
"Ryanti....," terdengar suara teriakan Ratu dari belakang.
Gue sontak menengok dan menunggu Ratu yang setengah berlari menghampiri.
"Gak usah lari-lari juga bakalan gue tungguin, emang gak takut keringetan lo panas-panas kaya gini lari-lari," kata gue.
"Hehe, tumben lo Ry gak jalan bareng sama Rizky dan antek-anteknya. Biasanya kan akhir-akhir ini gue merhatiin lo kalo lo berangkat pasti masuk kesekolahnya bareng mereka," kata Ratu.
"Gue kira gue doang yang ngerasa kok belakangan ini setiap gue dateng selalu berpapasan sama 3 kunyuk itu. Gue aja sampai heran sendiri, tapi hari ini kok tumben ya tuh kunyuk pada gak kelihatan," kata gue sambil celingak celinguk.
"Iya, gue sampai mikir jangan-jangan lo lagi deket sama diantara salah satu dari mereka, kok tumben-tumbenan bareng terus tiap hari," kata Ratu.
"Iya gak lah, mereka bertiga mah cuma gue anggap teman semua. Mana mungkin gue lagi deket sama diantara mereka. Oh iya jangan-jangan mereka sengaja nungguin gue dateng soalnya ngerayu mau minta contekan. Nah, hari ini kan gak ada tuh pelajaran antara IPA sama IPS yang sama, makannya mereka gak nungguin gue lagi. Sialan tuh para kunyuk," gue pun ngomel sendiri.
"Emang mereka kalo nyontek ke lo Ry? Kan Ryan sama Rizky beda kelas sama lo?" kata Ratu yang heran.
"Si Rizky SMS gue tiap kali mau minta contekan," kata gue.
"Enak banget bisa SMS-an sama Rizky walaupun cuma sekedar minta contekan doang, yang penting kita punya memory di handphone kita kalo pernah SMS-an sama cowok kesayangan," kata Ratu.
"Cowok kesayangan? Masih aja nganggep Rizky cowok kesayangan? Katanya lo udah sama Kingkin?" kata gue.
"Iya gue emang udah sama kingkin tapi yang namanya ngelupain kan butuh waktu yang lama. Gue aja kalo masih ketemu atau papasan sama Rizky aja masih ngerasa deg-deg serrr. Hahaha," kata Ratu yang tertawa kencang.
"Dih, kirain udah bisa lupain," kata gue.
"Coba deh Ry, lo ngerasain apa yang gue rasain. Lagi ada di proses ngelupain cowok yang lo udah suka lama, pasti susah banget," kata Ratu.
Gue yang hanya diam aja tanpa berkomentar apa-apa hanya bisa melirik dan dalam hati gue pengen banget bilang (Tu, tanpa lo nyuruh gue buat jadi lo. Gue ini juga lagi dalam proses ngelupain. Walaupun emang gue belum bisa tegas kaya lo yang bener-bener mutusin buat ngelupain tapi gue udah bisa ngerasain nanti susahnya bakalan kaya gimana).
Setelah sampai didepan kelas Ratu yang tepat banget dibawah tangga gue dan Ratu pun berpisah.
"Tu, lo comblangin gue sama Ryanti kek. Gue cinta banget ini sama dia," terdengar suara yang mulai gak asing di telinga gue. Dan benar saja setelah gue nengok suara Deni yang setiap hari selalu bikin gue males lewat sini, tapi kalo gak lewat sini gue mau lewat mana lagi? Ini kan tangga satu-satunya buat gue bisa ke kelas.
"Dih, males banget nyomblagin lo. Berusaha sendiri kali, dari kemarin aja ngebacot bakalan bisa bikin teman gue klepek-klepek sama lo," kata Ratu yang membalas omongannya Deni.
Gue yang mulai males ngedengerin suara Deni yang cempreng pun langsung naik keatas.
__ADS_1
"Baru sampai lo Beb?" Via pun langsung bertanya saat gue sampai didepan ruangan.
"Lah, tumben lo udah ada disini? Gue yang kesiangan apa lo yang kepagian datengnya?" kata gue yang heran melihat Via sudah gabung sama yang lain.
"Gue yang kepagian deh Beb kayanya, soalnya gue udah sampai sini dari jam 12 lewat," kata Via yang cengengesan.
"Tumbenan amat, lagi berantem lo ya sama Dindin?" kata gue yang langsung bisa menebak.
"Hehehe, kok lo bisa tahu sih Beb?" kata Via cengengesan.
"Udah ketebak," kata gue yang langsung berniat untuk masuk keruangan, namun tiba-tiba terdengar Prilly sedang meledek seseorang dengan suara sedikit keras.
"Cie.... Yana yang udah jadian sama Yani. Makan-makan kita hari ini," Prilly pun meledek Yana yang baru saja datang bersama dengan Yani.
Gue dan Via yang baru saja mendengar langsung saling bertatapan dan kita pun langsung mengikuti Yani yang menuju keruangannya.
