
Suasana siang hari ini sangat terik, seperti biasa gue dan Via selalu menerobos panas ini demi berangkat kesekolah. Setelah 15 menitan labih kita nunggu angkot yang bagus, akhirnya ada mobil yang dari jauh terlihat sangat menarik.
"Tuh kayanya bagus Ry angkotnya," kata Via yang matanya langsung fokus ke angkot yang sedang berjalan pelan.
"Tapi kok jalannya lemot banget sih Vi, yakin lo kita gak bakalan telat?" kata gue yang sedikit kurang yakin.
"Yakin gue kalo angkot bagus kaya gini kita gak akan telat, pasti sebentar aja langsung penuh dan langsung wush wush tuh angkot jalannya," Via pun dengan pedenya mempraktekan jalannya mobil menggunakan tangannya.
Kita pun menunggu sampai angkot itu berhenti tepat didepan kita, tanpa basa basi kita pun masuk kedalam angakot. Setelah duduk diposisinya masing-masing, dan sudah dapet posisi enak barulah gue sadar siapa supir angkot yang membawa nih angkot.
Gue langsung melirik kearah Via, Via yang belum sadar langsung menanyakan kenapa gue melirik dia.
"Kenapa Ry?" kata Via.
"Noh lo gak lihat siapa supirnya?" kata gue yang langsung melirik kearah supir.
Via pun langsung menoleh kearah supir, dan ternyata yang bawa itu si Dindin. Supir angkot super nyebelin yang selalu bikin emosi gue naik terus.
"Udah kaya biasa lo diemin aja, gak usah lo bales setiap dia ngomong apa-apa. Buang-buang tenaga lo kalo ngeladenin dia," kata Via yang langsung memegang tangan gue.
Gue pun langsung diam dan lebih memilih menikmati lagu-lagu yang diputar supir ngeselin itu.
"Hei Vi, diem aja lo?" kata supir nyebelin yang mulai cerewetnya gak ampun-ampun.
"Iya terus gue harus ngapain? Harus nyanyi-nyanyi apa didalam angkot," kata Via yang membalas.
"Ya udah lo nyanyi aja berdua sama teman lo itu, daripada diem aja tuh temen lo," kata tuh supir.
__ADS_1
Gue pun gak meduliin sama sekali sama omongan tuh supir, gue masih diam tanpa membalas omongan dia.
"Gak usah mulai deh lo," kata Via yang tadinya melirik gue dan langsung melihat kearah supir lagi.
"Mulai apaan? Gue kan cuma ngomong biasa aja, teman lo aja kali yang emosian mulu," kata tuh supir.
"Iya udah lo gak usah bawa-bawa dia. Dia paling gak suka diajak ngobrol sama orang yang gak dikenal," kata Via.
"Sombong amat teman lo gak mau ngobrol sama orang. Ndre masih ada aja orang yang sombong ya," supir itu pun langsung melirik kearah spion yang bisa melihat ke belakang. Dan temannya yang sedari tadi memang duduk disebelahnya pun ikut menengok kearah gue.
Gue yang merasa diperhatikan oleh dua orang yang nyebelin langsung manatap tajam kearah mereka berdua.
"Pada ngapain lo ngelihatin gue? Emang gue pisang," kata gue dengan nada jutek.
"Monyet dong gue?" kata tuh supir.
"Sadar lo kalo lo mirip monyet?" kata gue dengan nada masih tinggi.
"Galak amat ya nih perempuan," kata teman sebelahnya.
"Eh lo gak usah ikutan ngomong. Gue udah mau muntah ngedenger dia ngomong terus ditambah bacot lo ikutan bersuara, mau lo gue muntahin sekarang juga," kata gue dengan nada semakin tinggi.
"Udah Ry," Via pun langsung memegang tangan gue.
Gue yang hanya melirik ke Via langsung memalingkan wajah kearah belakang angkot.
"Lo bisa gak Ndre punya cewek galak kaya gini? Gue mah bisa malah menantang," kata tuh supir yang semakin membuat kesal.
__ADS_1
Gue pun melihat tajam kearah mata tuh supir yang secara diam-diam melirik kearah gue. Teman sebelahnya pun ikut menoleh, tetapi langsung menghadap kearah depan lagi setelah gue pelototin abis-abisan.
Setelah itu mendadak angkot langsung ramai dan penuh, tuh supir pun sudah tidak ada kesempatan untuk terus banyak ngomong.
Selama dijalan gue pun hanya diam, sampai turun angkot pun gue gak bergeming sama sekali ke tuh supir, karena memang tugas yang membayar itu Via. Eh, maksudnya duit gue dikasih ke Via dan Via yang memberikan ke supirnya, bukannya Viayang selalu bayar menggunakan uang Via.
Setelah turun dari angkot gue pun jalan sambil digelondotin Via. Lalu tiba-tiba terdengar suara dari arah belakang, suara yang selalu membuat gue semangat untuk berangkat kesekolah. Yah, suara siapa lagi kalo bukan suara Rizky si Beruang Kutub kesayangan gue. Hehehe.
"Macan," kata Rizky yang memanggil gue. Gue dan Via pun menoleh kebelakang lalu berhenti.
"Ngapain lo manggil-manggil gue?" kata gue dengan jutek.
"Jangan galak-galak, kangen kan lo padahal ngobrol sama dia. Nanti kalo lo galak, dia males ngobrol bareng sama lo," kata Via sambil berbisik. Gue pun cuma melirik kearah Via.
"Manggil doang, emang kalo udah beda kelas udah gak boleh manggil lo apa?" kata Rizky.
"Tahu lo sombong banget Can," Ryan pun ikut berkomentar dengan senyum-senyum. Unge pun yang sedari tadi memang ada disebelah Ryan ikut tersenyum.
"Apaan sih pada gak jelas," kata gue yang langsung melanjutkan jalan kearah sekolah. Via yang baru sadar kalo gue udah jalan duluan langsung berlari menghampiri gue yang sudah jauh.
"Ry, lo gak bisa gak usah galak-galak gitu ke Rizky? Nanti kabur lo nyesel," kata Via yang langsung menggandeng lengan gue.
"Gak tahu, gak bisa gue Vi. Gue kangen ngobrol sama dia, tapi gue juga refleks gitu langsung jutek kalo disapa sama dia. Gimana ya Vi?" kata gue yang sedikit gemetar.
"Iya lo usahain jangan galak-galak," kata Via.
"Gak bisa," kata gue setengah teriak.
__ADS_1
"Hust... Jangan teriak-teriak. Malu," kata Via.
"Abis lo mah," kata gue yang sedikit kesal dan langsung berjalan cepat. Via yang memang tingginya sedikit dibawah gue agak sedikit ketar ketir mengejar gue yang sudah sampai tangga. Setelah sampai tangga gue melihat dari atas Rizky, Ryan, dan Unge pun baru sampai digerbang sekolah. Tanpa sadar gue merhatiin dengan sangat dalam kearah cowok itu, dan berfikir apa bisa gue nahan perasaan ke lo terus-terusan kaya gini ya?