CINTA Kandas Di Tengah Perjodohan

CINTA Kandas Di Tengah Perjodohan
17. Membaur


__ADS_3

Kiran harus merelakan masa lalunya pergi, agar bisa menuai masa depan yang kini sedang dirajutnya bersama sang suami.


Perubahan sikap Kiran yang mulai belajar mencintai sang suami di sambut mesra oleh Pasya yang merasakan kebahagiaan pernikahannya sudah mulai utuh.


Perhatian yang diberikan Pasya tidak lagi membuat Kiran memikirkan masa lalunya. Kini keduanya lebih sering menghabiskan waktu bersama.


Pasya yang tidak segan membawa serta istrinya bekerja di perusahaan karena Kiran juga mengerti manajemen bisnis.


"Apakah aku harus bekerja seruangan dengan suamiku?"


Tanya Kiran saat pertama kali masuk ke ruang kerja suaminya.


"Apakah kamu ingin punya ruangan sendiri, sayang?"


"Aku ingin membaur dengan para staff mu. Bolehkah?"


"Mereka akan grogi bekerja bersama denganmu, Kiran."


"Tidak sayang! Aku akan membuat mereka nyaman kerja denganku."


Ujar Kiran meyakinkan suaminya.


"Baiklah. Kalau itu yang kamu mau. Di sini kerjanya per tim. Kamu hanya tinggal memilih tim mana yang membuatmu nyaman."


"Aku tidak bisa memilih tim mana yang harus aku gabung. Tapi, aku akan membaur bersama mereka semua, baru aku bisa memilih tim mana yang akan aku ikut bekerja sama dengan mereka."


"Tapi, kamu akan menjadi rebutan buat mereka Kiran. Mereka tidak akan segan mencari muka padamu."


"Itu tergantung kembali padaku. Karena aku yang akan menilai langsung kepribadian mereka mana yang tulus dan mana yang tidak."


"Tapi bagaimana kalau aku tiba-tiba merindukan kamu?"


"Temu kangennya di rumah saja, jangan di sini."


Tolak Kiran membuat Pasya mengerucutkan bibirnya.


"Apakah aku boleh bertemu dengan mereka sekarang?"


"Tapi mejamu belum disiapkan. Jangan hari ini sayang. Temani aku dulu di sini."


Ucap Pasya merengkuh pinggang istrinya.


"Baiklah. Tapi sekarang aku mau kita makan siang bersama."


Ajak Pasya sambil menggandeng tangan istrinya.


Ketika keduanya melewati para staff yang memberi hormat kepada mereka, semuanya berbisik dan merasakan keanehan pada pasangan ini, yang mereka mengira perjodohan keduanya tidak akan langgeng.


"Aneh juga tuan Pasya, bukankah saat mendengar ia dijodohkan dengan wanita itu, tiap hari menunjukkan wajah muramnya."


Ucap Windi.


"Aku kira keduanya tidak bakalan akur, kenapa sekarang kelihatannya mereka sangat mesra?" Balas Rena.


"Apakah kalian sedang menunggu perceraian mereka, hah?" Bentak Lita asistennya Pasya.


"Kau ini, selalu saja muncul seperti hantu untuk menguping pembicaraan kami."


Sergah Rena yang sudah duduk lagi di kursinya.


"Jelas-jelas kalian itu sedang bergosip, bicara yang tidak bermanfaat." Gerutu Lita.


"Eh Lita! Apakah kamu tahu mereka itu kenapa bisa seakur itu padahal sebelumnya pernikahan mereka hanya karena hubungan bisnis."


"Itu bukan urusanku dan juga tidak penting untukmu!"


Sahut Lita kembali ke ruangannya.


"Jangan-jangan dia yang lagi patah hati karena tidak bisa mendapatkan tuan Pasya." Ucap Heny.


Mereka terkekeh mengingat Lita seperti istrinya tuan Pasya saat belum menikahi Kiran. Ke manapun selalu bersama. Bahkan staff perusahaan mengira tuan Pasya punya hubungan spesial dengan Lita.

__ADS_1


Di restoran, Kiran mulai menyinggung asisten pribadi suaminya itu. Sejujurnya ia tidak nyaman kalau suaminya menjadikan Lita sebagai asistennya Pasya.


"Pasya!"


"Hmm!"


"Apakah aku boleh minta sesuatu kepadamu?"


"Kamu mau apa sayang?" Tanya Pasya sambil mengunyah makanannya.


