CINTA Kandas Di Tengah Perjodohan

CINTA Kandas Di Tengah Perjodohan
14. Sakit Itu Apa?


__ADS_3

Keesokan harinya Kenan tetap datang ke kampus Kiran hanya ingin melihat kekasihnya itu. Tapi lagi-lagi ia harus menahan perih nya luka hatinya menyaksikan kemesraan Kiran dengan suaminya.


Kenan membalikkan tubuhnya sebelum terlihat oleh suaminya Kiran. Ia tidak ingin memberikan masalah pada Kiran yang akan membuat gadis itu menderita.


Hingga mobil yang membawa pergi Kiran, hilang dari pandangannya, Kenan baru bisa keluar dari kampus itu.


Sepanjang jalan pikirannya mulai terganggu dengan menyaksikan kemesraan Kiran dan Pasya tepat dihadapannya.


"Apakah Kiran sudah melupakan aku? Apakah hubungan mereka mulai terjalin layaknya seperti hubungan suami istri? Secepat itukah dia melupakan aku?"


Setiap pertanyaan yang berkecamuk di benaknya tak bisa ia tebak akan jawabannya. Ia begitu takut untuk mengetahui kebenaran jika Kiran sudah menerima cinta dari suaminya Pasya.


"Kiran! Aku baru merasakan sakit itu apa setelah kamu bukan lagi milikku." Gumam Kenan yang baru menyadari kebodohannya.


Ia hanya mengikuti pergerakan mobil milik Pasya yang membawa sang kekasih menuju rumah mereka.


Di sisi lain, Kiran menjadi lebih pendiam dari biasanya saat berada di dalam mobil bersama sang suami. Mata Pasya menangkap raut wajah istrinya yang terlihat menahan kesedihannya hingga wajah Kiran terlihat mengalihkan perhatiannya ke arah luar jendela dengan pandangan kosong.


"Kiran!"


Satu panggilan itu tidak terdengar oleh Kiran.


"Kiran!"


Intonasi suara Pasya mulai meninggi namun tidak mampu membuat gadis itu sadar.


Pasya membanting stir mobilnya dengan gerakan yang sangat mendadak untuk menepi dipinggir jalan yang terlihat mulai lengang.


Kiran tersentak dan berusaha menahan tubuhnya agar tidak membentur dasbor mobil.


"Pasya! Apa-apaan kamu?" Tanya Kiran yang terlihat syok bercampur marah.


"Justru aku yang harus bertanya kepada kepadamu. Apa yang sedang kamu pikirkan hingga tidak mendengar aku memanggilmu."


Ucap Pasya sambil menahan geram pada Kiran.


"Aku tidak mendengar kamu memanggilku, bagaimana mungkin aku bisa menjawab mu." Balas Kiran sengit.


"Tentu saja kamu tidak bisa mendengarkan aku karena pikiranmu terpusat pada mantan kekasihmu itu, bukan?" Omel Pasya.


Deggggg...


"Cih! sok tahu sekali kamu. Apakah kamu bisa baca pikiran ku?"


"Tidak perlu menjadi orang yang paling sok tahu kalau melihat istrinya hanya memikirkan mantan kekasihnya tanpa peduli suaminya yang sah ada di hadapannya." ujar Pasya dengan kata-kata sinis.


"Bukankah aku sudah katakan kepadamu bahwa aku mencintainya bahkan merindukan dirinya dan aku memohon kepadamu untuk melepaskan aku agar aku bisa kembali kepadanya. Bukankah kamu sudah tahu itu, hah?"


"Sampai kau matipun aku tidak akan pernah mengijinkan kamu kembali kepada dia dan itu adalah janjiku! kecuali aku mati."


Glekkkk...


Pasya kembali meneruskan perjalanan mereka. Kali ini Pasya menambah kecepatan laju mobilnya hingga mencapai seratus.


Kiran berusaha tenang menghadapi kecemburuan Pasya yang membuatnya tidak bisa berkutik lagi.


Ia buru-buru membuang perasaannya pada Kenan yang sempat membawanya ke dalam lamunan kerinduan.


Setibanya di mansion, Pasya memperlihatkan wajah datarnya pada para pelayan yang menyambut mereka.


Pasya berusaha tampil apa adanya dengan merengkuh pinggang istrinya agar tidak terbaca oleh para pelayan bahwa hubungan mereka tidak baik-baik saja saat ini.


Di kamar itu penyiksaan mulai terjadi. Kali ini, Pasya memperlakukan Kiran begitu kasar. Baju gadis itu ditarik begitu saja hingga kancing baju itu copot satu persatu.


Dalam sekejap, Kiran sudah dibuat bugil dengan tangan terikat ke atas dan dua kaki yang melebar satu sama lain.


