CINTA ITU APA

CINTA ITU APA
Apa Gue Harus Seperti Teman Gue?


__ADS_3

"Assalamualaikum," terdengar suara Via dari luar.


Gue yang lagi nonton FTV kesenangan gue langsung melihat jam saat mendengar Via datang kerumah. Gue pun langsung keluar.


"Walaikumsalam. Mau ngapain lagi lo dateng kerumah gue pagi-pagi. Mau beli apaan lagi?" kata gue yang langsung melihat Via cengar cengir.


"Hehehe, gak mau beli apa-apa lagi gue. Temenin gue balikin sepatu yuk," kata Via.


"Balikin sepatu? Lo mau balikin sepatu kondangan lo itu? Emang boleh dibalikin? Kan udah lo pakai tuh sepatu kemarin," kata gue yang heran.


"Iya, dicoba aja dulu siapa tahu aja boleh," kata Via.


"Iya gak bakalan boleh lah, udah lo pakai. Kalo belum lo pakai sama sekali baru bisa. Lagian ngapain lo balikin?" kata gue yang agak sedikit emosi.


"Abis gue diledekin sama anak-anak sekelas, kelas lain juga pada ngeledekin gue. Terus gue mikir gak bakalan kepakai nih sepatu, ya udah coba aja gue balikin ke tukangnya siapa tahu aja bisa," kata Via yang sedikit menyesal.


"Iya lah diledekin orang sepatu lo mentereng banget udah kaya mau kondangan. Lagian kemarin kan gue udah ngingetin lo berkali-kali ngapain lo beli sepatu bentuknya kaya gitu. Nyesel sendiri kan lo," gue pun kembali emosi.


"Iya sorry. Ayo dong Ry temenin gue, siapa tahu aja bisa kan lumayan balik lagi duit gue, daripada gak dipakai sama sekali," Via pun memohon.


"Tapi lo aja ya yang ngomong sama pedagangnya, gue nawar aja gak berani apalagi ngomong balikin barang yang udah kepakai," kata gue.


"Iya lo temenin gue aja," kata Via.


"Iya udah sebentar, gue ganti baju dulu," kata gue yang langsung masuk kedalam rumah.


Setelah mengganti pakaian, gue dan Via pun akhirnya menuju toko sepatu yang kemarin kita datangi. Setelah sampai ditoko gue hanya menunggu diluar toko, karena gue gak punya nyali kalo tukangnya gak terima barangnya dibalikin. Dari luar gue pun mendengar percakapan antara pedagang dan pembeli yang mau mengembalikan barangnya itu.


"Mba, masih inget gak? Aku yang kemarin beli sepatu ini, aku mau balikin sepatunya boleh gak ya?" kata Via mencoba ramah. Dari tampangnya aja muka mbanya udah gak enak banget dilihatnya.


"Mau balikin? Emang kenapa mau dibalikin?" jawab mbanya sedikit ketus.


"Gak dibolehin sama mamah saya pakai sepatu kaya gitu mba," Via pun mencoba berbohong.


"Coba saya lihat dulu sepatunya," mbanya pun meminta sepatunya dan mengecek kondisi sepatunya itu.


"Gak rusak sama sekali kok mba," kata Via yang dari wajahnya sedikit cemas.


"Iya gak rusak tapi ini mah udah dipakai, gak bisa dibalikin mba. Saya jual sepatu baru bukan sepatu bekas," kata mbanya dengan ketus.


"Dipakainya juga cuma sebentar kok mba," kata Via yang masih kekeh.


"Sebentar pun juga kelihatan kalo ini udah kepakai mba, berarti kan udah termasuk bekas. Gak bisa mba dibalikin sepatunya," mbanya pun langsung menyerahkan sepatu itu lagi ke Via.


"Oh ya udah kalo gak bisa," Via pun langsung keluar dari toko dengan wajah cemberut.


"Gak bisa kan?" gue langsung bertanya saat melihat Via keluar.


"Mbanya judes banget, ogah gue beli apa-apa lagi disini," kata Via yang kesal.


"Ya gimana gak judes, mana mau dia barang yang udah dibeli dibalikin lagi. Sekalipun belum lo pakai pasti dia cari alasan lain biar sepatunya gak dibalikin," kata gue.


"Ya udah yuk," Via pun menarik tangan gue. Dan kita pun jalan pulang.


"Lo udah gak mikirin masalah kemarin kan?" kata Via.

__ADS_1


"Masalah apaan?" gue pun bingung.


"Masalah Dinda yang nuduh lo yang nyolong handphone-nya Rere," kata Via.


"Gak, sama sekali gue gak mikirin masalah itu. Ya anggap aja gue terlalu baik makannya di salahgunakan kebaikan gue. Lagian gue baru sadar pantesan aja dia gak disenengin sama orang-orang ternyata kekurangan dia banyak banget, udah sombong, belagu, angkuh, tukang nyolong, dan sekarang tukang nuduh. Benar kata teman sekelas gue waktu masih kelas 10 percuma pinter kalo ternyata akhlaknya kurang," kata gue yang memang biasa aja sama masalah kemarin.


