
"Ryanti, Via," teriak Ratu dari kejauhan.
Kita berdua pun serempak menoleh kebelakang, dan menunggu Ratu yang masih membayar ongkos. Setelah membayar angkot Ratu pun berlari kecil kearah kita berdua.
"Lo kok sekarang akhir-akhir ini sering banget datengnya lebih siangan sih Tu? Perasaan dulu waktu gue sekelas sama lo, lo selalu dateng lebih awal," kata Via yang heran.
"Udah gak semangat berangkat sekolah gue, abisnya si Ryanti gak berhasil nyomblangin gue sama Rizky sih," kata Ratu yang sebenarnya hanya bercanda.
"Dih, apa hubungannya sama gue? Ya kan gue bilang lo usaha sendiri lah, si Ana aja usaha sendiri sekarang bisa nempel terus sama Rizky, masa lo gak mau usaha," kata gue dengan melirik Via.
"Iya ih, gue jijik banget sama Ana nempelnya kelihatan banget gak sih? Jadi kaya jablay lagi menggoda," kata Ratu yang memang pada dasarnya kalo ngomong nyelekit.
"Hush, nanti kalo kedengeran orang diaduin lo sama si Ananya. Emang lo mau dilabrak sama dia?" kata Via yang menakut-nakuti Ratu.
"Halah Ana doang mah gue gak takut di tendang juga mewek dia, bukan lawan gue. Ya gak Ry?" kata Ratu meminta dukungan.
"Yoi, Ana doang mah dipites juga nangis Tu. Gue bantuin lo kalo diapa-apain sama si Ana," kata gue yang menyemangati Ratu.
"Halah, bilang aja lo yang nyari dukungan ke Ratu bukan Ratu yang minta dukungan lo," Via pun melirik kearah gue sambil senyum-senyum.
"Emang kenapa? Lo lagi ada masalah sama Ana Ry?" Ratu yang kebingungan pun langsung menanyakan.
"Gak, Via aja lo dengerin," gue pun melirik kearah Via yang cengengesan.
"Oh gue kira lo lagi ada masalah sama Ana, gue bakalan bantuin lo buat ngegiles si Ana," kata Ratu yang masih semangat.
"Oke, nanti gue kabarin kalo gue sedang butuh pasukan," kata gue sambil mengacungkan jempol, dan Ratu pun membalas acungan jempol gue.
"Eh, panas banget ya nih hari. Makin gosong dah gue," kata Via yang memang dari tadi selalu kipasan menggunakan kertas.
"Tiap hari kita berangkat kan emang selalu panas Vi," kata gue.
"Mana ada jam pelajaran olahraga lagi ya hari ini," kata Via dengan tampang malasnya.
"Iya ih, dari gue sekolah SD sampai sekarang pelajaran yang paling gue beni cuma pelajaran olahraga. Sumpah gue males banget capek, keringetan lagi," kata gue yang juga males.
"Lah lo masih mending jam olahraga lo berdua abis istirahat kan? Lah gue jam masuk kelas langsung olahraga. Lo liat matahari lagi panas-panasnya, tengah hari bolong gue ada jam olahraga. Gimana gue bisa menyamakan kulit gue sama Rizky. Rizky aja yang cowok kulitnya bisa mulus kaya gitu, lah gue yang cewek gosong," kata Ratu yang langsung mengelus-ngelus tangannya.
"Ya udah lo putihin aja dulu badan lo baru gue bantuin deket sama Rizky," kata gue dengan pede-nya.
"Bener ya Ry, kalo gue bisa putih lo bantuin gue," kata Ratu yang langsung semangat.
"Iya, tapi caranya alami jangan pakai jalan pintas," kata gue.
"Okay siap, gue akan berusaha. Bye," kata Ratu yang langsung berpisah dengan kita berdua setelah ada didepan kelasnya.
__ADS_1
"Sok-sok an mau bantuin Ratu deket sama Rizky, lo lihat Rere ngobrol sama Rizky aja badmoodnya bisa berhari-hari. Apalagi kalo bener lo harus deketin Ratu sama Rizky, bisa keluar dari sekolahan kali," kata Via yang menyindir gue.
"Gue ngomong kaya gitu karena yakin Vi kalo si Ratu gak akan bisa mutihin badannya kalo gak pakai cara instan. Kan lo belajar sendiri, kalo emang udah keturunannya kulit hitam gak akan bisa berubah jadi putih kalo gak pakai cara instant dengan cara suntik putih. Makannya itu gue yakin dia gak akan bisa," kata gue sambil cengengesan.
