
Usai melakukan bulan madu, Pasya membawa istrinya ke mansion miliknya. Keduanya disambut oleh pelayan yang sudah berdiri dengan rapi memberi hormat pada nyonya muda mereka.
Sebelum turun dari mobil Pasya sudah mewanti-wanti istrinya, agar Kiran tidak memperlihatkan wajah juteknya di hadapannya, apa lagi terlihat seperti istri yang tidak bahagia di hadapan pelayan.
"Aku tahu kamu tidak mencintaiku! Tapi aku berharap kamu harus memperlihatkan perasaan bahagia mu menjadi nyonya Pasha, apakah kamu mengerti, hmm?"
Pasya memainkan jemari Kiran yang hanya bisa mengangguk sambil menarik nafas dalam.
Mobil berhenti tepat di depan teras mansion. Pria gagah nan tampan itu yang menjadi incaran gadis manapun turun dari mobilnya lalu menggandeng tangan Kiran yang berusaha tersenyum kaku memperlihatkan kemesraan mereka di depan pelayan.
"Selamat datang nona muda!"
Kiran tersenyum dengan menundukkan kepalanya sedikit untuk membalas penyambutan para pelayan suaminya.
Kemewahan yang dilihatnya melalui bangunan rumah milik suaminya yang mendominasi kan gaya interiornya dengan sentuhan klasik modern.
"Rumah ini penuh dengan pelayan. Sepertinya kamu sedang membangun asrama untuk menampung pelayan di sini." Sindir Kiran terlihat tidak begitu suka dengan banyak pelayan.
"Jika kamu tidak suka mereka, silahkan kamu pecat mereka karena kamu adalah nyonya rumah yang sah sekarang ini."
Balas Pasya sambil merengkuh pinggang Kiran menuju kamar mereka. Lagi-lagi Kiran di kejutkan dengan kamar mewah yang di dekor seperti kamar hotel tipe presiden suite room, bukan kamar tidur seperti biasanya.
"Aku harap kamu nyaman berada di kamar ini Kiran."
"Terimakasih sudah menyiapkan segalanya dengan baik untuk menyambut ku." Ucap Kiran lalu duduk di pinggir tempat tidur.
Pasya mencopot sepatu high heels milik Kiran membuat Kiran makin terpesona dengan perhatian sang suami.
Walaupun Kiran selalu memperlihatkan sikap dinginnya pada Pasya, sedikitpun pria tampan ini tidak begitu menggubrisnya.
"Itu walk in closet dan itu toilet." Ujar Pasya seraya menunjuk ruang privasi untuk Kiran.
Kiran beranjak masuk ke kamar ganti untuk menggantikan baju formalnya dengan baju santai. Pasya mengikuti gadis ini ikut masuk ke kamar ganti itu.
Di kamar itu ia tidak menemukan kopernya sama sekali.
"Di mana koperku?"
"Sudah aku kembalikan ke rumah orangtuamu. Aku tidak ingin kamu membawa semua masala lalumu di rumah suamimu dengan barang-barang milikmu."
"Kenapa tidak sekalian saja kamu mencopot hatiku supaya aku tidak menyimpan apapun di dalam sini."
Balas Kiran dengan kata-kata menohok.
"Tentunya sayang! Aku akan membuatmu melupakan masa lalumu dan kau akan jatuh cinta lagi kepadaku seperti lima tahun yang lalu."
"Cih! Percaya diri sekali. Kau bahkan menikahi wanita sampah sepertiku untuk masuk dalam hidupmu yang masih bersih." Gumam Kiran lirih.
"Tidak perlu menyulut emosi ku untuk membenci dirimu agar kau berharap aku akan mengembalikan kamu ke mantanmu itu, Kiran! Jika lelaki itu sangat mencintaimu, dia pasti akan memperjuangkan cinta kalian jauh sebelum kita menikah."
Ucap Pasya merendahkan sikap Kenan yang tidak punya nyali mendapatkan Kiran.
"Aku sangat mencintainya Pasya! Tolong kembalikan aku padanya. Aku tidak bisa mencintaimu, Pasya.
Kamu tidak miliki kekurangan apapun secara fisik maupun materi, pasti banyak gadis-gadis cantik yang lebih sempurna dan juga masih perawan yang bisa kamu dapatkan mereka dengan mudah. Jadi tolong lepaskan aku Pasya!"
