CINTA Kandas Di Tengah Perjodohan

CINTA Kandas Di Tengah Perjodohan
36. Membebaskan


__ADS_3

Kenan tidak bisa lagi berdebat dengan Kiran karena gadis itu sangat keras kepala dan ingin mantan suaminya segera dibebaskan karena memikirkan mental anak mereka.


Ia segera membebaskan Pasya melalui pengacaranya. Tentu saja Pasya sangat terkejut jika ia dibebaskan oleh pemilik perusahaan di mana ia bekerja sebagai CEO di salah satu perusahaan besar itu.


"Bukankah hukumanku masih empat tahun lagi? kenapa aku dibebaskan secepat ini?"


Tanya Pasya pada pengacaranya saat keduanya sudah berada di dalam mobil.


"Itu karena bos mu yang meminta pengacaranya untuk menghubungi aku dengan membawa surat pencabutan kasus itu."


Ujar pengacara Zyan.


"Wah keren! Ada apa dengan bos itu? Apakah dia saat ini lebih membutuhkan aku untuk memimpin lagi perusahaannya?"


Batin Pasya penuh percaya diri.


Mobil itu melaju dengan cepat menuju kediaman orangtuanya Pasya di mana keluarganya sudah menunggu menyambut kepulangannya yang sudah ditunggu.


Pasya memang tidak bisa kembali lagi ke istananya karena sudah disita oleh pengadilan dan rumahnya itu dikembalikan ke Kenan sebagai pemilik sah kediamannya.


Pasya nampak kelihatan sangat kurus ditambah pipi tirus dengan kelopak mata cekung. Ia turun dari mobil melihat senyum ibunya yang menyambutnya dengan penuh haru.


"Selamat datang putraku sayang!"


Nyonya Zoya memeluk erat putranya.


"Apa kabar ibu!"


"Harusnya ibu yang tanya keadaan kamu saat ini sayang."


"Aku baik-baik saja ibu. Yah walaupun napi tapi masih di kasih makan tiga kali sehari sama negara." Canda Pasya dengan senyum getir.


"Kamu terlihat sangat kurus sayang. Ibu sudah tahu keadaan kamu akan berakhir seperti ini. ibu sudah memasak sendiri untukku. Makanan kesukaanmu."


Nyonya Zoya menggandeng tangan putranya dan langsung menuju ke meja makan. Hidangan berbagai macam menu tersaji di atas meja itu membuat Pasya terlihat kalap.


Ia segera mengeksekusi setiap menu yang ada yang sudah masuk ke dalam perutnya.


"Pelan-pelan sayang makannya!"


"Ini sangat enak ibu. Aku tidak tahan hanya menatapnya saja. Naf*u makan ku malah lebih bertambah kalau menikmati masakan ibuku."


Ucap Pasya sambil menangis.


Nyonya Zoya menangis mendengar ucapan putranya. Sebelum menikah, Pasya lebih senang makan dirumah dari pada di restoran.


Setiap kali makan masakan ibunya, ia merasakan kasih sayang yang tulus dari seorang ibu yang mampu membuat makanan itu menjadi nikmat.


"Ibu, masakan ibu tidak dapat ditandingi dengan chef manapun. Maafkan ibu paling enak sedunia. Ibu adalah koki terbaik yang ada di dunia ini."

__ADS_1


Jelas Pasya yang sudah melahap puding susu kesukaannya.


"Pasya! Ibu harap kamu tidak lagi mengingat tentang mantan istrimu itu karena saat ini dia sudah menikah lagi. Tapi ibu belum tahu siapa suaminya." Ucap Nyonya Zoya.


"Aku tidak berminat untuk memikirkan dia ibu, yang aku pikirkan saat ini adalah putraku yang ingin aku rebut kembali dari tangannya."


"Apaaa..? Putramu masih hidup?"


"Iya ibu. Itulah semua memang kesalahan Pasya Bu. Seharusnya Pasya menunggu persalinan Kiran sampai selesai, tapi Pasya malah meninggalkan dia berjuang sendiri untuk menyelamatkan nyawa anak kami.


"Bagaimana kamu tahu kalau putra kalian masih hidup Pasya ?"


"Sekertaris Lita yang memberitahuku ibu. Dia berpapasan langsung dengan Kiran saat keduanya belanja di Mall. Dia memastikan wajah putranya Kiran sangat mirip dengan wajahku."


"Kenapa kamu harus berurusan dengan wanita itu lagi Pasya? Gara-gara dia kamu hampir kehilangan bayimu dan rumah tanggamu tidak bisa diselamatkan.


"Iya Bu, aku tahu itu. Tapi, setidaknya dia masih berguna untukku. Kalau dia tidak memberitahu aku tentang putraku, mungkin aku tidak akan pernah tahu kalau putraku masih hidup sampai saat ini." Ujar Pasya .


"Apakah kamu ingin menuntut mantan istrimu itu Pasya? Kamu tahu sendiri kita tidak punya cukup uang untuk menyewa pengacara merebut lagi putramu dari Kiran.


"Aku masih punya tabungan, aset dan emas batangan yang aku simpan bisa aku gunakan untuk merebut kembali putraku."


Ucap Pasya sambil mencuci tangannya di wastafel cuci tangan.


