
"Assalamualaikum," terdengar suara yang gak asing buat gue. Ya benar itu suara Via yang sudah datang untuk berangkat sekolah, hari ini pun Via berangkat bareng gue.
"Walaikumsalam," gue pun langsung keluar setelah mendengar suara Via, gak lupa gue kunci pintu sebelum berangkat. Dan kita pun langsung berangkat, dari rumah gue sampai tempat biasa gue naik angkot Via masih diam aja. Gue bingung Via lagi kenapa ya? Apa gara-gara masalah supir angkot kemarin yang ngajak dia ngobrol? Gue mau nanya tapi gue paling anti banget kalo nanya-nanya masalah privasi, kalo bukan dia sendiri yang cerita. Setelah ada angkot yang lewat kita pun naik, di angkot seperti biasa gue cuma diam menikmati lagu sambil melihat suasana luar dari kaca. Tiba-tiba Via pegang tangan gue, seketika gue kaget dan langsung melihat kearah Via.
"Kenapa lo Vi?" kata gue yang melihat Via seakan-akan pengen ngomong sesuatu sama gue.
"Ry, gue mau cerita sama lo tapi lo jangan bilang siapa-siapa ya?" kata Via memulai pembicaraan.
"Iya mau ngomong apa?" kata gue yang langsung memfokuskan pandangan kearah Via.
"Serius, jangan bilang siapa-siapa termasuk ke Yani dan ke yang lain. Walaupun Yani juga yang paling dekat sama kita berdua, tapi gue cuma percaya sama lo," kata Via.
"Iya, gue gak akan cerita ke siapa-siapa," kata gue yang meyakinkan Via.
"Lo inget kan supir angkot kemarin yang nyapa dan ngajak gue ngobrol pas kita berangkat sekolah?" kata Via.
"Iya yang kemarin kan? Kenapa?" kata gue.
"Itu namanya Dindin," kata Via.
"Terus, hubungannya sama lo apa?" kata gue.
"Jadi dia tuh temannya Konde cowok gue. Dan kenapa dia kemarin nanyain cowok gue narik siang apa pagi, karena cowok gue supir angkot Ry, sama kaya dia," kata Via yang langsung menundukkan kepalanya.
"Hah, maksud lo cowok lo supir angkot Vi?" kata gue yang kaget.
"Iya Ry," kata Via yang tetap menundukkan kepalanya.
"Kok bisa? Emangnya awalnya lo kenal sama cowok lo dimana? Di angkot?" kata gue yang masih gak nyangka.
"Iya gue awalnya kenal dia di angkot. Waktu itu kan gue pernah berangkat sekolah gak bareng sama lo karena gue kesiangan pas kita masih berangkat pagi buat latihan Paskib, nah disitu gue mulai kenal. Soalnya awalnya dia nanya-nanya dan ajak ngobrol gue. Dan sebenarnya sebelum gue pacaran sama dia, kita tuh sering banget naik angkotnya dia kalo berangkat pagi. Tapi lo gak terlalu ngeh, karena gue cuma kode-kodean dari kaca spion dia. Nah, kesini-sini gue nyaman sama dia Ry. Sampai gue gak peduli dia tuh supir angkot, tapi gue juga malu kalo harus cerita ke teman-teman gue. Tapi gara-gara kemarin Dindin ngomong kaya gitu didepan lo, gak mungkin banget kalo lo awalnya gak mikir apa-apa tentang gue. Makannya disini gue cerita sama lo, karena gue baru berani jujur sama lo," kata Via yang menjelaskan panjang lebar.
