CINTA ITU APA

CINTA ITU APA
Hari ini Sudah Senang Melihatnya


__ADS_3

Hari-hari telah kulewati dengan sangat bahagia, walaupun didalam hati ini masih merasakan ada yang ganjel karena masih aja gue bertahan buat mendem perasaan gue sendiri kecowok nyebelin itu. Dan selama ini pun gue hanya bisa melihat cowok itu dari jauh, melihat bagaimana kegiatannya, melihat apakah dia baik-baik saja, melihat apakah dia bahagia. Sumpah, itu udah cukup banget buat gue. Gue selalu nyolong-nyolong buat lihat dia dikelas saat gue pergi ke toilet, gue nyolong-nyolong buat lihat dia saat ketemu dikantin. Ya...walaupun agak sedikit kecewa sih karena selama beda kelas ini, gue sama dia jadi canggung buat hanya negur aja, palingan kita cuma sekedar saling senyum kalo gak sengaja bertatapan dan gak saling ngomong kaya dulu. Keseringan sih gue justru malah sering ngobrolnya sama Ryan, karena Ryan kadang sering meledek dan ada basi basinya walaupub sekedar bertanya gak penting sih? Tapi gak apa-apalah yang penting gue bisa nyolong-nyolong ngelihat dia karena gue tahu si Ryan pasti gak bisa jauh-jauh dari Rizky dan sebaliknya.


"Ry, bengong aja lo dari tadi? Lagi mikirin apaan sih?" kata Via yang mungkin sedari tadi memperhatikan gue.


"Hah, gak ada apa-apa Vi," kata gue yang sadar dari lamunan.


"Kangen kali sama Beruang kesayangannya itu," Dinda pun meledek gue. Gue yang kaget sama omongannya Dinda hanya melirik kearah Dinda.


"Ki, ini ceritanya pelajaran bahasa indonesia kosong gak ada gurunya?" kata Via yang langsung menanyakan ke Rizky Jablay murid yang paling rajin manggilin guru ke ruang guru kalo gurunya gak kunjung datang.


"Gak, Bu Susi ijin sakit gak masuk," kata Rizky.


"Terus gak ada tugas apa-apa kan?" kata Ibey.


"Gak ada. Free kita hari ini," kata Rizky.


"Aseeekkk," serampak satu kelas teriak girang kecuali Dinda yang masih aja serius buka-buka buku padahal gurunya jelas-jelas gak ada.


"Ry, duduk didepan kelas yuk," Via pun menarik tangan gue menuju kedepan kelas. Kita memang sering duduk didepan kelas kalo sekiranya guru tidak ada atau tidak masuk.


Gue dan Via pun akhirnya duduk didepan kelas, untuk berapa menit gak ada obrolan sama sekali, dan sampai semua sahabat gue ikut keluar. Mereka ikut duduk didepan kelas.


"Ngapain sih lo berdua aja? Mau curhat colongan lo ya? Curhat gak ngajak-ngajak kita, curang deh," kata Rere yang langsung nyerocos.


"Niatnya ngajakin orang ini keluar buat dengerin isi hatinya dia, kali aja ada yang mau curhat tapi dari tadi gue duduk berdua pun dia belum curhat apa-apa," kata Via yang langsung melirik kearah gue.


"Siapa? Gue maksudnya?" kata gue yang merasa semua mata tertuju kearah gue.


"Terus siapa lagi? Dari kita semua yang kelihatan hatinya lagi tertekan cuma lo doang Ry," kata Via.


"Lagi kangen lo ya sama Beruang Kutub kesayangan lo itu?" Rere pun langsung bisa menebak.


"Gak, siapa juga yang kangen sama dia? Justru gue happy karena sekarang gak ada yang gangguin gue lagi," kata gue coba berbohong.

__ADS_1


"Happy apa merasa kehilangan?" Ria pun ikut meledek gue.


"Apaan sih?" kata gue yang langsung melihat kearah lain.


"Ry, kalo mau cerita silahkan cerita gak usah takut gue bakalan marah. Bener kok kata Rere lo punya hak buat suka sama cowok manapun itu, tapi ya lo juga harus bisa nerima konsekuensinya kalo suka sama cowok yang banyak orang juga suka. Tapi setidaknya hati lo bisa lega karena gak nyimpen perasaan lo sendiri," kata Via.


"Iya, gak enak tahu Ry mendem perasaan sendiri," kata Fifi.


"Sok tahu lo, emang lo udah pernah ngerasain sendiri?" kata Yani.


"Ngerasain apaan?" kata Fifi.


"Ya itu mendem perasaan sendiri," kata Yani.


"Gak pernah," Fifi pun menjawab dengan polosnya.


"Terus ngapain lo sok tahu bilang gak enak kalo mendem perasaan sendiri? Emang suneh nih orang," kata Andi yang sewot.


