
"Ryanti... Selalu cantik ya hari ini," kata cowok aneh yang dari kemarin selalu memuji gak jelas.
Gue pun hanya melirik dengan aneh cowok itu. Gue yang tiba-tiba berpikir masa iya setiap gue baru berangkat sekolah disambut sama orang gak jelas kaya gini. Teman-teman gue yang lain yang sudah berkumpul didepan kelas pun melrik kearah cowok itu.
"Ry, siapa?" kata Rere yang melihat kelakuan cowok itu.
"Gak tahu gue, gue gak kenal," kata gue yang memasang wajah aneh.
"Itu mah si Deni, dia anak Pabuaran," kata Eka.
"Lo kenal sama dia,"kata gue.
"Kenal banget sih gak, cuma sering ketemu atau bareng aja kalo berangkat atau pulang sekolah," kata Eka.
"Emang gitu orangnya?" kata gue.
"Gitu gimana?" kata Eka yang aneh dengan pertanyaan gue.
"Ya aneh. Gue dari seminggu yang lalu selalu di tegur sama dia, tapi negurnya kaya tadi gitu sambil senyum-senyum,. Kan gue horor setiap ketemu sama dia," kata gue.
"Kalo anehnya sih gue gak tahu, tapi kalo setiap gue bareng sama dia emang gitu gak bisa diem. Ngomong terus, gue aja capek sendiri ngelihat dia ngomong mulu," kata Eka.
"Cowok bawel? Males banget deh kalo ketemu sama cowok kaya begitu," kata Rere.
"Ini ceritanya belum ada pengumuman?" kata gue yang melihat pintu masih kosong.
"Belum ada, tapi ya udah lah ada pun kita gak terlalu pusing-pusing amat kalo remedial. Soalnya kan tinggal sisa pelajaran kaya Penjas sama Bahasa Jepang aja," kata Melan.
"Emang lo bisa Bahasa Jepang?" kata Eka.
"Gak, ha-ha-ha. Setidaknya gak pusing hitung menghitung kaya Matematika, Fisika, Kimia. Beneran nyerah gue," kata Melan.
Tanpa gue sadari gue celingak celinguk mencari seseorang. Karena gue ngerasa kaya ada yang aneh, tiba-tiba gak ada seseorang yang biasanya udah ngajakin gue ribut, padahal dua sejolinya udah terpampang nyata didepan gue.
"Nyariin siapa hayo..." kata Rere yang ternyata memperhatikan gue yang dari tadi celingak celinguk.
"Gak nyari siapa-siapa gue," kata gue yang berusaha ngeles.
"Halah... Ngaku aja sih Ry gak usah malu-malu. Lo lagi nyariin Beruang Kutub lo itu kan?" kata Rere yang tepat sekali.
"Gak... Eh iya maksud gue tumben-tumbenan belum kelihatan biasanya gue dateng langsung ngajakin ribut," kata gue yang sedikit agak gugup.
"Kenapa? Mulai terasa hampa ya gak ada dia disamping lo?" kata Rere yang terus meledek.
"Apaan sih lo Re," kata gue yang berusaha menahan rasa malu gue.
Fifi, Ria, dan Dinda pun hanya senyum-senyum melihat gue yang sedang diledeki terus menerus.
"Mau gue tanyain gak si Beruang Kutub kemana?" kata Rere.
"Mau nanya kesiapa?" kata gue yang tanpa sadar .
"Dih... Berarti beneran pengen tahu Beruang Kutub kemana? Udah si Ry ngaku aja," kata Ria yang mulai ikut meledek.
"Apaan sih? Ya kan gue beneran gak tahu nanya kesiapa?" kata gue yang mulai malu. Gue beneran gak tahuh nih kenapa tiba-tiba perasaan gue gini. Ry sadar lo itu bukan siapa-siapa dibandingkan cewek-cewek lain yang mengidolakan Rizky. Lo harus jaga perasaan teman lo Ratu yang lo tahu sendiri dia yang paling gila banget kalo ngelihat Rizky. Dan please masa lo nelen ludah lo sendiri, awalnya kan lo berkoar-koar kalo lo gak bakalan suka sama Rizky, dan lo benci banget sama cowok yang cuma menang tampang doang tapi gak ada otaknya sama sekali alias oon. Please Ry, tetaplah pada pendirian lo kalo lo gak mungkin ada rasa sama cowok nyebelin itu. Please lo harus tahan perasaan lo.
"Woy Ryan, teman lo satu lagi kemana? Dari tadi gak kelihatan sama sekali?" kata Rere yang langsung berteriak ke Ryan yang sedang ngobrol dengan teman kelas gue ynag lain.
