
Pasya mematuk tubuhnya didepan cermin beberapa kali. Entah mengapa ia begitu gugup, padahal yang akan ia temui itu adalah putranya sendiri yang berusia satu tahun setengah.
"Sudah sayang! Kamu hanya membuang-buang waktu di depan kaca itu. Tuan Kenan pasti sudah menunggumu.
Putramu juga tidak akan memuji ketampananmu. Ia masih sangat kecil dan tidak mengerti apapun." Ucap Nyonya Zoya.
"Aku hanya gugup ibu. Rasanya aku tidak percaya kalau aku akan bertemu dengannya. Putraku. Entah apa yang akan kami lakukan saat kami nanti bertemu."
"Tuan Pasya akan memberitahukan padamu apa saja yang disukai putramu dengan cara itu, kamu akan menyesuaikan diri dengan aktivitas putramu."
"Baik ibu. Kalau begitu aku berangkat sekarang. Mohon doanya Bu, agar putraku mau menerima aku."
Pasya mengecup tangan ibunya. Ia segera masuk ke mobil dan berangkat ke Bogor menemui sang putra tersayang.
Karena area jalan keluar tol memasuki kota Bogor yang sangat macet membuat Pasya sedikit cemas. Ia menghubungi Kenan kalau ia mengalami kemacetan di sini.
Kenan mengerti dan bersabar menunggunya.
"Semoga cepat sampai sebelum putramu tertidur dan dia tidak ingin melihat wajah ayahnya." Ucap Kenan memberi semangat kepada Pasya.
"Siap! Aku akan lebih cepat. Sedikit lagi akan mencapai jalur ke arah rumahmu." Balas Pasya.
Kiran menghampiri suaminya yang sedang menerima telepon dari sang mantan suaminya.
"Apakah Pasya sudah dekat?"
"Sebentar lagi tiba! Apakah baby Dilan sudah tidur?"
"Belum, paling sedikit lagi Dilan tidur." Ucap Kiran lalu kembali ke kamarnya menyusui baby Kinan.
Deru mobil Pasya terdengar oleh Kenan. Pria ini keluar dengan menggendong baby Dilan menyambut ayah kandungnya.
Dilan hanya menatap Pasya yang melihatnya tanpa berkedip. Jantung memacu lebih cepat seakan nyawanya ikut keluar kini.
Perasaannya tidak tahu seperti apa saat ini.
"Perasaan ini lebih dari orang jatuh cinta. Perasaan ini lebih istimewa saat bertemu dengan bagian dari diriku. Apakah dia menyukaiku?"
Pasya menarik sudut bibirnya dan tersenyum hambar dengan tubuhnya gemetar.
"Dilan..!Ini Papamu..!"
"Papa....?"
"Ini ... Daddy?"
Dilan menunjuk ke arah Pasya dan Kenan untuk memanggil keduanya namun ia tidak mengerti status panggilan itu.
"Apakah dilan mau digendong papa..?"
Tanya Kenan sambil memperhatikan wajah baby dilan yang tidak melepaskan pandangannya ke ayah kandungnya ini.
Pasya mencoba merentangkan tangannya menyambut putranya yang sudah mencondongkan tubuhnya ke Pasya.
"Babyyyy....!"
Tangis Pasya pecah saat bisa menggendong tubuh gempal itu.
Kenan mengajak Pasya masuk dan duduk di ruang keluarga. Pasya mengecup pipi putranya bertubi-tubi sambil menangis. Baby Dilan balas mengecup pipi sang ayah membuat Pasya makin terbang ke awan.
"Astaga..! Putraku mencium aku juga."
Binar mata Pasya bersinar seakan mendapatkan ciuman dari bintang cantik artis dunia. Tapi perasaan ini lebih indah dari semua itu. Hadiah termahal yang tak ternilai.
Rupanya baby Dilan tidak butuh waktu lama untuk beradaptasi dengan sang papa kandung karena keduanya langsung akrab.
__ADS_1
Kenan meninggalkan keduanya untuk main bersama.
