
Hari ini hari terakhir sekolah gue mengadakan semesteran, karena hari terakhir pelajarannya pun tidak terlalu susah-susah banget. Suasana diruangan gue hari ini pun masih sama seperti suasana kemarin-kemarin, mereka selalu menunggu hasil dari gue menyelesaikan semua soal-soal. Trik menyontek mereka, apabila gue udah selesai, tugas gue cuma kasih contekan ke Rizky setelah itu gue bisa dengan leluasa keluar dari ruangan. Sisanya mereka menyontek dengan cara lempar melempar hasil contekan mereka, gue heran mereka kompak banget kalo dalam hal menyontek. Mereka gak akan keluar ruangan duluan kalo teman mereka belum ada yang selesai, setelah dipastikan semuanya selesai dan dapat hasil contekan barulah mereka dengan kompak keluar ruangan secara bersama-sama. SALUT...
Setelah gue dan Rere yang satu ruangan selesai mengerjakan tugas dan kita keluar ruangan, kita pun keruangan sebelah kelas kita untuk melihat apakah Ria dan Fifi sudah selesai. Ternyata Dinda sudah nangkring didepan ruangannya yang dasarnya Dinda satu ruangan dengan Ria dan Fifi.
"Lo udah selesai dari tadi Din?" kata gue yang langsung bertanya saat melihat Dinda duduk ngedeprok dilantai dan sambil membolak-balikkan buku. Sepertinya dia memeriksa apa yang dia kerjakan tadi benar apa tidak.
"Udah dari setengaah jam yang lalu gue keluar," kata Dinda.
"Buset Din, otak lo terbuat dari apa cepet banget nyelesaiin soalnya," kata Rere yang langsung kaget.
"Gampang-gampang itu tadi soal-soalnya," kata Dinda dengan sikap angkuhnya itu.
"Gampang dari hongkong," kata Rere yang langsung melirik kearah gue.
Gue pun tidak terlalu mempedulikan kesombongan Dinda, gue langsung melihat keruangan. Ternyata Ria dan Fifi masih berjuang menyelesaikan soal-soal. Saat gue sedang menunggu mereka berdua tiba-tiba ada yang memegang pundak gue.
"Thanks Can kesekian kalinya buat contekannya," kata Rizky yang memang selalu gak pernah lupa mengucapkan terima kasih.
"Iye," kata gue singkat. Rizky pun berjalan kearah kantin dengan kedua sohib yang selalu nempel kemana pun Rizky pergi. Gue yang entah tanpa sadar terus melihat kearah Rizky pergi.
"Woy, ngapain lo ngeliatin si beruang gitu banget. Mulai suka lo ya sama dia?" kata Rere yang sepertinya memperhatikan gue sedang melihat kearah Rizky.
"Dih... Apaan sih lo. Gue sama dia aja kalo ketemu berantem terus, gimana mau suka," kata gue yang tersadar setelah Rere mengagetkan gue.
"Gue mah ngerasa sebenernya mereka berdua tuh suka, tapi yang satu gak berani buat ngomong yang satu lagi ngejaga perasaan orang lain," kata Dinda yang langsung nyeletuk.
"Kalo lo suka sama Rizky mah bilang aja Ry, gak usah malu. Lagian wajar kan kalo lo suka sama dia, dan dia suka sama lo. Gak ada yang salah kok," kata Rere coba meyakinkan gue.
"Apaan sih lo berdua? Orang gue beneran gak ada perasaan apa-apa sama sekali. Yang ada gue diserang fans-nya dia kalo berani-beraninya suka sama idola sekolah," kata gue yang masih kekeh.
"Kenapa mereka harus nyerang lo? Emangnya lo gak berhak buat suka dan pacaran sama cowok ganteng? Lo kan termasuk cewek cantik Ry, gak ada salahnya sih," kata Rere yang semakin mendesak.
"Udah ah, kalian semua semakin ngaco. Gak usah ngebahas lagi masalah si beruang kutub itu," kata gue yang langsung mengalihkan pembicaraan.
