
"Woy Ry, lo kenapa gue liatin dari tadi diam aja. Biasanya ada aja pertanyaan lo ke gue?" kata Via yang merasa heran melihat gue dari tadi hanya diam.
"Gak kenapa-napa gue, emang kenapa?" kata gue yang merasa memang dari tadi gue ngerasa kaya males banget.
"Lo deg-degan hasil raport lo?" kata Via.
"Gak, biasa aja gue kalo masalah raport," kata gue.
"Terus kenapa?" kata Via.
"Gak tahu," kata gue yang pasrah.
"Diiihhhh... Apaan sih lo Ry? Gak jelas, lo yang diem aja dari tadi lo sendiri gak tahu lo kenapa. Ya lo sekarang lagi ngerasain apa emangnya?" kata Via.
"Gak tahu, kaya males aja gitu gue berangkat sekolah," kata gue.
"Emang kenapa lo males sekolah? Kan hari ini pengambilan raport, please jangan bilang nilai lo bakalan jelek semua. Terus lo gak mau lihat nilai lo, makannya lo males kesekolah," kata Via.
"Apaan sih Vi, gak jelas deh lo," kata gue yang semakin badmood.
"Abang sekolahan depan kiri ya," kata Via yang langsung sadar kalo kita sudah sampai sekolah. Kita pun langsung turun dari angkot. Kita langsung berjalan kearah sekolah, sampai diwarung keramat tiba-tiba si Ryan memanggil.
__ADS_1
"Macan, lo kenapa sih kalo lewat sini muka lo nunduk mulu," kata Ryan yang berdiri didepan persis warung.
"Dia lagi nyari receh yang jatuh kali," kata cowok si nyebelin yang belakangan ini selalu ganggu pikiran gue. Gue hanya melirik sebentar dan lanjut lagi jalan tanpa peduli omongan mereka.
"Lo gak mau jawab dulu omongan tuh cowok,biasanya se-sebelnya lo tetap lo jawab omongan tuh cowok," kata Via yang sepertinya menyindir gue.
"Gak mood buat jawab," kata gue singkat. Kita pun hanya diam saja sampai kita berpisah ditangga.
"Ryanti, cemberut aja. Lagi bete ya? Cemberut juga kok bisa tetap cantik sih?" kata cowok yang sudah berapa hari ini pun selalu mengganggu gue. Seperti biasa gue hanya melirik tanpa komentar apapun. Gue pun ikut duduk bareng teman-teman sekelas gue yang sudah pada duduk didepan kelas.
"Lo kenapa Ry? Cemberut aja," kata Fifi yang melihat gue baru datang langsung duduk disebelahnya.
"Emang gue kenapa sih? Perasaan gue biasa aja, tapi kok orang-orang bilangnya gue cemberut aja," kata gue yang kesal dari tadi pada banyak yang bertanya.
"Lo bete ya, soalnya besok udah libur sekolah. Jadi lo gak bisa ketemu pangeran beruang lo itu," kata Rere yang langsung menebak.
DEG
"Apaan sih, kenapa malah jadi bawa-bawa si beruang," kata gue yang memasang muka bete. Tapi entah kenapa, setelah omongan Rere barusan dada gue langsung berdegup kencang. Apa iya dari tadi gue bete gara-gara itu.
"Noh, beruang kutub lo dateng. Puas-puasin dah lo lihatin mukanya, takut kangen. Kan lumayan ya gak bakalan ketemu selama 2 minggu," kata Ria yang meledek gue sambil senyum-senyum.
__ADS_1
"Apaan sih lo pada, gak enak kalo yang lain pada dengar," kata gue yang langsung melirik tajam.
Kita pun lanjut mengobrol dengan santai sambil menunggu wali kelas kita datang untuk membagikan raport kita. Sebisa mungkin gue berusaha buat gak diam aja, sebisa mungkin gue berusaha banyak omong, supaya badmood gue gak terlalu kelihatan. Disela-sela gue ngobrol sama teman dekat gue, tanpa gue sadari gue selalu melirik kearah cowok super nyebelin itu. Dia sedang bercanda dengan cewek teman sekelas gue juga. Memang kalo dilihat cowok itu dekat sekali dengan Eka, Melan, Siti, dan Novi. Mendadak ada perasaan iri didalam hati yang muncul dan berkata "Mereka beruntung ya bisa sedekat itu sama tuh cowok, sampai benar-benar dekat. Sedangkan gue? Sekalinya ngobrol aja bawaanya berantem terus".
"Woy, mulai dah bengong lagi," kata Ria yang mengagetkan lamunan gue.
"Biarin aja sih Ri, lo ganggu aja. Orang dia lagi serius memandangi pangerannya yang bakalan terpisah lama," kata Rere yang langsung memukul Ria.
"Apaan sih Re, siapa juga yang lagi mandangin tuh cowok," kata gue yang ngeles.
"Kita semua juga udah tahu Ry, kalo dari tadi mata lo cuma kearah Rizky doang. Masih aja mau ngeles," kata Dinda.
"Gak, sumpah. Orang gue lagi ngelihatin Eka yang lagi ngelawak noh," kata gue yang masih aja ngeles.
"Udah gak usah maksa. Mau gimana juga nih bocah belum mau jujur sama kita, sama dirinya sendiri aja dia gak berani jujur apalagi sama kita," kata Rere.
Gue pun hanya terdiam. Lalu, gak berapa lama wali kelas kita pun datang dengan tumpukan Raport yang beliau bawa. Kita pun serempak langsung masuk kelas. Dikelas kita duduk seperti biasanya. Miss yang memang menjadi wali kelas kita pun masuk dengan senyuman.
"Hallo semuanya. Apa sudah siap melihat nilai kalian?" kata Miss yang langsung berjalan kearah mejanya.
"Siap," kami pun serempak menjawab.
__ADS_1
"Hallo Ryanti, kenapa muka kamu hari ini agak redup? Kamu takut nilai kamu jelek atau kamu takut kangen sama Rizky karena mulai besok kita sudah libur?" kata Miss yang mulai meledek gue. Dan serempak semua anak didalam kelas pun tertawa. Gue hanya diam dan menunduk.
"Bukan cuma kita-kita doang kan yang sadar lo cemberut mulu hari ini kenapa. Lo tuh gak pinter Ry kalo nyembunyiin sesuatu," kata Dinda yang berbisik ke gue. Dan lagi-lagi gue cuma diam, mendadak gue berpikir apa iya dari tadi hati gue uring-uringan terus karena emang gue kesel besok-besok gak ketemu sama cowok nyebelin itu. Bahaya banget nih kalo emang gue beneran jatuh hati sama nih cowok. Pokoknya selama liburan gue harus meditasi, lupain hal-hal yang berhubungan sama nih cowok. Terlalu banyak rintangan Ry kalo lo bisa suka sama nih cowok, lagian belum tentu nih cowok juga suka sama lo. Kan dari awal emang lo udah benci banget sama nih cowok, please mulai konsen sama sekolah lo lagi Ry...