CINTA Kandas Di Tengah Perjodohan

CINTA Kandas Di Tengah Perjodohan
10. Patah Hati!


__ADS_3

Tuan Kenan tidak langsung ke Jakarta. Ia ingin mengetahui penyebab Kiran bisa di bawa ke Jakarta oleh tuan Herland.


Ia ingin bertemu dengan Agam dan juga bibi Ina yang sangat mengetahui permasalahan yang saat ini sedang dihadapi Kiran.


Agam yang sedang menunggu bosnya di kediaman Kiran, nampak terlihat lesu karena rencana mereka untuk memberikan surprise pada bosnya Kenan malah gagal total.


Kenan menyembunyikan klakson mobilnya begitu tiba di rumah Kiran. Agam membuka pintu pagar bambu itu untuk bos-nya.


"Apa yang terjadi Agam? Mengapa saya tidak tahu kalau kalian bertiga merencanakan untuk membawa Kiran ke rumah kaca untuk memberikan kejutan di hari ulangtahun ku?"


Tanya Kenan dengan wajah yang sudah terlihat tidak bersahabat.


"Maafkan kami Tuan! Ini semua permintaan nona Kiran. Ia sengaja merahasiakan surprise ini hanya untuk menyenangkan anda.


Ia sudah siap menikah dengan anda Tuan, dalam waktu dekat ini walaupun harus berlangsung dalam pernikahan sederhana yang jelas ia hanya ingin menikah bahkan harusnya hari ini dia mau mengajak anda ke KUA untuk mendaftarkan pernikahan kalian."


Ucap Agam sambil tertunduk lesu.


Kenan terlihat sangat syok. Iapun menyandarkan kepalanya di sofa putih itu sambil mendongakkan wajahnya ke atas.


Rasa frustasinya atas kemelut hubungannya yang tidak sejalan dengan sang kekasih yang lebih menyimpan perasaannya sendiri ketimbang berbagi dengannya.


Ia melihat foto-foto terakhir sang kekasih yang sengaja berdandan cantik untuknya hari ini.


"Ya Allah. Kenapa menjadi sulit seperti ini." Keluh Kenan.


"Tuan! Apakah anda mau menemui nona Kiran di Jakarta?" Tanya Agam hati-hati.


"Apakah ini waktu yang tepat untuk melamarnya di saat ayahnya ingin menjodohkannya dengan laki-laki lain?"


Kenan balik bertanya kepada Agam yang sangat prihatin hubungan kasih antara Kenan dan Kiran.


"Apakah Tuan tidak ingin memperjuangkan cinta tuan? Apakah anda mau melepaskan nona Kiran begitu saja untuk orang lain?" Tanya pelayan Efi penasaran dengan sikap Kenan.


"Entahlah! Jika aku nekat menemuinya di Jakarta, maka Kiran akan mendapatkan masalah lebih besar. Ayahnya akan mengurungnya dan mengawasinya lebih ketat lagi.


Mungkin sebaiknya aku menunggu waktu yang cukup baik untuk bisa menemuinya dan mungkin bisa membawa kabur dirinya." Ujar Kenan penuh taktik.


Sementara di Jakarta Kiran lebih memilih mengurung dirinya di kamar karena tidak ingin menerima perjodohan yang sebentar lagi akan diadakan ayahnya dengan putra dari sahabatnya itu.


Kiran melihat dibawah balkon kamarnya, ada tiga orang penjaga sekaligus yang disuruh tuan Herland untuk mengawasi dirinya.


Apalagi di depan kamarnya bahkan penjaga siap mengawasi gadis itu dua puluh empat jam.


Kiran tidak bisa menghubungi sang kekasih karena ponselnya sendiri disita oleh ayahnya. Rasa frustasinya mulai melanda dirinya.


"Apakah ayahku ingin menguburku hidup-hidup di kamar ini?"


Gerutu Kiran sambil mengotak-atik Chanel TV.


Seminggu berlalu, Kenan sama sekali tidak ingin mendatangi tuan Herland untuk melamar sang kekasih. Sikap apatis Kenan membuat ketiga anak buahnya merasa kecewa.


"Apakah segitu saja cinta tuan kita pada nona Kiran?" Ucap Izzat pada dua temannya saat mereka sedang beristirahat.


"Entahlah Izzat. Sepertinya tuan Kenan tidak punya nyali untuk menghadapi ayahnya nona Kiran." Ujar Agam.


"Melihat sikapnya seperti itu aku merasa ia tidak sungguh-sungguh mencintai nona Kiran." Timpal Hendra.


