
"Assalamualaikum," terdengar suara Via dari luar rumah.
"Walaikumsalam, lo berangkat sama gue? Gue kira lo bakalan berangkat sama cowok lo," kata gue yang heran melihat Via nyamper gue.
"Gue bareng sama lo Ry, tapi tetep naik angkotnya Dindin ya?" Via pun cengar cengir.
"Terserah lo asalkan jangan nyuruh gue gratisan. Gue tetep mau bayar ongkosnya, bilang tuh sama cowok lo," kata gue yang sedikit jutek.
"Iya, siap bos," Via pun menyetujui.
"Ya udah tunggu sebentar, gue ambil tas sama ngunci pintu dulu," gue pun langsung masuk kedalam rumah dan mengambil tas lalu mengunci pintu rumah.
Setelah sampai di tempat biasa gue nunggu angkot, gak berapa angkotnya tuh supir buluk akhirnya datang. Gue pun seperti biasa, duduk dibelakang dan Via duduk didepan disebelah cowoknya itu. Saat menaiki angkot gue sempet heran, karena setiap kali gue naik angkotnya si Dindin pasti selalu ada cowok yang katanya temannya itu, kayanya setiap kali ada si Dindin selalu ada dia deh. Dia pun melihat gue dengan menatap sangat tajam, gue yang merasa risih langsung menyemprotnya dengan omongan.
"Ngapain lo ngeliatin gue kaya gitu, emang gue pisang," kata gue dengan sedikit agak keras.
Via dan Dindin yang duduk didepan pun menengok kebelakang melihat apa yang terjadi dibelakang.
"Buset, baru gue liatin kaya gitu langsung teriak nih perempuan," kata cowok itu.
"Eh, cara lo ngeliatin gue bisa gak biasa aja? Gak usah sampai segitunya," kata gue yang masih sedikit teriak.
"Gue udah biasa aja kali," kata cowok itu.
"Emangnya biasanya lo itu sampai mata lo mau copot gitu ya?" kata gue yang masih emosi.
"Udah Ndre, ngaku aja kalo emang lo ngeliatin dia sampai terkagum-kagum. Kalo lo gak ngaku dan gak ngalah terus-terusan deh lo berdebat sama dia. Gue aja gak pernah menang berdebat sama dia," kata Dindin yang mengingatkan.
"Iya Ndre, lagian lo ngapain sih ngeliatin teman gue sampai segitunya, udah tahu teman gue gak suka diliatin kaya gitu," kata Via.
"Iya sorry-sorry, lagian dilihat kaya gitu doang aja sampai segitu marahnya," kata cowok itu.
"Eh, lo gak boleh ya sembarangan lihat-lihat orang kaya gitu tanpa izin," kata gue yang masih ngegas.
"Iya sorry," cowok itu pun akhirnya menyerah.
Gue pun diam tanpa membalas kata maaf dari cowok itu.
"Gak lo maafin teman gue Ry?" kata Dindin yang masih lanjut.
__ADS_1
"Terus masalah buat lo kalo gue gak maafin teman lo?" kata gue yang melirik.
"Ye, gue kan nanya doang. Abisnya teman gue bilang sorry lo gak jawab," kata Dindin.
"Udah deh mendingan lo gak usah ngurusin begini-beginian, buruan jalan keburu telat gue," kata gue yang langsung menghadap kebelakang.
"Yah, Ndre. Mendingan lo lupain deh nih perempuan, yakin lo kuat naksir sama perempuan yang galaknya kaya begini?" kata Dindin yang berbicara agak pelan tapi masih terdengar kuping gue.
Gue yang mendengar pun akhirnya langsung menoleh dan menatap tajam cowok yang masih berani ngomongin gue.
"Lo beneran gak mau cepetan jalan? Lo ngetemnya udah melebihi supir-supir yang udah aki-aki, lama banget," kata gue dengan wajah sensi.
"Iya-iya," Dindin pun langsung menjalankan angkotnya setelah berkali-kali gue udah ngoceh.
Sepanjang jalan gue hanya menghadap ke belakang tapi pantulan dari kaca masih terlihat oleh gue, kalo cowok itu melanjutkan tatapannya kearah gue. Gue pun dengan sigap langsung menengok dan menatap tajam kecowok itu, dan cowok itu pun langsung mengalihkan pandangannya kearah lain dan terus seperti itu sampai gue udah sampai di gang sekolah. Sebelum turun pun gue sempet melihat cowok itu kembali menatap gue, dan gue pun langsung membalasnya dengan tatapan tajam.
Setelah membayar ongkosnya gue pun masih sempat-sempatnya ngomong ke Dindin.
