CINTA ITU APA

CINTA ITU APA
Yang udah Ya Udah Lah Ya...


__ADS_3

"Ry, si Dwi belum juga ngabarin lo?" kata Via yang tiba-tiba saja menanyakan masalah Dwi.


"Kenapa emangnya Vi? Gak ada kabar sama sekali tuh, mungkin bener perkiraan gue dia gak suka sama kepribadian gue. Ya udahlah gue juga gak mikirin apa-apa lagi tentang dia, hak dia lah kalo emang mau hilang gitu aja," kata gue yang kaget tiba-tiba Via bertanya, karena memang sedari tadi gue hanya diam didalam angkot.


"Gak kenapa-napa Ry, gue jadi kesel aja gegara kejadian lo gue jadi ikutan gak percaya sama cowok. Dwi yang kelihatan pas ketemu sama lo fine-fine aja ternyata gak bertanggung jawab ngilang gitu aja tanpa kabar, alesannya basi banget lagi sok pengen ngurusin tugas. Terus si Musa yang kelihatannya kalem, baik diawal ternyata gampang banget ngelupain lo gitu aja, baru juga ditolak berapa hari besoknya udah nempel sama cewek lain. Untung aja lo beneran gak jadi sama mereka Ry," kata Via yang kesal.


"Ya udah biarin aja Vi, dari mereka kita sebagai cewek harus belajar hati-hati walaupun cowok itu baik belum tentu mereka tulus," kata gue yang sebenarnya sama sekali gak ngerasa kesal. Lagian juga kan awalnya gue ngeladenin mereka karena memang gue mau menghilangkan kecurigaan Rere, supaya dia gak beranggapan gue bakalan ngerebut Bang Sur pujaan hatinya dia. Jadi ya... gue gak ambil hati banget.


"Iya jadi gue yang kesel Ry. Gue sekarang malah jadi was-was sama Konde. Gue mikir nanti kalo Konde putus dari gue gampang ngelupain gue gak ya?" kata Via yang langsung berpikir macam-macam.


"Husss... jangan gitu juga Vi. Kita emang perlu was-was tapi jangan terlalu berpikiran negatif kesemua cowok. Belum tentu kan cowok lo sama kaya Dwi sama Musa," kata gue yang coba merubah pikiran Via.


"Iya Ry. Lagian ya udah lah ya ngapain lo juga harus mikirin cowok-cowok yang gak berguna itu. Lo kan awalnya deketin mereka juga karena Rere, sekarang Rere udah baik-baik aja sama lo ya udah apalagi ya yang harus dipusingin," kata Via yang sepemikiran sama gue.


"Nah itu pikiran lo sama kaya gue. Ya udah nih ongkosnya, tuh bentar lagi kita sampai," kata gue yang langsung memberikan uang dua ribuan ke Via.


"Bang, sekolahan kiri ya," kata Via. Angkot pun seketika berhenti tepat didepan gang sekolah. Gue dan Via lalu turun, setelah gue jalan berapa langkah dari tempat gue turun angkot tetiba saja ada suara yang belakangan ini banget terdengar ditelinga gue.


"Can."


Seketika gue pun menengok.

__ADS_1


"Apaan," kata gue yang selalu menjawab ketus kalo orang ini memanggil gue.


"Galak banget sih lo kalo gue yang manggil," Rizky pun sedikit kesal.


"Iyalah mana ada orang yang gak marah kalo bukan namanya yang dipanggil," kata gue yang sebenarnya bukan karena itu alasan gue selalu menjawab ketus.


"Ha-ha-ha. Bodo amat gue tetep bakalan manggil lo itu," kata Rizky yang sedikit tertawa.


"Ya udah gue juga bakalan galak ke lo sampai lo manggil nama asli gue," kata gue.


"It's okay," Rizky pun tidak masalah.


"Terus tadi ngapain lo manggil-manggil gue? Cuma mau ngajakin ribut?" kata gue.


"Buat apaan? Gak lah, lo aja gak pernah kasih nomer lo waktu tiap gue minta nomer lo," kata gue yang membalas.


"Lah lo mah kan minta nomer gue buat lo kasih ke temen lo yang gak jelas itu," kata Rizky.


"Terus lo minta nomer gue buat apaan? Gak mungkin gak buat apa-apa?" kata gue.


"Besok kan kita udah mulai semesteran nih, jadi biar besok gue nyontek ke lo-nya gampang gue minta nomer lo. Jadi kita SMS-an aja," kata Rizky cengar cengir tanpa rasa bersalah.

__ADS_1


"Najis... ada udang dibalik batu," kata gue.


"Yah terus kalo bukan karena contekan gue minta nomer lo buat apa? Emang lo mau SMS-an sama gue tiap malem?" kata Rizky menggoda.


"Ogah, kurang kerjaan," kata gue.


"Ya udah mana nomer lo. Buruan nanti keburu gue lupa besok gue gak bisa nyontek ke lo kan," kata Rizky.


"Niat banget sih lo mau nyontek aja," kata gue.


"Tiba-tiba terfikirkan dijalan tadi. He-he-he," Rizky pun senyum-senyum.


"085882507168," kata gue yang langsung menyebutkan nomer.


"M3 ya nomer lo? Ya mahal dong gue SMS lo," kata Rizky.


"Ya kan lo yang mau nyontek harus modal lah. Udah mau nyontek gak modal," kata gue yang langsung berjalan diikuti Via yang sedari tadi hanya diam saja melihat kita berdua berselisih.


"Ry, gue kok takut lo bakalan suka ya sama Rizky. Gue kaya ngerasa dia selalu ngajak lo berantem karena sengaja pengen ngobrol sama lo," kata Via mendadak berbisik.


"Gak lah Vi. Walaupun gue ngelihat dia cuma cowok oon, tapi gue akuin dia punya tampang ganteng. Dengan kegantengannya itu dia bisa ngedapetin cewek yang cantik pula, mana mungkin dia malah sengaja deket sama gue," kata gue mempertegas kekhawatiran Via.

__ADS_1


"Ya perasaan gue aja gitu gak enak. Takut lo bakalan patah hati kalo sama dia Ry," kata Via.


"Udah lo tenang aja. Gak bakalan terjadi apa-apa antara gue dan Rizky," kata gue. Gue dan Via pun jalan masuk kedalam sekolah. Didalam sekolah sudah ramai. Gue memang gak terlalu kesal, marah, ataupun dendam masalah Musa. Tapi, entah kenapa gue jadi males aja gitu kalo harus tiap mau naik tangga ngelewatin kelasnya dia dulu. Gak kesal, gak marah, gak dendam, tapi jadi males kalo harus ketemu sama dia lagi. Jadi setiap gue mau naik keatas dan harus ngelewatin kelas dia, gue selalu nunduk berharap dia gak ada didepan kelasnya. Jadi udah dua tempat yang paling gue hindari sekarang, pertama warung tempat cowok-cowok pada nongkrong dan sekarang yang kedua kelasnya Musa. Dua tempat ini sekarang tempat paling angker.


__ADS_2