Didalam ruangan Rere sedang berkumpul dengan Fifi, Ria, dan Andi. Mereka heran melihat gue dan Via sedang membuntuti Yani, sedangkan orang yang dibuntuti hanya senyum-senyum melihat kita berdua.
"Lo tumben-tumbenan Ry main keruangan sini, biasanya kan kalo lagi semesteran gini walaupun kita deket lo gak pernah mau main keruangan kita," kata Ria.
"Iya tumbenan lo Ry? Biasanya juga ngejogrok aja lo diruangan," kata Rere.
"Penjelasan apaan dah? IKutan lah gue, kalo si Ryanti mau main kesini berarti ada hal penting nih," kata Rere yang langsung menghampiri kita yang sudah duduk siap mendengarkan penjelasan dari Yani.
"Yan, beneran yang Prilly bilang tadi?" kata Via.
"Kok lo gak cerita sama kita berdua?" kata gue.
"Sejak kapan mulai dekatnya?" kata Via.
"Lo berdua nanya masalah apaan sih? Pada paham gak lo semua?" kata Rere yang lansung menanyakan ke Andi, Fifi, dan Ria.
"Gak," mereka bertiga pun serempak menjawab.
"Tahu nih, satu-satu apa nanyanya," Yani pun senyum-senyum.
"Emang kenapa sih sama Yani?" kata Fifi.
__ADS_1
"Suneh, lo pasti bakalan marah kalo tahu teman sejati lo yang berjanji gak akan pacaran ini ternyata udah jadian sama si Yana. Dan dia gak cerita apa-apa sama kita, jangan kan sama lo pada, gue yang tiap hari pulang sama dia aja gue gak tahu apa-apa," kata gue yang memanas-manasi Fifi.
"Dan kita berdua juga tahu dari Prilly noh, itupun gara-gara Prilly teriak-teriak ngeledekin Yana," kata Via.
"Seriusan Yan? Lo pacaran sama Yana?" kata Fifi memastikan.
"SERIUS?" Rere pun setengah berteriak.
"Iya maaf gak cerita, gue malu ceritanya. Lagian baru semalem kok," kata Yani yang malu untuk bercerita.
"Wah, udah bukan teman gue loh Yan. Katanya gak mau pacaran dulu ternyata lo malah mengingkari," kata Fifi dengan wajah sok kecewa.
"Hehehe, maaf," kata Yani yang senyum-senyum.
"Berarti yang udah gak jomblo gue, Via, sama Yani nih. Kalian kapan nyusul?" kata Rere meledek.
"Sorry gue mah kekeh sama pendirian gue gak akan pacaran dulu," kata Fifi dengan sok tegas.
"Tahu deh yang udah punya cowok mah belagu ya Ry," kata Ria yang meminta dukungan.
"Ryanti mah diem-diem lagi nungguin si Beruang beraksi, tapi kok sampai sekarang gak beraksi sama sekali ya? Baru sadar gue? Katanya suka sama Ryanti? Ah, cemen berarti si Beruang. Masa si Ryanti aja gak bisa ditaklukin," Rere pun ngedumel sendiri.
"Iya tuh emang cemen si Beruang," Fifi pun ikut berkomentar.
"Padahal udah gue panas-panasin kalo Ryanti tuh banyak yang suka, kalo gak buru-buru keburu diembat orang. Dia malah gak action-action. Udah lah males gue ngomong sama Beruang lagi," Rere pun masih ngedumel .
"Eh, Vi. Cowok lo emangnya anak mana sih? Kok lo jarang ceriita tentang cowok lo?" Ria pun melemparkan pertanyaan yang membuat gue langsung melirik kearah Via. Gue yang sadar Via sedang tertekan langsung mencari alasan.
"Gak usah lo tahu tentang cowoknya Via Ri. Pokoknya cowoknya jelek deh. Udah yuk Re balik keruangan, gue udah gak penasaran lagi tentang Yani," kata gue yang langsung menarik tangan Rere yang memang niatnya membubarkan yang lain.
Kita pun akhirnya bubar dan kembali ke meja masing-masing, gue dan Rere pun balik keruangan yang beda dengan yang lain.
"Re, emang bener si Rizky bilang kalo dia suka sama gue?" gue pun memberanikan diri untuk bertanya tentang apa yang dikatakan Rere tadi.
"Dih, diem-diem kepo ya? Kasih tahu gak ya? Rahasia," Rere pun meledek gue dan langsung setengah berlari ke ruangan.
"Ih... Lo mah jahat, gue kan penasaran Re," kata gue yang mengejar Rere.
__ADS_1
"Gak akan gue kasih tahu," kata Rere.
Gue pun memasang wajah cemberut berharap setelah Rere melihat akan kasihan, tapi ternyata tidak. Dan dia pun sama sekali gak pernah cerita Rizky udah ngomong apa aja ke dia. Menyebalkan....