
"Qm hari ini jadi berenang Ry?" nyokap gue pun bertanya ketika melihat gue sudah rapi pagi-pagi sekali.
"Jadi lah Mah, kan buat penilaian olahraga. Duit jajan tambahin ya Mah, kan dari pagi Ryanti berangkat sekolahnya," gue pun senyum-senyum merayu.
"Iya, moh udah Mamah taruh diatas kulkas," kata Nyokap gue.
"Oke, Makasih," kata gue yang langsung mengambil uang.
"Mamah berangkat ya," kata nyokap gue.
"Bapak juga, udah kesiangan," bokap gue pun bergegas siap-siap.
"Oke siap bos. Semangat selalu kerjanya," kata gue dengan penuh semangat.
Nyokap Bokap gue pun akhirnya berangkat, seperti biasa hanya gue yang dirumah sendiri. Adik gue pun sudah berangkat pagi-pagi banget tadi, katanya ada piket bersih-bersih. Gue pun sudah rapi, tinggal menunggu Via datang. Dan tak lama gue nunggu Via pun datang.
"Assalamualaikum," suara Via terdengar.
"Walaikumsalam. Langsung berangkat nih kita?" kata gue yang langsung keluar setelah mendengar salam dari Via.
"Langsung ajalah. Kita kan janjian sama anak-anak, takutnya anak-anak kelamaan nungguin kita bisa ditinggal kita. Lo sama gue kan gak tahu jalan sama sekali, nanti kalo ditinggal mau berangkat sama siapa?" kata Via.
"Oke deh. Tunggu sebentar gue ambil tas gue sama kunci rumah dulu," kata gue yang langsung masuk lagi kedalam.
"Oke, gue tunggu sini aja," kata Via yang berdiri didepan pagar rumah gue.
Gak lama gue pun keluar dan mengunci rumah. Kita pun langsung berangkat, untungnya aja angkot yang bagus gak lama lewatnya. Kita pun langsung naik angkot yang lewat, dan dengan cepat. Setelah hampir setengah jam, akhirnya kita pun sampai ditempat kita janjian dengan anak-anak lainnya. Kita janjian diperempatan dekat dengan sekolah kita, ternyata Fifi, Ria, dan Andi sudah datang terlebih dahulu. Saat kita turun dari angkot mereka pun kegirangan.
"Ih... Kalian lama banget sih, kita udah nungguin lama banget loh," kata Andi dengan lebaynya.
"Belum telat kok kita, tuh lihat masih jam berapa," gue pun menunjukan jam tangan yang gue pakai.
"Iya lagian telat pun wajarlah, rumah kita kan paling ujung," kata Via.
"Asal lo tahu gue yang pertama sampai duluan disini, udah hampir setengah jam gue nungguin kalian," kata Fifi dengan wajah sok kesal.
"Lagian ngapain lo buru-buru rumah lo masih daerah perum ini, masih deket," kata Via.
"Ini yang rumahnya paling deket malah belum keliatan hidungnya juga," kata Ria.
"Si Rere belum sampai? Udah lo SMS belum?" kata gue.
" Udah tapi gak dibales-bales dari tadi," Fifi lun mengeluarkan handphonenya lagi.
"Berarti tinggal nunggu Yani sama Rere ya?" kata Via.
"Tuh Yani," Andi pun menunjuk angkot yang sedang berhenti diseberang jalan.
"Nah berarti tinggal Rere. Lo telvon lagi Fi, telvon terus sampai dia angkat. Jangan bilang belum bangun dia," kata gue.
"Iya belum bangun lagi jangan-jangan," kata Ria.
Fifi sibuk dengan handphone menelvon Rere, tapi tak kunjung diangkat.
"Noh dia dateng juga akhirnya yang ditunggu-tunggu," lata Via dengan nada sedikit keras.
"Lo ngeliat aja Vi, padahal kan tuh bocah masih jauh," kata Yani.