"Sayang! Tunggulah sampai putramu berusia lima tahun jika kamu ingin mengambilnya. untuk saat ini, biarkan ia bersama dengan Kiran apalagi dua masih menyusu pada ibunya."


"Apakah putraku akan menderita jika aku merebut dia sekarang?"


"Bukankah putraku juga membutuhkan kasih sayang seorang ayah?"


"Kalau itu memang bagian dari kasih sayang ayah, bagian itu hanya pelengkap saja sayang, bukan kebutuhan utama."


"Baiklah ibu, Pasya akan mempertimbangkan kembali saran ibu. Setidaknya saat ini aku ingin bertemu dengan putraku terlebih dahulu."


"Apakah kamu tahu keberadaan Kiran ?"


"Itu dia Bu! Aku tidak tahu dia menikah dengan siapa dan tinggal di mana. Jika aku bertanya kepada mantan ibu mertuaku pasti mereka tidak akan membuka mulut." Ujar Pasya sedih.


"Sabarlah sayang! Kamu akan meraih kebahagiaan itu jika saatnya tiba. Sekarang kamu harus belajar ikhlas untuk melepaskan sesuatu. Dekatkan dirimu pada Allah dengan begitu kamu akan merasa tenang."


"Baiklah Bu. Pasya mau istirahat dulu."


Pasya mengecup pipi ibunya dan kembali ke kamar bujang nya.


Sementara di kediaman Kenan, suami dari Kiran ini memberikan bukti kepada istrinya surat pembebasan Pasya.


"Semoga kamu lega dan tidak memikirkan lagi reputasi keluarganya untuk kepentingan baby Dilan."


Kenan masuk ke kamar mandi dan menyembunyikan kesedihannya di dalam sana.

__ADS_1


Kiran mengucapkan banyak syukur kepada Allah karena suaminya sudah mengabulkan permohonannya.


Tapi di balik rasa bahagianya tersimpan hubungan yang terlihat tumbang karena sikap Kenan tidak semesra dulu padanya.


Kiran juga merasa sangat serba salah. Ia ingin membuat suaminya bahagia lagi tapi langkah yang diambilnya selalu mentok.


Kiran merasa dirinya tidak lagi berguna sebagai istri. Walaupun ia memakai lengerie kesukaan Kenan, lelaki ini tetap tidak bergeming.


Seperti malam ini. Kiran memakai lengerie baru dengan warna yang merah menantang. Tubuhnya yang jenjang dengan dada yang makin membesar karena pengaruh hormon kehamilan.


ASI nya memang sudah berhenti sendiri dan sekarang putranya Dilan sudah mau minum susu formula.


Kiran mematut lagi tubuhnya di kaca. Warna merah mendominasi dengan dandanan yang sangat menantang, membuat ia sudah seperti wanita penghibur.


"Biarlah penampilanku terlihat seperti *****, setidaknya aku melakukan ini untuk suamiku sendiri."


Gumam Kiran lalu keluar dari kamar ganti itu, melangkah dengan anggun.


Sayang sekali usaha Kiran untuk menghibur suami lagi-lagi berbuah kecewa. Kenan tidak ada di kamarnya. Entah ke mana suaminya itu pergi.


"Dasar suami! Giliran sudah secantik ini malah kabur. Aku harus bahagia?"


Gerutu Kiran berusaha menahan bulir bening yang hampir jatuh.


Tanpa disadari Kiran, suaminya sedang memperhatikan dirinya dari CCTV yang sudah ia arahkan ke seluruh tempat tidurnya.


"Cih! Dia terus berusaha keras untuk menaklukkan hatiku. Tapi aku tidak akan tergoda."


Gumam Kenan lirih.


Walaupun ucapan Kenan mengingkari hatinya untuk menolak mendekati sang istri, namun tidak dengan juniornya yang saat ini sudah mulai menegang dibawah sana.


"Aiss! Kenapa kamu sulit sekali diajak kerjasama, aku tuh sedang marah dengan istriku, tolonglah jangan mengajakku untuk mendekatinya. Kamu harus tenang ya, ikuti aku dan jangan membantah."


Ucap Kenan pada juniornya.


"Alih-alih juniornya itu bisa dijinakkan, sang junior makin terangsang dengan terus membujuk pikiran Kenan agar secepatnya mendekati sang wanitanya yang sudah duduk bersandar dengan mata yang sudah terpejam karena mengantuk.


"Apakah aku harus mendekatinya sekarang? Astaga ini sangat membuatku tersiksa.


Baiklah kita akan melakukan percintaan malam ini dengannya dan kuharap kamu jangan terlalu nakal kalau sudah bertemu dengan miliknya!"


Ancam Kenan pada sang junior yang tidak bisa lagi kompromi.


Kenan masuk ke kamarnya dan melihat tubuh molek istrinya dengan posisi tidur yang sangat menantang dirinya.


Harum tubuh Kiran dengan aroma yang khas wanita yang sangat menggoda iman nya saat ini.


Kenan tidak bisa lagi menahan dirinya untuk tidak menyentuh sang wanitanya. Apalagi sudah satu bulan lebih mereka tidak pernah bercinta.

__ADS_1


Kenan naik ke tempat tidur dan mulai mengecup bibir sang istri membuat Kiran tersentak.


"Kenan.. sayang!"


__ADS_2