
Semenjak pertemuannya dengan sang baby, Pasya lebih terlihat semangat dan ia mendapatkan kesempatan lagi dari tuan Kenan untuk memegang salah satu cabang perusahaan milik Kenan.
Kenan melakukan itu semata-mata hanya untuk membuat Pasya menjadi orang yang sangat berarti dalam kehidupan Dilan.
Saat Pasya sudah mulai bekerja, ia tidak lupa membelikan mainan untuk baby Dilan dan juga makanan cemilan kesukaan Dilan. Kini usia Dilan memasuki tiga tahun.
Waktu yang cukup singkat untuk seorang Pasya bisa memenangkan hati putranya. Dilan tumbuh menjadi anak yang tampan dan sangat cerdas begitu pula baby Kinan yang sudah berusia dua tahun.
Setiap kali Pasya berkunjung, ayah dari Dilan ini selalu membawa hadiah yang sama untuk baby Kinan agar tidak iri dengan abangnya Dilan.
Hanya saja Kenan tidak begitu memperhatikan putranya seperti Pasya pada Dilan. Kadang Kinan merasa kesepian kalau abangnya di jemput oleh ayahnya Pasya pergi, Kinan selalu saja ingin ikut serta.
Lama-kelamaan, hal ini membuat Kiran menjadi kesal pada suaminya dan Pasya. Seperti hari ini, Kiran akhirnya menyampaikan kekecewaannya terhadap sang suami terlebih dahulu.
"Kenan!"
"Hmm!"
"Apakah kita bisa merubah jadwal pertemuan Pasya dan Dilan yang satu pekan sekali berubah menjadi satu bulan sekali?"
"Kenapa harus merubahnya Kiran. Perjanjian itu sudah tertulis dan di tandatangani oleh kita dan pihaknya Pasya. Kita harus sportif terhadap haknya Pasya dan Dilan sebagai ayah dan anak."
"Iya saya tahu, tapi lihatlah keadaan putramu sendiri Kenan! setiap kali Pasya datang menjemput Dilan jalan-jalan, Kinan terlihat sangat kesepian dan murung.
Ia kehilangan Abangnya, teman bermainnya. Dan kamu sendiri tidak mengisi kekosongan itu dan membiarkan putramu menjadi kehilangan semangatnya untuk bermain."
"Kiran...! Apakah Kinan menyampaikan keluhannya kepadamu bahwa ia sangat kesepian?"
"Bukan masalah keluhannya, hanya saja putra kita tidak lagi semangat kalau abangnya pergi."
"Terus kamu berharap kita bisa mengimbangi kasih sayang Pasya pada Dilan tercurah juga untuk putra kita Kenan?"
"Yah..! Itu adalah bagian mu agar puteraku Kinan tidak tumbuh menjadi pendengki karena yang ia inginkan tidak ia dapatkan dari ayahnya sendiri."
"Astaga Kiran! Kenapa kamu harus mempersalahkan sesuatu hal sepele lalu dibesar-besarkan?"
"Karena aku tidak mau puteraku kesepian seperti anak tanpa ayah yang orangtuanya broken home seperti yang dirasakan Dilan, walaupun ia sendiri belum menyadari tentang keadaan itu.
"Kenapa kamu repot sekali memikirkan kebahagiaan Kinan, padahal jawabannya ada di kamu sendiri?"
Kiran menautkan kedua alisnya. Jawaban Kenan terkesan ambigu di telinganya dan dia mengangkat kedua bahunya dengan kedua tangannya terbuka seakan ingin bertanya, " maksudnya apa suamiku..?"
"Kamu bisa memberikan adik untuk Kinan dan urusannya selesai. Kinan akan mendapatkan pengganti Dilan untuk teman bermainnya dan kamu tidak perlu cemas lagi memikirkan perasaan putramu Kinan.
"Astaga Kenan! Emangnya kamu tidak tahu kalau orang hamil dan membesarkan anak itu harus butuh proses?"
__ADS_1
"Iya aku tahu itu, tapi setidaknya beri mereka banyak saudara dan mereka menjadi satu kesatuan yang utuh dan tidak lagi merasa kesepian."
"Terserahlah! Bicara denganmu bukan membuatku tenang malah runyam."
Gerutu Kiran lalu angkat kaki dari tempatnya duduk kembali ke kamarnya.
Kenan Menahan tubuh istrinya yang langsung jatuh dalam pelukannya.
Kenan tersenyum penuh kemenangan karena dengan cara itu ia akan terus bercinta dengan istrinya sebanyak mungkin sampai Kiran dinyatakan hamil oleh dokter.
"Ide yang cemerlang bukan?"
"Cih! Kau selalu mengambil keuntungan dari setiap permasalahan yang membuat kepalaku hampir pecah."
Umpat Kiran di sambut kedipan mata nakal suaminya sambil menatap belahan dada sekang yang sekarang sudah nganggur untuk dimilikinya lagi usai menyusui bayinya selama dua tahun.