"Apakah aku bisa meninggalkan kalian berdua?"
"Boleh." Ujar Pasya sambil senyum-senyum.
"Itu kamar milik baby Dilan. Dan susunya sudah di letakkan di kamarnya. Kalau mau main ke kamarnya silahkan!"
Ucap Kenan dengan senyum pelitnya lalu kembali menemui Kiran yang agak segan menemui Pasya.
"Papa ..!"
"Iya sayang..!"
"Kita ke kamar Dilan!"
"Tunggu sebentar..!"
"Papa punya hadiah untuk Dilan."
"Hadiah...!"
"Iya hadiah sayang."
Pasya menggendong putranya untuk mengambil hadiah di mobilnya. Baby Dilan membawa sendiri hadiah dari ayahnya.
Setibanya di kamarnya, Dilan membuka hadiah dari ayahnya yang ternyata adalah bola.
"Ayo papa kita main bola!"
Pinta Dilan disambut antusias Pasya.
"Ok, let's go baby!"
Pasya begitu senang bermain bola di kamar Dilan yang cukup lega.
"Papa....! Dilan mau susu."
Pasya langsung mengambil susu yang ada di nakas tempat tidur Dilan. Dilan meminum susu dan tidur di paha Pasya. Lama kelamaan Dilan akhirnya tertidur.
Pasya menidurkan putranya di lengannya sambil berbaring di kasur milik dilan. Hatinya merasakan kenyamanan.
"Ya Allah! Aku telah melewati semua hari yang terbuang. Aku yang menyebabkan putraku hampir mati dan menganggap dia juga mati.
Dan sekarang dia ada dihadapanku dan aku dapat merasakan tubuhnya, harum nafasnya dan senyum indahnya. Dia sangat menggemaskan. Baby kamu aku kembali hidup. Cepatlah besar sayang! supaya papa bisa mengambil mu dari ibumu."
Tukas Pasya sambil menatap wajah tampan putranya.
Sementara di dalam kamar Kiran dan Kenan, pasangan ini sedang membahas pertemuan Pasya dan baby Dilan.
"Apakah baby Dilan suka sama Pasya?"
"Keduanya langsung akrab. Mereka memiliki ikatan emosional yang tak terbantahkan. Baby Dilan langsung jatuh hati pada ayahnya.
Hubungan mereka tidak bisa dihalangi oleh apapun dan siapapun. Pasya bahkan tidak malu ketika memeluk putranya sambil menangis."
"Syukurlah. Aku begitu kuatir kalau baby Dilan akan menolak Pasya. Ternyata prasangka terlalu berlebihan, hingga aku terus merasa gelisah jika kehadiran Pasya akan membuat dilan tidak merasa nyaman."
"Aku harap kamu tidak cemburu melihat kedekatan Pasya dan putranya! Berilah mereka kesempatan untuk bersama dan saling melepaskan rindu. Dengan begitu, Pasya tidak akan berusaha mengambil Dilan darimu karena ia mendapatkan haknya sebagai ayahnya Dilan." Ucap Kenan.
"Bagaimana kalau sebaliknya? kalau Pasya tiba-tiba menuntut hak asuhnya Dilan."
"Itu urusannya sudah menyangkut hukum. Lagian pengacaraku sudah membuat surat perjanjian untuk Pasya dan kamu dan saksinya aku dan ibunya.
Jika ia berusaha mengambil Dilan darimu, dia tidak akan diberi kesempatan kedua untuk melihat putranya lagi karena kita akan membawa putranya keluar negeri." Ujar Kenan serius.
__ADS_1
Deggg
Kiran tersentak mendengar ucapan suaminya yang akan membuat mereka harus hengkang ke luar negeri jika Pasya memisahkan putra mereka dengan dirinya.
"Mudah-mudahan Pasya lebih sportif dan bisa dipercaya akan janjinya hanya untuk menemui baby dilan dan tidak berusaha mengambilnya dari kita."
