
Dokter mengucapkan selamat kepada pasangan ini ketika memeriksa keadaan Kiran yang saat ini sedang hamil anak keempat.
Keduanya merasakan kebahagiaan setelah mereka diberi lagi kepercayaan untuk memiliki momongan lagi.
"Selamat Tuan Kenan , saat ini istri anda sedang hamil dan usia kandungannya sudah tiga minggu."
Ucap dokter Agatha tersenyum kepada Kenan dan Kiran dengan menggunakan bahasa Inggris.
"Terimakasih dokter Agatha!" Ucap Kenan sumringah.
"Apakah kalian turis dari Asia Tenggara?" tanya dokter Agatha sambil mencatat riwayat kondisi kehamilan Kiran.
"Benar dokter!" Ucap Kiran tersenyum manis menatap wajah cantik dokter Agatha.
"Berarti ini kehamilan anda yang ke berapa, nona Kiran, tapi ada satu hal yang sangat mengkuatirkan kondisi kehamilan anda saat ini nona Kiran."
Ucap dokter Agatha serius.
"Ada apa dengan kehamilan saya dokter?" tanya Kiran cemas.
"Kehamilan anda sangat lemah, saya sarankan agar anda kembali lagi ke negara anda secepatnya dan banyak istirahat, jika anda meneruskan perjalanan wisata ini maka kuat kemungkinan anda akan mengalami keguguran.
Saya harap anda harus jauhi setress yang berlebihan jika nanti sampai ke tanah air, anda perlu dirawat selama masa kehamilan untuk satu atau dua minggu ke depan sambil memperhatikan kemajuan daya tahan janin yang merekat di dinding rahim anda." Ucap dokter Agatha.
"Baik dokter kami akan segera kembali ke negara kami demi keselamatan istri dan bayiku." Ucap Kenan ikut kuatir dengan kondisi istrinya.
"Saya bukan sedang menakuti anda tuan, jarak kelahiran yang terlalu dekat ditambah rahim Nyonya pernah mengalami cedera, itu yang memicu kehamilannya kali ini sangat lemah.
"Kami akan ikuti saran dokter demi bayi yang dikandung istri saya." ujar Kenan lagi.
"Tapi untuk dua hari ini nona Kiran perlu di rawat di sini terlebih dahulu."
__ADS_1
Ucap dokter Agatha kelihatan sangat kuatir dengan keadaan Kiran.
Pasangan ini hanya mengangguk lemah, mereka merasa sangat risau jika mereka harus pulang dengan perjalanan yang cukup jauh akan menambah masalah baru.
Tidak lama kemudian dokter meminta dua susternya agar Kiran di bawa ke kamar inap pasien. Kiran harus benar-benar istirahat selama dua hari ini dibawah pantauan dokter Agatha.
Keluarga besar ini sudah berada di kamar inap yang ditempati oleh Kiran. Kenan menjelaskan semuanya tentang keadaan Kiran kepada kedua mertuanya.
Ia juga merasa sangat tertekan dan merasa lebih takut jika terjadi sesuatu pada istrinya Kiran yang pernah mengalami tabrakan beruntun.
"Kita bisa menyewa dokter di sini untuk menemani Kiran sampai ke tanah air nak, jadi jangan terlalu dipermasalahkan karena ada Allah yang akan menolong kita.
Kita hanya butuh keyakinan atas kebesaranNya." Ucap Tuan Herlan menenangkan kecemasan menantunya.
"Ya Allah mengapa aku tidak berpikir ke arah itu ayah, dari tadi aku sangat kalut hingga tidak bisa berpikir jernih dalam mengatasi keadaan ini."
Ucap Kenan yang kembali lega setelah mendapat saran terbaik dari ayah mertuanya.
"Itulah sebabnya kita harus berbagi jika kita mengalami kesulitan, sekarang kita cukup memperbanyak doa selain ikhtiar." Timpal Nyonya Hanum menyemangati suami dari putrinya ini.
"Terimakasih ayah, ibu, Kiran mohon maaf selalu menyusahkan kalian."
Ucap Kiran yang merasa tak enak hati kepada kedua orangtuanya.
