CINTA ITU APA

CINTA ITU APA
TANPA DISADARI


__ADS_3

Sudah hari Senin lagi... Perasaan baru kemarin ya gue libur sekolah tapi tiba-tiba udah harus memulai aktivitas lagi dihari Senin. Hari dari semua hari yang bisa membuat kita males seharian. Ya... Mau gimana lagi ya? Mau gak mau, suka gak suka namanya hidup tetap harus dijalani walaupun malasnya kaya gimana pun.


Walaupun hari ini adalah hari termalas sepanjang hari, tapi tetap aja hari ini hari tenang disekolah. Hari ini belum dimulai pelajaran karena minggu kemarin kita baru menyelesaikan ujian kita, dan Minggu ini sekolah cuma mau ngadain remedial. Apa tuh Remedial? Remedial itu kesempatan ujian ulangan kembali bagi siswa yang ujian pertamanya mendapatkan nilai yang kurang. Dan kenapa gue bilang minggu ini hari paling tenang? Gak tahu kenapa gue yakin aja kalo gue gak bakalan kena remedial. He-he-he pede banget ya gue. Kalo pun gue kena remedial gue gak perlu takut gak ada temannya, kan udah pada tahu sendiri satu ruangan semuanya nyonteknya sama gue, kalo pun gue kena remedial pasti satu ruangan gue pun juga bakalan kena. Ha-Ha-Ha...


"Ry, takut gue kalo diremedial nih," kata Via yang memang sedikit gugup saat berangkat sekolah.


"Ya lo yakin gak kemarin nyelesaiin soalnya bener?" kata gue.


"Yakin gak yakin sih gue Ry," kata Via yang sedikit nyengir.


"Kalo yakin gak yakin gitu ya sudah tamat lah riwayatmu nak," kata gue meledek.


"Ih, lo mah bikin gue takut. Emangnya lo yakin udah nyelesaiin tugas lo dengan benar," kata Via.


"Sangat yakin sekali," kata gue dengan pedenya. Padahal dalem hati bilang (Please jangan terlalu pede, nanti kalo gak sesuai dalam pikiran lo malu banget lo nanti).


"Gue yakin, tapi kaya masih takut aja gitu," kata Via.


"Hai, Ryanti ya?" kata cowok yang tiba-tiba menyapa gue sambil berjalan.


"Iya," gue jawab dengan singkat.


"Cantik banget hari ini," kata cowok itu dengan senyum-senyum. Seketika gue dan Via menunjukkan wajah yang ilfeel, bukannya gue sombong, tapi gue beneran sama sekali gak kenal sama nih orang tapi kok bisa-bisanya dia bilang kaya gitu. Setelah mengatakan omongan yang bikin gue ilfeel cowok itu langsung jalan duluan, gue dan Via hanya bisa bertatapan dengan wajah aneh.


"Vi, siapa sih itu?" kata gue dengan wajah aneh.


"Gue sih gak tahu namanya tapi gue tahu dia satu angkatan sama kita. Kelas 10-2, teman sekelasnya si Ana," kata via.


"Horor banget gue ngeliat orang kaya gitu," kata gue yang masih terheran-heran.


"Kalo gue bukannya horor, tapi geli sendiri kok ada muka jelek kaya gitu tapi sok ganteng," kata Via yang memang selalu ceplas ceplos.


"Hush... Lo kalo ngomong kadang bener," kata gue.

__ADS_1


"Ha-ha-ha," kita berdua pun kompak tertawa.


Setelah sampai dibawah tangga yang tepatnya didepan kelasnya Musa, gue pun seperti biasa menundukkan kepala gue, soalnya gue beneran males banget kalo harus ketemu bahkan ngeliat Musa lagi. Ya... walaupun dalam hal ini gue bukan korban yang tersakiti, tapi kaya males aja gitu. Tapi, tiba-tiba justru malah ada yang memanggil gue entah siapa.


"Ryanti," kata cowok yang sama sekali gue gak kenal. Gue pun menoleh kearah cowok itu, gue emang gak kenal sama cowok itu tapi gue tahu banget kalo dia pasti temannya Musa, soalnya pas gue nengok tiba-tiba aja gitu Musa ada disamping temannya. Padahal, walaupun gue jalan sambil menunduk tapi gue pastiin tadi gak ada sosok Musa berdiri disitu. Setelah gue melihat ada sosok Musa disebelah tuh cowok gue pun langsung memalingkan muka gue dan lanjut jalan keatas.


"Ry, gue jadi heran kenapa cowok-cowok disekolahan ini jadi banyak yang genit-genit sih sama lo," kata Via yang masih jalan disamping gue.


"Gak tahu gue juga heran. Udah ya kita harus berpisah, bye," kata gue yang menyadari kita sudah berada diatas dan harus pisah. Namun setelah gue melewati kelas 10-2 tiba-tiba cowok yang tadi menyapa gue didepan sekolah sedang berdiri didepan pintu.


"Ry, boleh minta nomer handphonenya gak?" kata cowok itu.