"Bagus deh kalo lo gak mikirin sama sekali, takutnya lo kepikiran," kata Via.


"Biasa aja, tenang aja," kata gue.


"Udah ya gue pulang. Oh iya nanti gue gak berangkat bareng sama lo ya," kata Via.


"Kenapa? Lo udah punya gebetan lagi kok tumbenan gak berangkat bareng gue?" kata gue yang heran.


"Emang kalo gak berangkat bareng lo berarti gue udah punya gebetan? Ya gak lah, pokoknya gue belum bisa cerita ke lo Ry. Sorry ya," kata Via yang cengar cengir.


"Iya kan semenjak lo putus dari Konde selalu berangkat sama gue, sekarang lo gak berangkat sama gue berarti lo udah punya gebetan lagi. Siapa? Lo berhasil sama Jamal?" kata gue yang penasaran.


"Gak bukan si Jamal, kayanya khayalan gue ke Jamal terlalu tinggi. Dan kayanya dia gak suka deh sama gue, soalnya setiap gue ajak ngobrol dia kaya risih atau gak nyaman gitu," kata Via.


"Oh ya udah kalo emang lo ngerasa si Jamal gak cocok sama lo," kata gue.


"Iya Ry, berarti nanti lo berangkat sendiri gak apa-apa ya" kata Via.


"Iya udah mau gimana lagi, masa gue harus ngerengek ke lo," kata gue.


"Hehehe, sorry ya," kata Via yang cengengesan.


Akhirnya kita pun berpisah, gue ngelanjutin nonton FTV yang tertunda. Sampai jam 12 kurang gue pun langsung bersiap-siap berangkat sekolah, seperti sebelum-sebelumnya kalo berangkat gak sama Via pasti gue ngerasa was-was, takut dapet angkot yang super lama lagi dan akhirnya gue bakalan telat.


Setelah dapat angkot yang alhamdulilah banget lumayan bagus dan lagu-lagunya juga lumayan bagus, gue pun berangkat dengan aman dan nyaman. Sepanjang jalan gue mnikmati lagu-lagu sambil melihat kearah jalan yang panasnya super-super. Sampai didaerah Saribumi gue melihat Ratu yang sedang menunggu angkot. Langsung saja gue panggil Ratu, lumayan kan gue punya teman berangkat.


Ratu pun sadar gue panggil dan langsung menyeberang jalan.


"Lo sendiri Ry? Si Via kemana?" Ratu pun bertanya setelah melihat gue yang duduk tanpa ada Via.


"Gak tahu gue kemana dia, tadi dia cuma bilang sama gue kalo berangkat dia gak bareng sama gue. Pas gue tanya dia punya gebetan lagi dia gak mau ngaku," kata gue.


"Emang dia udah putus dari cowoknya yang siapa Ry namanya? Konde ya?' kata Ratu.


"Udah hampir sebulan Tu dia udah putus," kata gue.


"Udah putus aja padahal selama dia pacaran aja gue belum pernah lihat bentukannya kaya gimana," kata Ratu.


"Gue juga ketemu sama si Konde itu bisa dihitung jari Tu. Gak terlalu deket juga gue sama cowoknya," kata gue.


"Oh pantesan dia genit-genit deketin kakak kelas yang tinggi itu. Ternyata dia udah putus,' kata Ratu.


"Siapa? Si Jamal?" kata gue yang memastikan.


"Namanya Jamal?" Ratu pun bertanya.


"Iya cowok yang lo maksud itu yang kakak kelas tinggi, item manis, anak kelas 12 IPA kan?" kata gue yang lebih memastikan.


"Iya yang itu, pantesan dari kemarin-kemarin gue lihat dia berani genit-genitan ajak ngobrol kakak kelas sampai penampilannya kaya aneh banget gitu. Masa sekolah pakai sepatu yang ada hak-nya, mana tinggi banget lagi tuh hak," kata Ratu yang mulai julit.

__ADS_1


"Sepatu yang warnanya mentereng banget itu kan?" kata gue.


"Iya, udah warnanya pink tinggi banget lagi. Udah kaya mau dangdutan, kata gue nih si Via penampilannya kok aneh banget sih," Ratu pun terus berbicara dengan wajah yang sedikit ngeledek.


"Itu tuh kemarin beli sepatunya sama gue. Gue aja kaget ngapain coba dia beli sepatu tingginya ampun-ampun kaya gitu, lagian kita kan lagi sekolah bukan lagi mau jalan-jalan ngapain pakai sepatu mentereng banget. Dan ternyata alasannya biar dia bisa menyetarakan tingginya dia sama si Jamal. Udah gue bilangin jadi diri dia apa adanya aja tetep kekeh mau beli tuh sepatu," gue pun akhirnya menceritakan ke Ratu.


"Iya, kata gue aneh banget sih Via mana genit banget lagi pas ngajak ngobrol si Jamal itu," kata Ratu.


"Dan dalam sehari dia berubah pikiran langsung menyerah sama si Jamal," kata gue.