"Suneh apaan Ndi?" Yani pun dengan wajah bingungnya.


"Oh, Hahaha. Sekarang panggil Fifi Suneh aja yuk," kata Yani.


"Emang kita dari masih kelas 10 manggil Fifi udah Suneh, lo aja yang ketinggalan," kata Ria.


"Emang iya? Berarti gue dong yang ketinggalan," kata Yani yang langsung cengengesan.


Gue pun hanya senyum-senyum melihat mereka berdebat hal yang gak penting. Lagi asik-asiknya mereka ngobrol tiba-tiba saja ada segerombolan cowok-cowok dari bawah naik keatas dan melewati kita yang sedang duduk didepan kelas. Ternyata itu segerombolan cowok-cowok anak 11 IPS yang memang pada hobby nongkrong dikelas kosong disebelah kelas gue. Disebelah kelas gue memang ada kelas yang kosong, kelas yang berada paling pojok. Kelas itu biasa digunakan hanya untuk kegiatan ekskul kalo lagi pasednag berkumpul, ya kalo gak ada kegiatan seperti ini kelas itu kosong. Dan kalo lagi kosong seperti itu, biasa digunakan anak-anak cowok buat mereka nongkrong sembari ngeroko colongan. Dan selama ini gue pun tahu kalo si Rizky pun sering nongkrong dikelas itu kalo jam pelajaran dikelasnya lagi kosong.


Gue yang langsung memperhatikan satu persatu cowok yang lewat didepan gue, berharap cowok yang gue pengen lihat banget pun lewat. Dan sampai cowok yang terakhir lewat pun gue gak lihat ada si Rizky yang lewat. Sedikit kecewa, karena cuma ini yang bisa gue lihat dia secara diam-diam.


"Kenapa Ry? Kecewa ya Beruang lo gak lewat?" kata Rere yang meledek gue setelah melihat gue langsung tertunduk.


"Gak biasa aja," kata gue yang heran kenapa sih orang-orang pada bisa banget baca pikiran gue.

__ADS_1


"Ry, lo tuh paling gak bisa bohong kalo masalah perasaan. Apalagi kalo lagi kecewa kelihatan banget Ry," kata Ria.


"Iya kelihatan banget. Masih mau bilang lo gak mau cerita apa-apa?" kata Via yang langsung melirik kearah gue.


Baru saja gue mau ngomong tiba-tiba ada 2 cowok yang baru saja naik, dan gue pun langsung terdiam. Benar saja siapa lagi cowok yang bisa bikin mulut gue langsung tertutup rapat kalo bukan cowok nyebelin itu. Dia sedang bercanda dengan Ryan, sebelum melewati gue dan teman-teman gue Rizky pun melirik kearah gue dan gue pun langsung sontak kaget karena pas banget mata gue sedang kearah dia.


"Misi numpang lewat ya Can," kata cowok nyebelin itu.


Gue pun hanya tersenyum kecil.


"Boleh lewat gak nih gue Can, kalo gak boleh gue balik lagi nih?" kata cowok itu sengaja meledek.


"Ya udah sana balik lagi, siapa yang suruh lewat sini," gue pun menjawab dengan ketus.


"Buset masih aja galak sama gue. Gue kira beda kelas udah agak jinak," kata cowok itu.


"Justru dia kangen saat-saat lagi galakin lo gini Ki, makannya dia gak jinak-jinak sama lo," kata Rere yang langsung meledek.


"Apaan sih? Udah sana lo berdua lewat, ganggu pemandangan gue aja lo berdua berdiri lama-lama didepan gue," kata gue.


"Buset gue juga masih aja digalakin sama si Macan," Ryan pun heran.


"Lo tuh cuma pengalihan Ryan, sebenarnya Macan kita ini cuma kangen galak-galakan sama Beruang Kutub doang. Gak peka banget sih lo," kata Rere yang masih saja meledek.


"Apaan sih," gue pun memasang wajah bete.


"Oh gitu, ya udah gak apa-apa deh gue digalakin juga," Ryan pun ikut meledek dan langsung berlari kearah kelas kosong.


"Gue boleh lewat gak nih Can?" kata cowok itu lagi.


"Udah deh lewat sono, kelamaan deh lo," kata gue yang langsung memalingkan muka.


"Galaknya gak selesai-selesai nih Macan," kata cowok itu yang langsung ikut berlari menyusul Ryan.

__ADS_1


Gue pun langsung melihat tajam kearah cowok itu pergi, seketika hati senang dan damai hari ini sudah melihat cowok itu.


"Hari ini udah seneng kan udah bisa berantem sama Beruang kesayangan?" seketika Rere mengagetkan gue. Gue yang benar-benar merasa heran, kok bisa sih orang-orang bisa langsung nebak isi hati gue? Apa iya kelihatan banget ya kalo gue lagi ada rasa, entah rasa suka atau rasa kecewa.


__ADS_2