"Kelihatan dari cara jalannya, kaya preman," kata Via.
"Mana lama banget lagi jalannya, kesel gue lama-lama lihat dia jalan gak sampai-sampai," kata Fifi.
"Sabar-sabar Fi, jangan emosi," Andi pun mengelus-elus punggung Fifi.
"Gimana gue gak kesal. Rumah paling deket tapi dateng paling akhir. Gue kan cape nungguinnya," kata Fifi dengan kesalnya.
"Woy lo jalan buruan napa. Lama banget sih," kata Via yang teriak.
__ADS_1
Orang yang diomongin pun langsung berlari.
"Udah pada kumpul?" kata Rere dengan santainya.
"Udah dari tadi, sampai udah item duluan gue sebelum renang," kata Fifi.
"Dih sewot," Rere pun meledek Fifi dengan menyolek dagunya.
"Udah yuk, langsung jalan. Lo tahu kan Re tempatnya dimana?" kata Yani.
"Tahu lah kalo cuma Plaza Sinta mah gue hafal," kata Rere.
"Ya udah naik angkot apa kita?" kata Via.
"Nih naik angkot R11, yuk," Rere pun naik duluan, dan langsung disusul kita dari belakang.
Gak sampai 15 menit kita pun sampai ditempat yang dituju, kita pun turun dari angkot.
"Dimana Re?" kata Via.
"Itu dibelakang Plaza Sinta kolam renangnya," kata Rere yang langsung jalan duluan didepan kita.
"Ini tuh kaya mall gitu ya Re?" kata Via.
"Iya Plaza, disini tas nya murah tahu. Masa tas harganya 15 ribu," kata Rere.
"15 Ribu mah mahal," kata Via.
"Terus lo mau berapa? Lima ribu?" kata Rere dengan kesalnya.
Setelah melewati Plaza ternyata benar dibelakangnya ada wahana kolam renang. Disana sudah banyak anak-anak lain yang sudah datang, untuk kelas 11 hari ini memang semuanya praktek olahraga renang. Disamakan jadwalnya oleh guru olahraga supaya sekalin jalan katanya, hehehe. Jadi untuk kelas 12 IPA, 12 IPS-1, IPS-2 semuanya ikut praktek renang hari ini. Semuanya masih berkumpul didepan pintu masuk, karena Pak Udin selaku guru olahraga kita masih sibuk mangabsen anak-anak yang sudah datang.
Gue pun celingak celinguk mencari seseorang.
"Nyariin siapa lo Ry celingak celinguk gitu?" kata Via.
"Apaan sih, orang gue nyariin Dinda. Gue kan kasihan kalo dia sendirian," gue pun ngeles sebisa gue.
"Halah ngeles aja lo, lagian ngapain lo nyariin Dinda. Dia mah udah terbiasa hidup sendiri, ada gak ada kita juga dia bisa ngapa-ngapain sendiri," kata Rere.
"Iya dia mah udah biasa sendirian, gak usah dikhawatirin," Fifi pun ikut komen.
"Tuh Beruang Kutubnya si Ryanti baru datang," kata Yani dengan polosnya menunjuk kearah Rizky yang baru datang.
"Iya gak usah lo tunjuk-tunjuk juga Yan," kata gue yang langsung melotot kearah Yani.
"Hahaha... Iya lupa gue. Maaf maaf," Yani pun memeluk gue.
"Widih, ganteng juga lo Ky kalo pakai baju bebas gitu. Pakai baju seragam aja teman gue klepek-klepek gimana kalo pakai baju bebas gini. Ganteng ya Rizky Ry?" kata Rere yang langsung meledek.
"Biasa aja," gue menjawab singkat.
"Lihat dulu dong yang benar jangan malingin muka gitu," kata Ryan ikut meledek.
"Apaan sih lo Yan? Gak usah ikut-ikutan deh lo," kata gue yang langsung melotot kearah Ryan, tanpa melewatkan kesempatan gue pun melirik kearah Rizky yang dari tadi belum berkomentar apa-apa.