"Din, besok-besok kalo mau narik usahain teman lo yang ini gak usah ngikut. Ganggu kenyamanan para perempuan, bisa-bisanya sepanjang jalan dia ngeliatin gue. Lo pikir gak risjh? Kalo lo mau penumpang lo yang kebanyakan perepuang gak pada hilang semua mendingan lo gak usah ngajak teman lo ngikut. Kayanya cowok cabul nih laki," gue pun melirik cowok itu yang masih duduk anteng dibelakang Dindin.
Via, Dindin, dan cowok itu pun saling menatap karena omongan gue.
"Lo gak mau turun Vi? Masih ngejogrok disitu aja? Emang lo gak mau sekolah?" kata gue yang masih heran melihat Via yang juga masih anteng duduk disebelah cowoknya itu.
"Yakin lo mau makan dulu? Emang lo gak takut telat?" kata gue yang heran.
"Gak, masih lama Ry. Masih ada setengah jam lagi, keburu lah," kata Via yang langsung melihat jam di handphonenya.
"Terserah lo deh," gue pun menjawab singkat.
"Lo gak ikut Ry, sekalian nemenin Andre. Masa dia makan sendirian," Dindin pun mengajak gue.
"Gak, sorry-sorry amat gue mau sekolah. Pergi deh lo sono pada," kata gue yang langsung jalan tanpa melihat kebelakang lagi.
Gue pun berjalan sendiri kearah sekolah, dan tanpa gue sadari ternyata dibelakang gue udah ada 3 kunyuk sekolah yang juga jalan kearah sekolah.
"Ssst...ssstt," terdengat suara siulan dari arah belakang. Gue pun langsung menoleh kearah belakang. Dan setelah tahu siapa-siapa aja yang ada dibelakang gue, lalu gue pun langsung menoleh kearah depan dan lanjut jalan lagi.
"Buset, nengok doang," kata Rizky yang ternyata suara siulan itu dari suaranya.
__ADS_1
"Ry, itu si Via mau kemana? Kok dia gak turun? Gue tadi lihat lo se-angkot sama dia tapi lo turun dia gak," kata Anwar.
"Mau makan baso dulu dia," jawab gue.
"Sama cowoknya?" kata Anwar.
"Gak tahu," kata gue yang memang gak mau orang tahu.
"Bohong banget lo Can kalo gak tahu. Kita aja udah tahu tanpa lo kasih tahu juga, yang bawa angkot itu cowoknya Via kan?" kata Ryan.
"Iya lo tanya aja sendiri," gue pun tetap bersikukuh tidak mau jujur.
"Jujur aja sih Can, kasihan nih teman gue suka sama teman lo tapi kaya digantung terus sama teman lo," kata Ryan.
"Ngegantungin? Emang lo pernah deket sama Via? Sumpah gue gak tahu apa-apa," kata gue yang beneran jujur.
"Masa lo gak merhatiin kalo gue sama Via dikelas deket-deketan si Ry?" kata Anwar.
"Gak, sumpah. Lo kan tahu sendiri kalo udah dikelas gue mana tahu apa-apa. Si Via juga gak cerita apa-apa sama gue tentang lo," kata gue.
"Berarti gue gak penting buat dia," kata Anwar dengan pasrah.
"Iya lo mah mana merhatiin orang sih Can, kalo udah dikelas mana mau lo nengok-nengok kebelakang. Ada kejadian dibangku belakang juga lo gak bakalan tahu," kata Rizky.
"Iya dulu kelas satu ada yang merhatiin gak tahu, sekarang dikelasnya juga ada yanf diem-diem merhatiin juga gue yakin dia gak tahu," kata Anwar.
"Hah, siapa kelas lo yang diem-diem merhatiin si Macan?" kata Ryan yang penasaran.
"Kasih tahu gak ya," kata anwar meledek.
"Gue udah tahu," gue pun menjawab singkat.
"Emang siapa? Sok tahu lo," Anwar pun penasaran apa benar gue tahu siapa orangnya.
"Adi kan?" kata gue.
"Kok lo tahu? Emang Adi udah ngomong sama lo?" Anwar pun kaget yang ternyata gue tahu siapa orangnya.
"Gak, emang sejak kapan dia berani ngobrol sama gue?" kata gue.
__ADS_1
"Terus kok lo bisa tahu," Anwar masih penasaran.
"Kasih tahu gak ya?" kata gue dengan wajah meledek. Gue pun berjalan mendahului mereka. Mereka bertiga masih jalan dengan santai dan melanjutkan obrolan sambil berjalan, entah apa yang mereka obrolkan gue pun gak tahu. Seperti gue gak tahu apa ada gue didalam fikiran dan hatinya Rizky.