
Keluarga besar Tuan Tristan sudah duduk di ruang tamu sambil menunggu Kiran yang belum juga keluar dari kamarnya.
Wajah Kiran yang sangat cantik dengan gaun mewah berwarna silver dan kerudung yang menghiasi kepalanya serta Tiara kecil sebagai pemanis penampilannya malam itu.
"Jika jari ini sudah disematkan cincin pertunangan maka, kamu tidak punya kesempatan lagi untuk mendapatkan aku Kenan."
Gumam Kiran sambil menatap wajahnya di kaca riasnya.
Cek..lek..
"Kiran! Turunlah sayang! Acara pertunangan kalian akan di mulai."
Pinta nyonya Hanum sambil menatap wajah sendu putrinya.
"Ibu!"
"Hmm!"
"Aku tidak mencintai pria itu Bu. Bahkan kami belum pernah bertemu sekalipun. Sekarang kami bertemu dan langsung tunangan. Apakah hubungan ini nanti akan sehat?"
Tanya Kiran begitu ragu menerima pertunangan ini.
"Jika kamu tidak menginginkan pertunangan ini, sebaiknya kamu menolaknya Kiran. Mumpung belum terlambat dan tanggal pernikahan kalian belum ditentukan."
Ucap nyonya Hanum bijak.
"Ibu, jika ini bukan demi kamu, mungkin aku tidak sudi menerima perjodohan yang ayah tukarkan dengan kebahagiaan ibu dan aku." Batin Kiran.
"Tidak apa Bu! Kiran tidak masalah dengan perjodohan ini. Sebaiknya kita turun sebelum ayah ngamuk."
Ucap Kiran sambil mengembangkan senyumnya pada ibunya dengan perasaan yang sangat pedih.
Ibunya menatap wajah putrinya yang terlihat tertekan namun ia juga tidak ingin membuat suasana semakin rumit dengan bertanya maupun memberikan saran untuk putrinya agar kabur dari acara pertunangan ini.
Kiran turun dari tangga, melangkah dengan anggun menuju tempat yang sudah disiapkan untuknya.
Semua tamu yang yang merupakan keluarga dari calon tunangannya Kiran menatap wajah cantik Kiran bagai seorang peri.
Pasya yang memang sebelumnya juga menolak perjodohan itu belum pernah melihat wajah Kiran walaupun orangtuanya sudah memperlihatkan foto gadis itu padanya, namun tidak satu foto itu dilihatnya.
Wajah datarnya itu hanya menatap ponsel yang saat ini dipegangnya, hingga abangnya menyikut dirinya untuk melihat wanita yang akan dinikahinya.
"Apakah kamu masih tidak ingin melihat calon istrimu Pasya?" Bisik Rasya pada adiknya.
Sedikitpun Pasya tidak bergeming. Ia malah mengharapkan acara ini cepat selesai dan ia ingin kabur secepatnya dari kediaman tuan Herlan. MC segera membacakan agenda acara selanjutnya setelah melihat Kiran sudah ada di tempatnya.
"Acara selanjutnya yaitu penyematan cincin oleh pasangan ke jari mereka masing-masing. Kami persilahkan tuan muda Pasya dan nona Kiran untuk berdiri di tempat yang sudah disiapkan oleh panitia untuk saling menyematkan cincin tunangannya."
Kiran dan Pasya bangkit berdiri dan menuju tempat yang disebutkan dengan saling menundukkan pandangan mereka.
Saat ibunya Pasya nyonya Zoya menyerahkan cincin tunangan pada putranya, Pasya mengambil salah satu cincin itu untuk dipasangkan dijari manisnya Kiran.
Tapi cincin itu jatuh dibawah kakinya Kiran dan keduanya spontan mengambil hingga dahi keduanya terbentur satu sama lain.
"Auhhght!" Pekik keduanya sambil memegang pelipis mereka masing-masing.
Saat keduanya saling menatap wajah mereka, betapa kaget keduanya karena pernah bertemu beberapa tahun yang lalu di dalam pesawat dari Bali menuju Jakarta.
"Kau...!" Ucap keduanya bersamaan.
Tapi mereka tidak bisa melanjutkan kata-katanya dan kembali fokus pada acara tunangan.
Namun dalam hati Pasya, pria yang tidak begitu tampan dari pada Kenan itu, merasa berbunga-bunga saat ini, setelah mengetahui gadis impiannya yang selama ini ia cari akhirnya menjadi miliknya.
Ia begitu semangat menyemaikan cincin itu pada Kiran. Dan sebaliknya Kiran menyemaikan cincin itu dalam keadaan sedih.
"Kalau sudah jodoh, mau lari ke mana nona cantik. Masih ingatkah kamu kalau dulu Abang pernah mengatakan kepadamu apa?"
Bisik Pasya usai menyematkan cincin pada jari Kiran.