Gue pun hanya melirik dan melanjutkan langkah kaki gue menuju kelas.


"Cie... Yang minta nomer tapi dicuekin," kata cowok yang juga sedang berdiri bersama cowok itu.


"Tenang aja, gue tetep bakalan bisa dapet nomernya kok," kata cowok itu penuh kepedean.


"Najis... Sok ganteng banget lo Den. Muka pas-pasan juga berharap dapet cewek," kata temannya. Gue yang sudah berdiri tepat didepan kelas pun sempet menoleh lagi kearah cowok itu, dan dalam hati berkata (Nih Cowok Kayanya Mentalnya Sakit Deh, Sampai Bisa Pede Kaya Gitu).


"Mana? Udah ada toh," kata gue yang langsung berdiri tepat dipintu kelas. Gue pun langsung ngecek satu-satu nama yang ada dipengumuman itu, dan ternyata ALHAMDULILAH gue gak kena remedial di pelajaran matematika. Gue pun lega dan langsung ikut nimbrung sama teman kelas gue yang lain.


"Lo kena remedial Ka?" kata gue yang langsung menanyakan ke Eka, karena sepintas tadi gue baca nama Eka dan Melan terpampang dipengumuman.


"Iya nih gara-gara gue gak sekelas sama lo jadi diremed gue. Kenapa sih lo gak satu ruangan sama gue? Kan gue jadi gak punya bekingan," kata Eka yang ngoceh-ngoceh.


"Iya nih, yang sekelas sama Ryanti enak gak ada yang diremed, dapet contekan semua dari Ryanti," kata Melan.


"Kan lo bisa nyontek sama si Singa," kata Rizky yang meledek.


"Boro-boro kasih contekan, nengok aja gak. Gue mah ngeri lehernya sakit nunduk mulu," kata Eka yang meledek.


"Apaan lo pada ngomongin gue?" kata Dinda yang baru datang.

__ADS_1


"Dih, siapa juga yang ngomongin lo. Emang lo ngerasa," kata Eka yang menjawab dengan sedikit songong.


"Woy lo jadi orang jangan pelit-pelit apa, nanti kuburannya sempit. Ketimbang kasih contekan aja pelit banget," kata Degul yang langsung berani-beraninya protes ke Dinda.


"Sorry ya, gue capek-capek mikir terus hasil gue mikir harus dikasih ke lo orang pada. Ogah banget," kata Dinda dengan tampang sinis.


"Pantesan orang gak mau temenan sama lo, sombong banget," kata Melan.


"Dasar si Pelit," kata Rizky babon.


Dan setelah perdebatan yang lumayan sengit, tiba-tiba guru pengawas masuk ruangan.


"Oke yang merasa namanya ada dipengumuman remedial silahkan duduk 1 meja 1 orang, dan bagi yang tidak kena remedial silahkan menunggu diluar kelas," kata guru agama.


Lalu kita yang merasa tidak kena remedial pun keluar kelas dengan sangat bangga. Memang setelah diamati hampir semua yang gak seruangan sama gue kena remedial, dan yang seruangan sama gue semuanya gak kena remedial sama sekali. Mereka pun dengan bangganya keluar ruangan, gue heran kok pada bisa bangga hasil contekan. Hadeuh...


Kita pun duduk didepan kelas sambil menunggu anak-anak yang masih ujian didalam kelas.


"Hari ini pelajaran apa aja yang bakalan di umumin," kata Rio.


"Katanya sih Matematika sama Fisika," kata Dinda yang menyahut.


"Mampus... Itung-itungan semua nih hari," kata Ryan.


"Ngapain takut, kan kita mah udah nyontek pada pawangnya. Gak bakalan kita kena remedial," kata Anwar.


"Woy, gue kan manusia bukan robot. Lo kira apa yang gue pikirin hasilnya bakalan bener semua. Lo kan gak tahu gue jawabnya bener-bener dari otak gue apa main nembak aja kan?" kata gue.


"Berarti ada kemungkinan lo dan kita bakalan diremed?" kata Anwar.


"Ya iyalah, gue aja sumbernya gak yakin. Lo pada malah yakin banget," kata gue.


"Tenang kalo kita diremed kita nyonteknya ke Ryanti aja lagi," kata Rizky dengan gampangnya.

__ADS_1


"Lo bisa gak sih usaha mikir sendiri dulu gitu daripada langsung mikir mau nyontek ke gue," kata gue yang langsung emosi.


"Gue hanya percaya sama lo Can dalam hidup gue ini," kata Rizky dengan wajah yang sedikit merayu. Sontak semua anak-anak yang sedang kumpul langsung menyoraki kami berdua. Gue hanya bisa diam, entah kenapa gue merasa malu banget, dan ngerasa nih muka tuh panas banget, mungkin kalo gue bisa lihat muka gue sendiri pasti bakalan merah banget nih muka. Please jangan bilang gue beneran suka sama nih cowok ngeselin.


__ADS_2