"Sekarang gini ya Vi, gue mah gak masalah lo pacaran sama siapa aja. Mau lo pacaran sama supir angkot mau lo pacaran sama siapa aja selama bikin lo nyaman gue gak masalah, asal lo bisa jaga diri lo sendiri ya Vi. Pikiran orang lain belum tentu sama kaya pikiran kita, bisa aja kita berpikir kalo apa salahnya pacaran sama supir angkot? Toh selama tuh cowok baik dan bertanggung jawab sama kita, ya kan? Tapi kan diluar sana ada aja yang ngecap kalo supir angkot itu gak ada masa depannya, supir angkot itu sukanya mainin cewek, supir angkot tuh suka mabuk-mabukan, supir angkot tuh suka judi, supir angkot tuh suka ngehamilin anak orang terus ditinggalin gitu aja. Apalah itu, pokoknya semua kejelekan tentang supir angkot pasti orang lain udah tahu. Gue janji gak bakalan cerita ke siapa-siapa tentang ini, tapi sesuatu yang ditutupin suatu saat bakalan kebongkar dengan sendirinya. Gue lepas tangan kalo suatu saat nanti teman-teman kita yang lain tahu sendiri tentang ini, karena posisinya cowok lo supir angkot. Kita gak pernah tahu, bisa aja teman kita gak sengaja naik angkotnya cowok lo, dan ternyata mereka ngenalin cowok lo. Lo bisa apa? Gak mungkin kan lo jelasin satu-satu setiap ada teman-teman lo yang nanya? Pasti lo cuma bisa diam. Dan satu lagi yang lo harus bisa, lo harus bisa ngebuktiin kalo lo gak bakalan rusak selama pacaran sama supir angkot, lo harus buktiin kalo pikiran mereka tentang cowok lo itu semuanya salah. Cuma itu yang lo bisa, dan cuma lo yang bisa lakuin. Udah gitu aja pesan gue buat lo, yang penting lo seneng lo bahagia lo lakuin apa yang mau lo lakuin. Tapi lo juga harus bisa buktiin kalo pikiran mereka semua salah," kata gue panjang lebar.
"Iya Ry. Gue janji gue gak bakalan macem-macem," kata Via.
"Lo gak usah janji sama gue. Tapi janji sama diri lo sendiri," kata gue.
"Iya Ry. Makasih ya lo gak marah ataupun ilfeel sama gue," kata Via.
"Ngapain gue harus marah? Ngapain gue harus ilfeel? Toh itu hidup lo gue sebagai teman cuma bisa ngingetin doang, dipakai syukur gak dipakai ya udah," kata gue.
"Iya Ry," kata Via.
"Oh iya Vi, mumpung gue inget nih. Lo tahu gak ternyata si Rere suka sama Bang Sur," kata gue yang langsung cerita ke Via.
"Hah, kok bisa? Lo tahu dari siapa?" kata Via kaget.
"Kemarin kan ceritanya pas kita kumpul-kumpul pas pulang sekolah ada Bang Sur tuh lewat. Terus si Fifi langsung keceplosan ngomong kalo si Rere suka sama Bang Sur," kata gue.
__ADS_1
"Hah, terus kata Rere apa? Pada kaget dong yang lain," kata Via yang penasaran.
"Rere bila iya katanya bukan suka tapi cinta banget soalnya katanya ini cinta pertamanya dia. Lo tahu kan kalo cinta pertama tuh rasanya gimana? Malah katanya dia udah sering banget kebawa mimpi," kata gue yang langsung tepok jidat.
"Njirrr, segitunya," kata Via.
"Makannya gue sekarang cerita sama lo biar lo tahu dan lo gak keceplosan masalah gue suka sama Bang Sur. Gue cuma kagum sedangkan Rere udah kebawa perasaan sampai ke hati. Jadi kalo sakit rasanya bukan main kalo kaya gitu. Makannya lo jangan ngebahas-bahas apa-apa lagi tentang masalah gue suka sama Bang Sur. Yang ada si Rere bisa ngecap gue ngerebut cinta pertamanya dia," kata gue yang mengingatkan Via.
"Oke-oke. Bahaya kalo udah masalah hati mah. Mudah-mudahan nih mulut gak keceplosan ya Allah," kata Via yang sadar kalo mulutnya emang kadang-kadang lemes.
"Please Vi, lo harus tahan mulut lo itu. Soalnya kalo masalah hati dan cowok itu bikin rusak pertemanan," kata gue.
"Bismillah, oke," kata Via meyakinkan diri.
Dan kita pun akhirnya sampai di depan sekolah, karena dari tadi kita asyik ngobrol tanpa sadar tahu-tahu udah sampai aja dan enaknya lagi tadi angkotnya penumpangnya naik turun jadi keseringan cuma kita berdua doang di tuh angkot. Jadi makin enak ngobrolnya. Sampai di dalam sekolah seperti biasa kita pun langsung berpisah, tapi sebelum berpisah gue dihadang sama Ratu.
"Ry, mana nomernya Rizky," kata Ratu yang gak bosen-bosennya dan gak pantang menyerah.