"Kok bisa? Emang langsung ditolak dia? Berarti sekarang nih dia bukan sama si Jamal itu?" kata Ratu.


"Gak tahu gue kenapa dia langsung berubah pikiran dan gue gak tahu sekarang dia sama siapa. Kan gue bilang tadi dia gak cerita apa-apa," kata gue.


"Jarang cerita dia ya kalo masalah cowok," kata Ratu.


"Iya gitu deh, udah sini mana ongkos lo. Bentar lagi sampai tuh," gue pun meminta ongkos untuk dibayarkan.


Setelah turun dari angkot gue pun melihat 2 orang yang lagi kasmaran dan 1 orang yang selalu jadi sapi ompong.


"Noh ada pujaan hati lo Tu, tumbenan gak kaya orang kesetanan ngelihat dia," kata gue.


"Lagi belajar buat biasa aja ke dia Ry. Kayanya gue juga bakal kaya Via deh yang berusaha merubah hati buat sesuatu yang gak bisa digapai," kata Ratu sambil melihat kearah Rizky dan langsung memalingkan wajahnya kearah lain.


"Yakin lo mau ngelepasin Rizky gitu aja? Yakin bisa? Seluruh jagat raya ini juga tahu Tu lo tuh paling super tergila-gila banget sama tuh cowok, terus sekarang lo menyerah gitu aja," kata gue yang heran dengan sikap Ratu.


"Sekarang gue tanya ke lo Ry, lo capek gak selalu ngelihat gue kaya orang gila terus selama suka sama Rizky?" kata Ratu.


"Bukan capek tapi bosen gue lihatnya," kata gue dengan jutek.


"Nah bukan lo doang yang bosen, hati gue juga capek Ry. Hati gue capek cuma jadi bayang-bayang Rizky yang padahal dianya aja belum tentu ngelihat gue, gue capek jadi orang gila yang selalu ngeharepin dia padahal dianya aja belum tentu juga suka sama gue, gue capek berharap suatu saat bisa dapetin dia padahal gue tahu sendiri disana bukan cuma gue doang yang berharap kaya gitu. Gue capek Ry, udah cukup mengagumi aja gak perlu ada hati bahkan berharap," kata Ratu yang langsung berjalan disaat dia merasa Rizky dan yang lainnya sudah mendekat kearah kita.


"Perasaan dari kemarin lo selalu ditinggal terus sama teman lo Can?" Rizky pun langsung bertanya saat melihat Ratu pergi meninggalkan gue.


"Kenapa emangnya? Lo mau nemenin gue tahu gue selalu ditinggal?" gue pun menjawab seadanya.


"Ceileh, udah mulai berani ya sekarang Macan sama Beruang," Ryan pun meledek.


"Udah jadiin aja Le. Lo berdua cocok kok," Unge pun meledek.


Orang yang diledek pun cuma senyum-senyum gak jelas, tanpa ada komentar apapun. Gue kan jadi penasaran, apa dia juga suka apa gak sama gue.


"Can, tumben-tumbenan teman lo tuh gak kaya orang gila ngelihat gue," Rizky pun merasa kalo Ratu tidak seperti biasanya.


"Kenapa? Ngerasa kehilangan ya salah satu fans lo bakalan ninggalin lo," kata gue.


"Dih, biasa aja. Ada gak ada dia gak ada ngaruhnya sama gue," kata Rizky dengan santai.


"Dia takutnya kalo lo yang ninggalin dia Ry," kata Ryan terus meledek,


"Dih, emang gue siapa dia? Palingan dia takut kehilangan gue karena butuh otak gue buat dia nyontek ke gue. Gue yakin nih semesteran bulan depan walaupun lo pada udah beda kelas sama gue tetap aja dia bakalan minta contekan sama gue," kata gue sambil melotot kearah cowok yang dari tadi cuma senyum-senyum gak jelas.


"Iya lah, selama pelajarannya masih sama gue tetap harus minta contekan ke lo lah Can. Kan lumayan masih banyak pelajaran yang sama," Rizky pun senyum-senyum sambil garuk-garuk kepala.


"Tuh kan, apa gue bilang dia masih butuh nyontek ke gue," kata gue sambil jalan menjauhi mereka.

__ADS_1


"Dih gak Ry, si Bule juga beneran takut kehilangan lo. Dia-nya aja yang gengsi ngomongnya," teriak Ryan.


Gue yang berusaha masa bodo sama omongannya Ryan terus berjalan tanpa menengok kearah belakang. Sepintas gue berfikir apa gue juga harus bersikap seperti Ratu ya? Yang mulai berusaha melupakan cowok itu. Ratu aja yang gue tahu banget mungkin perasaan sayangnya dia ke cowok itu melebihi perasaan gue, sekarang sudah mulai menyerah. Gue memang masih bisa bertahan untuk memendam perasaan gue ke Rizky tapi apa gue masih bisa bertahan kalo gue tahu ternyata perempuan yang dia suka bahkan perempuan yang dia sayang itu ternyata bukan gue tapi orang lain? Sepertinya gue belum siap kalo semua itu terjadi di diri gue.


__ADS_2