Kiran tersentak dan mengenang lagi pertemuan singkat mereka di dalam pesawat beberapa tahun yang lalu.
Acara itu ditutup dengan doa setelah menentukan tanggal pernikahan mereka.
Malam-malam berikutnya, Kiran masih terlihat enggan untuk move on dari kisah cintanya yang sudah kandas.
Ia lebih mengenang percintaannya dengan sang kekasih Kenan yang ada di kampung jauh di sana.
Nyonya Hanum membawakan segelas susu untuk putrinya sebagai pengantar tidur.
"Kiran! Jangan lupa minum susunya sayang!"
"Iya Bu! Nanti Kiran akan meminumnya."
"Apakah kamu menyesal telah bertunangan dengan nak Pasya...?"
__ADS_1
"Tidak ibu...!"
"Kiran hanya ingin merenungi perjalanan hidup Kiran untuk ke depannya, apakah Kiran mampu mencintai Pasya atau tidak."
"Ini masih masa pertunangan Kiran, jangan memaksakan dirimu menerima cinta yang tidak kamu sukai.
Cinta itu ibarat makanan sayang, semuanya terlihat nikmat tapi tidak semua makanan itu menyehatkan bagi tubuh kita."
Ucap Nyonya Hanum menahan kesedihannya."
"Tapi ada juga jenis minuman yang sangat tidak enak Bu, tapi akan membuat kita juga sehat."
"Baiklah. Kalau itu pilihan hidupmu yang terlihat sangat pahit dan bisa membuat kamu bahagia, kamu boleh mencobanya. Tidurlah dan jangan lupa minum susumu!"
Nyonya Hanum beranjak dari duduknya hendak meninggalkan kamar putrinya. Namun di cegah oleh Kiran.
"Ibu...!"
"Iya sayang..!"
"Apakah aku boleh meminjam ponsel ibu..?"
"Kamu mau menghubungi siapa sayang..?"
"Bibi Ina, Bu! Bolehkah aku meneleponnya?"
"Tunggu sebentar sayang!"
Nyonya Hanum mengeluarkan ponselnya dan memberikannya pada Kiran.
"Nomor kontak bibi Ina ada dalam ponsel mama."
"Terimakasih ibu!"
Ibu tunggu di kamar ibu, jika ada ayahmu. Simpan saja ponsel ibu." Ucap Nyonya Hanum lalu meninggalkan kamar putrinya.
Kiran segera menghubungi bibi Ina.
"Hallo bibi Ina!"
"Hallo nyonya.. !"
"Bibi Ina. Ini Kiran bi."
"Ya Allah non! Apa kabar!"
"Sebentar non!"
"Efi! Ini ada telepon dari nona Kiran.
Efi langsung menerima ponsel itu dan bicara pada Kiran dengan perasaan haru.
"Mbak Efi. Apakah aku bisa minta nomornya dari ketiga anak buahnya Kenan?"
"Yang ada hanya punya Izzat saja non."
"Tidak apa mbak! Tolong kirim ke aku sekarang ya!"
"Baiklah. Aku kirim lewat pesan saja ya non."
"Ok. Aku tunggu ya."
Tidak lama kemudian, Kiran sudah mendapatkan telepon Izzat. Ia langsung menghubungi Izzat. Anak buah dari Kenan itu agak bingung ada telepon masuk yang tidak dikenal.
"Ini nomor telepon siapa?"
Izzat ragu untuk menjawabnya.
"Ya Allah. Izzat! kenapa nggak diangkat sih?"
Kiran terlihat kesal. Ia segera menggantinya dengan Video call agar Izzat melihat wajahnya.
Izzat menerima panggilan dengan nomor yang sama dan ia sangat terkejut melihat wajah Kiran. Izzat segera menerima sambungan telepon itu.
Izzat melambaikan tangannya ke arah Kiran.
"Nona Kiran!"
"Izzat! Apakah ada Kenan..?"
"Tuan Kenan sedang sakit non!"
Deggggg....
"Apakah nona Kiran ingin bicara dengannya?"
__ADS_1
"Tidak..aku tidak mau ia makin sakit kalau aku meneleponnya. Apakah kamu bisa mengarahkan kamera ponselmu ke wajahnya?"
"Baik nona. Kebetulan pintu kamarnya terbuka."
Izzat segera masuk ke kamar bosnya dan mengarahkan ponselnya ke wajah Kenan yang terlihat pucat dan sangat kurus.
"Astaga Kenan! Kaukah itu sayang?"
Kiran menutup mulutnya sambil menangis.
"Dia sangat frustasi karena sangat merindukan nona Kiran."
"Terimakasih Izzat!"
Kiran segera mematikan sambungan telepon itu dan menangis. Izzat juga tidak bisa berbuat apa-apa karena situasi keduanya sangat sulit untuk disatukan kembali.