"Tu, jujur ya. Kemarin tuh gue udah beneran nanya sama Rizky nomernya dia berapa. Bahkan sampai gue cerita ke Rizky kalo lo suka sama dia. Tapi dia malah nyuruh gue diemin lo kalo lo nanya-nanya terus. Sumpah... gue gak boong, kalo lo gak percaya langsung tanya aja sama orangnya. Noh, orangnya lagi di depan kelas gue," kata gue seketika setelah melihat Rizky yang sedang asik bercanda dengan teman kelas gue yang lain. Untungnya aja si Rizky ngeliat gue dihadang sama Ratu, dan dia juga lihat gue pas gue nunjuk-nunjuk kearah dia. Jadi gue gak disangka boong kalo kemarin gue nanya nomernya beneran buat Ratu bukan buat gue.
"Masa sih? Ihhh... cool banget sih. Jadi makin suka," kata Ratu.
"Dih... apaan sih Tu? Geli gue lihatnya," kata gue yang makin aneh sama cewek-cewek di sekolahan ini. Gue pun langsung jalan kearah kelas gue, sebelum gue masuk kelas Rizky pun melihat gue dan melemparkan senyum.
"Tuh... lo lihat fans lo. Gue baru dateng langsung dipalak nomer lo," kata gue yang langsung maki-maki ke tuh cowok.
"Ya udah sih lo diemin aja. Gak usah marah-marah kali sama gue, udah kaya macan lo," kata Rizky yang langsung senyum-senyum.
"Dih, kok lo marah sama gue? Dasar macan," teriak Rizky dari luar kelas.
"Kenapa sih Ry?" kata Rere yang tumben-tumbenan duduk bareng Dinda.
"Itu Re, lama-lama gue gila sama cewek-cewek sekolahan yang ngefans sama Rizky. Gue kan kemarin cerita kan sama lo, teman gue Ratu suka sama Rizky, tiap hari nanyain nomernya Rizky mulu. Baru sampai gue udah dihadang nanyain nomernya Rizky. Gue suruh aja nanya sendiri ke orangnya, abis kemarin gue nanya ke Rizky-nya dia malah nyuruh gue diemin aja kalo ada yang nanyain tentang dia," kata gue yang kesal.
"Ha-ha-ha, biasalah cowok kalo ganteng kebanyakan gaya," kata Rere.
"Awas gue mau duduk, lagian lo tumben-tumbenan pada duduk disini? Pada ngapain sih lo?" kata gue yang heran melihat Rere, Fifi, dan Ria lagi sama Dinda.
"Kita lagi minta diajarin Fisika Ry. Abis gue gak ngerti-ngerti," kata Rere.
"Oh gitu. Terus udah ngerti?" kata gue.
"Gak, ha-ha-ha," kata Rere.
"Emang dasarnya otak lo bebel, udah balik sono ke asal lo. Udah bel tuh," kata gue yang langsung ngusir mereka. Setelah bel berbunyi anak-anak pun langsung pada masuk kelas. Dan seketika gue kaget karena tiba-tiba ada yang mukul kepala gue. Dan pas gue nengok ternyata cowok sok ganteng si Rizky yang mukul kepala gue. Gue pun melotot kearah tuh cowok, dan tuh cowok cuma senyum-senyum gak jelas. Dan kita pun mengikuti pelajaran seperti biasa, kadang adem ayem kadang ribut-ribut. Sampai bel istirahat pun berbunyi. Gue, Dinda, Rere, Fifi, dan Ria langsung pergi ke kantin. Gue gak ngerti kenapa tiba-tiba Rere, Fifi, dan Ria sekarang mau temenan sama Dinda, padahal walaupun mereka juga gak sebal sama Dinda tapi mereka jarang kumpul sama Dinda. Mungkin, mereka juga merasa kasihan melihat Dinda yang selalu sendirian, ya sudahlah ya... Dinda tuh sebenernya baik tapi emang tampang dan gayanya terlalu angkuh, gue gak suka dari dia cuma itu kalo jalan dan ngeliat orang tuh kaya selalu merendahkan. Jadi, gak heran kalo sampai kakak kelas pun gak suka sama sifat angkuhnya itu. Dan dari situ tuh gue ngerasa setiap gue jalan sama Dinda kayanya tuh orang juga gak suka sama gue, padahal mah perasaan gue doang aja kali ya.
Setelah beli makanan dan minuman di kantin kita pun kembali ke lantai 2. Kita makan dan minum di depan kelas, disana pun gak cuma kita yang duduk-duduk tapi teman sekelas kita yang lain juga duduk disitu, termasuk cowok yang gue anggep cowok paling sok iye, siapa lagi kalo bukan Rizky!
"Eh, macan muka lo ditekuk mulu. Udah kaya cucian kotor," Rizky pun mulai menyapa gue.