"Sudahlah. Sebaiknya berikan dia waktu untuk memikirkan apa yang harus ia perbuat untuk sang kekasih." Balas Agam.


Dua hari kemudian, Kenan baru memberanikan dirinya menghadap tuan Herland ayah dari Kiran.


Tuan Herlan yang begitu angkuh menatap sinis wajah Kenan karena merasa Kenan adalah orang biasa apalagi hanya seorang anak petani yang kedudukannya hanya terkenal di masyarakat desa.


"Apakah kamu yang bernama Kenan..?"


"Iya tuan!"

__ADS_1


"Apa yang kamu inginkan?"


"Melamar putri tuan!"


"Apa pekerjaanmu"


"Petani buah!"


"Apakah hidup sebagai seorang petani bisa membahagiakan putriku?"


"Aku akan memberikan Kiran apa saja yang diinginkannya termasuk rumah mewah dan barang-barang import."


"Dengan menjual semua tanah pertanian mu itu? apakah seperti itu caramu membahagiakan putriku?"


Tanya tuan Herland dengan menarik sudut bibirnya sedikit dengan pandangan mencemooh Kenan.


"Uangku sangat banyak. Lebih banyak darimu tuan! Aku juga bisa membeli perusahaanmu dan juga rumahmu bahkan membeli harga diri tuan! Mau bukti?"


"Dasar bajingan! Kamu sedang bermain-main denganku, hah?"


"Tidak! sebaliknya aku sangat ia serius dengan ucapan ku. Apakah ucapan aku terlihat main-main?"


"Terserah apa katamu pemuda! yang jelas aku tidak mau membuat putriku Kiran mendera hidup bersamamu. Perjodohan ini sudah di atur dan aku tidak mau merusak hubungan ku dengan sahabatku hanya karena dirimu.


Sebaiknya kamu keluar dari ruang kerjaku di sebelum darah tinggi aku kumat."


"Pertimbangkan lagi pinangan aku tuan Herlan karena putrimu hanya bahagia bersama aku bukan bersama yang lainnya." Ucap Kenan untuk terakhir kalinya sebelum meninggalkan perusahaan ayahnya Kiran.


"Persetan dengan lamaran mu! Aku tidak sudi punya menantu seorang petani."


Ucap tuan Herland sebelum Kenan keluar dari ruang kerjanya.


Kenan begitu dendam pada Tuan Herland yang telah menghina pekerjaannya.


"Kamu akan menyesal telah menolak aku tuan Herlan. Aku bersumpah kalau putrimu Kiran tidak akan pernah bahagia dengan lelaki manapun. Dan Kiran akan kembali kepadaku."


Kenan mencoba nekat mendatangi rumah Kiran yang ada di Jakarta untuk meminta gadis ini memilih dirinya atau Pasya.


Penjaga keamanan mencegah Kenan untuk menemui Kiran. Gadis ini begitu kaget saat melihat Kenan ada di depan rumahnya.


Kiran yang ada di atas balkon kamarnya yang menghadang ke arah jalan hanya bisa melambaikan tangannya ke arah Kenan.


"Kenaaaaannn..!"


Mata Kenan tertuju pada wajah itu. Hatinya sangat sedih melihat Kiran memberinya isyarat kalau pintu kamarnya di kunci dari luar.


"Percuma saja tuan datang ke sini karena nona Kiran tidak diperkenankan keluar dari kamarnya. Ia juga tidak memiliki ponsel dan ponselnya telah di sita oleh ayahnya."


Ucap sekuriti mansion Kiran.


"Kalau begitu berikan ponsel milikku padanya." Ucap Kenan.


"Bagaimana caranya tuan? Jika tuan Herlan tahu aku yang memberikan ponsel milik tuan pass Nona Kiran, maka aku akan di pecat dan aku tidak mau kehilangan pekerjaanku."


"Bagaimana dua bisa tahu dan kamu juga menggunakan tangga atau cara apa saja untuk bisa memberikan ponsel milik aku pada Kiran."


"Saya mohon maaf tuan! Rumah ini setiap sudutnya penuh dengan CCTV dan saya tidak mau ambil resiko ketahuan oleh tuan Herland. Sebaiknya anda pulang tuan.


Jika memang nona Kiran itu adalah jodoh Anda, ia akan kembali lagi pada anda, bagaimanapun caranya. Percayalah kepada hati Tuan karena nurani tidak akan pernah bisa berbohong."


