
Pasya dan Kiran menghadiri sidang perceraian perdana mereka yang sesaat lagi akan di mulai.
Hanya ini jalan satu-satunya ia bisa bertemu dengan Kiran karena sulitnya ia mencari sang istri di manapun.
Sebelum mulai persidangan, pihak pengadilan agama melakukan mediasi antara keduanya. Pasya sangat senang adanya cara mediasi membuat ia memiliki kesempatan untuk bisa bicara dengan Kiran.
Pasya melihat Kiran yang sedang duduk di dalam ruangan itu terlihat asyik bermain ponselnya. Ia langsung menghampiri sang istri dan ingin memeluk Kiran namun Kiran menahan dada Pasya yang ingin memaksakan dirinya untuk berpelukan.
"Menjauh lah dariku karena aku tidak ingin berpelukan denganmu. Aku sangat membencimu Pasya."
Ucap Kiran sambil mengepalkan kedua tangannya melihat tampang Pasya.
"Kiran! Kamu ke mana saja sayang?" Tanya Pasya lembut.
"Bukan urusanmu."
Ucap Kiran ketus.
"Jelas menjadi urusanku Kiran karena kita masih suami istri dan belum bercerai."
Pasya berdalih.
"Aku sudah tidak mencintaimu dan ingin berpisah darimu."
Ucap Kiran tegas.
"Tidak Kiran. Jangan katakan itu! Kita bisa memperbaiki semuanya dari awal lagi. Aku sudah memecat sekertaris Lita, Kiran."
Bujuk Pasya sambil memelas pada istrinya yang sedikitpun tak bergeming.
"Aku sudah tidak peduli atas apa yang kamu lakukan pada sekertaris mu itu. Yang jelas aku ingin bercerai darimu."
Tolak Kiran.
"Kiran! Aku akan memberimu banyak anak dan keluarga kita akan bahagia. Tolonglah sayang!"
Bujuk Pasya namun rayuannya itu sudah tidak lagi mempan untuk hati Kiran.
"Aku hanya ingin kita bercerai titik!"
"Aku minta maaf Kiran. Aku sadar sikapku sangat keterlaluan kepadamu. Tapi aku akan memperbaiki semuanya dari awal lagi. Kali ini aku akan mendengarkan semuanya apa yang kamu katakan."
Kali ini rayuan Pasya terlihat frustasi karena tiap kalimat yang di ucapkan nya tidak lagi mempan di kuping Kiran.
Tekad Kiran sudah bulat. Ia tidak ingin berurusan lagi dengan lelaki yang tidak bisa tegas dalam mengambil keputusan apa lagi menghargai posisinya sebagai istri.
Tidak lama, tuan Herland dan sang istri masuk untuk mendamaikan putrinya Kiran dan menantunya Pasya.
"Kiran! Dalam kehidupan rumah tangga memang selalu ada badai untuk menguji cinta kalian. Tapi kalau kalian saling menerima kekurangan dan kelebihan kalian masing-masing pasti semuanya akan terlihat mudah walaupun kesalahan yang kalian lakukan sangat fatal."
Ucap tuan Herlan berusaha netral, tidak ingin memihak satu sama lain.
"Termasuk mendorong tubuhku saat aku dalam keadaan hamil besar dan membuatku sampai pendarahan? apakah kekejaman itu yang harus aku maafkan dia ayah?" Tanya Kiran menahan kesal dengan dada yang naik turun tak bisa di kendalikan.
Deggggg...
"Apa maksudmu mendorong Kiran?"
Tanya Tuan Herland ingin memperjelas agar tidak gagal paham.
"Hanya gara-gara ingin membela sekertarisnya dari amukan ku, ia dengan teganya mendorong tubuhku hingga terpental. Pinggangku sangat sakit dan aku harus melahirkan bayiku secara prematur karena kontraksi secara mendadak."
Imbuh Kiran sambil mengusap air matanya.
Deggggg
"Benarkah yang dikatakan Kiran, Pasya?"
"Dan lebih menyakitkan, ia pergi meninggalkan aku saat aku sedang mempertaruhkan nyawaku untuk melahirkan putraku."
