CINTA ITU APA

CINTA ITU APA
Jalanin Aja Dulu Yang Ada Didepan Mata


__ADS_3

"Assalamualaikum," terdengar suara Via dari luar.


"Walaikumsalam," gue pun langsung keluar setelah mendengar suara Via.


"Belum rapi lo Ry," kata Via yang kaget gue belum pakai seragam


"Lo yang tumben-tumbenan jam segini udah di rumah gue, biasanya kan lo ketempat gue paling cepat jam 11:50 ini masih jam 11:30 Vi. Udah lo masuk aja dulu, tungguin gue rapi-rapi di dalem," kata gue yang langsung masuk dan diikuti Via.


"Ya udah sono lo lanjut lagi, nyantai aja ninggalin gue mah," kata Via yang langsung duduk di ruang tamu dan langsung ngerogoh saku bajunya buat ambil handphone. Gue pun langsung masuk lagi kedalam kamar dan ngelanjutin rapi-rapi. Setelah selesai semua gue pun keluar kamar.


"Ayo berangkat," kata gue. Via pun langsung berdiri dan langsung keluar rumah duluan, gue ngecek apa-apa aja yang ketinggalan. Abis itu gue seperti biasa gak boleh lupa kunci pintu rumah. Gue dan Via pun seperti biasa jalan ke depan jalan raya buat nunggu angkot.


"Mudah-mudahan gak ketemu supir angkot yang bawel itu," kata gue yang melirik-lirik angkot yang lewat.


"Tenang aja Ry, kalo ada dia pun kita gak bakalan naik angkotnya. Kan kita mau naik angkotnya Konde," kata Via yang senyum-senyum.


"Maksud lo ini kita berangkat naik angkot cowok lo?" kata gue kaget, karena selama ini gue belum pernah sama sekali ngeliat cowoknya Via benar-benar bawa angkot.


"Iya, gak apa-apa kan Ry? Tadi tiba-tiba pas lo lagi rapi-rapi cowok gue SMS ngajak bareng angkotnya. Terus gue bilang udah di rumah lo. Kata dia ya udah ajak aja lo sekalian berangkat bareng," kata Via.


"Iya gak apa-apa juga sih. Kan itu cowok lo, gue mah kan penumpang biasa," kata gue sambil cengar cengir.


"Eh tuh dia angkotnya. Yuk Ry kita naik," kata Via yang sudah hafal betul bentuk angkot yang sering dibawa cowoknya. Via pun siap-siap buat naik, setelah angkotnya berhenti Via pun membuka pintu depan angkot dan langsung duduk disebelah cowoknya. Gue pun langsung naik di belakang seperti biasa.


"Lah, Ry gue mah nungguin lo naik makannya gue gak tutup pintunya. Lo malah kebelakang," kata Via yang kaget melihat gue malah duduk dibelakang.


"Hah, gak ah. Gue duduk di belakang aja, lebih enakan duduk dibelakang," kata gue yang senyum-senyum.


"Didepan aja Ry,lebih santai," kata Konde


"Gak lah, gue duduk disini aja lebih enak," Gue pun menolak dengan sopan. Padahal gue emang gak mau duduk di depan, kesannya gue kaya obat nyamuk yang ngeliatin orang pacaran. Nasib... nasib yang gak punya cowok mah, kemana-mana sendirian. Diperjalanan gue pun menikmati lagu yang disetel, karena kali ini yang nyetel lagu bukan dari supirnya tapi dari nyonya yang disebelahnya. Siapa lagi kalo bukan Via, dan selera musiknya Via gak beda tipis lah sama selera musik gue, yang suka sama lagu-lagu melow yang bisa bikin yang mendengarnya mewek. Saking enaknya sama lagu-lagunya gue sampai gak sadar kalo udah sampai sekolah.

__ADS_1


"Ry, lo ceritanya mau ikut gue narik angkot? Udah sampai sekolahan nih, gak turun lo," kata Konde yang melihat gue masih enak duduk dibelakang.


"Hah, emang udah sampai?" kata gue yang langsung ngeliat kearah luar. Ternyata benar udah sampai depan gang sekolahan gue.


"Dih... dia ke enakan di angkot," kata Via.


"Lagi enak-enak nih lagunya," kata gue yang langsung turun. Gue pun langsung ingin membayar ongkos seperti biasa, tapi pas gue mau bayar ditahan sama Via. Dengan tampang bingung gue melirik kearah Via dan memberi isyarat kalo gue gak mau kalo gak bayar ongkos.


"Udah bawa aja ongkosnya Ry. Tenang aja gue gak ada maksud apa-apa kok, kan lo berangkat bareng Via jadi lo gak usah bayar. Beda lagi kalo lo berangkatnya sendiri, baru lo harus bayar," kata Konde yang kayanya tau gue paling anti gak bayar ongkos, gue pun melirik kearah Via. Via pun hanya mengangguk dan langsung menarik tangan gue. Gue pun langsung tersadar pas angkotnya Konde udah mau pergi, lupa kalo mau bilang terima kasih.


"Nde, makasih ya," kata gue yang langsung teriak supaya dia dengar.