"Aku ingin kamu menggantikan asisten pribadimu dengan cowok." Pinta Kiran hati-hati.


"Apakah kamu sedang cemburu kepadanya Kiran."


"Cemburu sih nggak, karena aku percaya kepadamu, tapi aku merasa tidak nyaman kalau kalian selalu bersama." Sahut Kiran.


"Kiran! Mendapatkan asisten pribadi itu tidaklah mudah. Butuh waktu menguji integritas mereka dalam menjalankan tugas mereka."


Pasya menyampaikan keberatannya pada istrinya.


"Baiklah. Kalau kamu memang tidak ingin menggantikan dua dengan yang lain, aku tidak memaksa. Tapi, kalau suatu saat nanti ada affair antara kalian, aku tidak akan segan pergi dari hidupmu." Ucap Kiran setengah mengancam.


"Aku janji Kiran. Aku tidak mungkin memandang dia sebagai wanita karena bagiku dia adalah mesin penggerak yang ku butuhkan dalam memperlancar pekerjaan ku di perusahaan.


Atau lebih sederhananya, dia seperti robot hidup untukku. Itu berarti aku tidak membutuhkannya sebagai wanita." Tegas Pasya.


"Ok! Kita lihat saja nanti. Apakah dia bekerja secara profesional tanpa melibatkan hatinya padamu."


Ucap Kiran menanggapi datar ucapan suaminya.


Walaupun seperti itu, Pasya juga tidak mengabaikan permintaan istrinya begitu saja. Ia tidak ingin Kiran akan terganggu dengan kehadiran Lita di perusahaannya.


...----------------...


Keesokan harinya, Kiran akhirnya bergabung dengan staf lainnya untuk memulai pekerjaannya. Ia pun meminta ijin kepada mereka semua agar tidak salah paham adanya dirinya di tengah para staff yang bergabung dalam beberapa tim.


"Aku harap kalian menerimaku sebagai pegawai biasa di perusahaan ini walaupun aku adalah istri dari pemilik perusahaan ini." Ucap Kiran merendah.


"Tidak apa nona Kiran. Tapi bila bergabung dengan kami, tolong jangan kaget nantinya karena kelakuan kami seperti bar-bar dalam bekerja." Timpal salah satu dari mereka.


Ujar Kiran sekaligus menyindir para staf penjilat.


Mereka saling berpandangan saat mendengar perkataan Kiran yang tidak suka bersikap berlebihan didepannya.


"Maaf nona Kiran! Apakah saya boleh bertanya?" Tanya Indi.


"Apakah anda tidak keberatan jika kami bersikap biasa saja kepada anda tanpa memikirkan status anda sebagai istri bos Pasya?"


"Itu yang seharusnya kalian lakukan itu. Tapi, aku ingin kalian tetap sopan padaku dan jangan pernah mencoba bergunjing tentangku karena aku tidak suka kalian melakukan itu." Imbuh Kiran.


"Baik nona Kiran." Semuanya menjawab penuh santun pada Kiran.


Sementara itu, asisten Lita sedang bicara dengan tuan Pasya di dalam sana sudah cukup lama dan itu membuat Kiran merasa cemas hanya tidak bisa berbuat apa-apa.


Sementara ada staf yang mencoba memprovokasi Kiran agar Kiran bertindak tegas pada suaminya.


"Apakah nona Kiran tidak cemburu melihat kedekatan tuan Pasya dengan asisten Lita?"


Kiran mengangkat wajahnya menatap wajah karyawan yang ceriwis itu.


"Apakah kamu tidak punya pekerjaan di sini selain mengatur hidupku, hah ?" Ucap Kiran sinis kepada Indi.


"Maaf non Kiran! Sebagai perempuan aku hanya mengingatkan anda agar tidak membiarkan Lita ..!"


"Aku lebih tahu bagaimana bersikap untuk mencegah perempuan lain yang berusaha merebut suamiku.


Dan Lita bukan sebuah ancaman untukku, justru yang aku kuatirkan adalah dirimu dan yang lainnya di sini, yang menjadikan sesuatu yang terlihat wajar akan berubah dengan kalian yang akan tersebar di luar sana." Ucap Kiran tegas.


"Karena sekarang belum terjadi kamu merasa tenang. Nanti kalau perselingkuhan itu sudah terjadi kamu akan tahu rasa sakit di khianati itu seperti apa." Ujar Rena.