"Siapa? Si Bule?" kata Ryan.
"Iya siapa lagi? Nih teman gue celingak celinguk gak jelas kaya ngerasa kehilangan sesuatu," kata Rere yang melirik kearah gue. Gue yang merasa mulai diledek langsung melotot kearah Rere.
"Mulai hampa si Ryanti gak ada yang diajak berantem," kata Siti.
Gue pun hanya bisa cemberut.
"Tadi gue SMS katanya dia ijin gak masuk, soalnya kakinya kena beling waktu main futsal kemarin," kata Anwar.
__ADS_1
"Tuh Ry si Beruang Kutub lo sakit, jenguk yuk," kata Rere.
"Ogah," kata gue dengan sok jaim.
"Seriusan gak mau ikut? Gue mau nengokin ah," kata Rere sambil melirik kearah gue.
"Gue ikut," kata Ria, fifi, dan Dinda dengan kompak.
"Gue mau ikut tapi gue udah ada janji," kata Eka.
"Gue juga ada janji," kata Melan.
"Ah... Lo mah emang mau pacaran," kata Siti.
"Lo seriusan gak mau ikut Ry?" kata Rere yang masih melirik dan meledek gue.
"Gak, eh Mel. Lo pacaran ya sama kaka kelas yang namanya Daeng?" kata gue yang berusaha mengalihkan pembicaran tentang cowok nyebelin itu. Rere yang merasa gue mengalihkan pembicaraan hanya senyum-senyum dan melemparkan lirikan ke Ria, Fifi, dan Dinda.
"He-he-he iya kok lo tahu," kata Melan.
"Gue pernah lihat lo pulang berdua aja sama dia," kata gue.
"Kok lo tahu namanya Daeng? Emang lo kenal?" kata Melan.
"Gak, gue cuma sering denger aja kakak kelas paskib gue manggil dia, makannya gue tahu," kata gue yang memberi alasan.
"Oh gitu," kata Melan.
"Udah lama pacarannya?" kata gue.
"Udah sebulan sebenernya, tapi baru go public belum lama," kata Melan.
"Oh gitu," kata gue. Berarti benar perkiraan gue, gue cuma jadi bahan pilihan dia doang disaat nanti kalo Melan gak nerima dia, benar-benar sialan cowok. Untungnya si Rere, Fifi, dan Ria gak terlalu sadar Daeng yang dimaksud itu Daeng yang gue pernah ceritain waktu itu ke mereka.
Setelah menunggu agak lumayan lama akhirnya pengumuman pelajaran pertama remedial sudah diumumkan, dan syukurnya gue gak kena remedial. Dan lagi-lagi gue tanpa sadar mencari nama cowok super nyebelin itu apa ada didaftar remed. Ternyata tanpa sadar hati gue bersyukur kalo dia pun gak kena remed. Setelah pelajaran kedua pun diumumkan, dan gue gak kena remed lagi, Rere pun bertanya lagi ke gue.
"Gak," jawab gue singkat dan masih sok jaim.
"Yakin??? Nanti nyesel gak tahu kabar sejolinya," kata Rere yang masih meledek.
"Udah ikut aja, gak usah sok-sok jaim. Lo bohong pun kita semua juga tahu kalo sebenernya lo pengen ikut banget nengokin si Beruang Kutub," kata Dinda yang langsung pada intinya.
"Iya, udah gak usah sok-sok jual mahal. Ikut aja udah," kata Ria.
"Gue kan pulang selalu sama Via, Yani, sama Ratu. Terus gue bilang ke mereka nya gimana? Nanti kalo gue jujur si Ratu malah mau ikut, nanti sampai sana si Beruang malah marah sama gue," kata gue dengan polosnya.
"Iya lo bilang aja mau main kerumahnya Dinda," kata Rere.
"Kok rumah gue?" kata DInda yang langsung sewot.
"Kan cuma bohongan doang Din, kalo Ryanti bilang mau kerumah gue pasti Via sama Yani ikut, yang ada si Ratu juga ikut," kata Rere yang menjelaskan.
"Oh gitu," kata Dinda yang baru paham.
"Capek deh," kata Rere.
"Oh gitu, ya udah," kata gue. Tapi walaupun gue suruh bohong ke Via juga tetap aja gue gak bisa bohong ke Via. Saat gue lihat ada Via diluar kelasnya, gue pun langsung menghampiri.
"Vi, sini dah gue mau ngomong sama lo berdua aja," kata gue yang langsung menarik tangan Via yang sedang ngobrol bareng temannya.
"Oh ayo," kata Via yang langsung mengiyakan ajakan gue.