__ADS_1
"Please gak usah ajak ngomong gue. Gue gak mau para fans-fans lo yang fanatik itu pada benci sama gue," kata gue yang beneran lagi gak mau ngobrol sama nih cowok.
"Dih, galak banget lo. Beneran kaya macan," Rizky pun meledek.
"Udah cocok Ky, macan duduknya sama singa," kata Ryan yang ngerasa keceplosan, karena abis ngomong gitu dia langsung tutup mulut dan gak mau natap ke arah Dinda.
"Kenapa Emang Kalo Dia Duduk Sama Singa," teriak Dinda yang langsung tersinggung.
"Mampus lo blay, kalo gini mah lo beneran bangunin singa tidur," kata Rizky yang langsung mukul Ryan.
"Bercanda Din. Gitu aja marah, lo gak pegel apa marah-marah mulu sama kita. Kita kan juga mau temenan sama lo, walaupun lo pelit contekan," kata Ryan yang jujur.
"Gak, gak perlu gue punya teman kaya lo," kata Dinda yang masih sombong.
"Ya udah gue temanan sama macan aja," kata Rizky.
"Ya udah sono," kata Dinda.
"Temenan ya can," kata Rizky yang langsung mengalihkan ke gue.
"Lo ngomong sama gue?" kata gue yang ngerasa kalo nama gue bukan macan.
"Gak, sama sepatu gue nih," kata Rizky.
"Sorry nama gue bukan macan, jadi gue gak mau jawab," kata gue yang sok gak peduli.
"Nama lo sekarang macan, gue yang kasih nama lo. Soalnya kalo lo ketemu sama gue marah-marah mulu kaya macan lagi laper," kata Rizky yang terus saja meledek.
"Dih, dapet panggilan sayang tuh Ry. Asal jangan ada perasaan-perasaan sayang ya antara lo berdua. Kasihan teman gue Ki," kata Rere.
"Kenapa kasihan sama teman lo, emang gue apain teman lo," kata Rizky yang heran.
"Iya kasihan kalo teman gue harus dibenci sama fans lo yang bar-bar," kata Rere.
"Gak apa-apa ya can, lo rela kan dibenci demi gue," kata Rizky.
"Ogah," kata gue yang langsung memalingkan pandangan gue ke arah kelas sebelah. Karena di kelas sebelah ada Ana yang baru aja gue dengar dia manggil nama gue. Gue pun langsung berdiri dan menuju ke Ana.
"Kenapa Na?" kata gue yang gue rasa si Ana ada perlu sama gue.
"Ry, gue baru tahu kalo lo deket sama Rizky," kata Ana.
"Ya dekat lah, kan dia teman sekelas gue. Emang kenapa kalo gue dekat sama Rizky," kata gue yang langsung bertanya maksudnya.
"Tapi lo suka sama dia?" kata Ana.
"Gak, kenapa sih? Langsung aja mau nanya apa? Maksud dan tujuan lo manggil gue apa?" kata gue yang kesal dengan pertanyaan yang muter-muter.
"Gue minta nomernya Rizky dong, gue mau minta tolong sama lo buat comblangin gue sama Rizky," kata Ana yang langsung jujur.
__ADS_1
"Hah?" gue pun seketika loncat-loncat kesal. Mendadak gue kaya orang gila yang lagi ngamuk. Dan gue pun melirik ke arah Rizky yang masih duduk sama teman gue yang lain. Seketika ada ketakutan dimuka tuh cowok setelah ngeliat gue marah-marah kaya gitu. Gue pun langsung berjalan ke arah tuh cowok dan berdiri disamping dia. Sambil berdiri disamping tuh cowok yang lagi duduk, gue langsung berteriak ke arah Ana yang masih berdiri.
"Na, nih manusia masih hidup. Masih bernafas didepan gue, jadi kalo lo mau nomer nih cowok langsung tanya aja sendiri sama orangnya. Dan satu lagi sorry gue gak bisa nyomblangin lo berdua, gue gak paham begitu-begituan. Kalo emang nanti gue udah paham gimana caranya gue buka tarif, sekarang apa-apa gak gratis. Kentut doang yang gratis," kata gue yang langsung mukul tuh cowok dan gue pun langsung masuk kedalam kelas. Sebelum gue masuk gue lihat tampang tuh cowok cengo kaya orang bego yang gak ngerti apa-apa. Kan gue bilang cowok ganteng tapi bego buat apa?