CINTA Kandas Di Tengah Perjodohan

CINTA Kandas Di Tengah Perjodohan
25. Lebih Baik Pergi!


__ADS_3

Kenan tersentak kaget mendengar ucapan Kiran barusan. Ia tidak menyangka apa yang ia baru katakan beberapa hari kemarin pada mantan kekasih akan secepatnya terkabul.


"Apakah saat ini aku sedang bermimpi?" Tanya Kenan dalam hati.


"Kenan! Apakah kamu sedang mendengarkan aku?" Tanya Kiran terdengar kesal.


"Kiran ! Apakah saat ini kamu dalam keadaan marah?"


"Iya! Saat ini aku sedang marah, kecewa dan sakit hati."


Ungkap Kiran melepaskan segala gundah di hatinya.


Kenan baru mengerti bahwa ucapan Kiran yang sedang marah tidak akan bisa ia pegang karena ucapan itu hanya sifatnya sementara.


Kini Kenan hanya bisa menjadi teman yang baik untuk Kiran agar bisa mendengar curahan hati Kiran yang saat ini sedang sedih.


"Apa yang terjadi Kiran..?" Tanya Kenan penuh kesabaran.


"Ia tidak menghargai aku dan juga tidak menjaga perasaan aku sebagai istrinya." Ucap Kiran yang belum dipahami oleh Kenan.


"Apakah kamu bisa bicara denganku secara mendetail Kiran?" Pinta Kenan.


Kiran menceritakan awal mula pertengkaran ia dan suaminya terjadi sebelumnya. Kenan mendengarkannya dengan baik. Hatinya ikut merasakan kesedihannya Kiran.


Ia bisa menyimpulkan bahwa Kiran tidak salah mengambil keputusan yang terdengar ekstrim dan terburu-buru jika sikap Pasya tidak memaklumi keadaan istrinya yang sedang hamil muda dan sulit untuk menerima wanita lain yang terlalu dekat dengan suaminya.


"Kiran! Aku mohon sekarang kamu tenang sayang! Ingatlah kamu saat ini sedang hamil muda. Kamu harus melawan amarahmu demi calon janin mu."


Kenan menasehati Kiran dengan bijak.


"Aku tidak sanggup lagi Kenan. Jika perempuan itu masih ada di tengah kami maka pernikahan ini tidak sanggup untuk bertahan."


Tangis Kiran mulai pecah.


"Kiran! Aku siap menjemputmu, jika ia menyia-nyiakan hidupmu. Sekarang kamu harus fokus pada kehamilan kamu, apakah kamu mengerti apa yang aku pinta?"


Ucap Kenan penuh ketegasan.


"Aku butuh kamu Kenan, aku ingin kamu mendengarkan keluhan."


"Ia sayang! Aku harap kamu tetap bersabar sampai kamu tidak mampu lagi bertahan, aku akan merebut dua darimu."


Hibur Kenan membuat hati Kiran terasa tenang kini.


Kiran mengakhiri teleponnya dengan Kenan lalu masuk ke dalam selimut dan tidur. Ia berharap suaminya tidak lagi menganggunya agar pikirannya merasa lebih tenang.


"Kenan! Untung ada kamu hingga aku tidak perlu merasa tersiksa sendiri menghadapi kemelut rumah tanggaku. Cukup mendengarkan keluhan ku saja aku sudah merasa baikan saat ini."

__ADS_1


Ucap Kiran laku memejamkan matanya.


Di tempat yang berbeda, Pasya mendatangi apartemen sekertarisnya Lita untuk menanyakan kepada gadis itu tentang ocehannya yang sudah membuat istrinya sakit hati.


Ting tong...


Lita yang baru habis mandi keluar melihat siapa tamunya. Betapa kagetnya Lita saat melihat sosok lelaki idamannya. Ia segera membuka pintu kamar utama itu dengan menampakkan senyum terbaiknya.


"Tuan Pasya! Kenapa tiba-tiba datang ke apartemenku?"


Ucap Lita yang hanya memakai baju mandinya dengan handuk yang masih melilit di kepalanya.


"Mengapa kamu menghapus riwayat panggilan masuk dari istriku? dan apa yang kamu katakan kepadanya, hah?"


Lita mundur beberapa langkah menghindari amukan Pasya.


"Aku tidak tahu apapun. Aku tidak menerima telepon dari istrimu apa lagi bicara padanya."


Lita menyangkal tuduhan Pasya.


"Oh, jadi kamu ingin mengatakan kalau istriku yang berbohong, begitu?"