"Vi, gue mau ngomong tapi janji lo jangan ledek gue atau bilang kesiapa pun ya?" kata gue setelah dirasa gak bakalan ada orang yang dengar gue sama Via lagi ngobrol apa.
"Apaan beb," kata Via yang penasaran.
"Si Rizky hari ini gak masuk, katanya kakinya kena pecahan beling waktu main futsal kemarin. Rere ngajak gue buat jenguk Rizky," gue pun cerita dengan perasaan malu.
__ADS_1
"Terus lo mau ikut?" kata Via.
"Iya," jawab gue singkat.
"Pengen banget ikut?" kata Via yang menanyakan dengan serius.
"Iya," jawab gue lagi dengan singkat.
"Cuma sekedar teman nengokin teman ya Ry. Please jangan ada perasaan apa-apa," kata Via yang sedikit khawatir.
"Iya emang cuma teman, emang apaan?" kata gue.
"Janji ya," kata Via yang memastikan.
"Iya. Tapi janji ya Vi jangan bilang ke Ratu kalo gue mau nengokin Rizky. Yang ada dia mau ikut gue, nanti si Rizky malah marah sama gue," kata gue dengan sedikit memohon.
"Iya, nanti gue bilang lo main dulu kerumah teman sekelas lo," kata Via.
"Makasih Vi," seketika gue pun sumringah mendengar Via janji gak akan bilang apa-apa ke Ratu. Gue pun balik ke kelas gue setelah mendapat persetujuan dari Via.
"Ry, gue udah SMS Beruang kalo kita mau ke rumah dia nengokin dia," kata Rere.
"Hah, lo udah ngomong? Terus dibolehin gak sama dia?" kata gue penasaran.
"Boleh dengan senang hati katanya," kata Rere. Entah kenapa hati gue langsung senang ketika mendengar persetujuan dari tuh cowok.
Setelah dirasa sudah gak ada lagi pelajaran yang bakalan diremed kita pun siap-siap berangkat kerumah Rizky.
"Emang lo tahu rumahnya Beruang?" kata gue yang baru sadar disini gak ada yang tahu rumahnya.
"Tadi gue udah nanya ke Beruang daerahnya, masih tahu gue daerahnya," kata Rere.
"Naik angkot?" kata Ria.
"Jalan aja, orang gak jauh dari rumah gue. Di belakang pasar malabar," kata Rere.
"Oh ya udah," kata gue. Gue dan yang lainnya pun akhirnya jalan menuju ke rumah cowok nyebelin itu. Entah kenapa selama dijalan gue merasa deg-deg an, perasaannya tuh kaya mau ketemu sama keluarga camer. Ya allah perasaan apa ini gue benar-benar bingung.
Setelah sekitar 20 menitan kita jalan santai akhirnya kita sampai di pasar malabar.
"Ry, mau beli buah dulu gak?" kata Rere.
"Emang harus? Kan dia sakit kakinya bukan sakit karena virus," kata gue.
"Setidaknya gak malu-maluin lo dateng ke rumah camer," kata Rere.
"Dih, gak jelas lo," kata gue. Tapi, walaupun gue merasa kesal tetap aja gue beli buah buat cowok super nyebelin itu. Setelah membeli buah kita pun jalan lagi ke belakang pasar. Gak sampai 5 menitan kita lihat cowok super nyebelin itu lagi ada diujung gang.
"Lo suruh Beruang Kutub nunggu di ujung gang Ry?" kata gue yang kaget melihat cowok itu sedang berdiri diujung gang rumahnya.
"Iya, gua kan gak tahu rumahnya yang mana," kata Rere yang cengengesan.
"Ya Allah Re, orang lagi sakit malah disuruh keluar," kata Fifi.
"Udah biarin aja, si Beruang Kutub juga oke-oke aja demi menjemput pujaan hati," kata Rere yang meledek dan melirik kearah gue.
"Mulai deh," kata gue dengan wajah cemberut.
Setelah dekat dengan cowok itu dia pun cengar cengir sambil garuk-garuk kepala.
"Repot-repot pakai dijengukin segala, gue kan cuma kena beling," kata Rizky.
"Nih ada yang hampa dan khawatir disaat lo gak ada," kata Rere yang mulai meledek dan melirik kearah gue.
"Ngapain lo lihat-lihat gue, gue kan cuma diajak lo doang. Lagian lo cuma kena beling doang pakai segala gak masuk, cemen banget sih lo jadi cowok," kata gue yang langsung ngegas.
"Dih kok lo ngegas sih Can?" Rizky pun heran.
__ADS_1
"Nah gini kan seperti suasana biasanya. Gue kalo gak lihat mereka berantem gatel kuping gue. Makannya gue ketemuin nih anak dua," kata Rere sambil tertawa.