...----------------...
Dalam masa tunggu tiga bulan pernikahan mereka, banyak yang harus mereka persiapkan salah satunya adalah fitting baju pengantin.
Kiran yang enggan menentukan tema apa saja yang akan mereka usung dalam acara perhelatan akbar itu, memilih menyerahkan semua urusan pernikahannya pada sang ibu dan keluarga mempelai pria.
Di saat fitting baju pengantin, Kiran hanya mencobanya dan tidak ingin melakukan sesi pemotretan prewedding bersama dengan tunangannya.
Hal ini memaksa Pasya menjadi kasar kepada Kiran.
"Jika kamu tidak menginginkan pernikahan ini, setidaknya jangan memperlihatkan wajah jelek mu itu pada keluargaku!" Tegur Pasya sarkas.
Kiran melirik wajah tampan Pasya dan tidak ingin mengomentari apapun atas ucapan Pasya padanya.
"Kiran! Apakah kamu tidak ingin foto sekali saja dengan Pasya dengan gaun pengantin yang cantik ini?" Pinta nyonya Hanum.
"Dia tidak menyukainya mami, sebaiknya tidak usah memaksakan kehendak mami padanya." Ujar Pasya.
"Baiklah. Aku siap difoto. Tolong arahkan aku bagaimana berpose yang bagus untuk mendapatkan kualitas foto yang cantik!"
Pinta Kiran pada penata gayanya dari butik tersebut.
Pasya dan nyonya Hanum tersentak mendengar perkataan Kiran yang tidak mereka sangka. Pasya akhirnya mendampingi pengambilan sesi pemotretan dengan berbagai pose.
"Terimakasih Kiran!" Ujar Pasya terlihat bahagia usai sesi pemotretan itu.
"Aku lakukan ini untuk menyenangkan ibu kita berdua bukan untukmu, jadi jangan terlalu senang dulu." Ucap Kiran sinis.
"Aku tahu itu tanpa perlu kamu mengingatkan aku."
Pasya segera meninggalkan butik itu karena tidak ingin berdebat lebih lama dengan Kiran. Ia kembali ke perusahaan ayahnya dengan membawa mobilnya sendiri.
Kini Pasya sudah diangkat menjadi seorang CEO perusahaan Mahatama group. Pria tampan yang berusia 25 tahun ini sebenarnya sudah pernah berkenalan dengan Kiran lima tahun yang lalu saat Kiran tertukar tempat duduk dengannya.
Flash back
Lima tahun yang lalu. Kiran yang baru lulus SMA, mengadakan acara perpisahan dengan teman sekolahnya di Bali. Ketika balik lagi ke Jakarta, Kiran salah menempati kursi milik Pasya.
"Maaf nona! Itu tempat duduk aku."
Ucap Pasya pada Kiran yang sudah merasa nyaman di tempat duduk kesayangannya dekat dengan jendela.
"Tapi aku maunya disini dekat dengan jendela."
Rengek Kiran manja membuat Pasya mengulum senyumnya.
"Tapi aku juga mau duduk dekat dengan jendela."
Ucap Pasya yang tidak mau mengalah.
"Apakah kamu tidak punya saudara perempuan atau ibu? Jadi orang mengalah sedikit kenapa sih!"
Gerutu Kiran lalu bangun dan bertukaran dengan Pasya hanya bersebelahan dengannya.
Pasya merasa senang kerena bisa menang debat dengan gadis ini. Tapi baru saja dia duduk menempati kursinya, datang seorang pria asing yang sangat tampan duduk di sebelah Kiran. Jadilah Kiran berada di tengah diapit oleh dua lelaki tampan.
"Astaga! Kenapa nasibku sial sekali diapit oleh dua laki-laki." Gumam Kiran lirih.
Mendengar keluhan Kiran, Pasya menjadi tidak tega dengan gadis itu. Ia akhirnya mengalah dan meminta Kiran untuk duduk lagi di tempatnya.
"Nona! Kamu bisa duduk lagi di kursi milikku!" Ucap Pasya.
"Benarkah? Ouh, anda baik sekali bang, kalau belum punya istri aku siap jadi istri anda."
Ucap Kiran membuat Pasya langsung terkekeh.
"Sekolah dulu yang benar, nanti Abang akan melamarmu." Balas Pasya yang mengira Kiran masih kelas dua SMA.
"Ini saja baru lulus SMA bang." Ucap Kiran yang tidak sadar, Pasya mulai saat itu sudah jatuh cinta dengannya.
__ADS_1
Namun sayang, keduanya belum sempat berkenalan saat itu, karena Pasya lebih sibuk dengan urusan skripsinya yang sengaja ia susun di dalam pesawat.
Kiran yang melihat kesibukan Pasya memilih tidur hingga tiba di bandara Jakarta.