"Gue bakalan ketawa paling kenceng ya kalo si Ratu bakalan bisa menuhin tantangan lo," kata Via sambil melirik kearah gue.
"Dih, lo mah jahat VI. Doanya begitu," kata gue sambil cemberut.
"Bodo amat," kata Via sambil meledek.
Gak lama kita masuk kedalam kelas, bel masuk pun berbunyi. Gue dan yang lainnya pun mengikuti pelajaran dengan serius dan lancar tanpa ada berisik-berisik.
Sampai jam istirahat pun tiba, kita pun berniat jajan ke ke batagornya mang kumis.
"Yuk beli makanan, udah laper gue dari tadi. Terkuras habis tenaga gue buat berfikir tentang pelajaran," kata Rere yang super lebay.
"Halah, lebay banget sih. Yuk Ry," Via pun mengajak gue.
"Lo mau ikut gak Din ke kantin?" kata gue yang selalu mengajak Dinda walaupun gue selalu bareng-bareng dengan sahabat-sahabat gue.
"Gak lah, gue gak laper," kata Dinda.
"Iya ayok Din, ikut aja sama kita gak apa-apa. Lo gak laper tapi emang lo gak haus juga emangnya?" kata Rere.
"Gak lah, gue disini aja," kata Dinda yang masih menolak.
"Gak, Re gue minjem handphone lo dong. Gue mau main game di handphone lo. Soalnya di handphone gue gak ada," kata Dinda yang ingin meminjam handphone Rere.
Rere pun memberikan handphonenya yang bermerk ESIA itu ke Dinda. Zaman gue masih sekolah memang handphone merk ESIA yang sedang digandrungi pelajar-pelajar. Karena selain harganya terjangkau, pulsanya pun lebih hemat, karena hanya 1 perak perkarakter. Tapi, waktu itu gue belum tertarik banget sama handphone merk ESIA, dan masih berpegang teguh dengan NOKIA. Jadi, bisa dibilang handphone gue dulu paling mahal diantara handphone-handphone yang lain. Padahal mah itu handphone udah lama, mana sanggup gue gonta ganti handphone.
Karena Dinda tetap tak mau ikut kita-kita ke kantin akhirnya gue dan sahabat-sahabat gue ke kantin. Dinda pun asik main game menggunakan handphone Rere. Selama istirahat gue selalau bareng-bareng terus dengan sahabat gue. Sampai jam istirahat pun selesai, kita pun masuk. Karena sehabis istirahat kita ada jam pelajaran olahraga kita langsung bersiap-siap berganti pakaian menjadi baju olahraga. Setelah kita semua sudah selesai berganti pakaian, kita semua langsung bersiap-siap untuk keluar menuju lapangan. Mulai dari masuk kelas setelah istirahat, berganti pakaian, sampai keluar kelas menuju lapangan pun gue selalu bersama Via, gue sama sekali gak pernah pisah dari Via.
Jam pelajaran olahraga pun dimulai, seperti biasa setelah melakukan pemanasan Pak Udin selalu mendahulukan wanita untuk praktek olahraga. Setelah wanita selesai mengerjakan tugas praktek, barulah murid laki-laki dan murid wanita pun sudah bebas melakukan apa saja. Setelah dibebastugaskan oleh Pak Udin, tiba-tiba Rere berlari kearah ruang kelas.
"Rere kenapa Fi," kata Yani yang heran melihat Rere berlari sangat kencang.
"Handphonenya dia gak ada katanya, dia lupa naro dimana," kata Fifi.
"Bukannya tadi dipinjem sama Dinda? Udah dibalikib belum?" kata Via.
"Seinget Rere kayanya Dinda belum balikin, tapi tadi Rere tanya ke Dinda katanya udah. Makannya dia panik, soalnya dia gak ngerasa pegang handphone dari tadi," kata Via.
"Gue juga belum ngeliat Dinda balikin handphone Rere sama sekali sih. Tapi gak tahu sih, takutnya gue gak lihat. Soalnya dari tadi kan gue sama Via terus.
"Dari tadi gue juga belum lihat Dinda sama sekali balikin handphone. Padahal kan kita sama Rere terus ya Fi?" kata Ria.
__ADS_1
"Iya dari tadi kita sama dia terus gak ada Dinda balikin handphonenya Rere," kata Fifi.
"Coba tanyain lagi sama Dindanya," kata Andi.
"Itu si Dinda lagi ikut bantuin Rere nyari handphone-nya. Takutnya emang si Rere yang lupa," kata Fifi.
"Ya udah kita tungguin aja, gak usah pada keatas semua. Takutnya Pak Udin curiga malah kita diomelin kesekolah bawa-bawa handphone," kata Yani.
