CINTA ITU APA

CINTA ITU APA
Ternyata Teman Yang Sudah Kita Baikin Pun Tetap Bisa Nyakitin Kita


__ADS_3

"Assalamualaikum," terdengar suara Via dari luar.


"Walaikumsalam," gue pun langsung keluar menemui Via.


"Ry, lagi apa lo? Anterin gue kepasar yuk," kata Via yang langsung mengajak gue.


"Mau beli apa lagi?" kata gue yang heran.


"Mau beli sepatu," kata Via.


"Sepatu sekolah?" kata gue.


"Iyalah sepatu buat apa lagi gue," kata Via.


"Ya udah tunggu sebentar gue ganti celana dulu," gue pun langsung masuk kedalam dan mengganti pakaian gue yang lebih sopan. Setelah selesai, gue gak pernah lupa mengunci pintu.


"Udah? Yuk," Via pun langsung menggandeng lengan gue, kita pun jalan kearah pasar yang berada di jalan utama.


"Ry, kira-kira siapa ya yang berani ngambil handphone-nya Rere? Gue jadi penasaran nih, jadi pengen buru-buru sekolah terus tanya Rere apa handphone-nya udah dibalikin apa belum? Dan yang utama mau tanya siapa yang ambil," Via pun dengan semangatnya.


"Iya nih, gue juga penasaran. Kok tega banget ngambil handphone temannya sendiri," gue pun sebenarnya juga penasaran.


"Emang lo udah tahu Ry siapa yang ambil? Kok lo tahu kalo teman sendiri yang ngambil?" kata Via.


"Iya kalo gue sih curiganya yang ngambil masih teman sekelas kita. Kayanya kalo bukan sekelas kita kaya gak mungkin aja gitu loh," gue pun mengutarakan kecurigaan gue.


"Iya juga sih, tapi lo jangan bilang-bilang siapa-siapa ya! Kok gue lebih curiga ke Dinda ya?" kata Via.


"Hust, gak boleh asal nuduh gitu," gue pun mengingatkan.


"Iya gimana ya Ry, kaya semuanya menjurus ke Dinda aja. Soalnya yang terakhir pegang handphone-nya Rere kan Dinda. Dan kemarin kita tanyain ke Rere sampai berkali-kali si Rere tetep kekeh ngerasa belum nerima handphone-nya lagi dari Dinda kan," kata Via.


"Iya juga sih, tapi jangan nuduh dulu lah belum tentu benar. Lagian kemarin kan Pak Udin bilang kalo sipelakunya udah mengembalikan handphone-nya terserah Rere mau diapain tuh orangnya. Apa Rere tetap mau merahasiakan siapa orangnya atau dia mau dengan gamblang cerita siapa pelakunya. Jadi, kalo Rere memutuskan buat gak mau cerita kita jangan maksain dia," gue pun mengingatkan Via kerana gue udah tahu banget karakter teman gue yang satu ini, kalo udah pengen tahu pasti harus tahu.


"Iya," Via pun menjawab singkat dengan wajah yang cemberut.


"Tuh lo mau beli sepatu yang dimana, banyak tukang sepatu," kata gue yang langsung menyerahkan arahan ke Via.


"Iya seperti biasa, kita masukin satu-satu. Hehehehe," Via pun cengar cengir.


Setelah memasuki beberapa toko sepatu akhirnya Via memutuskan untuk membeli sepatu berwarna pink dan berhak tinggi.


"Vi, lo serius mau beli tuh sepatu? Katanya lo mau beli sepatu buat sekolah? Ini mah sepatu buat dateng ke kondangan. Emang kita dibolehin pakai sepatu yang tinggi-tinggi begitu? Mana warnanya mentereng banget lagi," kata gue yang heran dengan pilihan Via.


"Ry, gue lagi mau menyetarakan tinggi gue biar setara sama si Jamal. Lo tahu kan Jamal tinggi banget, waktu itu gue pernah nyapa dia terus ngajakin ngobrol sebentar terus ternyata tinggi gue kebanting banget sama dia, jauh banget deh pokoknya. Makannya gue mau beli sepatu yang tinggi, biar kalo gue nanti ngobrol lagi sama dia jadi setara gitu walaupun ya tetap aja gue masih dibawah dia jauh," kata via menceritakan alasannya.