Penyiksaan kenikmatan itu mulai terjadi di dalam kamar itu, hingga Kiran tidak malu lagi untuk melenguh dan mengerang hingga terdengar erotis oleh Pasya.


Perlakuan Pasya yang menyiksa dirinya di tempat tidur tanpa penyatuan tubuh membuatnya sangat menyakitkan dirinya.

__ADS_1


Jika bisa diminta ia lebih ingin diperkosa oleh pria tampan itu daripada menggantungkan gairahnya yang tidak bisa tuntas.


Bukan hanya Kiran sendiri yang merasakan tersiksa karena tidak bisa melampiaskan gairahnya, namun Pasya juga lebih menderita lagi karena ia juga menginginkan hal yang sama seperti Kiran.


"Berhenti menyiksaku Pasya! Aku tidak sanggup lagi!" Pekik Kiran yang ingin digauli suaminya.


"Selama kamu masih memikirkan pria itu, aku tidak akan memberikan hakmu!" Kecam Pasya dingin.


"Sial! berengsek kamu Pasya!" Umpat Kiran geram.


"Terserah apa katamu! Kamu yang sudah menghukum dirimu sendiri bukan? Aku hanya memberikan hukuman sesuai yang kamu inginkan, sayang."


Ledek Pasya yang sudah kembali berpakaian rapi dan melepaskan ikatan pada tubuh istrinya.


...----------------...


Tidak berhenti sampai di situ, Kenan masih tidak ingin menyerah begitu saja. Ia justru datang lebih pagi untuk menemui Kiran setelah beberapa kali ia gagal menemui gadis itu.


Saat melihat mobil Pasya yang sudah meninggalkan kampus Kiran setelah mengantar gadis itu, Kenan mengejar Kiran yang sedang berjalan menuju ke kelasnya.


Tanpa memanggil gadis itu, Kenan langsung menangkap pergelangan tangan Kiran dan seketika, hampir membuat Kiran reflek berteriak namun di urungnya saat melihat wajah tampan mantan kekasih yang sudah menyita waktunya beberapa hari ini.


"Kau...!" Sentak Kiran.


Kiran menengok ke kanan dan ke kiri kuatir kalau Pasya tiba-tiba datang dan menangkap basah mereka saat ini..


"Kenan! Apakah kamu sudah gila nekat menemui aku di sini? Bagaimana kalau suamiku mengetahui pertemuan kita ini?"


Tanya Kiran sambil melepaskan tangannya Kenan yang masih memegangnya.


"Tidak masalah Kiran! Justru aku menginginkan dia mengetahuinya supaya dia melepaskanmu dan aku bisa mendapatkan kamu kembali." Ujar Kenan acuh.


Kiran berpikir keras untuk mencegah Kenan agar tidak lagi menemuinya karena keadaan ini akan membuat Pasya selalu menyiksanya dengan kenikmatan yang sangat menggairahkan namun tidak dapat ia raih semestinya.


"A..ahh! Aku tahu cara mencegah Kenan agar tidak lagi menemui ku." Batin Kiran.


"Kiran! Hanya dengan cara ini aku bisa bertemu denganmu. Aku mohon jangan menolakku apa lagi mengusir aku, Kiran!"


"Lepaskan tanganku Kenan! Semua orang memperhatikan kita. Dan itu tidak baik karena mereka akan mengira aku sedang selingkuh denganmu." Tolak Kiran.


"Jika kamu masih mencintaiku, mengapa kamu begitu peduli dengan penilaian orang lain dengan hubungan kita, Kiran ? Justru aku ingin dengan mereka memandang perselingkuhan kita, maka pernikahan mu berakhir dan kita bisa bersatu lagi dan aku akan segera menikahi kamu, Kiran."


Ucap Kenan sangat frontal.


"Maafkan aku Kenan! Lupakan keinginanmu itu karena saat ini, aku sedang hamil anaknya suamiku."


Jelas Kiran terlihat serius dengan wajah sendu.


Glekkkk...


Kenan menggeleng kepalanya dengan cepat. Ia menolak mendengar pengakuan Kiran yang dianggapnya bohong.


"Tidak! itu tidak mungkin! kau belum disentuh olehnya, bukan?" tanya Kenan lirih.


"Aku ini istrinya Kenan. Bagaimana cara aku untuk menolak suamiku berdasarkan perasaanku. Suka atau tidak suka, dia berhak atas diriku karena dia suamiku."


Ujar Kiran serius.


"Jangan katakan itu Kiran! Kamu sedang bercanda bukan?"


"Sayangnya itu benar Kenan. Sudah dua Minggu kehamilanku. Aku mohon agar kamu tidak menganggu kehidupan rumah tanggaku lagi, Kenan!"


"Tidak...tidak ..tidak!"