Ucap Kiran untuk menghibur pikirannya yang tiba-tiba kalut.
Sementara itu, Pasya bangun perlahan agar putranya tidak terganggu. Ia melihat foto-foto selfi nya bersama putranya.
Baru saja ia mau membuka knop pintu, tiba-tiba putranya terbangun dan duduk lalu memanggil Pasya sambil menangis.
"Papa...papa...papa..!"
"Upsss!"
Pasya kembali mendekati putranya dan berbaring sebelah Dilan. Putranya yang takut papanya pergi, dengan hebatnya, ia tidur di atas tubuh papanya.
Melihat perilaku baby Dilan padanya, Pasya tersenyum.
"Kamu dan mamamu tidak jauh beda. Mamamu selalu tidur di atas tubuhku supaya aku tidak bangun meninggalkannya dan sekarang kamu juga begitu." Gumam Pasya lirih.
Baby Dilan kembali tidur dan Pasya tidak bisa bergerak. Tidak terasa Pasya sudah lama bersama putranya. Kini sudah pukul tiga siang. Sementara ia tiba di rumah Kenan pukul sepuluh pagi.
Pasya sudah tidak merasa nyaman. Ia sudah terlalu lama berada di rumah suami mantan istrinya. Pasya menidurkan putranya perlahan lalu buru-buru bangkit dan keluar dari kamar Dilan.
Saat pintu di buka, Kenan dan Kiran berjalan berdampingan membuat hati Pasya berdenyut pilu. Rasanya sangat sakit melihat kemesraan itu.
Wanita yang pernah masuk dalam hidupnya dan menghangatkan ranjangnya, kini sudah berada dalam pelukan laki-laki lain.
"Tuan Pasya! Dari kami menunggumu untuk makan siang, kami pikir kamu tidur bersama baby dilan, jadi kami tidak membangunkan mu. Bagaimana, apakah Dilan merepotkan mu?"
"Seorang ayah tidak akan mengeluhkan tentang putranya walaupun ia terlihat sangat lelah. Hanya ayah idiot saja yang mengabaikan putranya saat ia dilibatkan dengan banyak pikiran."
"Kalau begitu makanlah sesuatu sebelum pulang! Pinta tuan Kenan.
"Terima banyak untuk tawarannya tuan Kenan! Sebaiknya saya harus segera pulang sebelum dilan akan menahan saya di sini lebih lama.
Dari tadi saya ingin bangun, tapi dia selalu ikut bangun dan tidak ingin saya keluar dari kamarnya dan terpaksa saya harus menidurkannya lagi."
Ujar Pasya memberi alasannya.
"Tidak masalah tuan Pasya! Selama Dilan nyaman dengan anda, saya rasa anda boleh bermain lebih lama dengannya atau menginap dengannya di sini."
"Terimakasih tuan Kenan, Kiran! Saya pamit pulang dulu."
"Baiklah!"
Kenan tidak memaksa lagi agar Pasya merasa tetap terhormat. Kenan mengantar Pasya sampai ke pintu utama, sementara Kiran menemui putranya di kamar.
Di dalam sana, Dilan terlihat tenang dalam pelukan bantal gulingnya yang membuatnya nyaman.
Ia juga tidak ingin kenangan putranya bersama Pasya berlalu begitu saja. Tidak lama kemudian, Pasya sudah mengendarai mobilnya kembali ke Jakarta dengan hati bahagia.
Ia berharap bisa bertemu dengan putranya setiap weekend dan mengharapkan semoga hari itu cepat kembali.
Setibanya di rumah, Pasya turun dari mobilnya sambil bersiul. Rasa bahagianya seperti seorang pria yang habis berkencan dengan sang kekasih. Tapi senyum itu tiba-tiba menghilang kala teleponnya berdering.
"Hallo!"
"Selamat sore tuan Pasya !"
"Sore !"
"Kami dari lapas ingin mengabarkan kepada anda kalau saat ini ayah anda di rawat di rumah sakit polri."
__ADS_1
Deggggg...