__ADS_1
Lanjut Kiran sengit.
"Untuk apa aku harus menunggumu di sana kalau pada akhirnya putraku mati. Bukankah aku harus merelakan putraku mati demi menyelamatkan nyawamu?"
Pasya membela dirinya merasa sudah berjasa kepada Kiran.
"Setidaknya kamu bisa menungguku hingga persalinan ku selesai." Pekik Kiran makin geram.
"Pasya! Apakah itu yang kamu lakukan kepada putriku?"
Bentak tuan Herland dengan wajah memerah.
"Aku sudah tidak sudi kembali lagi padanya ayah, ibu."
Ujar Kiran sambil menangis.
"Mengapa kamu mengamuk pada sekertarisnya Pasya, nak?"
Tanya Nyonya Herland.
"Karena dia sengaja mencium Pasya saat aku masuk ke ruang kerja suamiku. Ia ingin membuat aku cemburu. Dari awal aku sudah meminta Pasya untuk memecatnya karena dia sangat licik untuk mengalahkan aku, bahkan memfitnah diriku.
Hanya saja si bodoh ini masih mempertahankan sekertarisnya itu hingga insiden itu terjadi.
Tubuhku di dorong sangat keras hingga aku tidak bisa berjalan dan pendarahan mulai terjadi saat masih berada di perusahaannya."
Degggg..
Plakkkk...
Tuan Herland menampar keras wajah Pasya dengan wajah kelam menahan amarahnya.
"Aku menikahkan putriku untuk kamu lindungi, tapi kamu malah membuat hidupnya sengsara kerena sekertaris yang tidak jelas itu. Dasar bajingan!"
Tuan Herland hampir meninju wajah menantunya namun di tangkis oleh Pasya.
"Jangan berani menyentuhku lagi! Aku akan senang hati menceraikan putrimu. Mari kita bercerai Kiran. Aku menjatuhkan talak tiga padamu, Kiran."
Pasangan itu duduk di hadapan bapak hakim guna mendengar penuturan hakim untuk meminta para pengacara mereka menyampaikan setiap keluhan yang di sampaikan oleh pasangan suami istri itu.
Kali ini Pasya sudah tidak mau lagi berurusan dengan istrinya Kiran apa lagi putra mereka sudah meninggal menurut pemikiran Pasya.
Usai sidang perdana perceraian mereka, Pasya langsung meninggalkan ruang sidang dan kembali ke perusahaannya dengan hati gundah.
Kedua orangtuanya Kiran menghampiri putrinya dan mengajak ibu beranak satu ini pulang ke rumahnya.
"Kiran! Kembalilah ke rumah, nak. Jangan bersembunyi lagi. Kalian akan bercerai, ayah mohon, nak! Maafkan ayah sudah menyerahkan kamu pada lelaki yang salah."
Pinta tuan Herland dengan mata berkaca-kaca.
"Nanti Kiran akan pulang ayah, ibu. Tapi saat ini, Kiran belum bisa pulang ke rumah ayah sebelum keputusan perceraian dari pengadilan resmi di putuskan oleh hakim."
Ujar Kiran setengah memelas pada ayahnya.
"Kalau begitu, katakan di mana kamu tinggal supaya ayah dan ibumu tidak kuatir, sayang."
"Di Bogor ayah, di rumah teman Kiran..Dia tinggal sendirian dan dia belum menikah. " Ujar Kiran bohong.
"Baiklah. Kalau begitu pulanglah dan hati-hati sayang! Titip salam kami untuk temanmu."
Ucap tuan Herlan terlihat sangat sedih dengan nasib pernikahan putrinya.
Kiran harus pura-pura menumpang taksi karena ia tidak ingin jejaknya ketahuan oleh kedua orangtuanya maupun Pasya yang mungkin penasaran dengan tempat tinggalnya.
Saat memasuki Mall, Kiran buru-buru menuju parkiran Mall untuk masuk ke mobilnya Kenan di mana pria itu sudah menjemputnya.
"Bagaimana dengan sidang pertamamu Kiran?"
"Bukan sidangnya, sayang tapi proses medianya yang cukup menegangkan hari ini." Sahut Kiran.
