
Wajah Kiran terlihat sangat cantik dalam balutan busana kebaya putih dan sanggul modern sedang berjalan menuju penghulu yang siap menikahkan mereka.
Tidak seperti dengan pernikahan pertamanya, pernikahan kali ini lebih syahdu, hingga mampu menggetarkan jiwa Kiran yang membuatnya sampai menangis, saat ayahnya menikahkan dirinya dengan pria pilihannya sendiri.
Kenan yang juga saat ini sangat tampan dalam balutan beskap putih sedang mengucapkan ijab qobul dengan sangat fasih dalam satu tarikan nafas.
Acara pernikahan itu hanya sebatas pada acara intinya saja. Tidak ada acara resepsi pernikahan atau lainnya sesuai dengan keinginan pengantin baru ini.
Pasangan ini juga tidak bisa melakukan bulan madu karena masih punya bayi yang baru berusia tiga bulan.
Jadilah keduanya hanya bisa bulan madu di rumah sendiri yaitu kediaman Kenan yang ada di kota Bogor.
Tubuh Kiran yang baru pasca melahirkan masih kelihatan semok dengan dada yang masih sangat membesar karena pengaruh ASI yang saat ini masih dibutuhkan Baby Dilan.
Kenan tidak keberatan jika diganggu oleh makhluk kecil itu yang masih membutuhkan ibunya saat ini.
Usai menyusui sang bayi, Kiran baru bisa melakukan tugasnya sebagai istri dari Kenan.
"Apakah kamu saat ini merasa bahagia sayang?" Tanya Kiran penasaran.
"Lebih dari itu, Kiran. Aku rela menukarkan kemewahan yang aku miliki hanya untuk bisa mendapatkanmu.
Tapi, aku harap jangan pernah berurusan dengan mantan suamimu lagi walaupun suatu saat nanti dia akhirnya mengetahui keberadaan Dilan, putra kandungnya."
"Iya sayang. Tapi bagaimana kalau dia merebut baby Dilan dari kita?" Tanya Kiran cemas.
"Itu tidak akan terjadi karena aku tidak akan membiarkan dia merebut putraku kita."
"Terimakasih Kenan! aku sangat bahagia karena aku memilih ayah yang tepat untuk putraku."
Keduanya melakukan bulan madu mereka dengan penuh gairah. Bibir ranum Kiran yang menjadi incaran pertama sang suami yang sangat ia rindukan selama ini.
Setiap jengkal tubuh Kiran dinikmati dengan jilatan dan kecupan hingga hisapan namun, satu tempat yang tidak boleh diganggu gugat yaitu sumber makanan baby Dilan yang dijaga betul oleh Kenan karena masih panjang masa kontraknya.
"Akhirnya aku merasakan juga milikmu sayang."
Ucap Kenan yang menikmati sesuatu di dalam sana yang menghimpit pusaka miliknya.
Saat pasca melahirkan, Kiran sengaja meminta bagian in**mnya dioperasi kembali seperti gadis.
Ia ingin membahagiakan suami keduanya kelak yaitu Kenan. Malam ini hasil operasi itu sangat sempurna terbukti Kenan menjadi sangat candu dan tidak ingin mengakhirinya.
"Kiran! Kamu sudah melahirkan bayimu, tapi bagian ini terasa sangat kesat dan seakan belum pernah terjamah. Kamu sangat pintar merawatnya sayang."
Ucap Kenan dengan tubuh bergetar hebat menahan nikmat yang tiada tara nya.
Kiran bernafas lega saat mengetahui suaminya terus memujinya bagaikan dia seorang gadis perawan.
"Kiran...!Aku sangat mencintaimu sayang. Milikmu...oh! ini sangat membuatku gila."
Ucap Kenan yang masih juga belum melepaskan benihnya.
Hal ini makin membuat Kiran makin terpuaskan di setiap hentakan yang diberikan oleh sang suami. Hampir satu jam keduanya terus beradu pinggul dalam berbagai gaya hingga Kenan tidak kuat lagi menahan sesuatu yang ingin meledak dibawah sana bersamaan dengan Kiran yang tampak sedang memburu kenikmatan yang saat ini sudah menyapanya.
"Kiran ayo kita lepaskan benih kita bersamaan sayang!"