Jelas sekuriti itu pada Kenan agar Kenan mengerti juga keadaannya.


Kenan akhirnya mengalah dan kembali ke kampungnya dengan tangan hampa.


...----------------...


Dua Minggu berlalu begitu cepat. Kiran tidak bisa melakukan apapun untuk membebaskan dirinya dari kekangan sang ayah.

__ADS_1


Tapi hari itu ada kejutan yang sangat membuatnya bahagia ketika ayahnya membawa kembali sang ibu ke dalam rumah mereka.


Ibunya membuka pintu kamar Kiran yang selalu terkunci oleh ayahnya. Kiran yang masih terlelap tidur padahal waktu sudah pukul sembilan pagi.


Ibunya membuka gorden pintu balkon hingga matahari pagi menyusup masuk ke dalam kamarnya membuat matanya seketika terganggu.


"Ah sial! Siapa lagi yang menganggu tidurku?" Umpatnya dengan mata yang masih terpejam.


"Anak gadis tidak boleh bangun kesiangan!" Ucap nyonya Luna membuat Kiran tersentak.


"Hahh..! Suara itu? bukankah itu suara ibuku?"


Batin Kiran antara percaya dan tidak.


Nyonya Luna berdiri di depan putrinya sambil menghalangi sinar matahari yang mengganggu mata putrinya.


Kiran memohon agar suara yang ia dengar bukan sekedar mimpi baginya.


Ia segera membuka matanya dan melihat sosok yang sudah satu tahun ini tidak bisa ia temui.


"Ibu..?" Kau kah itu?" Tanya Kiran tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini.


"Apakah kamu tidak ingin memeluk ibumu?"


Nyonya Luna membuka kedua tangannya untuk menyambut putrinya.


"Ibu...!" Pekik Kiran langsung memeluk ibunya.


Keduanya menangis haru melepaskan kerinduan mereka. Rasa kepedihan yang selama ini menghantui keduanya karena ulah sang ayah yang membiarkan ibunya sendirian berjuang melawan kanker rahim di negeri Singapura.


"Ibu! Apakah ayah sudah rujuk dengan ibu? bagaimana dengan kesehatan ibu, apakah sudah bebas dari penyakit itu? Apakah ibu...?"


"Ssstt! Kau ini tidak pernah berubah. Selalu saja mengajukan banyak pertanyaan dalam satu waktu."


Ucap nyonya Luna seraya meletakkan jari telunjuknya di bibir Kiran.


Kiran tersenyum mendengar perkataan perkataan ibunya.


"Tapi Kiran sangat... sangat... sangat bahagia karena ibu kembali lagi ke rumah ini. Aku harap ibu sudah sembuh."


Kiran memeluk lagi ibunya.


"Bagaimana Kiran! Apakah kamu sudah siap menikah dengan putra dari sahabat ayah?"


Degggg...


Kiran mengurai pelukannya pada sang ibu dan melihat ayahnya yang sudah ada dihadapan mereka.


Kiran ingat dengan perjanjiannya untuk menerima perjodohan itu asal ibunya dikembalikan di rumah ini. Ia harus mengorbankan cintanya hanya ingin melihat ibunya bahagia.


"Apakah cintaku harus kandas ditengah perjodohan ini?"


Batinnya sambil menahan bulir bening yang sudah memenuhi kelopak matanya.


"Baiklah ayah Kiran siap menerima perjodohan ini." Ucap Kiran dengan berat hati.


"Nah, itu baru putri ayah. Ayo ibu, kamu harus mempersiapkan untuk acara pertunangan putri kita dengan putranya Tuan Noah."


Ucap tuan Herland sambil menarik tangan istrinya meninggalkan putri mereka yang hanya bisa termangu.


"Tapi ayah! Ibu masih ingin bersama dengan Kiran."


"Kalian masih punya banyak waktu untuk ngobrol. Acara pertunangan Kiran lebih penting dari acara kangen-kangenan kalian." Ujar tuan Herland dengan wajah datarnya.


"Nanti ibu kembali lagi, ya sayang!" Nyonya Luna melambaikan tangannya pada Kiran yang hanya bisa mengangguk.


Ia tidak bisa lagi melakukan apapun untuk menyelamatkan cintanya di tambah lagi Kenan tidak punya inisiatif untuk datang melamarnya lebih dulu daripada keluarga sahabat ayahnya.

__ADS_1


Tapi hatinya yang masih mencintai sang kekasih yang tidak bisa ia ubah dengan pendiriannya saat ini.


__ADS_2