__ADS_1
"Apa maksudmu Kiran?"
"Ayahku hampir memukul Pasya karena sangat geram dengan perlakuan menantunya itu."
Ucap Kiran lalu menceritakan semua pada Kenan apa yang terjadi di ruang mediasi.
Kenan tampak lega akhirnya, ayah dari Kiran menyetujui untuk perceraian itu.
"Apakah kamu lelah, sayang?"
Tanya Kenan lalu menautkan jemarinya pada tangan Kiran.
"Kenan! Aku belum resmi bercerai, tolong jangan lakukan itu kepadaku, apa lagi aku harus melewati masa Iddah."
Ucap Kiran menolak untuk disentuh Kenan.
"Sayang...! Pasya sudah menjatuhkan talak padamu. Dan kamu sudah melahirkan bayimu tanpa digauli olehnya lagi saat kau masuk masa suci. Sekarang si kecil sudah berusia dua bulan dan kita akan menikah setelah perceraian diputuskan."
Jelas Kenan agar Kiran tidak salah paham kepadanya.
"Tapi aku ingin kita bisa melakukan apapun setelah semuanya terlihat jelas, Kenan." Bantah Kiran.
"Astaga! Kau ini...!"
Kenan terlihat kecewa karena banyak sekali ucapan Kiran yang membuatnya pusing dengan sengaja menolaknya secara halus.
Keduanya kembali terdiam dengan duduk saling berjauhan.
"Bagaimana kalau Kenan kalap dan mencoba meniduri aku?"
Batin Kiran sambil bergidik.
...----------------...
Demi kenyamanannya, Kiran meminta ijin pada Kenan untuk pulang ke rumah kedua orangtuanya hingga perceraiannya dengan Pasya diputuskan.
"Mengapa kamu tiba-tiba ingin pulang ke rumah orangtuamu, Kiran? Bukankah kamu ingin menyembunyikan putramu dari Pasya?
Bagaimana kalau dia tahu kalau anaknya masih hidup dan menuntut hak asuh jatuh padanya, bukankah itu akan mempersulit dirimu?"
Jelas Kenan panjang lebar.
"Tapi aku tidak mau hubungan kita berakhir fitnah jika kita tinggal seatap sementara status pernikahanku belum jelas, Kenan."
"Ini hanya masalah birokrasi saja Kiran. Secara agama, Pasya sudah menjatuhkan talak tiga kali pada kamu, dalam sekali ucap." Imbuh Kenan.
Kiran menggigit bibir bawahnya, merasa cemas dan seba salah. Ia merasa bersalah karena menempatkan dirinya sendiri dalam sebuah dilema saat ini.
Disamping memikirkan putranya dan juga kebahagiaannya dengan Kenan yang belum terlihat jelas.
"Baiklah, kalau kamu ingin kenyamanan, aku akan meninggalkan kalian berdua di sini dan kembali ke kampung hingga keputusan perceraian kaku dan Pasya berakhir."
Ujar Kenan mengalah.
"Maafkan aku Kenan! Aku tidak bermaksud menyinggung perasaan kamu karena aku sangat kuatir dengan status kita yang belum menikah."
Ucap Kiran tidak enak hati.
"Aku mengerti Kiran. Aku harap semua prahara rumah tanggamu cepat berlalu agar kamu bisa kembali lagi kepadaku. Aku sangat merindukan kenangan indah yang pernah kita toreh bersama."
"Akan ku pastikan kali ini tidak akan membuat kamu kecewa."
Janji Kiran meyakinkan Kenan.
"Aku tunggu saat itu tiba Kiran. Tidak ada lagi yang lebih berharga bagiku selain dirimu dan juga si kecil.
Jadilah ibu dari anak-anakku karena aku tidak ingin hidup sendiri tanpa ada saudara untuk berbagi." Jelas Kenan.
"Hmm!"
__ADS_1
Kiran mengangguk sambil tersenyum manis pada sang kekasih yang menatapnya dengan sendu.
Keesokkan harinya Kenan kembali lagi ke kampungnya agar Kiran merasa nyaman tinggal di rumahnya. Bagaimanapun juga, Kiran akan menjadi nyonya do rumah itu.