"Hahaha, apaan sih Vi? Alasan lo lucu banget, jadi lo mau beli sepatu yang super tinggi itu biar kelihatan sejajar sama si Jamal?" gue pun tertawa mendengar alasan Via.


"Iya, kok lo ketawa sih? Lo mah enak tinggi sama siapa aja juga pantes, lah gue bantet kaya gini. Si Rizky yang tingginya sama kaya Jamal aja kalo disejajarin lo masih sebahunya Rizky. Lah, gue sama si Jamal kemarin berdiri bareng gue cuma seperutnya Jamal Ry. Gimana gue gak minder," kata Via yang langsung cemberut.


"Iya tapi jadi diri lo aja sih Vi, gak usah minder. Kalo si Jamal ngerespon lo dia bakalan nerima lo kok," kata gue yang menyemangati Via.


"Iya namanya usaha Ry," kata Via yang masih kekeh.


"Iya udah yang penting gue udah ingetin. Kalo nanti lo ditegor sama guru gara-gara nih sepatu kondangan lo jangan minta tolong gue ya," kata gue.


"Iya tenang aja," Via pun menyetujui.


Akhirnya Via pun tetap membeli sepatu yang menurut gue gak pantes buat dipakai saat sekolah. Sekalipun Via mau beli yang hak-nya tinggi tapi jangan warna yang mencolok juga kan? Benar-benar kaya mau kondangan.


Setelah mendapatkan sepatu idamannnya itu kita berdua pun berpisah.


"Nanti siap-siapnya buruan ya, kita berangkatnya lebih awal. Gue gak mau kelewatan dengar ceritanya Rere," kata Via.


"Ngapain sih buru-buru? Lagian juga kalo si Rere mau cerita, kalo dia lebih memilih merahasiakan gimana?" kata gue yang heran dengan kelakuan teman gue yang satu ini.


"Iya namanya juga usaha dulu," kata Via yang masih semangat.


"Terserah lo aja deh Vi," gue pun langsung berpisah dengan Via.


Jam pun berputar sangat cepat, tahu-tahu sudah jam 12 siang aja. Gue pun buru-buru bersiap-siap sebelum ratu kepo dateng buat ngeburu-buruin gue. Gak ada 15 menit gue pun sudah siap dengan seragam dan sudah memakai sepatu.


"Assalamualaikum," suara Via pun terdengar lebih keras dari biasanya.


"Walaikumsalam," gue pun langsung mengunci pintu dan keluar. Setelah bertemu dengan Via gue pun refleks memantau penampilan Via dari atas sampai bawah.


"Ngapain lo ngeliatin gue sampai segitunya?" kata Via yang langsung sensi saat gue memperhatikan penampilannya.

__ADS_1


"Mau lihat hasil dari sepatu kondangan lo jadi tingginya seberapa," gue pun meledek Via.


"Lo mah ngatain sepatu gue terus. Bilang aja lo kesel kan tinggi lo bisa gue tandingin," kata Via yang bangga karena memang setelah memakai sepatu itu dia terlihat sejajar dengan tinggi gue.


"Iya iya iya, ngeri lo tinggi gue mau dibalap sama lo," gue pun masih meledek.


"Terserah lo deh," kata Via yang kesal.


"Terus itu lo tumben-tumbenan bawa tas gede banget, bawa apaan lo?" gue yang masih saja memperhatikan Via.


Via pun membuka tasnya dan menunjukan apa yang dia bawa.


"Taraaaaa, gue bawa sepatu cadangan kalo ada guru gue ganti sepatu yang ini, kalo gak ada gue pakai sepatu yang tinggi," kata Via dengan bangganya.


"Mempersulit diri sendiri," gue pun mulai kesal dengan kelakuan Via yang semakin aneh.


"Biarin aja, namanya juga usaha," kata Via yang masih kekeh dengan kelakuannya.


Gue dan Via pun berangkat sekolah, sepanjang jalan kita berdua lebih memilih menikmati lagu-lagu yang disetel supir angkot.


