambil menari-nari dan tersenyum menandakan kalo dia lagi bahagia sekali hari ini. Via pun hanya melihat tingkah Rere dan langsung melirik kearah gue.


"Vi, si Ryanti kenapa? Dateng-dateng langsung banting tas? Kaget gue tadi ngelihat dia begitu," Yani pun berbisik ke Via.


"Gak tahu gue, si Ryanti gak cerita apa-apa sama gue," kata Via.


Setelah melihat Rere yang lewat depan meja gue sambil menari-nari seperti itu semakin membuat hati gue yang belum redup malah semakin memanas. Sepanjang jam pelajaran gue gak bisa konsen sama sekali, otak gue lagi berfikir apa iya si Rere beneran suka sama Rizky? Apa cuma mau bales dendam doang sama gue? Tapi kok gue ngelihatnya mereka berdua nyaman banget ketawa ketiwi, beda banget kalo tuh cowok lagi ngobrol sama gue kayanya kaku banget.


Akhirnya di jam pelajaran terakhir sebelum istirahat gurunya izin tidak masuk, sehingga waktu pelajaran pun kosong. Lumayan lah buat gue nenangin diri. Sedang asiknya menyandarkan kepala diatas meja, tiba-tiba tangan gue ditarik Rere. Rere menarik tangan gue dan mengajak gue duduk diluar kelas, dengan muka heran gue langsung melihat kearah Via. Via pun yang memang duduk tepat dibelakang gue melihat gue keluar dengan Rere dengan sigap dia mengikuti kita berdua.


"Nih Ry hadiah buat lo," kata Rere yang memberikan amplop kecil berwarna putih.


"Apaan nih? Hadiah? Gue kan lagi gak ulang tahun, ngapain lo kasih gue hadiah," kata gue dengan heran.


"Udah buka dulu, lihat apa isinya," kata Rere sambil senyum-senyum.


Gue pun melirik kearah Via yang berdiri disamping gue, Via pun memberi isyarat supaya gue cepat membuka amplop itu. Gue pun langsung membuka amplop itu dan kaget, ada selembar foto dan foto itu ternyata fotonya Rizky.


"Fotonya Rizky? Maksudnya apa lo kasih ke gue?" kata gue dengan heran.


"Bilang apa ke gue? Gue minta keorangnya langsung loh, dari pas kita berenang gue mohon-mohon sama Rizky buat minta fotonya. Tadinya dia gak mau kasih tapi gue mohon-mohon terus ke dia, pokoknya sampai dia mau kasih fotonya gue bakal samperin dan pepetin dia terus. Demi dapet foto dia buat lo Ry," kata Rere dengan senyum-senyum.


"Hah, kan gue gak minta. Ngapain lo minta fotonya dia? Gue kan gak nyuruh lo?" gue pun masih memasang wajah bingung.


"Iya inisiatif gue sendiri aja, kan biar lo bisa memandangi wajahnya si Rizky tiap hari," kata Rere yang masih senyum-senyum.


"Terus lo minta ini bilangnya buat siapa?" kata gue.


"Iya bilang buat lo lah masa buat gue, kan diantara kita yang suka sama Rizky cuma lo," kata Rere.

__ADS_1


Gue pun langsung melirik kearah Via, dan Via hanya tersenyum. Hati gue langsung entah apa rasanya, bisa dibilang plong karena ternyata Rere gak ada perasaan sama sekali sama Rizky. Tapi dibilang sakit juga iya, sakit hati gue kenapa gue bisa se-bego itu berfikiran jelek tentang Rere, padahal Rere sama sekali gak ada rasa sama Rizky. Dia ngelakuin itu justru buat gue senang dan bahagia.


__ADS_2