CINTA ITU APA

CINTA ITU APA
Lagi Dan Lagi Via Mengulangi


__ADS_3

TIT... TUT... TIT.... TUT (Handphone gue pun berbunyi, tanda ada SMS masuk)


Gue pun langsung membuka SMS yang masuk.


(Ry, nanti lo jangan berangkat duluan ya! Gue mau jelasin masalah kemarin)


(Iya)


(Oke)


Gue pun langsung melempar handphone gue kekasur. Sudah gue duga Via bakalan cerita masalah kemarin yang gue lihat, saat Via ternyata berangkat bareng si supir angkot nyebelin itu. Sebenarnya pengen banget gue langsung nanya saat itu juga, tapi gue gak enak karena kemarin ada 3 kunyuk yang melihat juga. Dan mau nanya saat sekolah pun gak enak sama yang lain, karena masalah Via dulu punya cowok supir angkot juga kan yang tahu cuma gue, sahabat-sahabat gue yang lain belum ada yang tahu sama sekali. Pulang sekolah pun ternyata Via pulang gak bareng sama gue, karena ternyata dia dijemput sama supir kunyuk itu. Jadi, gue yakin banget kalo sekarang Via bakalan cerita ke gue.


Setelah gue rapi siap-siap berangkat kesekolah gak lama Via pun datang.


"Assalamualaikum," terdengar suara Via.


"Walaikumsalam," gue pun langsung mengunci pintu dan keluar.


Dari mulai gue keluar rumah sampai mau ketempat kita nunggu angkot gue dan Via hanya diam tanpa ada yang membuka omongan sama sekali. Dan setelah bertahan untuk gak berbicara duluan akhirnya Via-lah yang memulai omongan duluan.


"Beb, masalah kemarin yang lo lihat. Sorry gue gak ngomong sama lo, gue kan sebelumnya belum bisa ngomong ke lo karena gue tahu lo bakalan gak setuju dan bakalan marah banget makannya gue nunggu waktu yang cocok buat ngomong sama lo. Tapi, ternyata belum gue ngomong lo udah lihat duluan," kata Via yang menjelaskan.


"Gak bisa ngomong masalah apa? Masalah lo jadian sama tuh supir kunyuk?" kata gue yang sedikit sensi.


"Iya," Via punmenjawab dengan sedikit menunduk.


"Terus jadi benar lo jadian sama dia? Vi, emang lo gak bisa dapetin yang lebih dari dia apa? Lo cantik, lo juga pinter Vi. Lo bisa dapet yang lebih dari dia, lebih cakep, lebih pinter, lebih bagus masa depannya. Kenapa sih Vi lo ngulang lagi pacaran sama supir angkot?" kata gue yang langsung ngegas.


"Gimana ya Ry, gue nyaman soalnya sama dia," kata Via yang masih belum berani menatap kearah gue.


"Rasanya nyaman sama cowok kaya gimana sih? Arti nyaman yang sebenarnya tuh apa sih? Gue belum pernah ngerasain perasaan yang lo bilang nyaman ke cowok kaya gimana jadi gue nanya sekarang sama lo. Emangnya perasaan nyaman itu bisa bikin orang bego ya? Gak bisa bedain cowok yang bagus buat masa depan lo apa gak?" kata gue yang masih ngegas.


"Gue sih gak bisa ngejelasin apapun yang lo tanya Ry, nanti juga kalo lo udah nemuin orang yang bisa bikin lo nyaman lo bakalan tahu gimana rasanya nyaman itu. Tapi disini gue cuma bisa bilang maaf gak bisa ngikutin saran lo. Dan maaf gue tetap harus ngelanjutin hubungan yang udah gue mulai," kata Via.

__ADS_1


"Tapi firasat gue tentang nih orang gak enak Vi," kata gue yang masih mengingatkan.


"Mungkin perasaan lo doang kali Ry. Tenang aja lo gak usah khawatir, gue bisa jaga diri kok," kata Via yang masih menenangkan gue.


"Tapi kalo lo kenapa-napa lo janji harus cerita sama gue ya," kata gue.


"Iya gue janji. Dan gue minta lo sedikit akur ya sama cowok gue yang sekarang," kata Via yang langsung memegang tangan gue.


"Gak janji kalo itu mah," gue pun menjawab.


"Yah... Bebeb mah," Via pun berkata manja.


"Iya gak janji lah gue tergantung cowok lo itu. Kan lo tahu sendiri selama ini yang mulai bikin emosi duluan mulu siapa?" kata gue dengan sedikit memasang wajah songong.


"Iya, nanti gue bilang juga sama cowok gue kalo ada lo jangan bikin lo kesel terus," kata Via.