Sampai disekolah Via pun berjalan terburu-buru sampai gue males ngejarnya.


"Lo jalan duluan lah, gue males siang-siang lari-lari gak jelas," kata gue yang sudah ngos-ngosan padahal kita saja belum melewati warung.


"Yakin lo nyuruh gue duluan? Berani lewat warung?" kata Via.


"Iya, daripada tenaga gue abis sebelum mulai pelajaran. Lo duluan dah sono," kata gue.


"Iya udah gue duluan ya, gue bener-bener gak sabar dengerin ceritanya Rere," kata Via.


"Iya udah sana. Hati-hati sepatu kondangan lo itu tinggi banget, nanti malah ngejungkel ditengah lapangan bukannya menarik perhatian si Jamal tapi lo juga menarik perhatian satu sekolahan," kata gue yang masih meledek Via.


"Terus aja lo ngeledekin sepatu gue," kata Via yang cemberut. Via pun langsung berlari duluan kearah gerbang, sedangkan gue masih berjalan santai.


Setelah melewati warung yang menurut gue angker, akhirnya gue bisa berjalan dengan santai. Tapi tiba-tiba saja dibelakang gue ada 3 sosok yang dulu sering banget bikin gue jengkel.


"Can, sendirian aja lo," terdengar suara cowok yang belakangan ini bikin hati gue dag dig dug.


Gue pun menoleh kebalakang dengan santai.


"Tumben jawabnya kalem," kata Rizky yang merasa heran.


"Lo maunya gimana sih? Gue ngegas salah gue kalem juga salah," gue pun masih menjawab dengan santai.


"Agak aneh aja gitu," Rizky pun cengengesan.


"Pasti kepo tentang masalah kemarin ya Ry?" Anwar pun bertanya.


"Iya tuh, padahal kan belum tentu si Rerenya mau cerita siapa pelakunya," kata gue.


"Pelaku apaan sih? Emang kemarin ada apaan War?" Ryan pun ikut penasaran.


"Jangan diceritain War, biar pada kepo semuanya," kata gue.


"Ya udah, gue bisa tanya ke Unge," kata Ryan.


"Iya deh tahu yang punya cewek," gue pun meledek.


"Iya dong, makanya punya pacar dong. Nih sama beruang aja lagi nganggur," Ryan pun ikut meledek gue.


Gue yang mulai ngerasa omongan udah gak enak langsung menghindar dan pergi dari mereka bertiga.


"Dih, ngambek," kata Ryan terdengar dari belakang gue.


Gue pun tetap berjalan tanpa menoleh-noleh ke belakang lagi.


Setelah sampai dikelas gue pun langsung memperhatikan anak-anak apa yang lainnya juga masih penasaran tentang masalah kemarin. Gue pun langsung melihat tempat duduk Dinda, belum ada tanda-tanda kalo dia sudah datang, gak seperti biasanya. Dinda yang gue kenal gak bakalan datang mepet jam masuk. Pasti dia bakalan datang kesekolah paling lama setengah jam sebelum jam pelajaran masuk. Tapi, kok ini tumben-tumbenan belum ada. Apa dia gak masuk ya? Apa dia sakit ya?


Gue pun langsung mengarahkan pandangan ketempat duduknya Rere, dan dia pun belum juga datang. Baru ada Fifi, Ria, dan Andi.


"Vi, Rere belum dateng?" kata gue yang langsung bertanya saat sudah sampai ditempat duduk.


"Belum Ry, gue mah udah buru-buru mau dengar ceritanya dia malah dianya belum dateng," Via pun cemberut.


"Kan gue bilang biasa aja, gak usah buru-buru. Untung gue gak ngikutin lo lari-lari tadi," kata gue senyum-senyum.


"Si Dinda kemana Ry? Tumben-tumbenan belum dateng? Gak masuk dia?" Yani pun menanyakan keberadaan Dinda.

__ADS_1


"Gak tahu gue juga Yan, gak masuk kali ya? Gue kan juga gak pernah SMS-an sama dia." kata gue.


"Iya gak masuk kali, soalnya kan dia biasanya kalo masuk pasti udah dateng dari tadi," kata Via.