Teriak Kenan sambil menutup kedua kupingnya.


"Maaf Kenan! Aku harus masuk kelas. Sekarang sudah waktunya mulai mata kuliahnya. Aku tidak mau dosen menegur keterlambatan ku."


Ujar Kiran lalu pergi dari hadapan Kenan yang melihat punggung Kiran sampai menghilang.

__ADS_1


Kenan tidak merasa putus asa. Ia tetap menunggu kekasihnya itu pulang dari kuliah dan bisa bertemu dengannya. Kenan sengaja menunggu di kantin agar bisa mengisi perutnya yang belum terisi sejak pagi.


"Mau makan apa Tuan?" Tanya penjaga kantin.


"Saya pesan bubur ayam satu dan teh manis hangat."


Ucap Kenan sambil membuka ponselnya menatap wajah cantik Kiran.


Tidak lama bubur ayamnya sudah di siapkan di depannya. Pelayan itu melirik ponselnya Kenan lalu tersenyum.


"Apakah anda kekasihnya nona Kiran atau suaminya?"


"Keduanya."


Ujar Kenan sambil menyuapkan bubur ayamnya ke mulutnya.


"Paling dua jam lagi nona Kiran baru ke kantin, apakah tuan tidak kelamaan menunggunya di sini?"


"Tidak masalah yang penting aku tetap menunggunya. Dua jam tidak begitu lama untukku."


"Baiklah tuan!"


Pelayan itu kembali melayani mahasiswa lain yang sedang memesan makanan di tempatnya.


Satu jam kemudian, Kiran mendatangi kantin dengan kedua temannya. Kenan yang melihatnya langsung menghampirinya Kiran.


"Astaga Kenan! Kenapa kamu masih di sini?"


"Aku ingin bicara dengan kamu Kiran. Ku mohon temani aku sebentar saja!"


"Baiklah. Istirahat ku hanya tiga puluh menit saja, jadi jangan menahan aku lebih lama di sini."


"Apakah kita bisa makan di luar saja Kiran..?"


"Di sini saja! Kalau keluar waktu ku tidak banyak dan itu sangat merugikan. Lagian aku sudah menikah Kenan. Jangan mengajari aku untuk selingkuh. Jika aku jadi istrimu, apakah kamu rela aku menemui mantan pacarku?"


"Tentu saja aku tidak mau Kiran. Aku ingin istri yang setia dan jujur."


"Ok, sekarang kamu mau bicara apa denganmu?"


"Aku sangat merindukanmu sayang. Aku ingin kita kembali bersama. Aku tidak bisa melakukan apapun semenjak kita berpisah. Pikiranku menjadi kacau karena belum bisa menerima kamu menjadi milik orang lain."


"Kenan! Jika aku bisa memilih, aku juga tidak menginginkan pernikahan ini. Jujur aku masih mencintaimu. Tapi ada hal lainnya yang menahan keinginan ku untuk kembali padamu, Kenan."


Ujar Kiran dengan wajah sendu.


"Apa masalahmu, Kiran? Apakah perusahaan ayahmu bangkrut? Atau butuh modal untuk mengembangkan usaha yang lebih besar dari yang ada?"


Tebak Kenan sebisanya.


"Ini bukan masalah yang kamu sebutkan tadi Kenan. Perusahaan milik ayahku baik-baik saja. Ini karena ancaman ayahku yang menyangkut kebahagiaan ibuku."


Degggg...


"Apa maksudmu Kiran? Ada apa dengan kebahagiaan ibumu?"


"Jauh sebelum kita bertemu, ayahku menceraikan ibuku saat mengetahui ibuku menderita kangker rahim.


Ayahku yang merasa masih muda membutuhkan seorang istri yang bisa menyalurkan kebutuhan biologisnya. Dan saat itu ayahku menjalin hubungan dengan pelakor yang usianya lebih mudah dariku dan itu sangat membuat aku marah.


Aku terjun ke pergaulan bebas dengan teman-teman pemakai narkoba. Hingga akhirnya aku ditangkap polisi dan aku bukan pemakai. Itulah mengapa aku di kirim ke kampung dan bertemu denganmu Kenan.


"Lantas apa hubungannya dengan kebahagiaan ibumu?"


"Ayahku berjanji jika ia akan rujuk dengan ibuku jika aku mau menikah dengan Pasya, putera sahabatnya. Itulah mengapa aku mengutamakan kebahagiaan ibuku daripada diriku sendiri. Ku mohon mengertilah Kenan."


Deggg....


"Astaga, jadi kamu rela menderita demi menyelamatkan ibumu supaya ia tetap bersama ayahmu?"

__ADS_1


Kiran hanya mengangguk sambil mengusap air matanya.


__ADS_2