CINTA Kandas Di Tengah Perjodohan

CINTA Kandas Di Tengah Perjodohan
22. Ngidam


__ADS_3

Begitu mendengar kecelakaan tabrakan yang dialami oleh istrinya, Pasya segera berangkat ke rumah sakit.


Pria ini begitu ketakutan jika istrinya mengalami luka berat atau apapun itu membuat dadanya terasa sesak.


Di ruang IGD, Kiran sedang ditangani oleh dokter jaga. Wajah Pasya terlihat pucat dengan tubuh yang kian gemetar.


"Jika terjadi sesuatu kepada istriku, aku tidak akan memaafkan diriku. Aku sudah membuatnya marah hingga ia mudah setress belakangan ini."


Umpat Pasya makin kesal pada dirinya.


Dokter keluar menemui Pasya yang sedang berdiri di balik pintu ruang IGD. Pasya langsung menghadap dokter itu tanpa di panggil terlebih dahulu dirinya sebagai wali dari pasien Kiran.


"Bagaimana keadaan istri saya dokter?"


"Apakah anda wali dari pasien nona Kiran?"


"Iya dokter."


"Dia hanya mengalami luka ringan kena benturan yang cukup kencang saat terjadi tabrakan beruntun.


Tapi beruntunglah kandungnya tidak bermasalah sehingga janinnya tetap aman di rahim ibunya."


Ucap dokter spesialis kandungan membuat wajah cemas itu berubah sumringah.


Pasya mengusap dahinya merasa tidak percaya apa yang ia dengar saat ini.


"Istri saya hamil, dokter?"


"Apakah anda tidak tahu kalau istri anda hamil sudah jalan dua bulan ini?"


Dokter Dea balik bertanya pada Pasya.


"Justru kami sedang menghadiri kehadiran malaikat kecil kami itu dokter." Ucap Pasya sambil tersenyum lebar.


'Kalau begitu, tunggu apa lagi, temui istri anda!"


Titah dokter Dea sambil membuka pintu ruang IGD itu lebar-lebar untuk Pasya.


Wajah Kiran yang terlihat memar dari beberapa sisi membuat ia sedikit meringis kesakitan. Pasya langsung memeluk istrinya.


"Sayang! Kenapa kamu tiba-tiba pergi tanpa menunggu aku pulang, hmm?"


"Maafkan aku Pasya! Mungkin ini akibat dari durhaka kepadamu. Harusnya aku minta ijin padamu, tapi aku malah pergi begitu saja tanpa menghubungi kamu. Maafkan aku Pasya!"


Ucap Kiran penuh sesal.


"Tidak ada yang perlu di maafkan sayang. Kita sama-sama salah, dan terutama aku yang tidak mengerti perasaan emosional mu ternyata peningkatan hormon yang tidak teratur membuatmu menjadi sangat marah."


"Apa hubungannya peningkatan hormon dan amarahku, Pasya?"


"Karena aku tidak tahu dan kita sama-sama tidak tahu kalau saat ini kamu sedang hamil, sayang."


Deggggg...


"Apa...? Aku hamil?"


"Apakah dokter tidak memberitahumu kalau kamu sedang hamil sayang?"


"Mungkin aku tadi masih belum sadar. Jadi dokter hanya memberitahumu." Ucap Kiran bahagia.


"Permisi nona Kiran!"

__ADS_1


"Iya dokter!"


"Anda boleh pulang sekarang dan tolong tebus resep ini di farmasi rumah sakit. Mulai sekarang jangan lupa minum susu untuk ibu hamil dan jauhkan setress!"


Ujar dokter Dea.


"Terimakasih dokter. Kami akan pamit pulang dulu." Ucap Kiran.


Pasangan ini segera meninggalkan rumah sakit.Kiran yang duduk di atas kursi roda di dorong oleh suaminya menuju lobi usai menebus obat.


Dari kejauhan, Kenan hanya bisa memperhatikan pasangan itu. Kenan lah yang membawa Kiran ke rumah sakit saat gadis itu mengalami kecelakaan.


Beruntunglah saat kejadian tabrakan beruntun itu Kenan berada di samping mobil Kiran yang saat itu sedang melaju kencang. Ia memang sengaja mengikuti mobil Kiran saat gadis itu meninggalkan pantai Ancol.


Ia sangat cemas dengan keadaan Kiran yang saat itu tidak baik-baik saja. Gadis itu duduk di pinggir pantai sambil melamun dan menangis.


Kini gadis itu kembali ceria membuatnya juga merasakan kebahagiaan. Apa lagi saat ini pasangan itu sedang bahagia karena mendapatkan momongan.


"Berarti saat kita bertemu, kamu sedang membohongi diriku kalau kamu sedang hamil muda. Padahal kamu hanya ingin memberitahuku, kalau kamu tidak ingin diganggu olehku."


Kenan bermonolog.


Pria tampan itu memutuskan kembali pulang ke kampungnya setelah mengantar buah-buahan di setiap restoran yang ada di Jakarta yang sudah bekerja sama dengannya sebagai pemasok buah dari perkebunannya.


"Kiran! Jika kamu bahagia dengan pernikahan kamu, aku tidak akan lagi mengganggu dirimu. Tapi jika suamimu menyakiti hatimu, aku tidak akan segan mengambil kamu dari sisinya." Gumam Kenan lirih.