Kita pun menunggu Rere dan Dinda yang lumayan lama berada di dalam kelas. Setelah hampir 15 menit lebih akhirnya mereka berdua turun. Dan wajah Rere masih panik, pertanda handphone-nya belum ketemu.
"Belum ketemu Re?" kata Fifi.
"Gak ada, si Dinda bilangnya udah balikin tapi gue gak inget sama sekali kapan dia balikinnya," kata Rere.
"Yakin beneran udah dibalikin?" kata Ria.
"Gak yakin gue, soalnya gue beneran gak inget kapan dia balikinnya. Masa gue sepikun itu," kata Rere yang yakin.
"Iya dia bilangnya kapan balikinnya?' kata gue.
"Katanya tadi pas kita mau ganti baju," kata Rere.
"Lo kan dari masuk istirahat, ganti baju, sampai keluar kelas selalu sama gue dan Fifi! Gak lihat sama sekali gue dia balikin handphone lo Re. Lo lihat gak Fi?" kata Ria.
"Gak lihat sama sekali gue," kata Fifi.
"Tuh kan," kata Ria.
"Terus kemana dong handphone gue? Bakalan diomelin gue sama kakek nenek gue kalo tahu handphone gue hilang," kata Rere dengan wajah ketakutan.
"Iya lo tanya lagi lah sama Dindanya, kalo lo yakin dia belum balikin kali aja dia yang pikun," kata Via.
Prilly yang sedari tadi mengawasi kita yang agak sedikit risau pun langsung bertanya.
"Ada apaan sih? Dari tadi lo pada kaya gimana gitu," kata Prilly tanpa basa basi.
Rere pun menceritakan kejadiannya dari awal sampai saat Rere mencari handphonenya. Prilly pun menyarankan untuk kita menceritakan ke Pak Udin kejadian tersebut, karena Prilly tahu kalo Pak Udin punya kelebihan. Siapa tahu Pak Udin bisa membantu menemukan handphone Rere. Setelah Rere berfikir agak sedikit lama akhirnya dia memutuskan untuk menceritakan kejadian tersebut ke Pak Udin. Tetapi entah kenapa Prilly menyarankan agar hal ini tidak diceritakan ke Dinda. Dan gue ditugaskan untuk mengajak Dinda mengobrol saat Rere mulai bercerita ke Pak Udin.
Setelah kita semua sudah setuju dengan rencananya, gue pun langsung mendekati Dinda yang memang selalu duduk menyendiri dan menjauh dengan anak-anak yang lain. Gue mulai mengajak ngobrol tentang pelajaran, karena memang selama gue kenal dengan Dinda topik yang nyambung dengan dia hanyalah pelajaran, Dinda gak terlalu tertarik membahas apapun apalagi untuk bergosip.
Selama mengajak Dinda ngobrol gue pun sambil melirik-melirik kearah Rere yang sedang bercerita ke Pak Udin. Setelah melihat Rere selesai berbicara dengan Pak Udin gue pun melirik kearah Via untuk membantu gue supaya Via menjemput gue pergi dari Dinda. Setelah mengetahui kejadian sebenarnya Pak Udin akhirnya mengumpulkan kita semua, dan Pak Udin pun menceritakan masalah Rere. Dan sesuai kesepakatan akhirnya Pak Udin memanggil kita satu persatu untuk ditanya. Alasan Pak Udin memanggil satu persatu agar Pak Udin bisa tahu siapa sebenarnya yang berkata jujur atau berbohong. Setelah semuanya dipanggil Pak Udin pun akhirnya mengumpulkan kita semua kembali dilapangan.
"Sekarang saya sebenarnya sudah tahu siapa yang mengambil handphone-nya Rere. Tetapi disini saya tidak mau menunjukkan siapa yang melakukan itu, biarkan saja itu antara Rere dan si pengambil yang berurusan. Dan biarkan si Rere yang memutuskan mau diapakan orang yang mengambil handphone-nya. Untuk Rere kamu gak usah khawatir, handphone kamu saya jamin akan balik lagi ke kamu. Nanti orang yang ngambil sendiri yang akan mengembalikannya ke kamu. Kalo sampai besok dia belum mau mengaku atau mengembalikannya ke kamu, tolong kamu laporkan kembali ke saya. Akan saya yang memutuskan harus bagaimana," kata Pak Udin.
"Iya pak," Rere pun mengiyakan walaupun dari raut wajahnya terlihat masih ada kekhawatiran tentang handphone-nya.
__ADS_1
Kita semua yang berada disana pun saling berbisik-bisik karena kita penasaran siapa sih yang berani-beraninya nyolong handphone temannya sendiri?