Pinta Kenan sembari mempercepat adukan hingga akhirnya semburan benih kehidupan itu tertanam di dalam sana.
Tubuh keduanya lunglai setelah berolahraga mencari kenikmatan dengan peluh yang sudah membasahi sekujur tubuh mereka.
Kiran seorang janda yang sudah mengusai permainan panas, hingga tidak sulit baginya untuk membuat Kenan mabuk kepayang malam ini.
__ADS_1
Nafas keduanya terengah-engah dengan tingkat kepuasan yang tak mampu mereka gambarkan. Mendapati Kiran yang sudah janda sama saja mendapatkan seorang gadis perawan yang tidak kalah nikmatnya apalagi cinta keduanya yang menyatukan kembali mereka setelah hampir tiga tahun terpisah.
Impian Kenan yang selama ini memohon kepada Tuhannya agar mengembalikan lagi wanitanya dalam keadaan apapun ia akan menerimanya dengan senang hati.
"Aku harap, kita bisa memberikan adik untuk Dilan agar mereka bisa tumbuh bersama dan menjadi teman main."
Ucap Kenan penuh harap sambil mengusap perut Kiran yang sudah kembali seperti gadis berkat olahraga yoga yang dijalaninya.
"Aaamiin. Semoga doa dan harapanmu segera terkabul, sayang."
"Aku harap kamu juga tidak melakukan pekerjaan berat supaya cepat hamil."
"Kalau ingin aku cepat hamil, kenapa kamu tidak memboyong kami ke rumah kaca Kenan. Aku sangat merindukan suasana desa.
"Usia baby Dilan tidak memungkinkan kita untuk membawanya ke sana sayang, aku harap kamu tetap disini karena mulai besok aku kembali lagi ke perusahaan."
"Maksudmu kamu tidak lagi mengurus perkebunan?"
"Ada Izzat, Hendra dan Agam yang akan mengurus perkebunan. Aku akan fokus pada perusahaan sebelum ada yang melakukan pengkhianatan lagi di perusahaan milikku menjadi milik pribadi mereka."
Ujar Kenan terlihat serius.
"Apakah mereka sudah tidak bisa dipercaya?"
"Mereka sudah terlalu tua untuk mengurus perusahaan dan parahnya tanpa meminta persetujuanku, mereka malah memberikan jabatan CEO itu pada putra-putri mereka yang baru menyelesaikan pendidikan mereka di luar negeri dan itu sangat membuatku gusar.
"Apakah kamu akan mengusir mereka?"
"Hama perlu dibasmi secepatnya, sebelum merusak lahan yang lain dan itu akan membutuhkan biaya operasional yang tidak sedikit." Jelas Kenan.
"Kenapa separah itu kamu baru menyadarinya Kenan. Kamu terlalu asyik dengan hidupmu hingga kamu lupa apa yang telah orangtuamu tinggalkan untukmu untuk dikelola lebih baik lagi bukan malah dibuat makin terpuruk."
"Astaga! ternyata kamu diam-diam sangat menakutkan Kenan. Cobalah untuk lebih rileks dan tetap waspada dengan begitu kamu bisa menangkap musuh dalam selimut tanpa perlu membuat mereka kabur duluan sebelum ada tindakan tegas darimu.
Istilah kata berilah mereka umpan saat keserakahan mereka terlihat jelas, bekuk mereka satu persatu dan serahkan mereka ke pihak berwajib." Imbuh Kiran.
"Wah! ternyata ide mu sangat berlian sayang. Aku suka dengan saranmu. Aku jadi menang banyak mendapatkan kamu sayang." Puji Kenan pada istrinya.
"Sayang, ini sudah larut malam sebaiknya kita bersih-bersih dan tidur."
Kinan mengajak istrinya ke kamar mandi untuk mandi wajib sekalian. Keduanya saling memberikan pijatan hangat namun tidak begitu lama.
Baru saja selesai mandi, alarm sudah memanggil sang ibu. Baby Dilan menangis mencari ibunya karena sedang buang air.
Kiran buru-buru membersihkan putranya dan menggantikan popok baru untuknya. Kenan membaringkan tubuh si kecil disampingnya untuk disusui.
Sementara Kenan tidak mau tidur dipisahkan oleh anak sambungnya. Ia lebih memilih tidur disebelah istrinya agar tidak menganggu si kecil.