"Ngapain lo lirik-lirik gue? Ganteng kan gue?" Rizky pun langsung berkomentar setelah gue meliriknya sebentar.
Gue yang kaget karena ketahuan meliriknya langsung gelagapan.
"Masalah kalo gie lirik lo? Siapa suruh lo berdiri disamping Ryan gitu," kata gue dengan sedikit gemetar.
"Dih, kan emang gue dari tadi jalan barengan sama Ryan. Kenapa jadi gue yang salah?" kata Rizky.
"Udah sana lo kumpul sama habitat lo tuh, udah diabswn dari tadi sama Pak Udin," kata gue.
"Gue kira dia galak karena pengaruh setan sekolahan, ternyata galak beneran," kata Rizky sambil berbisik ke Ryan.
__ADS_1
"Ngomong apaan lo? Gue dengar ya," gue pun teriak sejadinya. Mereka berdua pun langsung berlari dengan tertawa setelah puas meledek gue.
Gue pun menatap tajam kearah lelaki yang baru saja ada dihadapan gue. Sumpah beneran ganteng banget nih cowok, gantengnya naik berkali-kali lipat kalo pakai baju bebas gitu.
"Silahkan lihatin sepuasnya sampai lo bosen," Rere pun masih meledek.
"Gue kok gemes ya ngeliatin Ryanti sama Rizky, mereka tuh sebenernya saling suka tapi kok gak ada yang mau ngaku. Yang ini gengsian, yang itu gak ngaku-ngaku," kata Ria.
"Kenapa jadi lo yang gemes Ri?" kata Via.
"Gue kira tampang ganteng bisa dengan gampangnya ngungkapin perasaan ke cewe ternyata cemen," kata Rere.
"Mungkin dia selama ini punya cewek, bukan dia yang nembak duluan kali. Kan dia ganteng tanpa dia yang nembak dia bisa dapet cewek, soalnya ceweknya yang nembak duluan. Si Rizky-nya mah tinggal ngomong iya apa gak," kata Fifi.
"Kok tumben lo pinter Fi? Emang lo pernah pacaran?" kata Andi.
"Gak pernah, kata emak gue masih kecil belum boleh pacar-pacaran," kata Fifi dengan polosnya.
"Ah tetap aja gue bilang si Rizky tuh cemen," kata Rere.
"Udah udah ribut aja lo sama perasaan orang, biarin aja sih mereka berdua yang jalanin. Udah dibolehin masuk tuh, yuk masuk," Via pun langsung menarik tangan gue.
Kita pun mengantri masuk didepan loket, setelah bisa masuk kita pun menuju ruang ganti. Setelah semuanya sudah siap dan selesai berganti pakaian, kita dikumpulkan dipunggir kolam sesuai kelasnya masing-masing.
"Hari ini kita akan praktek olahraga berenang. Tadi sudah saya absen dan hanya beberapa saja yang tidak ikut praktek ini, yang tidak ikut praktek ini maka tidak dapat nilai sama sekali untuk pelajaran ini. Untuk penilaiannya saya tes satu persatu setiap murid. Untuk pertama saya mulai dari kelas IPA terlebih dahulu setelah itu baru IPS-1 dan IPS-2. Selama menunggu kalian boleh bebas melakukan apa pun, mau duduk-duduk santai saja silahkan, mau berenang pun silahkan, mau makan pun silahkan. Dari sini kalian sudah mengerti ya?" Pak Udin pun menjelaskan.
"Mengerti Pak," kita pun seremoak menjawab.
"Oke silahkan yang lainnya bebas untuk pertama anak IPA silahkan ke kolam renang sebelah sana," Pak Udin pun berjalan dan diikuti oleh kita.
Kita pun mengikuti praktek sampai selesai, setelah gue dan yang lainnya selesai kita pun bebas. Gue dan sahabat-sahabat gue lebih memilih untuk santai-santai dipinggir kolam hanya untuk sekedar mengobrol atau pun melihat mereka yang sedang asik berenang.