Mobil sport mewah meluncur dengan kecepatan stabil di atas jalan beraspal mulus itu memasuki jalan bebas hambatan.


Sementara di mansion mewah milik Pasya, pasangan ini sedang bersuka cita merayakan kehamilan Kiran berdua saja di kamar.


Pasya lebih banyak berhati-hati jika kelakuannya bisa menyakiti istrinya. Entah itu perkataan maupun perbuatan.


Anehnya saat mengetahui dirinya hamil, Kiran mulai merasakan mual dan ngidam yang aneh-aneh. Ia meminta buah yang tidak ada musimnya.


"Hmm!"


"Aku ingin makan rambutan."


"Tapi sekarang tidak ada musim rambutan." Ucap Pasya.


"Apakah kamu tidak ingin berusaha mencari dulu sebelum mengeluh padaku?" Protes Kiran.


"Baiklah. Aku akan meminta anak buahku untuk mencarinya." Ujar Pasya.


"Jangan lama-lama, aku mau makannya sekarang." Pinta Kiran.


"Apakah tidak bisa makan buah yang lain dulu sayang?" Rayu Pasya .


"Tidak mau!"


Kiran menggeleng cepat menolak buah yang lain yang ditawarkannya.


Kiran menghubungi pelayannya Efi untuk mencari buah rambutan di perkebunan ayahnya di kampung.


"Nona! Di kebun tuan Herlan belum ada musim rambutan. Tapi nanti bibi akan coba tanya kebun orang lain yang mungkin ada buah rambutan yang berbuah walaupun tidak pada musimnya." Ujar bibi Efi.


"Tidak usah bibi Efi!" Ucap Kiran terlihat kecewa.


Kiran ingat rumah kaca milik Kenan yang selalu melakukan percobaan pada tanamannya yang tidak ada pada musim buah, tapi berbuah.


Kiran mondar mandir tidak karuan di kamarnya hanya karena ingin makan buah rambutan yang ada di kebunnya Kenan.

__ADS_1


Ingin rasanya ia menghubungi mantan kekasihnya itu, namun ia begitu takut untuk melakukannya.


"Jika aku menghubunginya langsung, apakah dia akan mau bicara denganku?" Gumam Kiran lirih.


Hasratnya yang begitu kuat ingin menyicipi rambutan membuat ia nekat menghubungi Kenan.


Sementara Kenan yang baru tiba di rumah kaca sedang beristirahat dan menatap wajah Kiran di ponselnya yang kemarin ia ambil saat melihat wajah cantik itu sedang dirundung kesedihan.


"Kiran! Andaikan saat itu aku nekat menghamilimu, mungkin kita tidak akan berpisah seperti ini.


Apakah saat ini kamu masih merindukan aku? kenangan kita. Apakah kamu saat ini bahagia menyambut kehadiran bayimu di tengah kalian saat ini?"


Kenan menarik nafas panjang lalu menghembuskan nafasnya dengan kasar. Rasa rindunya bukan berkurang malah rindu itu makin menjadi.


Dreetttt..


Pasya begitu kaget saat melihat ada panggilan dari nomor milik Kiran. Sambungan WhatsApp itu yang menampilkan wajah cantik wanita yang saat ini sedang ia rindukan.


"Apakah benar ini dari Kiran?" Kenan masih tidak percaya.


Ia mendekatkan ponsel itu pada kupingnya dan terdengar suara manja itu menggema di telinganya.


"Hallo Kenan!"


Glekkkk. ..


"Hallo Kiran..! Benarkah ini Kiran ku?"


Tanya Kenan sambil


berkaca -kaca.


"Benar Kenan! Ini aku, Kiran!" Ucap Kiran gugup.


Keduanya sama-sama diam, bingung untuk melanjutkan lagi ucapannya.


"Ke..nan!"


Lidah Kiran terasa kelu mengucapkan nama yang hampir terlupakan olehnya.


"Kiran! Apa kamu ingin bicarakan sesuatu denganku?"


"Itu aku saat ini sedang ngidam. Aku ingin makan buah rambutan. Sementara tidak ada musim buah itu di Jakarta. Apakah kamu bisa mendapatkan untukku, Kenan?"


"Astaga! Bukankah gara-gara buah itu kita bertemu, Kiran?"


Kenang Kenan sambil tersipu malu.


"Ternyata kamu masih mengingatnya dengan baik Kenan."


"Apapun tentangmu, aku tidak akan pernah melupakannya Kiran." Balas Kenan.


"Terimakasih Kenan. Tapi aku hanya ingin minta buah rambutan saja, tidak ingin membahas yang lainnya Kenan. Aku minta maaf kalau aku terlihat egois Kenan."


Degggg.


"Baiklah. Aku akan segera mengirimkan buah rambutan itu ke Jakarta."


Ucap Kenan lalu menutup teleponnya secara sepihak.


Kenan begitu bahagia saat menerima telepon dari Kiran.

__ADS_1


"Astaga Kiran! Aku kira kalau kamu sudah melupakan aku. Tapi anggapan aku itu salah. Kamu menyimpan perasaan cinta itu untukku hanya saja kamu begitu malu untuk menyatakannya."


Senyum Kenan menghiasi wajah tampannya.


__ADS_2