"Please deh Vi lo kalo ngomong gak usah cowok gue gitu. Gue tahu sekarang lo sama cowok buluk itu udah pacaran tapi jijik gue dengernya," gue pun kembali memasang wajah jijik.


"Ya terus gue ngomongnya apa?" kata Via bingung.


"Iya deh iya," kata Via yang pasrah.


"Vi, please jangan bilang ini kita berangkat naik angkotnya dia," kata gue.


"Hehehe, iya beb. Gak apa-apa kan?" kata Via yang cengar cengir.


"Fix hari ini hidup gue berantakan," kata gue yang langsung ngedumel sendiri.


"Yah... Bebeb jangan gitulah. Sekalian biar lo sama dia bisa akrab jadi kalo ketemu gak perlu berantem-berantem terus," kata Via.


"Sejak kapan sih gue gak pernah berantem kalo ketemu sama cowok lo yang buluk itu. Please ya Vi udah bagus lo ngincer si Jamal yang bagusan, gue kira lo tiba-tiba berubah pikiran karena ada yang nemuin lebih bagus udari si Jamal, ternyata lebih jelek dari si Jamal," gue pun sepertinya masih belum rela kalo teman gue jadian sama supir buluk itu.


"Percuma bagus beb, kalo gak bisa nerima kita dan terpaksa mendingan sama yang jelek tapi bisa meratukan kita," kata Via.

__ADS_1


"Lo diratuin sama cowok lo yang sekarang dengan cara apa?" kata gue yang mulai nyolot lagi.


"Ya sekarang mah baru gue aja yang ngerasain orang lain belum tahu kalo gue nyaman dan bahagia," kata Via.


"Terserah lo deh," gue pun menjawab dengan kesal.


"Eh, tuh dia mobil si Dindin," kata Via yang menunjuk kearah angkot yang mulai terlihat dari kejauhan.


"Ngomongnya angkot bukan mobil, istilah mobil kebagusan," kata gue dengan sensi.


"Bebeb mah," Via pun memasang wajah cemberut.


Setelah angkot berhenti tepat didepan kita dan mendengar suara cemprengnya tuh supir angkot yang memanggil Via dengan sebutan "YANK" gue pun langsung naik.


"Ry, lo gak didepan aja sama cewek gue," kata tuh supir.


"Gak perlu gue dibelakang aja lebih nyaman. Dan satu lagi jangan cuma gara-gara lo udah jadian sama teman gue lo bisa sok-sok an akrab sama gue. Lo manggil gue apa tadi? Ry? Emang lo teman gue sampai seakrab itu manggil nama gue," kata gue yang langsung nyerocos gak karuan.


"Buset, galak banget sih teman lo yank. Gue ngomongnya sebait dia jawabnya berbait-bait. Ndre, hati-hati lo duduk dibelakang sama dia. Salah dikit langsung dibunuh lo," Dindin pun memperingatkan temannya yang duduk tepat dibalakang dia, dan Via pun duduk disebelah didepan.


Via dan temannya tuh supir pun hanya memandangi gue dan Dindin yang selalu gak akur saat bertemu. Selama perjalanan gue hanya menghadap kebelakang jalan, gue gak mau melihat kedepan karena gue gak mau tuh supir buluk mulai nyari masalah sama gue.


Setelah setengah jam perjalanan akhirnya kita pun sampai, karena Via duduk didepan dan dia naik angkot cowoknya jadi kemungkinan dia gak bakalan bayar ongkos. Gue pun udah ancang-ancang kalo nih supir buluk gak mau dibayar, gue pun langsung menaruh tuh duit didasbor sebelum Via turun dari angkot. Karena kalo Via sudah turun pasti tuh angkot langsung gas tanpa mau dibayar.


"Ry, tungguin gue dong," kata Via yang tertinggal dibelakang.


"Makannya buruan gak usah kelamaan pamitannya. Udah kaya mau pisah lama aja, palingan nanti sore juga lo bakalan dijemput lagi sama dia," kata gue yang kesal.


"Hehehe," Via pun hanya cengar cengir gak jelas.


"Nanti kalo anak-anak yang lain bahkan satu sekolahan tahu lo sendiri ya yang jelasin ke mereka. Kalo ada yang tanya ke gue langsung gue lemparin ke lo," kata gue.


"Oke siap bos," Via pun menyetujui.

__ADS_1


Gue pun hanya melirik kearah Via dengan pikiran semoga teman gue gak kenapa-napa, semoga memang ini yang bikin dia bahagia dan senang, walaupun dalam hati gue punya firasat gak enak sama cowoknya yang ini.


__ADS_2