Pasya balik menyerang Lita.


"Sungguh aku tidak tahu tuan Pasya!"


"Tapi sumpah aku tidak tahu apapun. Bisa jadi Kiran sedang menipumu agar kamu membenciku."


Kilah Lita mempertahankan kebohongannya.


"Baik! Jika kamu tidak mau jujur, mulai besok jangan pernah muncul lagi di perusahaan. Aku memecat mu!"


Ancam Pasya membuat Lita menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Tidak! Jangan lakukan itu padaku! Baiklah, memang benar dia menelepon Anda tuan dan aku yang mengangkatnya. Saat itu dia menghinaku dan aku membalas penghinaan nya yang membuat ia sakit hati." Ujar Lita lirih.


"Rupanya sebuah ancaman bisa memaksamu untuk berterus terang. Terimakasih Lita, jika hubungan aku dan istriku hancur kaulah penyebabnya dan aku tidak segan-segan mendepak mu dari perusahaan ku!"


Ucap Pasya lalu membuka pintu apartemen Lita dengan perasaan kesal.


Lita membanting piring yang ada di atas meja makannya yang menyatu dengan ruang tamu. Niatnya yang ingin menghancurkan keluarga Pasya ternyata tidak berhasil.


"Sialan..! Aku yang mengurus kebutuhanmu selama ini tapi kamu lebih memilih wanita ******* itu di bandingkan denganku..!"


Tangis Lita pecah meratapi nasibnya yang malang.


Pasya yang baru tiba di mansion, masih belum bisa membuka pintu kamarnya karena Kiran mengunci dari dalam. Ia harus terpaksa tidur di kamar tamu kerena tidak ingin menganggu istrinya yang akan membahayakan janin mereka.

__ADS_1


...----------------...


Dua bulan berlalu, kini kehamilan Kiran sudah memasuki bulan ke empat. Itu berarti sebentar lagi, Allah akan meniup roh ke dalam calon janinnya.


Kiran berusaha menjaga dengan baik kesehatannya agar tidak terganggu dengan hal-hal mengancam tumbuh kembang janinnya.


Kiran yang belum bisa memaafkan suaminya memilih menjaga jarak dengan Pasya di dalam rumah. Ia sama sekali tidak ingin memberikan kesempatan kepada Pasya padahal suaminya sudah berulang kali minta maaf.


"Kiran! sampai kapan kamu akan mendiamkan aku seperti ini, hah?"


"Sampai anak ini lahir dan kita bercerai!"


Deggggg...


"Apakah kamu sudah gila, Kiran!"


"Aku tidak gila, tapi aku hanya ingin memandang hidup ini secara realistis." Ungkap Kiran.


"Apa maksudmu, Kiran?"


"Aku tidak akan membiarkan perasaanku tersakiti olehmu dengan menerima hubungan kerjasama dengan sekertaris mu demi profesionalitas atas nama perusahaan.


Jika dua masih ada dalam hubungan kita, itu berarti kamu sedang memelihara ular itu yang suatu saat nanti akan menghancurkan rumahtangga kita." Ucap Kiran.


"Kiran! Apakah tidak ada bahasan yang lebih berbobot daripada ucapanmu yang berulang kali dengan orang yang sama dalam perdebatan kita?"


"Itu terserah kepadamu, aku hanya tidak hati dan pikiranku terus terkuras karena adanya wanita itu. Singkirkan dua dari perusahaan atau hubungan ini akan berakhir."


Deggggg...


"Baiklah. Aku akan memecatnya tapi, beri aku waktu untuk mendapatkan pengganti Lita."


Pinta Pasya penuh permohonan pada Kiran yang terlihat seperti batu besar yang tidak bergeming pendiriannya sedikitpun.


"Terserah padamu. Kalau kamu lebih memilihnya. Lebih baik aku pergi dari rumah ini dengan anakmu."


Deggggg....


Kiran mengambil ponselnya dan berselancar indah dengan sahabatnya Rena untuk berbagi masalah besar yang sedang ia hadapi saat ini.


"Rena! Sepertinya suaminya tidak begitu mempedulikan perasaanku."


"Emang ada apa lagi non Kiran ?"


"Dia lebih peduli dengan sekertaris Lita dari pada aku. Sepertinya aku ingin mengakhiri pernikahan kami kalau suamiku tidak pernah memihak kepadaku."


"Ya Allah! Sabar ya non Kiran. Semoga ada jalan keluar dari masalah yang menimpa nona Kiran." Balas Rena.

__ADS_1


__ADS_2