"Hussstt!" jangan berkata seperti itu sayang, ini sudah kewajiban kami untuk memastikan keadaanmu aman dan kembali pulih supaya kita bisa kembali lagi ke tanah air secepatnya." Ucap Nyonya Hanum seraya membelai kepala putrinya penuh cinta.
"Beby Kayla sama Oma dulu ya sayang, dua hari lagi mama akan pulang dan main sama baby Kayla lagi." Ucap Kiran menahan tangisnya yang tercekat di tenggorokannya.
Tuan Herland dan Nyonya Hanum kembali ke hotel dengan membawa ketiga cucu mereka.
Sementara Kenan harus menunggu istrinya Kiran yang lagi berbaring lemah dengan infus yang tertancap pada punggung tangannya.
__ADS_1
Tiga hari kemudian keluarga besar Tuan Kenan bertolak ke tanah air. Seperti yang sudah direncanakan, tuan Kenan yang sudah menyewa dokter spesialis kandungan yang direkomendasikan oleh dokter Agatha untuk mendampingi Kiran selama perjalanan ke tanah air dengan membawa berkas rekam medis pasien milik Kiran.
Perjalanan yang berkisar 18 jam lebih itu membuat Kiran lebih ekstra hati-hati untuk menjaga kandungannya.
Kenan mendampingi istrinya tanpa kenal lelah. Pria tangguh ini selalu sigap ketika Kiran membutuhkan sesuatu. Kiran sangat bahagia keluarganya sangat menjaganya dalam kondisinya yang sangat memprihatikan sekarang ini.
Karena menggunakan pesawat jet pribadi, membuat keluarga ini lebih santai, jika terjadi sesuatu yang sangat fatal dengan Kiran, mereka bisa melakukan pendaratan darurat di bandara terdekat berdasarkan lalu lintas udara yang mereka lewati saat ini.
Kerja sama pilot dan ko pilot stabil dalam mengatasi keadaan pesawat yang kadang-kadang menemukan masalah karena cuaca yang tiba-tiba ekstrem tanpa diprediksi.
Tapi itu tidak berlangsung lama namun cukup membuat jantung hampir terpisah dari tempatnya. Hanya doa dan dzikir yang terus dipanjatkan selama perjalanan agar secepatnya sampai ke tanah air tercinta.
"Kamu tidak apa-apa sayang?" tanya Kenan yang melihat wajah Kiran berubah makin pucat.
"Tegang juga sayang, karena pesawatnya hampir lost control." Sahut Kiran sambil menggenggam tangan suaminya.
"Sekarang keadaan sudah aman sayang, jadi tidak usah cemas lagi ," ucap Kenan menenangkan istrinya yang terlihat sangat gelisah.
"Permisi tuan Kenan saya harus memeriksa keadaan nyonya Kiran untuk memastikan tensi darahnya dan juga kandungannya," ujar dokter Alicia yang sudah siap dengan peralatan medisnya.
Kenan mempersilahkan dokter spesialis kandungan tersebut mengontrol keadaan Kiran. Tapi hatinya rasanya kepingin menangis melihat Kiran seperti mayat hidup karena terlalu pucat akibat dari pesawat yang sedari tadi terus menghindari terjangan awan hitam.
"Kenan jangan bengong, tetap berdoa karena Kiran sangat membutuhkan kamu saat ini, nak.
Ucap ayah mertuanya yang sangat takut menantunya yang ikut drop karena memikirkan Kiran.
Setelah melewati 18 jam waktu tempuh, akhirnya pesawat mereka landing dengan sempurna di bandara pribadi milik mendiang tuan Ghifari yang kini sudah diwariskan kepada putranya Kenan.
Mobil ambulans yang sudah siap disisi badan pesawat lengkap dengan petugas medis dari rumah sakit rujukan yang sudah di siapkan oleh asistennya Yoga.
Kiran dibawa langsung ke rumah sakit, di mana rumah sakit yang sama tempat ia pernah dirawat. Kenan, ketiga anaknya dan kedua mertuanya tetap mendampingi Kiran menuju rumah sakit.
__ADS_1
Dilan yang melihat keadaan mamanya diam-diam menangis. Ia juga tidak tega melihat kondisi mamanya yang terlalu lemah mengandung di saat ini.
"Ya Allah! Berikan kesembuhan untuk mama dan adik bayiku yang ada di kandungan mama sekarang." Ucap Dilan penuh ketulusan.