Keesokan harinya, Kiran melakukan pekerjaannya sebagai staff biasa di perusahaan suaminya. Ia lebih banyak berdiskusi dengan kelompok kerjanya saat menemukan masalah.

__ADS_1


" Teman-teman, aku di sini bekerja bersama kalian hanya untuk membantu mengembangkan perusahaan ini agar tetap berjaya.


Dengan begitu, kalian bisa mendapatkan kenaikan bonus dan juga dapat promosi jabatan. Untuk mendapatkan itu semua aku harap kalian tidak boleh saling menjatuhkan tapi saling memberi support. Saya di sini akan mengawasi langsung kalian. Apakah kalian mengerti?"


"Baiklah nyonya Kiran. Tapi kami juga mohon kepadamu, jika kami melakukan kesalahan tolong disampaikan dengan cara yang elegan jangan membentak kami karena itu akan membuat mental kami sangat terganggu." Ucap Rena.


"Apakah kalian sering diperlakukan seperti itu?"


"Iya nona Kiran!"


"Siapa lagi kalau bukan nenek sihir itu."


Ucap Rena sambil memajukan wajahnya mengarah ke ruang kerjanya sekertaris Lita.


"Maksud kamu itu Lita?"


"Hmm!"


"Dia tidak akan berkutik kalau aku berada di sini teman-teman."


Ucap Kiran menghibur teman-temannya.


"Hati-hati, karena gadis itu pandai bersilat lidah dan dia sangat dipercaya oleh tuan Pasya membuatnya besar kepala." Ujar Heni.


"Sudahlah tidak usah pikirin gadis itu, nanti kalian terus merasakan sakit hati dengan penghinaan darinya. Orang sombong itu dilawan dengan sikap sombong. Lagipula ini perusahaan suamiku bukan perusahaannya."


Ucap Kiran membuat teman-teman nya merasa bisa bekerja dengan nyaman.


Saat sudah menjelang jam pulang, Pasya lebih dulu keluar lalu mengajak istrinya pulang.


Pasya yang begitu mesra langsung membelit pinggangnya Kiran membuat teman-teman Kiran bersiul sambil mengacungkan jempol mereka.


"Wah! Keren banget pasangan itu. Kapan aku bisa mendapatkan pasangan yang sangat tampan seperti tuan Pasya dan seromantis dirinya?"


Ucap Indi sambil memeluk dirinya sendiri.


"Ada.. Tuh di terminal banyak yang antri untuk mendapatkan kamu."


Ujar intan sambil meledek Indi dengan lidahnya.


"Kau...!" Umpat Indi kesal.


"Sudah-sudah Ayo kita pulang! Apakah kalian berdua mau menginap di sini?" Tanya Rena yang melihat kedua temannya ini seperti anjing dan kucing.


Mereka ramai-ramai berlari menuju lift yang sedang terbuka.


Sementara Pasya mengajak istrinya untuk jalan-jalan sambil menikmati kuliner pinggir jalan yang menggoda lidah mereka.


"Apakah kamu mau makan sesuatu sebelum kita pulang sayang?"


"Aku maunya kita ke Mall saja sayang. Aku pingin makan mie udon dengan rasa daging sapi yang banyak di tambah sambal yang pedas."


Ucap Kiran sambil mengecap bibinya dengan ekspresi wajah ngiler.


Pasya tercengang mendengar ucapan istrinya yang saat ini ingin makan makanan pedas.


"Sayang! Apakah saat ini kamu sedang ngidam?"


"What...? ngidam? yang benar saja aku ngidam. Mana mungkin sekarang aku hamil Pasya?"


"Kalau bukan hamil apa namanya?"


"Aku selalu makan pedas saat menjelang haid."


"Kenapa tidak periksa dulu Kiran. Siapa tahu saat ini kamu hamil sayang."


Pinta Pasya penuh harap.


"Nanti saja Pasya kalau kita sudah makan mie udon terus kita beli testpack dan kita periksa bersama-sama, apakah saat ini aku hamil atau tidak."


Ucap Kiran yang tidak begitu percaya diri kalau saat ini ia sedang hamil.

__ADS_1


"Ok, siap nyonya Pasya semoga kita dapat hadiah terindah dari Allah." Canda Pasya lalu mengecup bibir istrinya.


Tidak lama kemudian keduanya sudah sampai ke restoran yang mereka tuju.


__ADS_2