
Pasya dan Kiran memutuskan untuk pulang lebih dulu setelah berpamitan dengan Rena dan tiga temannya.
"Maaf Rena! Aku tidak bisa menunggu lebih lama di sini." Ujar Kiran sambil cipika cipiki dengan Rena.
"Tidak apa nona Kiran. Kehadiranmu sudah banyak membantu putriku. Terimakasih." Balas Rena.
Panji menggandeng tangan istrinya berlalu dari hadapan teman-temannya. Sepeninggal pasangan itu dari hadapan mereka, keempat ibu muda ini merasakan kehebatan seorang Kiran yang mampu menaklukkan hati Pasya yang dulu sedingin bongkahan salju tanpa ingin mengenal mereka sama sekali.
"Terimakasih Pasya!" Ucap Kiran saat keduanya sudah berada mansion.
"Untuk apa berterimakasih sayang?"
"Kamu telah membolehkan aku berteman dengan mereka."
"Apakah mereka begitu istimewa hingga kamu tidak lagi makan siang bersamaku dan juga pulang kerja denganku, hmm?"
"Karena mereka sangat istimewa yang membuat aku menjadi lebih menghargai hidup. Mereka dengan berbagai penderitaan mereka yang saat ini mereka alami.
Saking hebatnya mereka, sampai aku tidak tahu mereka punya banyak masalah yang hampir merenggut kebahagiaan mereka."
"Sayang! Tolong jangan terlalu terbawa suasana hingga kau lupa dirimu sebagai istri yang siap dibuahi olehku. Jika kamu terbebani oleh kehidupan mereka, bagaimana kita bisa memiliki anak?"
Keluh Pasya yang tidak begitu suka kepedulian istrinya pada teman-teman stafnya di perusahaan.
"Insya Allah! Aku akan hamil Pasya. Baiklah ayo kita tidur. Aku sangat lelah hari ini."
Ujar Kiran sambil mengecup bibir suaminya.
"Sayang!"
"Hmm!"
Gumam Kiran sambil memejamkan matanya.
"Tolong jangan tidur dulu!"
Pinta Pasya seraya menarik tubuh istrinya masuk dalam pelukannya.
"Aku sangat ngantuk Pasya."
"Sayang! Aku ingin kita bercinta dulu." Pinta Pasya manja.
"Besok pagi saja kalau mau berangkat kerja."
"Tapi aku tidak bisa tidur kalau belum bercinta."
"Tapi sekarang aku sangat lelah, sayang."
"Itu karena setan sedang meniup matamu agar kamu mengabaikan kewajiban mu sebagai istri."
__ADS_1
Bujuk Pasya hingga Kiran berusaha membuka matanya.
Kiran mendongakkan wajahnya melihat suaminya yang sedang tersenyum penuh kemenangan.
Pasya berhasil membujuk istrinya untuk bercinta dengannya.
Pasya mengecup bibir istrinya dengan lembut. Kiran meraup bibir suaminya dengan cepat lalu memagut bibir itu begitu rakusnya.
Mendapat serangan agresif dari sang istri yang begitu menggebu-gebu membuat Pasya makin terangsang dengan permainan Kiran yang sudah memanjakan yuniornya di bawah sana.
Kiran menyerang suaminya seperti harimau betina lapar yang tidak membiarkan suaminya menyerang balik dirinya.
Ia hanya bisa menikmati servis yang diberikan istrinya saat ini. Mengusai tubuh istrinya dan berada di atas tubuhnya dengan mendalilkan permainan itu dengan mudahnya.
Wajah Pasya terlihat memerah dengan suara serak terdengar mengerang dan melenguh saat istrinya sudah membuat gerakan meliuk dan kadang menarik turun tubuh indah itu membuat Pasya menatap wajah Kiran yang makin cantik sambil mengerang nikmat.
Kiran benar-benar memberikan pelayanannya secara totalitas membuat Pasya pasrah menikmati permainan itu hingga akhirnya keduanya mencapai puncak alam nirwana sambil melepaskan cairan kenikmatan itu bersamaan.
Pasya merasakan sangat kepuasan hingga tidak bisa lagi mengganggu istrinya yang sudah jatuh terkapar di sisi tubuhnya dalam keadaan polos.
"Terimakasih sayang! Kamu sangat hebat malam ini. Maaf mengganggu tidurmu. Selamat malam sayang!"
Ucap Pasya sambil mengecup bibir istrinya dan menarik selimut tebal itu untuk menutup tubuh mereka.
Keduanya tidur saling berpelukan melewati waktu menanti datangnya hari esok.