Kiran menyilang kan tangan didadanya melindunginya dari pemburu nakal yang akan menghabisinya malam ini sampai pagi.
Kiran segera berlari masuk ke kamarnya di mana suaminya terkekeh melihat tingkah istrinya yang sedang memancing birahinya.
"Kamu malah lari masuk ke kandang mu. Habislah kau sayang, untuk aku babat habis malam ini."
Senyum licik merekah dibibir seksi Kenan lalu berjalan tenang menuju kamarnya. Kiran sudah berada di bawah selimutnya dengan perasaan suka karena ia sangat merindukan sentuhan itu.
Kenan melucuti semua pakaiannya dan naik di atas tempat tidur sambil membuka bagian bawah selimut untuk mengincar area memukau perhatiannya untuk menggasak lebih dulu dengan mulut dan lidahnya sebagai pemanasan awal permainan panas mereka.
Suara lenguhan Kiran mulai mengalun di susul erangan manja memancing gairah sang suami lebih semangat memanjakan miliknya.
"Kamu sangat nakal sayang, suaramu makin membuatku tergoda."
Kenan membuang selimut itu hingga tubuh ratunya menantangnya untuk siap di gempur. Ciuman itu lebih diperdalam dengan kedua tangan mereka mencapai tempat tujuan untuk memberikan sensasi hebat yang dibutuhkan oleh keduanya.
Kenan memberikan kissmark di setiap sudut tubuh istrinya yang tak terlewatkan sedikitpun dari pengawasannya. Hingga tiang pancang itu berlabuh di area sempit dan menghujamkan nya dengan kasar dan cepat.
Tubuh Kiran menggeliat mengimbangi permainan panas itu untuk mendapatkan kenikmatan surgawi yang diinginkannya.
Hentakan membabi buta itu tidak terelakan kenikmatannya kala keduanya sepakat untuk mempertemukan benih mereka bersama di tempat halal di mana benih itu akan tumbuh.
"Akhhhhkkk! Kinan aku dapat sayang. "
Kata-kata kepuasan dengan senyum kemenangan setelah kedua bertaruh untuk menggapai kenikmatan.
Wajah cantik Kiran nampak berbinar dengan peluh kelembutan menghiasi kecantikannya.
"Terimakasih Kenan! Kamu hampir tidak memberikanku kesempatan untuk membalas mu."
__ADS_1
Bisik lembut Kiran saat suaminya sudah tergolek tak berdaya di sampingnya.
"Kesempatanmu akan aku berikan untuk babak selanjutnya sayang. Jangan putus asa seperti itu karena bagian mu tidak akan kubiarkan berlalu begitu saja sebagai balasan kebaikan ku malam ini."
Goda Kenan lalu membenamkan wajahnya di belahan dada sekang sang istri sebagai pengantar tidurnya. Kiran membiarkan suaminya berkutat di sana.
Ia menarik selimut dan keduanya terlelap dengan sendirinya menunggu fajar pagi tiba.
Rupanya malam itu, Pasya mengajak putranya menginap di rumahnya. Ia sama sekali tidak ingin tidur karena baru pertama kali Dilan di ijinkan menginap di rumahnya.
"Apakah kamu ingin tinggal dengan papa sayang?"
Mata jenaka itu kembali terbuka mendengar pertanyaan ayahnya. Pasya begitu kaget kalau putranya belum juga tidur sejak tadi.
"Kenapa kamu belum tidur sayang?"
"Dilan tidak bisa tidur papa."
"Bukankah kita sudah jalan-jalan seharian ini? mengapa kamu belum mau tidur juga?"
"Karena papa memintaku untuk tinggal bersama papa dan itu membuat aku jadi semangat lagi."
"Kamu ini selalu menguping pembicaraan papa dan pura-pura tidur."
Pasya mencolek hidung Dilan.
"Kamu boleh tinggal dengan papa kalau diijinkan oleh mama kamu dan Daddy kamu.
"Tapi aku lebih suka tinggal sama papa."
Kenapa begitu?"
"Karena papa orangnya asyik. Selalu ada buat Dilan. Papa selalu ngajak dilan main sementara papa tidak pernah mengajak adikku Kinan."
"Karena kamu anak papa sayang, jadi hanya kamu yang bisa papa ajak sayang."
Batin Pasya yang tidak bisa mengatakan dirinya adalah ayah kandungnya Dilan.
"Sayang, tidur lah! Besok pagi kita bisa main bola lagi. Kamu harus segar saat bangun pagi."
"Baiklah papa. Jangan tinggalkan Dilan kalau belum tidur nyenyak seperti biasanya."
"Ini rumah papa jadi papa akan tetap berada di sampingmu kecuali mau ke kamar mandi."
"Oh iya, Dilan lupa kalau ini rumah papa. Berarti aku tidur dengan papa sampai pagi."
__ADS_1
Pasya tersenyum melihat wajah bahagia putranya yang selalu ingin dekat dengan dirinya.
Kiran mematikan lampu utama di kamarnya lalu menggantinya dengan lampu tidur. Iapun tidur sambil memeluk putranya.