Ketiganya melewati malam bersama menunggu datangnya azan subuh, hingga pagi menjelang.
Sekitar pukul delapan pagi, pasangan pengantin baru ini sudah siap menjalani aktivitas mereka sebagai keluarga baru.
Kiran menyiapkan makanan untuk suaminya walaupun yang masak adalah pelayannya. Keduanya menikmati sarapan pagi mereka yang sudah terlambat karena terus menerus bercinta selepas sholat subuh.
"Sayang...!"
"Hmm!"
Aku mau mengajak kamu ke makam kedua orangtuaku, Apakah kamu mau?"
"Astaga Kenan! Kenapa kamu baru mengingatkan aku sekarang? Seharusnya sebelum menikah kita ziarah dulu ke makam kedua orangtua kamu."
__ADS_1
"Emangnya kamu mau minta restu?"
"Hussst! Bukan begitu. Kalau orang yang sudah meninggal kita nggak boleh minta apapun walaupun itu restu. Kita cukup mendoakannya saja."
"Nah itu kamu tahu. Ok kita ke makam untuk mendoakan mereka agar dilapangkan kuburnya dan di terima amal ibadahnya."
"Aaamiin!"
Tidak lama kemudian keduanya sudah siap berangkat ke makam hanya berdua.
Baby Dilan tidak di ajak serta karena saat ini masih terlalu kecil.
Wajah Kenan kembali terlihat muram saat melihat foto kedua orangtuanya yang terselip di dalam dompetnya.
"Apakah aku boleh melihat foto kedua mertuaku, sayang?"
"Aku sangat merindukan kedua orangtuaku, Kiran. Aku lari dari kesedihanku selama bertahun-tahun hingga aku bertemu denganmu, aku baru merasakan kehidupanku yang telah hilang kembali lagi."
"Kenapa harus aku sayang? Bukankah gadis di desa itu bisa kamu miliki?"
"Aku tidak pernah merasakan getaran di hatiku saat melihat mereka."
"Sejak kapan hatimu berdenyut kencang saat melihat aku?"
"Sejak aku melihat gadis yang berani memanjat pohon rambutan yang banyak semut hitamnya."
Ujar Kenan sambil mengulum senyumnya.
"Lagian sejak kapan kamu berada di situ, Kenan dan kenapa kamu tidak mencegah aku untuk tidak manjat pohon itu?"
"Aku sangat takut mendekatimu karena kamu sangat cantik."
"Masa sama orang cantik takut?"
"Masalahnya kecantikan kamu itu membius aku saat itu. Aku baru saja terpana melihat wajah cantik kamu, tapi kamu nya sudah berada di atas pohon itu, ya sontak saja aku makin kaget."
"Memang sih! Kalau di pikir-pikir aku memang sangat memalukan saat itu. Aku nekat membuka bajuku di balik punggungmu dan meminta kamu untuk menggaruk punggungku. Untung sekarang jadi suami aku."
"Tapi aku tidak seberuntung Pasya yang telah mengambil mahkota pertama kamu Kiran."
"Apakah itu penting, sayang?"
"Tidak berapa penting, karena aku sudah menyentuh tubuhmu sebelumnya."
"Kalau begitu jangan pernah mengeluh lagi karena kamu sudah mengambil hakmu di tubuhku tanpa pernikahan."
"Apakah kamu menyesal?"
"Tentu saja tidak sayang karena aku sangat -sangat mencintai kamu Kenan."
"Terimakasih Kiran! Sudah hari-hariku kembali berwarna. Aku tidak tahu kelanjutan hidupku jika kamu tidak datang ke
kampung ku saat itu."
"Yah, kalau sudah jodoh mau lari ke mana tetap saja dapat dan kamu adalah pemenangnya." Ujar Kiran membuat keduanya terkekeh.
Akhirnya keduanya tiba di pemakaman. Kenan dan Kiran duduk berdua di antara makam kedua orangtuanya Kenan.
Keduanya berdoa dengan khusyuk seakan banyak sekali mereka meminta kepada Allah untuk kebaikan almarhum dan almarhumah.
Usai berdoa, Kiran menyiramkan air di kuburan keduanya dan menabur bunga. Kenan tersenyum melihat kebaikan hati istrinya.
__ADS_1