Dan gak berapa lama bel masuk pun berbunyi, setelah itu Rere baru muncul sambil terburu-buru masuk kedalam kelas.


Gue, Via, Yani pun langsung menoleh kearah Rere yang baru datang. Kalo dilihat dari wajahnya sepertinya handphone-nya sudah balik dan sepertinya ada sesuatu yang ingin dia ceritakan. Tapi, karena kehalang jam pelajaran sudah dimulai, akhirnya kita pun menahan untuk kepo.


Sampai jam istirahat tiba, Via dan Yani pun langsung berlari ketempat duduknya Rere. Gue yang heran melihat Yani yang biasanya tidak pernah kepo ini ikut-ikutan kepo.


"Tenang-tenang gue tahu kalian penasaran kan siapa yang nyolong handphone gue? Gue juga udah gak sabar cerita tapi ini perut gue juga udah gak sabar pengen makan dulu. Sumpah laper banget, gue dari semalem gak makan karena shock," kata Rere.


"Iyah lo mah, gue saking gak sabarnya sampai dateng lari-larian tahu. Sampai kelas lo belum dateng, sekarang lo malah mau makan dulu," kata Via yang kesal.


"Lagian kan dari tadi gue udah bilang biasa aja. Kalo emang Rere mau cerita juga dia bakalan cerita," gue pun melirik kearah Via.


"Iya udah beli makan aja dulu. Nanti ceritanya sambil makan," kata Yani.


Akhirnya semuanya pun setuju untuk membeli makanan terlebih dahulu. Setelah membeli makanan, kita pun duduk didepan kelas dan pada mulai mengambil posisinya masing-masing.


Anak-anak yang lain yang juga kepo sama siapa pelakunya pun ikut ngumpul dan duduk.


"Jadi siapa Re yang nyolong handphone lo kemarin?" kata Prilly tanpa basa basi.


"Yang nyolong handphone gue yang kalian lihat hari ini gak ada dikelas," kata Rere.


"Maksudnya? Yang hari ini gak masuk?" kata Novi.


"Dinda? Sudah gue duga dari awal," kata Prilly yang langsung menebak.


"DINDA?" kita pun serempak kaget.


"Yang bener Re?" kata gue.


"Yups, dia sih gak ngaku kalo dia yang ngambil malah dia nuduh orang yang ngambil handphone gue. Tapi gue gak percaya lah sama dia soalnya orang yang dia tuduh gak mungkin nyolong handphone gue," kata Rere.


"Maksudnya dia nuduh orang yang ngambil handphone lo? Tapi kok bisa dia yang balikin?" kata Via yang penasaran.


"Iya makannya gue gak percaya kalo bukan dia yang ambil. Dan lo tahu siapa yang dia tuduh?" Rere pun berhenti dengan omongan yang membuat kita semakin penasaran.


"Siapa?" kata Via yang penasaran.


"Yang dia tuduh si Ryanti," kata Rere yang langsung nunjuk kearah gue.


"Kok gue? Gue pegang-pegang handphone lo aja gak pernah. Lagian dari kemarin kan gue selalu bareng sama lo ya Vi," kata gue membela diri.


"Iya si Ryanti kemarin kan kemana-mana sama gue terus. Lagian gak mungkin banget si Ryanjti yang ngambil," Via pun membela gue.


"Iya tenang-tenang Ry, gue percaya sama lo kalo bukan lo yang ngambil. Lagian kan kemarin Pak Udin bilang kalo pelakunya yang akan ngembaliin sendiri handphone gue. Lagian sepikun-pikunnya gue, gue masih inget Ry kalo lo gak pernah pinjem handphone gue. Lagian kalo emang bukan dia yang ngambil kenapa hari ini dia gak masuk sekolah? Pasti dia tahu kalo gue bakalan cerita ke kalian siapa pelakunya, makannya dia malu gak masuk sekolah. Kita lihat, apa dia masih berani masuk sekolah?" kata Rere.


"Lagi emang ceritanya gimana sih Re? Gue penasaran waktu dia bilang bukan dia yang ngambil handphone lo," Novi pun masih penasaran jalan ceritanya.