Kiran sampai bersujud di kaki Pasya hanya untuk seorang Kenan.
"Tidakkkkkk!"
Bentak Pasya merasa sangat tersinggung dengan permohonan Kiran.
__ADS_1
"Tidak ada perempuan di dunia ini yang ingin ku nikahi saat wajah cantik nan lugu menggodaku di pesawat lima tahun yang lalu hingga aku bersikukuh menolak perjodohan keluarga kita karena terlalu terobsesi dengan dirimu.
Dan sekarang, setelah sekian lama mencari informasi tentangmu, hingga pada akhirnya aku dipertemukan lagi dengan gadis yang selama ini aku cari dan ternyata jodoh pilihan orangtuaku itu adalah kamu sendiri Kiran.
Aku sudah menemukan mu, bagaimana mungkin aku akan melepaskan kamu begitu saja, hah?"
Teriak Pasya yang tidak tahan lagi dengan sifat Kiran yang sudah melukai hatinya saat ini sebagai suami.
"Tapi aku tidak mencintaimu. Bagaimana mungkin kamu terus memaksa aku untuk tetap disisi mu?" Ujar Kiran lirih.
"Tidak usah kuatirkan perasaanku. Mungkin saat ini kamu sedang terbawa suasana kerinduan yang belum bisa membuatmu move on. Tapi waktu yang akan merubah perasaanmu itu, Kiran!"
Intonasi suara Pasya kembali lembut agar Kiran merasa nyaman dengannya walaupun dalam keadaan terpaksa.
Kiran membuka satu persatu kancing bajunya dan mengambil salah satu dress dari rak baju yang tersusun rapi persis seperti konter baju.
Pasya melihat aktivitas istrinya yang hanya menyisakan bikininya saja. Seketika gairahnya kembali mencuat ketika melihat dua benda padat nan kenyal yang terlihat menyembul sebagian yang tidak masuk semua dalam cup hitam itu.
Ingin rasanya ia menarik tali pengait itu untuk membebaskan dua mainan kesukaannya saat ini, namun ia harus mengurungkan niatnya karena sebentar lagi mereka mau makan malam berdua untuk pertama kalinya di rumah ini.
Hanya melayani dua orang makan malam, tapi kesibukan para pelayan yang menyiapkan berbagai menu di atas meja untuk nyonya baru di rumah itu.
Kiran menghargai kerja keras para pelayan yang tentunya atas perintah suaminya untuk menyenangkan hatinya.
Ia mencoba setiap lauk yang di siapkan di meja itu. Wajah puas sang suami melihat antusias Kiran yang memakan jenis makanan apa saja yang tersaji di depan mereka.
"Apakah kamu menyukai masakannya?"
"Hmm!"
Pasya mengulum senyumnya mendengar jawaban singkat Kiran.
Keterikatan cinta memang masih kuat di antara dua orang yang saling masih mencintai, namun hadirnya orang ketiga akan mengisi kesepian bagi pemilik hati yang saat ini masih merana dan saling merindukan satu sama lain.
...----------------...
Sebulan berlalu pernikahan itu masih terbilang hambar. Dua hati yang hidup dalam satu atap sedang berjuang untuk mendekatkan diri ke hati yang ingin selalu menjauh.
Kiran yang saat ini melanjutkan lagi kuliahnya yang sempat tertunda, selalu diawasi langsung oleh sang suami yang mengantar dan menjemput gadis itu kuliah.
Pasya sengaja membiarkan Kiran menyelesaikan pendidikannya yang sedikit lagi akan berakhir.
Sementara itu kabar Kiran kembali ke kampus terdengar oleh Kenan yang merasa punya kesempatan untuk bertemu dengan sang kekasih yang selama ini sangat ia rindukan.
Sudah hampir enam bulan mereka tidak bertemu. Sementara nomor kontak Kiran sudah diganti. Sebegitu senangnya Kenan hingga ia lupa jika saat ini Kiran sudah berstatus istri orang lain.
Saat ia memasuki tempat parkir untuk memarkirkan mobilnya, mobil milik Pasya tepat di belakang mobilnya.
Pasya segera keluar dari mobilnya menunggu sang istri yang sebentar lagi akan keluar dari kelasnya.