"Tapi lo hebat kalo tiap ketemu Miss selalu diledekin tapi lo berdua gak ada perasaan apa-apa. Kalo gue diposisi lo mungkin gue udah kebawa perasaan gue buat diam-diam naksir Rizky," kata Rere.
"Eh tuh Ria sama Fifi udah keluar. Yuk kita langsung ke kantin," kata gue yang langsung benar-benar mengalihkan pembicaraan. Rere pun hanya senyum meledek melihat gue yang salah tingkah, gue gak tahu kenapa gue bertingkah seperti itu.
Setelah Ria dan Fifi keluar kita pun langsung ke kantin. Di kantin gue ketemu Via yang juga sedang membeli makanan dan minuman. Disana banyak sekali murid-murid yang sedang membeli makanan. Saat gue sedang menunggu giliran untuk membayar tiba-tiba ada cowok yang memanggil dengan panggilan Daeng.
"Woy, Daeng pulang sekolah futsal yuk," kata cowok yang sedang duduk-duduk disekitaran kantin.
"Gak bisa gue. Udah ada janji gue sama yang lain," sahut cowok yang bernama Daeng.
Seketika gue dan Via yang masih berdiri di kantin langsung kompak saling bertatapan. Gue yang pada dasarnya dari awal gak pernah sama sekali tahu yang mana yang namanya Daeng dari awal Mbak Isper bilang ada cowok yang namanya Daeng mau kenalan sama gue waktu itu. Jujur dari waktu gue kasih ijin ke Mbak isper buat kasih nomer gue ke cowok yang namanya Daeng itu sampai sekarang pun cowok itu gak pernah sama sekali SMS gue. Awalnya gue kira dia emang cowok pemalu, mungkin tipe-tipe cowok yang gak berani memulai duluan, tapi kok beneran sampai sekarang dia gak pernah sama sekali SMS gue?
"Ry, itu cowok yang dimaksud sama Mbak Isper waktu itu bukan sih? Kayanya gue inget banget deh namanya Daeng," kata Via yang berbisik didekat gue.
"Gak tahu Vi, kan lo tahu gue emang dari awal gak tahu orangnya yang mana?" kata gue.
__ADS_1
"Terus sampai sekarang dia gak pernah sama sekali SMS lo setelah dia tahu nomer lo?" kata Via.
"Sama sekali gak pernah dia SMS gue Vi," kata gue.
"Terus dia minta nomer lo waktu itu buat apa?" kata Via.
"Mana gue tahu, tipe cowok pemalu kali," kata gue.
"Iya kali ya, tipe-tipe cowok yang gak mau mulai duluan," kata Via yang langsung melirik kearah cowok yang dimaksud. Gue pun ikut melirik kearah cowok itu, dan seketika cowok itu melihat kearah gue dan Via. Gue dan Via langsung memalingkan pandangan kita kearah lain.
"Woy, lo berdua emang gak bosen apa ngobrol berdua terus? Lo kan berangkat sama pulang bareng pasti bisa ngobrol banyak, tapi tetep aja disaat lagi ngantri dikantin lo berdua sempet-sempetnya ngobrol. Emang gak sempet lo berdua ngobrol nanti-nanti," kata Rere yang heran melihat gue dan Via yang selalu asik ngobrol berdua.
"Diem lo ah, lagi julitin orang nih kita berdua," kata Via.
"Julitin siapa lo berdua, gak ngajak-ngajak gue dah," kata Rere.
"Rahasia," Via pun membayar makanan dan minuman yang dibelinya lalu pergi duluan dari kantin.
"Julitin siapa lo Ry? Penasaran gue?" kata Rere.
"Bukan julitin orang, tapi lagi ngomongin orang. Gue ceritain juga lo gak bakalan ngerti," kata gue yang langsung jalan setelah membayar, Rere dan yang lainnya pun ngikutin gue dari belakang.
Setelah jam istirahat selesai kita pun melanjutkan sisa ujian, hanya tinggal 1 mata pelajaran lagi. Lalu pukul 4 sore kita semua mulai selesai. SEtelah memberikan tugas contekan ke yang lain selesai, gue langsung keluar ruangan dan jalan menuju keruangan Via. Disana Via masih berusaha mengerjakan tugasnya. Setelah 10 menitan gue nunggu didepan ruangannya akhirnya Via, Yani, dan Ratu selesai.