...----------------...
"Nona Kiran! Kami bisa naik taksi tanpa harus di jemput seperti ini." Ujar Rena tidak enak hati.
"Aku senang melakukannya Rena. Aku ingin menjadi berguna untuk orang lain. Jangan menolak kebaikan ku. Kapan aku baru bisa beramal kalau tidak melalui hal-hal kecil seperti ini." Balas Kiran.
"Tante Kiran!"
"Iya sayang!"
"Terimakasih sudah menolong membayar operasi jantungnya, Ciky!"
Kiran menatap Rena yang mengangguk kalau ia yang sudah menceritakan tentang kebaikan Kiran.
"Sama-sama Ciky. Semoga Ciky sehat dan nanti bisa sekolah belajar yang rajin agar bisa meraih cita-citanya sesuai dengan yang Ciky suka.
"Ciky mau menjadi dokter agar bisa menolong anak-anak kecil seperti Ciky yang sedang menderita jantung."
Karena asyik bicara dengan Ciky, tanpa sadar mobil Kiran menabrak mobil yang di depannya.
Brakkk...
"Astaga!"
__ADS_1
"Ya Allah, nona Kiran! Kita menabrak mobil orang.
"Maafkan saya Rena. Kalian tidak apa?"
"Ciky tidak apa Tante Kiran."
Kiran segera menepikan mobilnya mengikuti mobil mewah yang ada di depannya.
"Sialan! Berani-beraninya orang itu menabrak mobilku."
Umpat pria tampan itu sambil melepaskan seat belt di tubuhnya.
Amarahnya yang sudah siap meledak untuk melabrak orang yang telah membuatnya terlambat menemui relasinya.
Kiran turun dari mobilnya bersamaan dengan seorang pria tampan yang sedang marah besar mengetahui mobilnya di tabrak.
Pesona Kiran yang luar biasa dengan penampilan yang begitu memukau tanpa membuka kaca mata hitamnya yang menutupi mata indahnya membuat pria tampan itu tidak bisa berkutik.
Ia hanya bisa menatap wajah cantik istrinya Pasya ini dengan penuh kekaguman. Amarahnya yang tadi meledak seketika menurun drastis saat Kiran meminta maaf kepadanya.
"Saya minta maaf Tuan! Saya akan ganti rugi akan kerusakan mobil tuan. Bawa saja ke bengkel langganan anda dan biarkan saya yang membayar semua biaya perbaikannya." Ujar Kiran dengan tenang.
Merasa sangat malu pada Kiran dan juga keadaan jantungnya yang tiba-tiba berdenyut kencang membuat pria tampan itu menolak niat baik Kiran.
"Oh tidak apa nona. Ini hanya kerusakan kecil tidak ada apa-apanya. Biayanya juga tidak mungkin mahal." Ujar pria tampan itu.
"Tidak apa Tuan! Saya harus bertanggungjawab karena kurang fokus membawa mobil tadi. Jika anda butuh biayanya atau mau menghubungi saya, tolong catat nomor ponsel saya."
Ucap Kiran yang tidak mau memberi kartu namanya.
Pria tampan itu sangat senang mendengar Kiran mau memberikan nomor kontaknya tanpa ia susah payah meminta nomor gadis cantik ini beserta namanya. Kiran mengetik langsung nomornya di ponsel milik pria tampan itu.
"Aku tidak perlu meminta ganti rugi untuk mobilku ini, nona Kiran. Tapi sebagai gantinya aku akan mengajakmu berkencan." Ujar Rio sambil menyeringai licik.
"Sampai jumpa Tuan...?"
Kiran menunggu pria tampan itu menyebutkan namanya.
"Oh, namaku Rio."
"Baik. Aku masih punya urusan lain tuan Rio. Jika butuh sesuatu telepon saja aku. Sekali lagi saya mohon maaf atas ketidak nyamanan anda." Ucap Kiran santun.
"Selamat jalan nona Kiran. Sampai jumpa lagi." Ujar Rio dengan gayanya yang tengil.
Mobil Kiran kembali bergerak dan tidak lupa membunyikan klakson sebagai tanda pamit pada Rio yang melambaikan tangannya pada Kiran yang tersenyum pelit padanya.
"Woww! Mimpi apa aku semalam? Sehingga bisa bertemu dengan gadis cantik."
Gumam Rio lalu masuk kembali ke dalam mobilnya.
__ADS_1
Mobil mewah yang tampak rusak bagian bempernya itu langsung meluncur ke tempat bengkel langganannya Rio.