Kiran yang berjalan dengan langkah anggun menghampiri suami yang sudah menyambutnya dengan senyuman.
"Hai sayang!"
Pasya mendekap tubuh jenjang itu lalu mengecup bibir istrinya tepat Kenan melihat adegan itu.
Mata Kiran menangkap sosok yang selama ini membuatnya rindu seketika merasa canggung dan memeluk lagi Pasya sambil memberi isyarat pada Kenan untuk menjauhi mereka.
Kenan mengalah demi sang pujaan hati.
"Kiran! Aku masih tetap mencintaimu!"
__ADS_1
Gumam Kenan lirih saat melihat keduanya sudah berada di dalam mobil.
Semuanya menjadi lebih berarti saat orang lain sudah mengambil apa yang pernah kita miliki.
"Kiran! Andai saja di awal kita bertemu kamu tidak begitu angkuh dan langsung menerima lamaran ku, mungkin saat ini kita sudah bahagia.
Kita menikah dan kamu hamil anak kita dan melahirkan mereka sebagai penyambung keturunan kita. Tapi semua hanya tinggal cerita."
Gumam Kenan lirih.
Lagi-lagi Kenan hanya menelan rasa kecewanya. Ia berniat pergi ke club untuk menikmati alkohol yang mungkin membuatnya bisa melupakan Kiran.
Setibanya di tempat untuk orang-orang yang selalu lari dari kenyataan, kumpulan orang frustasi yang hanya ingin melupakan masalalu mereka dengan luka yang masih menganga lebar namun sakit itu tidak akan pernah hilang berada di tempat itu.
Kumpulan manusia penuh putus asa itu hanya sedang menipu diri mereka sendiri. Mereka tidak bahagia karena mereka tidak bisa keluar dari belenggu penderitaan yang mereka buat sendiri entah tingkat masalah apa yang mereka hadapi kini.
Kenan duduk di depan meja bar sambil menatap satu botol minuman wine di atas meja bar itu dengan gelas bening kecil yang menjadi takaran untuk ia bisa nikmati.
Seorang gadis cantik dengan pakaian seksi sedang menatapnya dengan senyum menggoda. Ia merasa sudah mendapatkan mangsanya untuk bisa membawa uang malam ini untuk anak-anaknya.
"Apakah mau saya tuangkan minumannya tuan?"
"Apakah kamu ingin minum?"
"Apakah boleh saya ikut minum?"
Tanya gadis muda itu dengan senyum hambar nya.
"Mungkin kalau saat ini kamu merasa bahagia dengan minuman itu, ambil saja untukmu, aku tidak menyukainya."
Ucap Kenan yang tidak ingin merusak tubuhnya dengan minuman haram itu.
"Apakah saat ini anda lagi sedih, Tuan?"
"Kalau aku bahagia, aku tidak akan mendatangi tempat terkutuk ini."
"Aku bisa menjadi pendengar yang baik kalau anda tidak keberatan untuk berbagi."
Ujar gadis cantik bertubuh sangat indah di mata Kenan.
"Aku tidak butuh wanita untuk menyenangkan tubuhku. Aku hanya ingin duduk di sini untuk menipu diriku."
"Mungkin pria hebat sepertimu menganggap kami yang ada di sini adalah sampah, tapi kami di sini tidak sedang mengambil hak orang lain. Nggak menipu orang atau mencuri dari pelanggan kami jika ia lelah usai meniduri tubuh kami."
Ucap gadis itu membela diri.
"Tapi takaran dosanya tetap sama nona karena tidak ada tingkat dosa untuk perbuatan maksiat yang kamu lakukan setiap saat.
Ini niatmu. Ambillah uang ini dan mulailah usaha apa saja yang kamu inginkan untuk membesarkan anak-anakmu.
Deggg...
Bagaimana kamu bisa tahu aku sudah mempunyai anak, tuan?"
"Tubuhmu yang memberitahu itu."
Kenan keluar dari tempat itu tanpa menyentuh alkohol sama sekali. Gadis itu menghitung uang yang ia terima dari Kenan sekitar lima puluh juta.
Ia segera pulang dan berniat tidak akan menjadi pelacur lagi.
"Ya Allah mimpi apa aku semalam bertemu dengan manusia berhati malaikat itu." Ucap gadis itu sambil menangis.
__ADS_1