Gak menghilangkan kesempatan disaat semuanya sedang asik mengobrol gue malah asik memandangi cowok idaman gue. Dari kejauhan gue ngelihat banyak banget yang caper ke Rizky, mereka kaya sengaja nemplok ke Rizky mentang-mentang tuh cowok lagi telanjang dada. Gue lihat Ana yang dulu sering banget mohon-mohon ke gue buat deketin dia sama Rizky, tapi sekarang dia dengan gampangnya berenang bareng sambil nemplok kebadannya Rizky yang putih dan kekar. Dengan wajah cemberut sambil memandangi mereka cewek-cewek yang super genit ke Rizky dalam hati gue bersumpah "Awas aja lo ya semua kalo gue bisa dapetin Rizky gak akan gue biarin lo pada bisa deket-deket lagi sama Rizky".
"Jeles lo ya ngeliat Ana nemplok ke Beruang mulu?" kata Rere yang mengagetkan.
"Please jangan bilang gak, lo tuh ketahuan banget Ry kalo lagi nahan emosi," kata Ria.
"Hah, emang iya?" kata gue dengan polosnya.
"Lagi pada kecentilan banget ya tuh perempuan-perempuan, mereka sengaja kali ya nemplok-nemplok ke badannya Rizky. Mentang-mentang Rizky lagi gak pakai baju," kata Rere.
"Iya lagian si Beruang juga ngapain sih gak pakai baju, mengundang nafsu para cewek-cewek aja," kata gue dengan kesal.
Mereka pun saling melirik.
"Keceplosan ya, ketahuan deh kalo beneran lagi jeles," kata Yani.
Gue pun langsung salah tingkah.
"Eh, lo pada gak merhatiin apa itu kok si Ana kaya gak pakai ****** ***** ya? Nyeplak banget tuh barangnya dia yang bawah," kata Via.
"Hah, emang iya Vi? Gue gak pakai kacamata lagi jadi gak kelihatan," kata Rere yang penasaran.
"Dih iya Vi, kayanya emang gak pakai ****** ***** deh. Jadi langsung pakai celana renang doang," kata Ria.
"Sengaja kali ya, biar si Rizky nafsu sama dia," kata Rere.
Gue pun langsung melirik kearah Rere.
"Udah-udah gak boleh ngomongin orang gitu ah," kata Yani.
"Iya nih, ngomongin porno lagi. Double deh dosa gue walaupun cuma dengerin," kata Fifi.
"Tahu nih, lo pada gak lihat gue? Masa gue harus dengerin lo pada ngomongin porno," kata Andi.
Lalu tiba-tiba cowok yang sedari tadi menikmati perannya sebagai cowok playboy tiba-tiba naik ketepi kolam. Mendadak si Rere langsung mendekati Rizky yang sedang duduk sendiarian. Entah apa yang sedang mereka bicarakan, tapi kok sepertinya mereka asik banget ngobrolnya. Bahkan sampai tertawa terbahak-bahak, kok hati gue sakit banget ya ngelihat teman gue sendiri bisa sedekat itu sama Rizky. Hal yang paling sulit gue lakuin saat ini malah menjadi hal yang tergampang dilakuin sama teman gue sendiri, yaitu hanya sekedar ingin mengobrol sama dia. Nyesek banget nih hati melihat Rere bisa tertawa lepas, apa ini ya yang Rere rasain ketika tahu cowok yang dia sayang justru malah suka sama gue. Terlintas ada pikiran jelek tentang Rere. Apa Rere diam-diam mau balas dendam ke gue? Apa Rere ingin kasih gue pelajaran gimana rasanya cowok yang disayang dideketin teman sendiri. Entah, apa pikiran gue saat ini benar atau tidak tapi gue cuma ingin satu "Menangis Sekencang-kencangnya".
__ADS_1