"Oke siap," kata Konde yang juga berteriak dari dalam angkot.


"Jangan sering-sering kaya gini ya Vi, kasiyan cowok lo kan narik angkot buat nyari duit. Kalo gue juga ikutan gak bayar rugi ongkos buat satu orang kan?" kata gue yang sedikit marah.


"Iya Ry, lagian kan gue gak tau. Mendadak di SMS gue ngajakin bareng," kata Via. Gue dan Via pun langsung jalan kearah gerbang sekolah, kebiasaan gue sekarang kalo ngelewatin warung dekat sekolah yang biasa buat tongkrongan anak-anak cowok pasti gue selalu nunduk dan jalan agak cepat, sampai Via pun sedikit berlari kecil buat nyetarain jalan gue. Kalo udah ngelewatin tuh warung kayanya hati udah lega banget. Sampai di depan gerbang sekolah ada 2 orang cowok yang sedang berdiri, awalnya mereka berdua seperti sedang ngobrol. Tapi, pas gue dan Via lewat tiba-tiba obrolan mereka terhenti. Dan salah satu cowok langsung menghampiri kita berdua.


"Iya bang," kata gue yang tiba-tiba langsung sadar, ternyata gue tau itu siapa. Via yang bingung langsung memegang lengan gue.


"Gak usah panggil bang. Panggil aja Musa," kata cowok itu. Ya, benar cowok yang gue maksud itu Musa. Cowok yang diceritain Mbak Isper kemarin.


"Oh iya, kenapa ya?" kata gue yang langsung senyum.


"Maaf aku boleh kenalan sama Ryanti gak? Isper pasti udah cerita kan?" kata Musa yang langsung to the point.


"Iya kemarin Mbak Isper udah cerita. Emangnya Mbak Isper belum kasih nomer aku ke kamu? Soalnya aku udah bilang ke Mbak Isper kalo mau kasih nomer ke kamu gak apa-apa kasih aja," kata gue.


"Udah kok, Isper udah kasih nomer kamu ke aku. Cuma mau minta izin langsung aja ke kamu buat kenalannya, biar lebih sopan aja," kata Musa yang terlihat cowok seperti cowok sopan.


"Oh gitu ya udah iya gak apa-apa," kata gue yang langsung senyum.

__ADS_1


"Makasih ya, oh iya nanti pulang sama siapa? Mau aku tungguin naik angkot gak? Maaf aku belum punya motor buat nganter pulang," kata Musa yang sedikit merendah.


"Eh gak apa-apa lagian aku gak minta dianterin naik motor kok," kata gue yang langsung gak enak karena menurut gue dia terlalu sopan.


"Takutnya aja gitu," kata Musa yang langsung senyum-senyum dan mengusap-ngusap belakang kepalanya.


"Gak tenang aja. Tapi maaf aku kalo pulang selalu bareng sama teman aku, nih sama Via terus sama dua orang lagi. Bukannya aku gak mau ditemani buat nunggu angkot tapi gak enak aja," kata gue yang menolak dengan cara lembut


"Oh gitu, ya udah gak apa-apa. Tapi nanti malem aku nelvon atau SMS kamu boleh ya?" kata Musa.


"Oh boleh," kata gue yang langsung senyum.


"Makasih. Oh ya udah kita masuk deh, kelamaan berdiri di gerbang gak enak sama yang lain," kata Musa.


"Baru sadar lo dari tadi. Gue nih jadi kaya sapi ompong diem aja disini," kata temannya Musa yang memang dari tadi diem aja di pojokan.


"Bawel ah... Gak usah didengerin omongan dia, emang agak bawel orangnya," kata Musa yang langsung melirik ke arah gue.


"Iya gak apa-apa. Ya udah kita masuk yuk," kata gue yang langsung jalan masuk ke sekolah diikuti Via yang dari tadi diam saja. Musa dan temannya pun berjalan sejajar dengan gue, sambil jalan gue masih ngobrol dengan Musa. Sampai di bawah tangga gue dan Musa pun pisah.


"Ke atas dulu ya bang," kata gue.


"Jangan manggil Abang lah, kesannya gimana gitu," kata Musa.


"Sorry belum biasa," kata gue yang cengar cengir.


"Ya udah terserah kamu aja mau panggil apa," kata Musa yang akhirnya pasrah, gue cuma bales dengan senyuman. Gue dan Via langsung naik ke atas. Sampai di tengah tangga Via langsung membisikkan ke gue.


"Ini baru cowok Ry, berani izin langsung. Gak beraninya lewat SMS atau sok kirim salam lewat orang lain. Emang mukanya biasa aja, tapi sopan-nya luar biasa," kata Via.


"Iya Vi, lagian kan kata lo jalanin aja yang ada didepan mata dulu. Kalo emang cocok lanjut, kalo gue gak sreg ya temanan aja," kata gue yang langsung melempar senyum ke Via dan langsung jalan ke arah kelas gue. Via pun yang kayanya belum selesai ngomong cuma bengong ngeliat gue ngeluyur gitu aja.

__ADS_1


__ADS_2