"Nih ya, kemarin kan gue pulang kaya biasa kan jalan rumah gue kan deket dari sini. Terus pas di ujung gang rumah gue tiba-tiba ada yang manggil gue dari belakang. Gue kaget dong pas gue nengok ternyata Dinda yang muncul. Terus dia bilang gini (Re, nih handphone lo. Sebenernya tadi gue udah tahu siapa yang ngambil handphone lo. Tapi gue gak mau ngomong dulu takut kasihan sama orangnya. Makannya mendingan gue yang balikin aja handphone-nya, lo cukup tahu aja siapa yang ngambil. Dan yang berani-beraninya ngambil handphone lo tuh ternyata teman dekat lo sendiri. Gue gak mau bertele-tele ya langsung aja gue kasih tahu yang ngambil handphone lo itu si Ryanti, gue jelas-jelas lihat dia taruh handphone lo di kolong mejanya)," Rere pun menceritakan apa yang disampaikan Dinda kedirinya.


"Terus pas dia ngomong kaya gitu lo ngomong apa?" kata Mayang yang ternyata juga ikut kepo.


"Gue bilang (Lo seriusan Ryanti yang ngambil handphone gue? Kayanya gak mungkin banget deh kalo si Ryanti yang nyolong handphone gue. Emangnya lo tadi gak merhatiin apa yang dibilang sama Pak Udin? Pak Udin kan bilang kalo handphone gue bakalan balik lagi, dan yang akan balikin langsung handphone gue itu pelakunya. Kok bisa-bisanya ya Pak Udin salah. Ini yang harus gue percaya Pak Udin apa lo Din?)" kata Rere yang masih terus menceritakan.


"Terus, terus, terus," Via pun mewakili kita yang semakin penasaran.


"Terus dia diam aja, gak ngomong apa-apa lagi abis itu dia pulang. Oh iya sebelum dia pulang dia bilang (terserah lo percaya sama siapa, harusnya lo berterima kasih sama gue udah gue balikin handphone lo). Dia ngomong kaya gitu, hello.... Kok dia yang nyolong handphone gue malah gue yang harus bilang terima kasih," Rere pun emosi diakhir cerita.


"Idiih, si Singa gak ada otaknya. Najis, udah bagus-bagus si Ryanti masih mau nemenin dia disaat kita aja males ngomong sama dia. Eh, dia malah nuduh teman yang baik sama dia," Rizky jablay pun ikut berkomentar.


"Iya kok bisa sih dia nuduh lo Ry, padahal kan disini yang masih mau temenan sama dia cuma lo tapi dia malah ngecewain lo," kata Riska.


"Gue gak tahu deh dia kenapa bisa gitu. Padahal sumpah sampai si Rere cerita aja gue masih belum percaya kalo dia yang ngambil handphone Rere, sekarang gue malah kaget dua kali lipat dia malah nuduh gue yang nyolong," gue pun masih syok.


"Tuh kan Ry, yang gue bilang tadi pagi benar kalo si Dinda yang nyolong. Lo gak percaya, malah lo bilang sama gue jangan nuduh dia sembarangan. Sekarang orang yang lo bela-belain malah nuduh lo. Kita gak pernah tahu mana yang baik mana yang nusuk," Via pun terus berkomentar.


"Udah yang penting kita semua percaya Ry kalo bukan lo yang nyolong. Dari awal gue juga udah curiga sama dia, teman keparat dia tuh. Lo gak usah pikirin, kita lihat apa masih dia berani nunjukin giginya didepan kita," kata Prilly yang nyemangatin gue.


"Iya tenang aja Ry, pokoknya kalo dia besok masuk lo jangan duduk sama dia lagi. Lo duduk sama Via aja, biar Yani gue yang nemenin," Maya pun ikut menyemangati.


"Iya pokonya kita percaya sama lo Ry," kata Yani.


Gue yang masih syok cuma diam saja tanpa bisa komentar apa-apa. Karena terlalu sakit ya, orang yang dekat sama kita, orang yang udah kita baikin, orang yang udah selalu kita temenin disaat semuanya menjauh dari dia. Tapi dia malah nusuk gue kaya gini.

__ADS_1


__ADS_2