"Ry, gue sama anak-anak yang lain pada mau main dulu kerumahnya Sully. Lo mau ikut gue dulu gak?" kata Via.
"Ikut gak ya gue?" kata gue yang masih ragu.
"Iya ikut aja Ry, lagian lo udah kenal ini sama anak-anak dikelas kita," kata Yani yang juga memaksa gue ikut.
"Emang rumahnya Sully dimana?" kata gue.
"Di Perum 4 gak jauh kan," kata Via.
"Ya udah deh gue ikut aja," kata gue yang pasrah.
"Nah gitu dong," kata via.
Setelah semua anak-anak yang pada mau ikut main kerumah Sully pada kumpul kita pun lanjut jalan, seperti biasa kita harus melewati warung keramat. Iya keramat, karena banyak cowok-cowok meresahkan pada kumpul disana.
"Noh ada pujaan hati tuh disana. Lo gak mau lihat?" kata Via setengah berbisik ke gue.
"Hah, lo ngomong sama gue Vi?" kata gue yang kaget.
"Iya sama lo lah masa sama Yani," kata Via.
"Siapa deh yang lo maksud?" kata gue yang masih bingung.
"Si Beruang kutub lo itu," kata Via yang meledek gue.
__ADS_1
"Dih, apaan dah lo. Si Beruang kutub pujaan hati gue? Bisa-bisanya lo ngomong kaya gitu," kata gue yang langsung ngegas.
"Sssssttt, gak usah ngegas. Lo mau si Ratu denger?" kata Via.
"Dih kan lo yang mulai duluan," kata gue.
"Ya udah biasa aja kalo emang gak ada apa-apa mah," kata Via yang meledek.
"Kenapa sih orang-orang hari ini selalu mendesak gue buat ngaku-ngaku tentang perasaan gue ke beruang kutub. Orang gue gak ada apa-apa sama sekali sama dia," kata gue yang sewot.
"Emang siapa aja yang suruh lo ngaku?" kata Via.
"Si Rere sama Dinda tadi pas istirahat ngedesak gue banget buat ngaku. Ngaku apaan coba?" kata gue.
"Berarti yang punya pemikiran itu bukan gue doang," kata Via.
"Pemikiran apa?" kata gue yang bingung.
"Ya sudahlah gak penting," kata Via sambil senyum-senyum.
"Gak jelas lo," kata gue singkat.
"Eh Ry, itu bukannya teman sekelas lo ya? Dia pacaran sama kakak kelas?" kata Ratu.
"Siapa?" kata gue yang masih belum tahu siapa yang dimaksud.
"Lah Ry, itu kan si Daeng kan?"kata Via.
"Iya deh kayanya," kata gue yang masih belum yakin.
"Siapa? Lo kenal sama cowoknya Vi?" kata Ratu.
"Gak kenal gue," kata Via.
"Gak kenal kok bisa tahu namanya," kata Ratu yang masih gak percaya.
"Daeng? Bukannya cowok itu yang...." kata Yani yang kata-katanya belum selesai tapi langsung berhenti karena dicubit Via.
"Yang apa Yan?" kata Ratu.
Via pun melirik kearah Yani yang memberi isyarat agar Yani tidak menceritakan ke Ratu sama sekali,.
"Yang kakak kelas itu maksud gue," kata Yani yang ngeles sebisanya.
"Gue juga tahu dia kakak kelas," kata Ratu. Kita pun melanjutkan jalan kearah tempat angkot pada ngetem. Gue dan Via yang sengaja jalan lambat dan paling terakhir hanya ingin ngobrolin apa yang kita lihat.
"Satu lagi nih Ry kita belajar, jangan langsung menilai orang. KIta kira awalnya dia gak SMS lo karena dia cowok pemalu," kata Via.
"Iya, ternyata dia hanya menjadikan gue pilihan dari salah satu cewek yang lagi dia deketin. Karena sama si Melan gak ditolak makannya dia gak maju kearah gue," kata gue.
__ADS_1
"Dasar cowok ya Ry, sama aja," kata Via yang sambil komat kamit sendiri.